• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Korban Menurut KUHAP

BAB V PERANAN KORBAN DALAM SISTEM PERADILAN

D. Kedudukan Korban Menurut KUHAP

Undang-undang no. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menujukkan bahwa berorientasi pada pelaku dari pada korban. Disayangkan karena konsiderannya membuka peluang secara universal untuk mencapai keadilan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia, ketertiban serta kepastian hukum demi terselenggaranya negara hukum sesuai dengan Undang Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Konsideran KUHAP mengatur hak serta kewajiban bagi pihak yang terlibat proses acara pidana, sehingga dasar utama negara hukum dapat ditegakkan.

Berdasarkan konsideran terdapat beberapa aspek yang digaris bawahi, yaitu :

1. Pertimbangan keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia. Keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia tentunya bukan hanya pelaku saja, termasuk korbannya. Tetapi penjabaran diktumnya aspek keadilan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat korban kurang tampak.

2. KUHAP dimaksudkan mengatur hak serta kewajiban mereka yang terlibat proses peradilan pidana, sehingga dasar utama negara hukum tercapai. Pihak yang terlibat proses peradilan pidana selain aparat penegak hukum juga korban dan pelaku tindak pidana.

96

Penjabaran pasal di diktum serta penjelasannya tidak terakomodir ketentuan hak dan kewajiban korban secara adil.

Berikut ini dipaparkan pasal KUHAP serta penjelasannya yang menunjukkan KUHAP memang memarjinalkan korban dan lebih berorientasi pada kepentingan pelaku.

Pertama, Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 terdiri atas angka 1 sampai 32 dan berisi berbagai pengertian yang berkaitan dengan proses peradilan, tidak satupun merumuskan pengertian korban. Ini tidak tepat karena ketentuan beberapa pasal menyebut tentang korban.

Kedua, Bab VI tentang Tersangka dan Terdakwa, terdiri atas 19 pasal sarat dengan aturan yang memberikan hak perlindungan HAM pelaku tindak pidana. Hak tersebut dapat diperinci :

1. Hak segera mendapat pemeriksaan penyidik dan diajukan ke Penuntut Umum (Pasal 50 ayat (1) )

2. Hak perkaranya segera diajukan ke pengadilan oleh Penuntut Umum (Pasal 50 ayat (2) )

3. Hak untuk segera diadili oleh pengadilan (Pasal 50 ayat (3) )

4. Hak diberitahu dengan jelas sangkaannya waktu pemeriksaan dimulai (Pasal 51 ayat (1)

5. Hak diberitahu dengan jelas tentang apa yang didakwakan kepadanya (Pasal 51 ayat (2)

6. Hak untuk memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim (Pasal 52)

7. Hak mendapatkan juru bahasa setiap waktu sesuai Pasal 177 (Pasal 53 ayat (1)

97 8. Hak mendapat bantuan hukum selama waktu dan di setiap tingkat

pemeriksaan (Pasal 54)

9. Hak untuk memilih sendiri penasihat hukumnya (Pasal 55)

10. Hak memperoleh penasihat hukum untuk kasus yang ancaman hukumannya 5 tahun/lebih (Pasal 56 ayat (1)

11. Hak menghubungi penasihat hukum selama yang bersangkutan ditahan (Pasal 57 ayat (1)

12. Hak menghubungi dan berbicara dengan perwakilan negara bagi WNA selama penahanan dalam menghadapi proses perkaranya (Pasal 57 ayat (2)

13. Hak menghubungi dan menerima kunjungan dokter pribadi untuk kesehatan baik yang ada hubungannya dengan proses perkara maupun tidak (Pasal 58)

14. Hak diberitahukan atas penahanan dirinya bagi yang ditahan di semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan, termasuk mendapat penangguhan penahanan (Pasal 59)

15. Hak menghubungi dan menerima kunjungan keluarga/lainnya guna mendapat jaminan bagi penangguhan penahanan atau untuk mendapat bantuan hukum (Pasal 60)

16. Hak menghubungi dan menerima kunjungan sanak keluarga secara langsung/dengan perantaraan penasihat hukum untuk kepentingan pekerjaan/kekeluargaan (pasal 61)

17. Hak mengirim/menerima surat pada penasihat hukum serta keluarganya setiap saat dan untuk kepentingan tersebut disediakan alat tulis menulis (Pasal 62 ayat (1) )

98

18. Hak untuk menghubungi dan menerima kunjungan rokhaniawan (Pasal 63)

19. Hak untuk diadili di sidang pengadilan yang terbuka untuk umum (pasal 64)

20. Hak mengusahakan dan mengajukan saksi dan/atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya (Pasal 65)

21. Hak untuk tidak dibebani kewajiban pembuktian (Pasal 66)

22. Hak banding terhadap putusan PN kecuali putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum menyangkut kurang tepatnya penerapan hukum dan putusan acara cepat (Pasal 67)

23. Hak untuk menuntut ganti kerugian dan rehabilitasi (Pasal 68) Ketiga, Bab VII tentang Bantuan Hukum pasalnya mengatur beberapa hak dan kewajiban penasihat hukum selama proses peradilan. Hak ini dapat dikatakan sebagai pendukung bagi terlaksananya hak-hak pelaku.

