• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebutuhan Ruang Parkir di Kawasan Perencanaan

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Tahun 2016 (Halaman 126-136)

RENCANA UMUM DAN PANDUAN RANCANG

Peta 2.1 Rencana Identitas Lingkungan

D. Kebutuhan Ruang Parkir di Kawasan Perencanaan

Standar kebutuhan luas area kegiatan parkir berbeda antara yang satu dengan yang lain, tergantung kepada beberapa hal antara lain pelayanan, tarif yang diberlakukan, ketersediaan ruang parkir, tingkat pemilikan kendaraan bermotor, tingkat pendapatan masyarakat. Berdasarkan hasil studi Direktorat Jendral Perhubungan Darat, kegiatan dan standar-standar kebutuhan parkir adalah sebagai berikut :

1. Pusat perdagangan

Parkir dipusat perdagangan di kelompokkan dalam dua kelompok yaitu pekerja yang bekerja di pusat perdagangan tersebut dan pengunjung. Pekerja umumnya parkir untuk jangka panjang dan pengunjung umumnya jangka pendek. Karena tekanan penyediaan ruang parkir adalah untuk pengunjung maka kriteria yang digunakan sebagai acuan penentuan kebutuhan ruang parkir adalah luas areal kawasan perdagangan.

Tabel 2.4. Kebutuhan SRP di kawasan Perdagangan dan Jasa Luas Areal Total (100 m2) 10 20 50 100 500 1000 1500 2000

LAPORAN AKHIR 2 - 54 2. Tempat Rekreasi dan Taman Kota

Kebutuhan parkir di tempat rekreasi dipengaruhi oleh daya tarik tempat tersebut. Biasanya pada hari minggu/libur kebutuhan parkir meningkat dari hari kerja. Perhitungan kebutuhan didasarkan pada luas areal tempat rekreasi.

Tabel 2.5. Kebutuhan SRP di Tempat Rekreasi Luas Areal Total

(100 m2) 50 100 150 200 400 800 1600 3200 6400

Kebutuhan (SRP) 103 109 115 122 146 196 295 494 892

3. Hotel dan Tempat Penginapan

Kebutuhan ruang parkir di hotel dan penginapan tergantung kepada tarif sewa kamar yang diberlakukan dan jumlah kamar serta kegiatan-kegiatan lain seperti seminar, pesta kawin yang diadakan dihotel tersebut.

Tabel 2.6. Kebutuhan SRP di Hotel/Penginapan

Jlm Kamar (Buah) 100 150 200 250 350 400 500 550 600 Tarif Standar ($) < 100 154 155 156 158 161 162 165 166 167 100 - 150 300 450 476 477 480 481 484 485 487 150 - 200 300 450 600 798 799 800 803 804 805 200 - 250 300 450 600 900 1050 1119 1122 1124 1425

E. Ukuran Ruang Parkir

Berdasarkan ukuran ruang parkir yang dibutuhkan yang belum tercakup di atas dapat dilihat pada tabel 2.7 :

Bila kelompok masyarakat yang menggunakan fasilitas parkir adalah dari kalangan bawah maka digunakan batas bawah dan bila dari kalangan atas maka digunakan batas atas.

Tabel 2.7. Ukuran Kebutuhan Ruang Parkir

Peruntukan Satuan (SRP utk Mobil

Penumpang) Kebutuhan Ruang Parkir

1. Pusat Perdagangan

- Pertokoan SRP/100 m2 luas lantai efektif 3,5 – 7,5 - Pasar swalayan SRP/100 m2 luas lantai efektif 3,5 – 7,5

2. Pusat Perkantoran

- Pelayanan bukan umum SRP/100 m2 luas lantai 1,5 – 3,5 - Pelayanan umum SRP/100 m2 luas lantai 1,5 – 3,5

3. Sekolah SRP/Mahasiswa 0,7 – 1,0

4. Hotel/Penginapan SRP/Kamar 0,2 – 1,0

LAPORAN AKHIR 2 - 55 F. Tipe Perparkiran

Pengembangan pola perparkiran di daerah milik jalan (on-street parking) dan di dalam persil (off-street parking) dapat menerapkan beberapa pola parkir dengan sudut-sudut tertentu sesuai dengan pola pergerakan kendaraan roda empat.

