• Tidak ada hasil yang ditemukan

Millenial dan Boba (Studi Kasus Gaya Hidup Millenial di Perkotaan) SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Millenial dan Boba (Studi Kasus Gaya Hidup Millenial di Perkotaan) SKRIPSI"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

Millenial dan Boba (Studi Kasus Gaya Hidup Millenial di Perkotaan) SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dalam Bidang Antropologi

Disusun Oleh Cut Qonita Gusmar

160905042

PROGRAM STUDI ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(2)
(3)
(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PERNYATAAN ORIGINALITAS

Millenial dan Boba (Studi Kasus Gaya Hidup Millenial di Perkotaan)

SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Apabila dikemudian hari terbukti lain dan tidak seperti yang saya nyatakan disini, saya bersedia diproses secara hukum dan siap menanggalkan gelar kesarjanaan saya.

Medan, April 2021

Cut Qonita Gusmar

(5)

ABSTRAK

Cut Qonita Gusmar, 160905042, Judul Skripsi: “Millenial dan Boba (Studi Kasus Gaya Hidup Millenial di Perkotaan)

Penelitian ini berjudul Millenial dan Boba (Studi Kasus Gaya Hidup Millenial di Perkotaan). Kajian ini menjelaskan tentang gaya hidup anak millenial di Kota Medan yang konsumtif dalam membeli minuman Boba.

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab perubahan gaya hidup konsumtif pada kalangan millenial dan bagaimana gaya hidup mereka diperkotaan.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan teknik observasi, wawancara mendalam dengan memakai pedoman wawancara (Interview Guide) dan analisis secara mendalam untuk mendapatkan data yang diinginkan.

Wawancara dilakukan terhadap beberapa informan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup generasi millenial telah mengalami pergeseran berupa perilaku, budaya, komunikasi, dan teknologi dimana salah satunya terjadi pergeseran nilai budaya konsumtif pada millenial.

Millenial cenderung mengkonsumsi sesuatu bukan lagi berdasarkan nilai guna atau kebutuhan melainkan nilai simbol dan tanda. Serta penyebab terjadinya pergeseran akibat teknologi. Dengan adanya boba menurut millenial minuman ini menjadi tren yang membawa pesan dan gaya hidup suatu komunitas yang menjadi bagian dari kehidupan sosial. Membeli merek-merek yang dianggap ternama menimbulkan perasaan diri lebih dalam diri penggunanya.

Kata-kata kunci: Gaya hidup, Anak Millenial, dan Konsumtif

(6)

UCAPAN TERIMAKASIH

Alhamdullilahirobbil „ alamin. Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT dengan rahmat, karuniya dan ridha Nya penulis bisa menyelesaikan skripsi ini serta junjungan besar Nabi Muhammad SAW. Pada bulan ini selesai tugas akhir perkuliahan atau dengan nama lain skripsi. Dimana skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana S-1 bidang Antropolgi Sosial di departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Skripsi ini menjelaskan tentang Gaya Hidup Millenial di Perkotaan (Studi Kasus Penikmat Boba). Selama proses penelitian skripsi ini penulis sangat mengalami kesulitan dalam merangkai kata-kata yang tepat, namun atas dukungan, masukan, semangat dan bimbingan yang terus mengalir untuk penulis, penulis mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan yang diberikan selama pembuatan skripsi ini.

Penulis banyak mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua penulis yang bernama drh Teuku Eddi Gusmar dan Feriati Gustiani, A.Md yang selalu memberikan bantuan moral maupun materil kepada penulis. Hanya Allah yang bisa membalas jasa papa dan mama berikan kepada penulis, semoga diberikan berkah dan kesehatan bagi keduanya. Terimakasih juga penulis sampaikan kepada adik kandung yang bernama Cut Aisyah Gusmar yang membantu penulis atas dukungan dan support nya.

