BAB II KEBIJAKAN DASAR PEMERINTAH TERHADAP INVESTOR
D. Kebijakan Dasar pemerintah Terhadap Investor Asing
Adapun prinsip - prinsip perdagangan internasional sebagaimana diatur dalam GATT - WTO yang telah menjadi prinsip penanaman modal asing, yakni :
1. Perlakuan sama berdasarkan prinsip nasional National Treatment Principle
Prinsip National Treatment mengatur tentang perlakuan yang sama antara penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri di suatu wilayah teritori negara tertentu.82
82
Nindyo Pramono, Bunga Rampai Hukum Bisnis Aktual, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2006), Hal 160.
Prinsip National Treatment terdapat dalam Pasal III GATT. Perlakuan nasional yang saling menguntungkan (Mutual National Treatment) menawarkan hak - hak penuh untuk masuk dan berdirinya investasi asing berdasarkan pada perlakuan nasional untuk semua individu dan badan hukum yang terlibat dalam aktivitas bisnis lintas batas territorial dari negara - negara anggota suatu organisasi integrasi ekonomi
kawasan tertentu.83
Prinsip ini berlaku luas. Prinsip ini juga berlaku terhadap semua macam pajak dan pungutan - pungutan lainnya. Berlaku pula terhadap perundang - undangan, pengaturan dan persyaratan - persyaratan (hukum) yang mempengaruhi penjualan, pembelian, pengangkutan, distribusi atau penggunaan produk - produk di pasar dalam negeri.
Perlakuan nasional ini membentuk satu rejim bersama untuk perizinan dan masuknya investor dari negara - negara anggota.
84
Jiwa dari prinsip national treatment adalah adanya perlakuan sama oleh suatu negara baik terhadap kepentingannya sendiri maupun terhadap kepentingan negara lain. Prinsip national treatment ini menghindari diterapkannya peraturan - peraturan yang menerapkan peraturan - peraturan yang menerapkan perlakuan diskriminatif yang ditujukan sebagai alat untuk memberikan proteksi terhadap produk - produk buatan dalam negeri.
Prinsip national treatment merupakan suatu kewajiban dalam General Agreement on Trade in Services (GATS) yang mana negara - negara secara eksplisit harus menrapkan prinsip ini terhadap jasa - jasa atau kegiatan jasa - jasa tertentu. Oleh karena itulah prinsip
national treatment atau perlakuan nasional ini pada umumnya merupakan hasil dari negosiasi atau perundingan diantara negara - negara anggota.
85
83
Sentosa Sembiring, Op.Cit, Hal 87.
Persaingan yang adil antara produk impor dan produk dalam negeri maka terjadi perbaikan kinerja pada produksi dalam negeri untuk lebih efisien sehingga dapat bersaing dengan produk impor, sedangkan bagi konsumen hal ini akan lebih menguntungkan karena memungkinkan konsumen memperoleh barang yang lebih baik dan harga yang lebih wajar. Dalam perspektif lain disebutkan bahwa justru tindakan yang
84
Huala Adolf, Hukum Perdagangan Internasional, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006), Hal 112.
85
demikian dapat menyebabkan kurangnya minat investor untuk mengambil keputusan bisnis yang lebih bebas.
Dirjen GATT memberikan illustrative list yang berisi gambaran tentang tindakan persyaratan penanaman modal yang dilarang terdapat dua ukuran untuk menyatakan suatu persyaratan penanaman modal melanggar ketentuan Article III.4 GATT 1994 yaitu persyaratan penggunaan komponen buatan dalam negeri (local content requirement) dan persyaratan keseimbangan perdagangan (trade balancing requirement).
Perlakuan sama dalam konteks national treatment pada Undang - Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal adalah jaminan adanya perlakuan yang sama dari pemerintah baik terhadap penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri yang tertuang dalam Pasal 4 ayat (2) sebagai berikut :
(2) Dalam menetapkan kebijakan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah :
a. memberi perlakuan yang sama bagi penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional; b. menjamin kepastian hukum, kepastian berusaha, dan keamanan berusaha
bagi penanam modal sejak proses pengurusan perizinan sampai dengan berakhirnya kegiatan penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang - undangan; dan
c. membuka kesempatan bagi perkembangan dan memberikan perlindungan kepada usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi.