Penerapan pola ini sangat dipengaruhi bentuk, lebar ruas jalan, sistem sirkulasi yang terbentuk dalam kawasan. Sedangkan penerapan di dalam persil sangat dipengaruhi oleh bentuk tapak, luas tapak dan sistem sirkulasi yang dibentuk di dalam tapak bangunan.

G. Tata Letak Parkir

1. Penyediaan ruang parkir dalam bangunan

a. Luas lantai bangunan yang dipergunakan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB rencana, selama tidak melebihi 50 % dari Batasan Maksimum Luas Seluruh Lantai Bangunan sesuai dengan batasan KLB yang ditetapkan pada daerah perencanaan (DP) tersebut.

b. Untuk bangunan khusus parkir diperkenankan mencapai 150 % dari Batasan Maksimum Luas Seluruh Lantai Bangunan yang diperkenankan sesuai dengan batasan KLB yang ditetapkan pada daerah perencanaan (DP) tersebut

c. Setiap bangunan bertingkat diwajibkan masing-masing menyediakan atau memikul penyediaan fasilitas parkir sesuai ketentuan yang berlaku di dalam daerah perencanaan (DP) yang ditetapkan.

d. Untuk bangunan bertingkat dengan ketinggian bangunan lebih dari 4 (empat) lantai penghitungan KLB rencananya memperoleh keringanan penggunaan lantai untuk mekanika/elektrikal, instalasi air dan ruang penunjang lainnya yang tidak dimanfaatkan secara komersial serta ruang untuk sektor informal (R. Tunggu supir, K-5 dan sebagainya) selama tidak melebihi 15 % dari total lantai yang diizinkan, dibebaskan dari perhitungan KLB. Untuk penghitungan KDB rencana, ketentuan tersebut di atas tidak berlaku.

Berdasarkan letaknya sistem parkir dapat dibedakan menjadi dua yaitu: 2. Tata Letak dan Dimensi Parkir

a. Ukuran unit parkir 1 (satu) mobil (sedan/van) ditentukan minimum lebar 2,30 m dan panjang 4.50 m pada posisi tegak lurus, khusus untuk parkir sejajar

LAPORAN AKHIR 2 - 56 ditentukan minimum lebar 2,30 m dan panjang 6,0 m. Rasio parkir di dalam bangunan 25 m2 mobil.

b. Apabila pada salah satu ujung jalan pada tempat parkir tesebut buntu, maka harus disediakan ruang manuver agar kendaraan dapat parkir dan keluar kembali dengan mudah.

c. Apabila disediakan pedestrian pada posisi parkir tegak lurus/menyudut, maka lebar pedestrian ditentukan minimum 1,50 m.

3. Parkir di Halaman (Offstreet Parking)

a. Pada penataan halaman parkir harus menggupayakan adanya pohon-pohon peneduh dan untuk jumlah parkir > 20 mobil harus disediakan ruang duduk/tunggu untuk sopir dengan ukuran minimum 2 x 3 m2.

b. Perkerasaan landasan parkir harus menggunakan material resap air

c. Pengaturan parkir pada ruang terbuka di antara GSJ-GSB dapat diatur dengan posisi sejajar (0o), sudut miring (30o), sudut miring (45o) dan tegak lurus (90o) d. Pintu keluar/masuk ke daerah perencanaan minimum 20 m dari tikungan dan

khusus untuk hunian (rumah tinggal) dapat menggunakan satu pintu

e. Bagi persil yang tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut di atas, letak pintu keluar/masuk ke daerah perencanaan diletakkan pada ujung sisi muka (frontage) yang paling jauh dari tikungan tersebut.

