• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan dan Manajemen Riset

Dalam dokumen The Road to Academic Excellence (Halaman 171-174)

NUS telah secara bertahap meningkatkan anggaran untuk riset dan pengembangan (R&D), khususnya pada tahun-tahun belakangan ini. Bersamaan dengan peningkatan dalam pengeluaran langsung R&D juga terdapat peningkatan investasi dalam infrastruktur R&D. Contohnya, NUS mendirikan link dengan jaringan akademis internasional melalui sebua jaringan komputer (BITNET), menjadi salah satu negara Asia pertama yang bergabung dengan jaringan ini. Akibatnya, NUS juga merupakan universitas Asia pertama yang menerapkan akses internet di seluruh kampus. Pada tahun 1989, NUS terhubung dengan satu dari dua superkomputer di Singapura, meningkatkan peran universitas dalam globalisasi teknologi dan keahlian komputer. Pada tahun 1991, NUS

menerapkan NUSNET, jaringan kabel optik di seluruh kampus, dan pada Mei 1995, perpustakaannya menjadi yang pertama di wilayah tersebut untuk meluncurkan sistem manajemen dan pemeliharaan dokumen elektronik.

NUS juga merupakan salah satu universitas pertama di Asia yang menerapkan sertifikat/pendaftaran teknologi dan kantor penghubung industri pada tahun 1990-an untuk mengelola munculnya portofolio hak kekayaan intelektual universitas dan kerja sama R&D dengan industri. Kantor ini telah secara progresif mendirikan sebuah sistem pengungkapan penemuan dan komersialisasi teknologi yang mencontoh praktik terbaik dari universitas terkemuka di Amerika Utara, termasuk menerapkan kesepakatan kerja sama riset yang distandarisasi dengan pihak luar; memberikan hak kepemilikan kekayaan intelektual kepada universitas; mendistribusi pendapatan royalti secara adil kepada anggota pengajar, jurusan dan pusat administrasi untuk menyesuaikan kepentingan dalam komersialisasi teknologi; dan menerapkan keadilan dalam pembayaran royalti saat sebuah teknologi milik NUS dilisensikan kepada perusahaan yang didirikan oleh pengajar atau mahasiswa NUS.

Didorong dengan cepatnya pertumbuhan dalam hasil penelitian dan difasilitasi oleh sistem pendukung manajemen IP (internet protocol) yang cepat, jumlah kesepakatan kerja sama penelitian, pengungkapan penemuan dan hak paten yang diberikan kepada NUS meningkat cepat sejak awal tahun 2000-an, dengan peningkatan yang sama dalam pendapatan dari pendaftaran teknologi. Jumlah kesepakatan kerja sama penelitian eksternal meningkat dari 109 selama tahun 1995–1997 menjadi 394 selama 2005–2007. Jumlah hak paten yang terdaftar di kantor paten AS dari NUS meningkat dari 40 selama 1990–1999 menjadi 204 selama 2000–2008, saat jumlah kesepakatan pendaftaran meningkat dari 60 menjadi 198 dalam waktu yang sama. Total royalti dari pendaftaran juga meningkat dari S$335 ribu (US$203.09,18 [kurs 1 Januari 1999]) pada tahun 1996–1999 menjadi S$3,3 juta (US$2,29 juta [kurs 1 januari 2008]) selama 2003-08 (lihat Wong, Ho, dan Singh yang tersedia berikutnya untuk detailnya).

Pada awal tahun 2000-an, sebagai bagian dari visi baru yang diartikulasikan oleh wakil rektor yang baru kepada NUS untuk menjadi “perusahaan ilmu pengetahuan global,” universitas selanjutnya mengembangkan peran pendukung komersialisasi teknologinya dengan secara eksplisit mendirikan Perusahaan NUS (NUS Enterprise), divisi organisasional untuk mempromosikan komersialisasi teknologi dan kewirausahaan secara menyeluruh. Melapor langsung kepada wakil rektor dan presiden, Perusahaan NUS tidak hanya menyerap fungsi pendaftaran teknologi dan kantor penghubung industri ke dalam Kantor Penghubung Industri (Industry Liasison Office) yang dikembangkan, tetapi juga menggabungkan sebuah Pusat Kewirausahaan tingkat universitas yang mengintegrasikan fungsi-fungsi pendidikan kewirausahaan, promosi dan penyebaran kewirausahaan, dan inkubasi untuk perusahaan bentukan NUS (lihat Wong, Ho, dan Singh 2007). Sejak kelahirannya pada tahun 2002, Inkubator Perusahaan NUS (NUS

The National University of Singapore dan The University of Malaya: Akar yang Sama dan ... 151

Enterprise Incubator) telah mendukung lebih dari 70 perusahaan yang dibentuk oleh profesor, mahasiswa dan alumni generasi terakhir. Lebih dari 10 perusahaan tersebut telah menerima investasi tambahan dari investor eksternal, dan satu perusahaan, tenCube, akhir-akhir ini diakuisisi oleh McAfee Inc. (lihat Wong, Ho, dan Singh yang akan datang).

Pada tahun 1982, 0,05 persen tenaga pekerja Malaysia atau sekitar 13 persen dari tenaga kerja saintifiknya terlibat dalam R&D, jauh jika dibandingkan dengan rata-rata 0,5 persen yang terjadi di negara-negara industri, termasuk Singapura (Singh 1989). Perbedaan itu terus ada dengan sejumlah total hanya 500 dari sejuta personil saat ini terlibat dalam R&D di Malaysia, dibandingkan dengan Singapura yang memiliki 5.500 per sejuta-yang merupakan peringkat kedua di bawah Swedia pada level 6000 per sejuta (NEAC 2010, 53, Gambar 13).