Perlakuan sama yang diinginkan Undang - Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal tersebut dibatasi oleh kepentingan nasional. Salah satu bentuk kepentingan nasional tersebut dicantumkan langsung dalam Pasal 4 ayat (2) c. Dengan kata lain perlakuan sama antara asing dan domestik tidak berlaku dalam hal kepentingan nasional menghendaki adanya perlindungan terhadap usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi.
National Treatment dalam perlakuan antara asing dan domestik masih membenarkan adanya penerapan syarat - syarat investasi yang berbeda antara penanaman modal asing dan domestik, sepanjang penerapan syarat yang berbeda tersebut sejalan dengan Specific of Commitment (SoC) yang menjadi komitmen sebuah negara.86
2. Perlakuan sama berdasarkan prinsip nasional Most Favoured Nation
Penerapan prinsip perlakuan sama juga dibedakan berdasarkan fase kegiatan penanaman modal. Perlakuan sama pada prinsipnya diterapkan pada fase post estabilishment stage
atau pada kategori brown investment field. Maksudnya perlakuan sama diberikan setelah investor masih dapat dikenal syarat - syarat yang pada dasarnya berbeda antara asing dan domestik, misalnya syarat pemilikan modal, syarat dan pembatasan bidang usaha, dan
performance requirement lainnya. Dengan kata lain, penerapan prinsip perlakuan sama (national treatment) masih memberikan ruang pada pemerintah host country untuk memberikan perlindungan kepada investor domestik terutama dengan menggunakan SoC.
Prinsip Most Favoured Nation merupakan prinsip yang memberikan kesetaraan atau perlakuan sama antara penanaman modal asing yang lain yang masuk ke suatu wilayah teritori suatu negara tertentu.87 Prinsip Most Favoured Nation ini termuat dalam Pasal I GATT. Most Favoured Nation merupakan implementasi dari larangan perlakuan diskriminasi. Dalam konteks yang sangat umum di bidang perdagangan barang, Most Favoured Nation merefleksikan ketentuan tentang pemberian konsensi kepada suatu negara mitra dagang harus berlaku pula bagi semua negara.88
Di dalam perjanjian - perjanjian bilateral, multilateral prinsip ini selalu dituangkan untuk menarik masuknya penanaman modal asing ke wilayah negara tertentu.
86
Ibid, Hal 98.
87
Nindyo Pramono, Op.Cit, Hal 160
88
Perlakuan Most Favoured Nation (MFN) untuk para investor dari negara - negara bukan anggota biasanya tidak tersedia. Perlakuan nasional kombinasi menawarkan hak penuh untuk masuk dan berdirinya investasi asing (sesudah dan sebelum masuk) berdasarkan pada perlakuan nasional atau MFN yang lebih baik.89
Para investor dari negara - negara anggota mendapat hak dan perlakuan yang sama untuk mengakses semua keperluan sebagaimana diperoleh oleh para investor dalam negeri ataupun investor dari negara - negara berkembang. Perlakuan nasional kombinasi tidak tersedia buat para investor dari negara - negara bukan anggota. Perlakuan nasional kombinasi menyarankan pilihan - pilihan kebijakan untuk mengikuti model perlakuan nasional/MFN sepenuhnya, membuka kesempatan masuk, dan berdirinya investasi asing dari para investor dari negara - negara yang terikat perjanjian berdasarkan pada keadaan yang lebih baik dari dua standar yang digunakan ini. Investor hanya dilarang untuk masuk ke industri - industri yang termasuk dalam daftar negatif. Keberadaan daftar negatif untuk pengecualian beberapa industri memberi tekanan bahwa industri strategis tertentu berada diluar jangkauan liberalisasi.