(7)

Pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak lain yang selama ini memberi pengaruh besar dan baik bagi kelangsungan perkuliahan dan skripsi

Terima kasih juga kepada Bapak Dr. Fikarwin Zuska selaku Ketua dan Bapak Drs. Agustrisno, MSP selaku sekretaris Prodi Antropologi Sosial FISIP USU yang telah memberi masukan kepada peneliti selama perjalanan akademis peneliti di Departemen Antropologi Sosial FISIP USU dan atas motivasi, masukan, kritik, inspirasi, serta motivasi bagi penulis.

Terkhusus saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada bapak Drs.

Zulkifli, MA. Selaku dosen pembimbing akademik dan pembimbing skripsi saya.

Terima kasih atas waktu, ilmu serta kesabaran yang diberikan dalam membimbing saya dalam menyelesaikan skipsi ini. Ilmu yang Ibu berikan sangat berharga bagi saya.

Kepada Ibu Dra. Tjut Syahriani, M.Soc.Sc. sebagai dosen Penasihat Akademik yang memberikan masukan dan membantu peneliti selama proses Proposal Peenelitian. Terima kasih atas segala masukannya semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas kebaikan Ibu.

Penulis juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh dosen pengajar Departemen Antropologi Sosial FISIP USU yang telah mendidik penulis dengan penuh kasih sayang dan sangat peduli kepada Mahasiswa nya.

Semoga ilmu yang telah Bapak/Ibu berikan bermanfaat bagi penulis dikemudian hari. Kepada staf administrasi Departemen Antropologi Sosial FISIP USU yaitu Kak Sri dan Kak Nur.

(8)

Kepada Rean Farras Septian, S.T terimakasih atas segala dorongan dan semangat yang telah diberikan. Tidak lupa kepada teman-teman kuliah saya angkatan 2016.

Dan kepada informan-informan dalam penelitian ini yaitu Intan, Shania, Inez, dan Ola. Terimakasih atas kerja sama serta bantuan yang telah diberikan oleh informan.

Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang tidak dapat di tulis satu-persatu. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah di berikan oleh semua pihak kepada penulis.

Medan, April 2021

Cut Qonita Gusmar

(9)

RIWAYAT HIDUP

Cut Qonita Gusmar, lahir di Kota Medan pada tanggal 12 November 1998. Anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan drh Teuku Eddi Gusmar dan Feriati Gustiani, A.Md. beragama islam, berdarah Aceh dan Minang.

Peneliti pertama memulai pendidikan formal yaitu SD di Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah.

Selanjutnya penulis melanjutkan SMP dan SMA di Alfityan School Medan.

Dan pada tahun 2016 melanjutkan pendidikan strata satu di jurusan Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Alamat email aktif yang bisa di hubungi yaitu [email protected].

Pernah berpartisipasi pada beberapa kegiatan di luar pendidikan formal seperti:

1. Peserta Inisiasi Antropologi Sosial FISIP USU di kampus pada tahun 2016.

2. Peserta PRA-SARASEHAN JKAI ke XIV di Universitas Udayana pada tahun 2017.

3. Bendahara HUMAS Himpunan Mahasiswa Departemen Antropologi (MASADEPANT) periode 2018-2019.

(10)

4. Panitia pengenalan Komuitas bagi Antropologi pemula, Langkat 2018 5. Peserta Praktek Kerja Lapangan (PKL-TBM) di Desa sianjur mula-

mula. Samosir.

(11)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulisan skripsi ini dan penyusunan penelitian dilakukan guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana social dalam bidang antropologi. Skripsi ini berjudul “Millenial dan Boba (Studi Kasus Gaya Hidup Millenial di Perkotaan))”

Dalam penulisan skripsi ini banyak hambatan yang dihadapi, hal ini dikarnakan keterbatasan pengetahuan, pengalaman dalam menulis kepustakaan dan materi penulisan. Namun berkat pertolongan Allah SWT yang memberikan ketabahan, kesabaran. Dan kekuatan sehingga kesulitan tersebut dapat dihadapi.

Bab I penulis menjelaskan tentang Pendahuluan, yang berisikan latar belakang penulisan skripsi, tinjauan pustaka, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta menjelaskan metode penelitian yang di gunakan.