Keempat, Bab XII tentang ganti rugi dan rehabilitasi, menunjukkan hak pelaku wujud perlindungan hukum. Hak menuntut ganti rugi dimungkinkan tersangka/terdakwa merasa ditangkap, ditahan, dituntut dan diadili atau dikenakan tindakan lain, tidak berdasarkan UU atau kekeliruan mengenai orang atau hukum yang diterapkan (Pasal 95 ayat (1) ). Hak memperoleh rehabilitasi bila tersangka/terdakwa diputus bebas/lepas dari segala tuntutan hukum yang putusannya mempunyai kekuatan hukum tetap (Pasal 97 ayat (2). Kelima, Bab XIV tentang Penyidikan dijumpai ketentuan yang berorientasi terhadap hak pelaku. Hak-hak yang dimaksud adalah

99 1. Hak diberitahu penyidik tentang hak untuk mendapat bantuan

hukum/ wajib didampingi penasihat hukum (Pasal 114)

2. Hak ditanya apa Terdakwa menghendaki saksi yang menguntungkan (Pasal 116 ayat (3)

3. Hak diperiksa tanpa tekanan siapapun dan/atau dalam bentuk apapun (Pasal 117 ayat (1)

4. Hak untuk segera diperiksa oleh penyidik (Pasal 122)

5. Hak mengajukan keberatan atas penahanan atau jenis penahanan (Pasal 123 ayat (1) )

6. Hak mengajukan pra peradilan guna memperoleh putusan tentang sah/tidaknya penahanan atas diri yang bersangkutan (Pasal 124) 7. Hak dilihatkan tanda pengenal penyidik yang menggeledah rumah

tersangka (Pasal 124)

Keenam, diktum yang tertuang dalam pasalnya, dan penjelasan tampak bahwa KUHAP lebih berorientasi pada kepentingan pelaku daripada korban, walau penjelasan umumnya menyebut adanya tujuan menjunjung tinggi HAM dan menjamin warganegara bersamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintah. Disebutkan bahwa kewajiban hukum acara pidana nasional didasarkan pada falsafah hidup bangsa dan dasar negara. Aspek yang menunjukkan KUHAP lebih berorientasi pada kepentingan pelaku dari pada korban tampak pada bagian akhir penjelasan umum KUHAP. Bagian akhir penjelasan KUHAP disebutkan asas yang maknanya lebih dominan bagi kepentingan pelaku dari pada korban. Asas-asas yang dimaksud meliputi:

100

1. equality before the law

2. Penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan dilakukan berdasarkan perintah tertulis pejabat yang berwenang dan dalam hal dan menurut cara yang diatur UU

3. presumption of innocence

4. Seseorang yang ditangkap, ditahan, dituntut /diadili tanpa berdasarkan UU dan/atau karena keliru mengenai orang atau hukum yang diterapkan wajib diberi ganti rugi dan rehabilitasi sejak tingkat penyidikan dan pejabat penegak hukum yang sengaja / lalai menyebabkan asas hukum dilanggar, dituntut, dipidana dan/atau dikenakan hukuman administrasi

5. Peradilan harus dilakukan dengan cepat, sederhana dan biaya ringan, serta bebas, jujur dan tidak memihak harus diterapkan secara konsekuen dalam seluruh tingkat peradilan

6. Setiap tersangka wajib diberi kesempatan memperoleh bantuan hukum yang semata-mata diberikan untuk melaksanakan kepentingan pembelaan atas dirinya

7. Kepada seorang tersangka, sejak saat dilakukan penangkapan dan/atau penahanan selain wajib diberitahu dakwaan dan dasar hukumnya, juga wajib diberitahu haknya termasuk hak untuk menghubungi dan minta bantuan penasihat hukum

8. Pengadilan memeriksa perkara pidana dengan hadirnya terdakwa 9. Sidang pengadilan terbuka untuk umum kecuali dalam hal yang diatur

dalam UU.