Hanya dihilangkan hak - hak untuk memasuki industri yang masuk dalam daftar negatif (negative lists) untuk investasi asing. Tujuannya adalah untuk memperluas hak - hak masuk dan berdirinya investasi asing.
Pada intinya, semua negara harus diperlakukan atas dasar yang sama dan semua negara menikmati keuntungan dari suatu kebijaksanaan perdagangan. Namun demikian, dalam pelaksanaannya prinsip ini mendapat pengecualian - pengecualiannya, khususnya dalam menyangkut kepentingan negara sedang berkembang. Jadi berdasarkan prinsip ini,
89
suatu negara anggota pada pokoknya dapat menuntut untuk diperlakuan sama terhadap produk impor dan ekspornya di negara - negara anggota lain.90
Undang - Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal juga mengatur tentang penerapan perlakuan sama dalam pengertian the most favoured nations, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 6 ayat (1) yakni pemerintah memberikan perlakuan yang sama kepada semua penanam modal yang berasal dari negara manapun yang melakukan kegiatan penanaman modal di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang - undangan. Artinya, pada prinsipnya pemerintah Indonesia tidak akan memberikan perlakuan khusus atau perlakuan yang lebih baik terhadap satu investor dari negara tertentu dibandingkan dengan investor dari negara lainnya.
Penerapan prinsip the most favoured nations ini dalam Undang - Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal mengandung pengecualian yakni pada Pasal 6 ayat (2) bahwa perlakuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi penanam modal dari suatu negara yang memperoleh hak istimewa berdasarkan perjanjian dengan Indonesia. Dalam penjelasan Pasal 6 ayat (2) disebutkan pengertian hak istimewa tersebut sebagai kesatuan kepabeanan, wilayah perdagangan bebas, pasar bersama (common market), kesatuan moneter, kelembagaan yang sejenis, dan perjanjian antara pemerintah Indonesia dan pemerintah asing yang bersifat bilateral, regional, atau multilateral yang berkaitan dengan hak istimewa tertentu dalam penyelenggaraan penanaman modal.
Prinsip non diskriminasi selalu diidentikkan dengan ketentuan - ketentuan mengenai National Treatment (NT) dan Most Favoured Nations (MFN). Penerapan kedua prinsip ini adalah masalah yang sangat sensitif karena beberapa hal yakni :91
90
1. Masalah ini terpaut langsung dengan eksistensi kedaulatan sebuah negara untuk mengatur investor dan investor asing yang berada di wilayah hukum mereka; 2. Masalah ini berkaitan langsung dengan kemampuan sebuah negara untuk
melindungi investor dan investasi domestik mereka;
3. Terkait langsung dengan pencapaian target - target pembangunan yang ditetapkan oleh host country.
Prinsip perlakuan sama atau non discriminatory principle didasarkan atas alasan bahwa host country dengan menggunakan argumen - argumen tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan sering mendapat perlakuan yang berbeda atau diskriminasi kepada penanaman modal asing. Prinsip perlakuan sama merupakan pintu masuk yang paling strategis untuk memberikan hak yang lebih besar pada MNC. Prinsip perlakuan sama yang luas akan mengakibatkan kehilangan keleluasaan negara - negara berkembang dalam menerapkan syarat - syarat tertentu yang dibebankan kepada investor asing yang akan masuk.