Penulisan ini untuk mengungkapkan ketertarikan penulis dalam pengambilan judul “Gaya Hidup Anak Millenial di Perkotaan (Studi Kasus Penikmat Boba)”

Bab II penulis menjelaskan tentang gambaran umum yang berisi sejarah Boba dan persebaran Boba di Kota Medan.

Bab III berisi kehidupan anak millenial penikmat Bob, yaitu Latar Belakang mereka dan kehidupan sehari-harinya.

Bab IV berisi analisis teori menggunakan Teori Konsumsi Jean Baurdillard dan hasil analisis gaya hidup generasi millenial.

Bab V Penutup, dalam bab ini berisi tentang kesimpulan dan Saran.

Dengan begitu seluruh hasil yang di dapatkan dalam penelitian dan di tuliskan

(12)

dalam bentuk skripsi akan di rangkumkan secara rinci dan masuk kedalam kesimpulan nantinya. Setelah itu tidak lupa penulis memberikan saran bagi para pembaca.

Sebagai penutup dari penulisan skripsi ini, dilampirkan pula daftar kepustakaan sebagai penunjang dalam penulisan termasuk juga sumber-sumber lainnya.

Penulis telah mencurah segala kemamuan pikaran dan tenaga serta juga waktu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. Namum penulis menyadari masi banyak kekurangan dalam skrips ini. Dengan rendah hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dari para pembaca.

Harapan penulis agar skripsi ini berguna bagi seluruh pembacanya.

Medan, April 2021

Cut Qonita Gusmar

(13)

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERSETUJUAN

PERNYATAAN ORIGINALITAS ... i

ABSTRAK ... ii

UCAPAN TERIMAKASIH... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Tinjauan Pustaka ... 6

1.2.1 Budaya Populer ... 6

1.2.2 Teori Konsumsi Jean Baudrillard ... 8

1.2.2.1Budaya Konsumerisme ... 12

1.2.2.2 Pendekatan Antropologi Budaya dalam Memahami Perilaku konsumen ... 13

1.2.3. Gaya Hidup ... 16

1.2.4. Penelitian Terdahulu ... 17

1.3. Rumusan Masalah ... 18

1.4 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ... 18

1.4.1. Tujuan Penelitian ... 18

1.4.2 Manfaat Penelitian ... 19

1.5. Metode Pengumpulan Data ... 19

1.5.1. Metode Penelitian ... 19

1.5.2 Observasi... 20

1.5.3.Wawancara Mendalam... 20

1.6. Pengalaman Penelitian ... 21

BAB II GAMBARAN UMUM ... 24

2.1. Sejarah Boba ... 24

2.2 Persebaran Boba di Kota Medan ... 28

2.3. Gaya Hidup Anak Millenial di Kota Medan Sejarah Boba ... 31

2.3.1 Millenial Menangah Keatas ... 33

2.3.2. Millenial Menengah Kebawah ... 34

BAB III KEHIDUPAN PARA PECINTA MINUMAN BOBA ... 35

3.1. Intan Yang Fashionable ... 35

3.1.1 Latar Belakang Keluarga Intan ... 35

3.1.2 Intan Dalam Kehidupan Kesehariannya ... 36

3.2. Shania Mahasiswa Pecandu Boba ... 39

3.2.1. Latar Belakang Keluarga Shania ... 39

3.2.2. Shania dalam kehidupan sehari-harinya ... 41

3.3. Inez, Atlet Karate Pecinta Boba ... 46

3.3.1. Latar Belakang Keluarga Inez ... 46

3.3.2. Keseharian Hidup Inez ... 48

3.4. Ola Si Pengikut Tren ... 53

(14)