LAPORAN AKHIR 2 - 57

Gambar 2.25. Pola-Pola Perparkiran Kendaraan Roda Empat

4. Rencana Street Furniture (Perabot Jalan)

Rencana elemen perabot jalan Kawasan Perencanaan akan mencakup lampu penerangan jalan, lampu taman, lampu parkir dan pedestrian, tempat sampah, papan informasi dan bangku taman. Rencana penataannya ditetapkan dengan arahan sebagai berikut, yaitu :

a. Bahan yang dipergunakan mampu mendukung keawetan, daya tahan, dan kemudahan perawatan.

b. Pemilihan bahan, wama, bentuk, skala, dan tata letak memungkinkan pengintegrasiannya dengan lingkungan sekitar.

c. Peran dan fungsinya terhadap pembentukan citra dan wajah kawasan serta manfaatnya harus bisa dirasakan langsung oleh pemakai dan masyarakat.

d. Mampu mengantisipasi dan mencegah kemungkinan terjadinya tindakan vandalisme (perusakan).

Pintu Keluar/ masuk ke daerah perencanaan minimum 20 m dari tikungan dan khusus untuk hunian (rumah tinggal) dapat menggunakan satu pintu.

Bagi persil yang tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut diatas, letak pintu keluar/masuk ke daerah perencanaan diletakkan pada ujung sisi muka (frontage) yang paling jauh dari tikungan tersebut.

LAPORAN AKHIR 2 - 58 5. Rencana Penataan Signage (Petanda)

Sebuah kawasan tidaklah lengkap apabila tidak terdapat signage (petanda) seperti papan iklan yang menghiasi sudut-sudut jalan maupun papan identitas toko-toko dan bangunan komersial. Semakin berkembang suatu kawasan, maka kuantitas dan kualitas petanda pun akan ikut berkembang.

Sebagai alat komunikasi, petanda merupakan elemen visual yang menggunakan media ruang luar. Munculnya coreng moreng dan kekacauan wajah suatu kawasan akibat pemasangan papan reklame yang tidak terkendali, sampai saat ini masih merupakan suatu permasalahan yang cukup pelik dan dilematis. Karena tidak dapat dipungkiri Pendapatan Asli Daerah [PAD] sebuah Kabupaten yang bersumber dari pajak reklame memang cukup signifikan dalam mendukung kelanjutan program pembangunan wilayahnya.

Untuk itu, Rencana dasar penataan petanda pada Kawasan Perencanaan diarahkan untuk melakukan proses adopsi, adaptasi, dan akomodasi terhadap kepentingan pihak pengusaha (pemasang iklan) dengan pihak penguasa (pemerintah), dan pemakai (masyarakat) melalui ketentuan umum sebagai berikut:

 Pengaturan skala, dimensi (ukuran), dan konstruksi.

 Mampu mencerminkan karakter khas lingkungan, kawasan, bahkan kota,

 Pengaturan kualitas dan desain guna mencegah adanya saling mendominasi

yang memicu munculnya company image.

 Memperhatikan jarak pandang terkait dengan lokasi, standard, bahan yang

memantulkan, dan yang mudah dibaca.

 Pemilihan background warna.

 Jarak antar reklame, rambu, dan spanduk yang memadai.  Keselarasan dengan arsitektur gedung tempat pemasangan.  Tidak mengganggu pandangan pejalan kaki.

 Penataan cahaya yang tepat.

 Pemasangan petanda sepanjang core area harus pada lokasi/tempat yang mudah

dipantau.

 Keselarasan dengan arsitektur gedung tempat pemasangan.  Tidak mengganggu pandangan pejalan kaki.

LAPORAN AKHIR 2 - 59

 Penataan cahaya yang tepat.

 Pemasangan petanda sepanjang core area harus pada lokasi/tempat yang mudah

dipantau.

Rencana dasar dan ketentuan-ketentuan umum di atas, dalam implementasinya ditetapkan dengan arahan-arahan khusus sebagai berikut :

a. Pengaturan ukuran petanda yang mencakup :

 Penetapan dimensi (ukuran) maksimal petanda untuk mencegah terjadinya

dominasi dan persaingan antar produsen dalam mengiklankan produknya.