Padahal persyaratan - persyaratan tersebut sangat diperlukan negara berkembang dalam upaya mereka memanfaatkan investasi asing secara optimal bagi pembangunan nasional mereka. Misalnya untuk keperluan pembangunan teknologi melalui persyaratan alih teknologi, untuk meningkatkan kualitas SDM melalui pembatasan tenaga asing untuk didampingi oleh tenaga lokal dengan ketentuan tenaga asing dan kewajiban tenaga asing untuk didampingi oleh tenaga lokal dengan ketentuan tenaga asing harus mentransfer pengetahuan dan skillnya kepada tenaga lokal, persyaratan daerah berusaha untuk memastikan pemerataan pembangunan dan percepatan pembangunan infrastruktur di daerah - daerah, persyaratan partisipasi modal dan pembatasan waktu dengan tujuan untuk membagi kesejahteraan melalui keuntungan untuk membagi kesejahteraan melalui keuntungan kepada pengusaha nasional dan untuk memastikan bahwa pada suatu saat
91
pengusaha nasional menjadi mayoritas dalam usaha yang bersangkutan, demikian juga persyaratan divestasi. Jika persyaratan tersebut dihilangkan perusahaan MNC akan menjadi lebih leluasa dan memperoleh hak - hak baru yang dilindungi dalam kerangka hukum internasional.92
Prinsip national treatment dan prinsip most favoured national merupakan prinsip sentral dibandingkan dengan prinsip - prinsip lainnya dalam GATT. Dalam sistem GATT, prinsip national treatment dan prinsip most favoured national menjamin tidak adanya tindakan diskriminatif diterapkan oleh negara - negara anggota. Kedua prinsip ini menjadi prinsip pada pengaturan bidang - bidang perdagangan yang lahir dalam perjanjian putaran Uruguay. Kedua prinsip ini juga berlaku dalam General Agreement on Trade in Service (GATS). Dalam GATS, negara - negara anggota WTO diwajibkan untuk memberlakukan perlakuan yang sama terhadap jasa - jasa atau para pemberi jasa dari suatu negara dengan negara lainnya.93
Perekonomian dunia yang ditandai dengan persaingan antar bangsa yang semakin ketat menjadi pemicu terbitnya Undang - Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal. Pada prinsipnya ada 2 (dua) sistem perlakuan sama yang dianut dalam Undang - Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal yakni national treatment dan most favoured national. Adapun asas - asas yang terkandung dalam Pasal 3 Undang - Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal yakni :
1. Kepastian Hukum; 2. Keterbukaan; 3. Akuntabilitas; 92 Ibid, Hal. 82. 93
4. Perlakuan yang sama dan tidak membedakan asal negara; 5. Kebersamaan; 6. Efisiensi berkeadilan; 7. Berkelanjutan; 8. Berwawasan Lingkungan; 9. Kemandirian;
10.Keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
Asas yang menjadi kekhawatiran masyarakat yang pada undang - undang sebelumnya tidak dikenal adanya asas perlakuan yang sama (non diskriminatif). Asas ini baru dikenal pada Undang - Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, dimana situasi perdagangan dunia pada waktu penerbitan Undang - Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal telah berubah mengikuti arus globalisasi dan kecendrungan keinginan dunia usaha yang menghendaki perlakuan yang sama bagi semua peserta dalam perdagangan bebas.94
Pemerintah Indonesia telah menandatangani Konvensi MIGA yang salah satu klausula didalamnya adalah bahwa negara - negara penandatangan konvensi tidak boleh menciptakan diskriminasi bagi penanam modal dalam negeri terhadap penanam modal asing. Dalam kesepakatan GATT - WTO khususnya yang berkaitan dengan perdagangan dan investasi yang disebut dengan Trade Related Investment Measures (TRIMs) ditentukan juga bahwa setiap negara penandatangan persetujuan TRIMs tidak boleh membeda - bedakan antara penanam modal dalam negeri dengan penanam modal asing.
95
94
Jonker Sihombing, Op. Cit, Hal 90.
95
Namun apabila diteliti asas perlakuan yang sama hanya sebatas untuk hal - hal yang berkaitan dengan pengurusan perizinan penanaman modal, dan belum mencakup perlakuan yang sama terhadap bidang - bidang usaha yang dapat dimasuki untuk kegiatan penanaman modal. Pemerintah memandang perlu untuk mempertahankan kebijakan tersebut dalam semangat liberalisasi perdagangan.
BAB III
UPAYA PEMERINTAH DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP INVESTOR ASING
A. Upaya Pemerintah Indonesia Dalam Memperbaiki Undang - Undang No. 25