• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEHIDUPAN PARA PECINTA MINUMAN BOBA

3.4. Ola Si Pengikut Tren

3.4.2. Kehidupan sehari-hari Febiola

Setelah Ola bekerja di salah satu hotel bintang empat, orang tuanya tidak memberikan uang saku sedikitpun kepada Ola. Hal ini dikarenakan orang tua Ola menganggap Ola sudah dewasa. Sehingga dalam hal ekonomi, orang tua olah lebih memperhatikan biaya hidup rumah tangga dan adiknya dibanding Ola.

Orang tua Ola berharap bahwa Ola bisa mandiri secara finansial. Bahkan, terkadang Ola membantu orang tuanya membayar uang sekolah adiknya dan uang saku untuk adiknya.

Sumber penghasilan Ola berasal dari gaji bulanannya bekerja di hotel bintang empat. Ola mendapat gaji empat juta rupiah perbulannya. Uang tersebut menjadi satu-satunya pemasukan Ola, dan ia kelola sendiri untuk kehidupannya sembari sesekali membantu orang tuanya. Dengan uang ini juga ia pergunakan utuk membeli jajan dan belanja lainnya seperti baju, tas dan lainnya. Melihat latar belakangnya, orang akan sulit menyangka Ola berasal dari latar belakang keluarga menengah ke bawah. Hal ini dikarenakan kerap kali saya lihat dia sering bergonta-ganti tas mulai dari harga puluhan ribu sampai ratusan ribu. Meskipun ternilai pas-pasan, Ola lumayan shopaholic, alias suka berbelanja. Ketika ditanya diantara sepatu, tas, dan handphone, mana yang Ola paling sering beli, dia menjawab tas dan sendal dengan percaya diri. Ola senang mengganti-ganti tas dan sendal sepatunya. Hal ini dikarenakan Ola orang yang gampang bosan. Ola juga sangat

terkini, dia akan membelinya, meskipun masih banyak tas dan sendal sepatu lainnya. Sifat Ola yang seperti ini kontras dari kondisi ekonomi keluarganya yang menengah ke bawah. Untuk kendaraan, Ola tidak memiliki kendaraan apapun, Ola lebih sering meminta kekasihnya untuk mengantarnya kerja dan sana-sini, atau memesan Gojek untuk mengantarnya ketika kekasihnya tidak sempat mengantarnya kerja, tapi ini tidak begitu sering.

“aku orangnya suka ganti-ganti tas, sandal gitu-gitu nik soalnya bosenan gitu aku, tapi gak mesti yang mahal sii yang penting yang lagi tren aja”

Ternyata lingkungan pertemanan Ola sangat luas. Ola tidak membatasi ruang lingkup pertemanannya di kelas sosial tertentu. Dia ramah pada semua orang, terlepas dari kelas dan latar belakang orang tersebut. Hal ini terbukti dari setiap kami pergi berjalan ada saja orang yang menyapanya sering pula yang menyapanya teman saya juga, salah satunya adalah seorang anak dari pengusaha kaya di Medan.

Ola pun terlihat akrab dengan anak pengusaha tersebut, karena beberapa kali saya melihat dia memposting di media sosialnya ketika sedang nongkrong dengan anak itu. Keakraban mereka tercermin dari interaksi mereka, bahkan Ola menginap di rumah anak orang kaya tersebut. Dari ucapan Ola, kesannya seperti Ola begitu dekat dengan anak tersebut dan sudah menginap beberapa kali.

“aku sering ke rumah dia nik, kadang pun nginap kalau lagi males pulang kerumah”

Kalimat tersebut dilontarkan oleh Ola, bukti bahwa dia memang dekat dengan anak orang kaya tersebut. Logikanya, Ola tidak mungkin menginap di rumah anak orang kaya tersebut apabila mereka tidak dekat. Selain anak orang kaya tersebut, Ola memiliki beberapa teman yang akrab dengannya hingga dia

sering menginap di rumah mereka ketika ada kesempatan. Hal ini juga menjadi bukti bahwa terlepas dari kondisi ekonominya, Ola tetap berteman dengan orang lain yang memiliki situasi ekonomi lebih baik dibandingnya.

Dia juga bercerita bahwa meskipun dia ramah pada semua orang terlepas dari level ekonomi dan latar belakang orang tersebut, terkadang, Ola merasa malu sebenarnya ketika berteman dengan orang kaya karena perbedaan ekonomi. Ola sadar bahwa kesenjangan ekonomi masih terasa dalam circle pertemanannya.

Maka dari itu, Ola jarang sekali mengajak temannya untuk berkunjung ke rumahnya. Ketika mereka berkumpul, Ola lebih suka berkumpul di luar atau nongkrong di rumah temannya yang lain, tapi tidak pernah di rumah Ola. Selain karena malu, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, akses ke rumah Ola memang tidak mudah.