 Penyeragaman dimensi (ukuran) berdasarkan rancangan desain yang ingin

ditampilkan dan lokasi penempatannya.

 Untuk petanda berukuran "raksasa" (besar) lokasi penempatannya

ditetapkan melalui berbagai pertimbangan dan kajian yang lebih komprehensif atau dipasang pada lokasi site/ tapak pemilik produk yang diiklankan.

b. Rancangan desain mampu menampilkan karakter khas lingkungan/kawasan yang bernuansa Kota Mojokerto.

c. Kualitas dan rancangan desain diupayakan tidak memunculkan kesan persaingan dan saling mendominasi bahkan dengan rambu lalu lintas.

d. Bahan dasar hendaknya mampu mencegah dan mengurangi efek silau sehingga lebih informatif.

e. Background warna dari papan reklame yang satu dengan lainnya diupayakan mampu menciptakan kesan harmoni dan adanya suatu unity (kesatuan).

f. Khusus untuk petanda pada lingkungan, dilakukan pengaturan jarak yang memadai untuk mencegah kesan saling mendominasi dan memudahkan para pengendara untuk menangkap informasi yang ingin disampaikan.

g. Penempatan petanda pada bangunan, diupayakan tidak menutupi lebih dari setengah facade (wajah/muka) bangunan dan rancangan desainnya harus mempertimbangkan faktor skala, proporsi, unity (kesatuan) dan harmoni dengan arsitektur bangunannya.

h. Tidak mengganggu pandangan visual, keamanan, dan kenyamanan para pejalan kaki.

LAPORAN AKHIR 2 - 60 i. Penggunaan lampu yang berwarna-warni dan berkedap-kedip harus diupayakan

dapat mencegah efek silau.

j. Untuk pemasangan petanda pada lingkungan, perlu dipertimbangkan beberapa aspek penting, yaitu :

 Desain yang konsisten dan jelas untuk membantu orientasi pengunjung.  Mudah terbaca dan informatif.

 Terintegrasi dengan elemen fisik di sekitamya tanpa menutup

kemungkinan aksentuasi.

 Fleksibel terhadap perubahan dan penambahan sehingga biaya

perombakan dapat ditekan.

 Ukuran dan perletakan tidak menganggu sirkulasi pejalan kaki.  Awet dan tahan terhadap pengaruh cuaca.

 Mudah dan murah dalam pemeliharaan.

 Perlu dihindari kemungkinan terjadinya vandalisme/perusakan.

B. Utilitas Lingkungan 1. Jaringan Drainase

Untuk mengatasi permasalahan sistem pembuangan air hujan (drainase) di kawasan sekitar Pusat Kota Mojokerto perlu disusun program-program terpadu antar instansi dengan melibatkan masyarakat. Bentuk program yang dilakukan tersebut adalah sebagai berikut:

 Pematangan lahan dan saluran drainase kawasan  Penyiapan prasarana drainase lingkungan

 Mewajibkan kepada pemilik bangunan agar menyalurkan air hujan atau air

penggunaan secara hirarki hingga ke saluran utama lingkungan

 Membatasi pembangunan fisik pada lokasi tertentu di kawasan perencanaan.  Pengembangan jalur hijau dan ruang terbuka untuk penyerapan air hujan.

Persyaratan sistem penyaluran air hujan

a. Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah, permeabilitas tanah, dan ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota.

LAPORAN AKHIR 2 - 61 b. Setiap bangunan gedung dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem

penyaluran air hujan.

c. Kecuali untuk daerah tertentu, air hujan harus diresapkan ke dalam tanah pekarangan dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum dialirkan ke jaringan drainase lingkungan/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

d. Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat diterima, maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang.

e. Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran.

Analisis sistem drainase harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

 Perencanaan sistem drainase harus dilihat sebagai bagian yang terintegrasi dengan

rencana kota secara menyeluruh.