Paparan di atas tampak memang banyak hak diberikan pada pelaku. Ini tidak sebanding dengan hak yang diberikan pada korban. Hak

101 yang diberikan KUHAP pada korban sangat terbatas. hak korban menurut KUHAP sebagai berikut :

Pertama, hak melakukan tuntutan ganti rugi diatur Bab XII Pasal 98 hingga Pasal 101 KUHAP. Disebutkan hak seseorang yang dirugikan atas tindak pidana menjadi dasar dakwaan bagi pelaku untuk menggugat ganti kerugian melalui hakim (Pasal 98)

Kedua, hak mengajukan laporan/pengaduan pada penyelidik dan/atau penyidik baik lisan/tertulis atas tindak pidana yang dialami (Pasal 108 ayat (1) )

Ketiga, hak keluarga korban untuk diberitahu bila korban telah meninggal dunia, akan dilakukan bedah mayat (Pasal 134 ayat (1) )

Keempat, hak korban (sebagai saksi korban) mendapat ganti biaya, bila hadir untuk memberi keterangan di semua tingkatan pemeriksaan (Pasal 299 ayat (1)

Paparan di atas tampak bahwa hak korban dalam KUHAP sangat terbatas dibandingkan dengan hak pelaku. Ini menunjukkan terjadi diskriminasi perlakuan korban dan pelaku. Kedudukan korban dalam KUHAP termarjinalkan dan terjadi ketidakadilan. Ini bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 khususnya Pasal 27 ayat (1). Termarjinalkannya kedudukan korban dalam KUHAP sekaligus mengingkari ketentuan KUHAP sendiri yang tercantum dalam beberapa bagian penjelasan umumnya.

KUHAP berorientasi terhadap pelaku dari pada korban tidak terlepas dari 2 faktor antara lain :

Pertama, semangat berlebihan dalam perubahan sistem pemeriksaan yang dipakai dari sistem inquisitoir ke sistem accusatoir. Kedua, pengaruh

102

kecenderungan internasional dalam penghormatan HAM dengan tingkatan yang sifatnya universal. Dokumen atau instrumen internasional tentang HAM dipedomani dalam penyusunan KUHAP. Dokumen ini adalah perjanjian internasional dimana negara yang menandatangani perjanjian ini, menjadi salah satu pihak treaty (state party) yang menyatakan tunduk pada aturan hak asasi. HAM. Berkaitan dengan hal ini terdapat 2 perjanjian internasional yang diperhatikan, sebagai berikut : (1) The International Convenant on Economic, Social and Cultural Right, dan (2) The International Convenant on Civil and Political Rights. The International Convenant on Civil and Political Rights mempunyai istrumen yang dikenal dengan nama The Optional Protocol to The International Convenant on Civil and Potical Right.

Perlindungan hak pelaku (Pasal 50 sampai Pasal 68 KUHAP) sejalan dengan The Universal Declaration of Human Rights berikut The International Convenant on Civil and Political Right beserta Optional yang tercermin pada Pasal 9 dan Pasal 14 International Convenant on Civil and Political Right tersebut.

Asas yang tercermin dalam Pasal 9 International Convenant on Civil and Political Right, antara lain :

1. Tidak seorangpun diambil kebebasannya secara sewenang-wenang kecuali jika diajukan dasar-dasar dan sesuai dengan prosedur menurut undang-undang

2. Setiap orang ditahan, segera dapat diajukan kepada dan diperiksa oleh hakim. Selama menunggu pemeriksaan pengadilan, dikatakan sebagai penahanan sementara adalah suatu kekecualian

103 3. Orang yang ditangkap/ditahan berwenang untuk mengajukan kepada

pengadilan, supaya pengadilan dalam waktu yang tidak begitu lama (without delay) dapat menentukan tentang sahnya penahanan tersebut dan dibebaskan apabila penahanan itu dipandang tidak sah.

4. Setiap orang yang menjadi korban penahanan tidak sah berhak memperoleh ganti rugi.

Pasal 14 International Convenant on Civil and Political Right tampaknya diadopsi KUHAP dan berorientasi pada kepentingan pelaku. Ketentuan dimaksud adalah :

1. Dakwaan dituangkan dalam bahasa yang dimengerti terdakwa mengenai sifat (nature) dan sebab (cause) dari dakwaan yang bersangkutan

2. Persiapan dalam waktu adequat untuk mengadakan pembelaan dan haknya berhubungan dengan penasihat hukum (right to communicate) 3. Secepat mungkin diadakan pemeriksaan (without any delay)

4. Hak untuk memperoleh bantuan hukum, khususnya bagi yang kurang mampu

5. Memeriksa (to examine) saksi a charge ataupun a de charge

6. Memperoleh penterjemah, bila tidak memahami bahasa yang dipergunakan di pengadilan

7. Hak untuk tidak mempersalahkan diri sendiri (right of non self incrimination)

Direkomendasikan bahwa KUHAP dalam penjabaran konsiderannya seyogyanya memperhatikan aspek keadilan dan perlindungan harkat serta martabat korban dan pelaku.

104