Untuk fashion yang dikenakannya terlihat lumayan mewah. Diantara barang mewah yang dimiliki Ola adalah jam tangan dari merk Fosil yang rata-rata harganya per jam satu juta hingga tiga juta ke atas, tas selempang dari merk Charles & Keith dengan kisaran harga Sembilan ratus sampai satu juta rupiah.

Dan baju yang sangat mengikuti tren masa kini. Dengan pashmina berbahan chiffon import. Dia membeli barang-barang yang dia mau dengan uang yang dia hasilkan sendiri yang dia sisihkan memang untuk belanja. Terkadang dalam sebulan, Ola bisa menghabiskan satu setengah hingga dua juta untuk berbelanja.

Ketika ditanya mengenai tabungan, Ola mengaku bahwa dia belum terpikir untuk menabung karena belum memiliki target apa-apa di hidupnya. Lagi, cara pembawaan Ola menampilkan dirinya dengan penampilan bajunya terasa kontras dari latar belakang keluarganya.

Ola sangat senang berbelanja, hingga kadang kala, ketika sudah mendekati akhir bulan uang tersebut tinggal sedikit, tetapi jika dia sedang ingin membeli sesuatu akan diusahakan dengan apapun caranya dengan mengutang dengan temannya atau bahkan meminta pada pacarnya. Barang-barang yang dia beli bukan barang-barang penting yang urgent harus dibeli secepatnya, namun lebih ke mengikuti tren kekinian. Baju-baju yang Ola tidak mau pakai lagi dia jual kembali dengan harga murah, atau diberikan kepada adiknya. Kiblat fashion dia adalah temannya dan selebgram yang dia follow di Instagram.

Tak bisa dipungkiri bahwasanya hobi Ola memang hangout dengan teman-temannya jika libur dari pekerjaannya. Biasanya perminggu ada dua hari dia mendapatkan libur. Hampir semua café kekinian sudah pernah dia datangi, karena dia sangat suka minum kopi. Selain kopi tentu saja dia sangat menyukai minuman boba. Ola suka dengan minuman boba karena tekstur boba yang kenyal dan enak dikunyah, serta rasa gula merahnya yang manis. Hampir seperti cendol, tapi bukan cendol, kata Ola. Selain itu, ketika diminum, Ola sering merasa kenyang dikarenakan bobanya sehingga Ola merasa puas.

Boba yang pertama kali dicobanya adalah Xiboba, dia mengetahui itu dari media sosial. Awalnya, Ola melihat begitu banyak temannya yang memposting di media sosial ketika membeli minuman ini. Tidak hanya Ola, banyak akun-akun Instagram orang populer yang dia follow juga memposting minuman ini, jadi dia tergiur untuk mencobanya. Pertama kali dia mencobanya, Ola langsung jatuh cinta pada tekstur kenyal dan rasa manis yang dimiliki boba, sehingga, dia segera mengklaim bahwasanya boba adalah salah satu minuman favoritnya. Setelah itu dia mencoba berbagai jenis boba seperti Xing Fu Tang, Kokumi, OneZo, dan

banyak lagi. Hampir seluruh boba yang ada di Medan sudah pernah dirasakan.

Tapi sejauh ini favoritnya adalah Xiboba.

Salah satu mall yang paling sering dikunjunginya yaitu Sun Plaza Medan tidak ada Xiboba, jadi untuk membeli Xiboba lebih sering dibelinya melalui aplikasi online yaitu Gofood/Grabfood. Menurutnya selain lebih praktis menggunakan aplikasi tersebut terkadang banyak juga promo yang ditawarkan dari aplikasi tersebut. Tapi jika banyak waktu senggang tak jarang pula dia membelinya langsung di gerainya dengan menggunakan sepeda motornya yang berwarna pink. Terkadang pun dia rela untuk mengantri panjang demi mendapatkan boba jika moodnya sedang baik. Selain dengan pacarnya adiknya pun sering menemani dia untuk membeli boba. Untuk membayar pembelian bobanya, Ola menggunakan cash apabila dia mampir membeli, atau menggunakan Gopay bisa menggunakan GoFood.

“seminggu mungkin ada dua atau tiga kali aku beli boba, kadang karena liat orang update di Instagram lagi minum, aku bisa langsung pesen Gofood”.

Dari pertama kali membeli boba, sudah tidak terhitung berapa banyak gelas minuman boba yang sudah Ola konsumsi hingga saat ini. Ketika ditanya tentang seberapa sering Ola memposting postingan boba, Ola menjawab sering pula dia memposting boba tersebut ke akun instagramnya. Hampir setiap kali dia membeli boba, Ola akan mempostingnya ke media sosial. Alasannya hanya karena,

“pingin, biar estetik kek anak jaman sekarang”.

Dia merasa senang ketika memposting minuman tersebut, karena dia merasa dia mengikuti perkembangan anak milenial zaman kini. Selain dari baju,

Ola juga mengikuti perkembangan makanan dan minuman, yakni boba. Hasil pengamatan dan interview saya, Ola sangat mengacu pada tren.