 Tujuan utama dari perencanaan sistem drainase adalah untuk memperoleh pola yang

baik dan dapat mengurangi kerugian akibat genangan disaat sekarang maupun akan datang sesuai dengan rencana pengembangan kota dan kawasan yang dikehendaki.

 Perencanaan sistem drainase perlu memperhatikan segi keindahan, kenyamanan,

kualitas lingkungan dan kondisi alam setempat lainnya.

Dalam pengembangan kawasan ke depannya, Rencana rencana penataan kawasan perencanaan ditetapkan sebagai berikut :

 Sangat dibutuhkan pengadaan jaringan drainase yang mencakup seluruh kawasan

perencanaan.

 Mempertimbangkan keberadaan dan kelestarian sungai-sungai yang melewati kawasan

perencanaan.

 Untuk kawasan perbatasan dibutuhkan koordinasi dengan kawasan sekitarnya guna

mewujudkan sistem drainase terpadu.

 Perbaikan dan pemeliharaan jaringan pembuangan sekunder (got) dengan perkerasan

yang ada, sehingga dapat berfungsi optimal. 2. Jaringan Listrik

Rencana pengembangan jaringan listrik yang diarahkan pada pengembangan jaringan baru seiring dengan pengembangan kawasan permukiman dan kawasan baru lainnya seperti kawasan industri, perdagangan, perkantoran dan lainnya yang direncanakan.

LAPORAN AKHIR 2 - 62 Juga peningkatan pelayanan terhadap kebutuhan daya bagi penerangan jalan. Arahan pengembangan utilitas listrik di kawasan rencana terdiri dari :

 Sumberdaya, yang direncanakan diperoleh dari PLN namun disarankan bagi

kegiatan yang membutuhkan daya besar untuk menggunakan sumberdaya dari swasta seperti industri.

 Sistem distribusi, sistem distribusi jaringan listrik dengan menggunakan saluran

udara dengan tiang beton untuk kawasan mix use (campuran).

Sangat dibutuhkan pengadaan jaringan listrik yang mencakup seluruh kawasan perencanaan. Penempatan tiang-tiang listrik diarahkan pada areal yang tidak mengganggu sirkulasi para pejalan kaki.

3. Jaringan Air Bersih

Sangat dibutuhkan pengadaan jaringan air bersih di seluruh kawasan perencanaan. Penataan dan penyediaan pada tempat-tempat strategis di sepanjang di sekitar pemukiman di kawasan perencanaan.

Penyediaan prasarana dan utilitas pada kawasan sekitar Koridor Jalan J.A. Suprapto - Jalan Residen Pamuji - Jalan Empu Nala dapat dijelaskan sebagai berikut:

Dalam menghitung kebutuhan air bersih ini digunakan standar kebutuhan air bersih dari DPU Cipta Karya sesuai dengan tingkat kebutuhan rata-rata di wilayah perencanaan, yaitu :

a. Rumah Tangga (domestik) : 130 Liter/orang / hari. b. Non domestik : 20-30 dari kebutuhan domestik c. Hidran umum : 30 Liter/orang/hari

d. Kehilangan air maksimum : 30 % dari kebutuhan total air bersih 4. Sistem Persampahan

Seiring dengan perkembangan fungsi dan fisik yang terjadi di kawasan perencanaan, dibutuhkan penanganan persampahan dengan Rencana :

 Penanganan sampah secara terpadu yang dikoordinasikan oleh DPU Kota

Mojokerto dan mencakup seluruh kawasan perencanaan.

 Mewajibkan kepada masing-masing kavling bangunan dan fungsi peruntukan untuk

menyediakan bak-bak penampungan sampah.

 Memberlakukan sistem shift yang mengatur waktu dan jadwal pembuangan pada

depo sementara, yang kemudian diangkut dengan truk khusus sampah oleh petugas ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

LAPORAN AKHIR 2 - 63

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Tahun 2016 (Halaman 126-136)