Selama dekade terakhir ini, UM telah meninvestasikan dan meningkatkan infrastruktur risetnya dengan tujuan mendukung proyek R&D untuk mempromosikan pendekatan multi disiplin dan meningkatkan produktivitas. Delapan kelompok penelitian lintas disiplin, seperti bioteknologi dan bio-produk dan sains yang berkelanjutan, telah didirikan. Institut Monitoring dan Manajemen Riset (Institute of Research Management and Monitoring) mengorganisasi pomosi, manajemen, kordinasi, dan pengawasan semua kegiatan dari seluruh penyelenggara penelitian. Kerja sama dengan industri masih dalam tahap awal, dikarenakan universitas masih menunggu diumumkannya Rencana Peningkatan Strategis untuk Kerja sama Universitas-Industri dan Masyarakat (Strategic Enchanment Plan for University-Industry and Community Collaboration) yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, yang diharapkan untuk juga memasukkan perusahaan kecil dan menengah.

Perekrutan di berbagai tingkatan tetap menjadi sebuah tantangan: pemimpin peneliti yang senior, internasional dan berpengalaman dibutuhkan untuk menyiapkan arah dan meningkatkan produktivitas keluaran, didukung oleh tim-tim yang terdiri dari staf junior yang berkualifikasi baik dan mahasiswa pascasarjana dan juga para teknisi yang terlatih untuk efisiensi manajemen laboratorium dan peralatan. Hal yang sama pentingnya adalah tersedianya dukungan infrastruktur teknis yang kuat seperti faslitas teknologi informasi dan komunikasi. Saat ini, bandwidth tercepat dan biaya koneksi broadband di Malaysia (4 Mbps berbiaya US$76), dibandingkan dengan Singapura 100 Mbps berbiaya US$84,68. Di wilayah tersebut, bandwidth tercepat di Malaysia merupakan lima kali lebih lambat dan tiga kali lebih mahal dibandingkan dengan bandwidth terlambat di Korea (NEAC 2010, 186).

Indikasi tentang tumbuhnya penekanan pada riset akhir-akhir ini, NUS telah meningkatkan pengeluaran riset lebih dari tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir, dari US$89 juta pada tahun 1997 menjadi US$321 juta pada tahun 207. Dibandingkan dengan pengeluaran total operasional universitas, pengeluaran riset telah meningkat dari sekitar 12 persen pada tahun 2000 menjadi lebih dari

27 persen pada tahun 2007. Sejak korporasi, alokasi dana riset telah menjadi lebih fokus dan berdasarkan kinerja di saat NUS memposisikan dirinya untuk unggul dalam bidang unggulannya dan untuk bersaing dalam mendapatkan pendanaan eksternal. Oleh karena itu, bagian terbesar pengeluaran riset adalah di bidang teknik dan kedokteran, dengan suatu peningkatan proporsi yang kemudian sesuai dengan tumbuhnya penekanan pada biomedikal sains dalam strategi R&D Singapura akhir-akhir ini (NUS, 2000, 2002, 2008a, 2008b).

Pendanaan penelitian di UM belumlah meningkat secara konstan dan stabil sepanjang waktu, tidak seperti NUS. Alokasi riset pemerintah menurun dari US$26,6 juta pada tahun 2002 menjadi US$8,1 juta pada tahun 2004 menjadi US$6 juta pada tahun 2006 dan melompat menjadi US$ 41,2 juta pada tahun 2008 (UM 2010). Gambaran terakhir termasuk sumber tambahan yang disiapkan untuk empat universitas yang didesain sebagai universitas riset pada tahun 2008. Dana riset berasal dari berbagai macam sumber. Selain dari hibah tahunan Kementerian Pendidikan, pendanaan juga diterima dari departemen-departemen dalam Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi (sebagian besar diberikan dengan dasar kompetitif); dan berbagai perusahaan swasta, yayasan-yayasan lokal, badan-badan dan universitas asing. Jumlah yang belum diaudit pada tahun 2008 menunjukkan tren yang baik dalam peningkatan pendanaan penelitian dari 7 persen dari alokasi anggaran tahunan di tahun 2006 menjadi 22 persen pada tahun 2008 (UM 2008, 25).

Data untuk pengeluaran riset tidak tersedia, sehingga tingkat keluaran penelitian juga tidak dapat dikaji. Dengan memberikan dana penelitian kepada empat universitas riset—termasuk UM—Kementerian Pendidikan Tinggi berharap bahwa mengkonsentrasikan sumber daya kepada lembaga-lembaga yang berpotensi tertinggi akan lebih menghasilkan dari pada menyebar dana tersebut ke lebih dari 20 universitas publik. Sebuah sumbangan sebesar US$31,2 juta setiap tahunnya, menggunakan dasar nonkompetitif, untuk masing-masing empat universitas riset sejak tahun 2008 adalah sesuatu yang baik, tetapi manfaatnya masih jauh dibandingkan dengan NUS. Perubahan tren menunjukkan bahwa di saat hibah tahunan untuk universitas riset dari Kementerian Pendidikan Tinggi merupakan sebuah alokasi langsung, hibah dari kementerian lainnya (seperti Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi), sumber-sumber dana eksternal dan dana-dana intra-universitas kepada peneliti UM merupakan kemenangan kompetitif.

Dalam dokumen The Road to Academic Excellence (Halaman 171-174)