3.4.2. Kehidupan sehari-hari Febiola ... 56

3.5. Perubahan Gaya Hidup Millenial ... 60

BAB IV ANALISI TEORI ... 62

4.1. Analisis Teori Konsumsi Jean Baurdillard ... 62

4.1.1. Konsumsi Simbol dan konsumerisme millennial (penikmat boba) .... 62

4.2. Hasil Analisis Gaya Hidup Generasi Millenial ... 70

4.2.1. Rutin Minum Boba Berpotensi Konsumtif di Kalangan Millenial... 72

4.2.2 Faktor Pembentuk Gaya Hidup Millenial Penikmat Boba ... 72

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 74

5.1. Kesimpulan Substantif ... 74

5.2.Integrasi Teori Terhadap Hasil Penelitian ... 75

5.2.Saran ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 77

(15)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada dasarnya makanan dan minuman adalah kebutuhan primer manusia yang berfungsi sebagai sumber energy pertumbuhan. Tetapi seiring berjalannya waktu fungsi makanan sudah berubah menjadi simbol atau penanda budaya suatu masyarakat. Tidak hanya itu, makanan dan minuman terkait erat dengan kebudayaan, termasuk teknologi, organisasi sosial dan juga kepercayaan masyarakat. Makanan tidak akan memiliki makna apa-apa kecuali dilihat dalam kebudayaannya atau jaringan interaksi sosialnya. (Zainul Arifin:2010)

Simbol makanan dan minuman berubah menjadi gaya hidup manusia sudah menjadi fenomena dari jaman dulu. contohnya makanan dalam pengesahan budaya akan berkaitan dengan kepercayaan, pantangan, aturan, teknologi dan sebagainya tumbuh dan berkembang dalam sekelompok masyarakat, hingga menjadi kebiasaan makan yang menjadi ciri khas suatu kelompok masyarakat.

Dan juga makanan dan minuman dapat membedakan kelompok masyarakat.

seperti dalam masyarakat minang mempunyai pemikiran bahwa daging dalam konteks masyarakatnya adalah makanan yang langka dan bergengsi. Maka dari itu dalam setiap upacara adat orang minang dimana jenis makanan olahan dari daging tidak saja menjadi santapan belaka tetapi juga menjadi simbol untuk menunjuk identitas seseorang. Contoh lainnya dalam masyarakat minang adalah ketika adanya upacara adat ada sebuah jenis makanan (kapalo jamba) yang harus terbuat dari bahan daging khusus (kepala hewan) dan diolah secara khusus. Jenis

(16)

makanan ini diperuntukan untuk pemimpin atau orang yang dihormati. (Zainul Arifin:2010)

Pada suatu kebudayaan pasti mempunyai nilai yang terkandung didalamnya dan pasti dianut oleh seluruh masyarakatnya. dasar dari adanya perbedaan nilai antar kebudayaan ini pun disebabkan dari berbagai faktor seperti faktor sosial, geografis, maupun ekonomi. makanan dan minuman pun menjadi simbol kebudayaan suatu masyarakat karena kebiasaan dan lingkungan.

Hal yang sama juga terjadi dalam masyarakat millenial bedanya dengan jaman dahulu yaitu polanya. Perubahan pergeseran pola di masa sekarang dipercepat karena adanya factor teknologi yang semakin canggih. Tetapi esensi atau fungsi dari makanan dan minuman tidak lagi sekedar makan dan minum tapi juga menjadi gengsi, gengsi ini pun sudah berlangsung sejak jaman dahulu. Dengan demikian makanan dan minuman berkorelasi positif dengan simbol dan status seseorang.

Pada jaman sekarang yang berperan penting yaitu pada masyarakat kaum millennial. Menurut peneliti sosial, generasi millenial lahir pada tahun 1980an hingga 2000. Generasi millenial ini adalah anak-anak muda yang saat ini berusia antara 15 sampi 35 tahun (Darisman Solin:2018). Sebab generasi ini lahir di era kecanggihan teknologi dan internet berperan besar dalam keberlangsungan hidup mereka, maka tv bukan lagi prioritas generasi ini, untuk mendapatkan informasi bagi kaum ini lebih suka mengakses melalui ponselnya dengan mencari google atau dari media sosialnya. Ponsel adalah salah satu sarana komunikasi yang sering digunakan oleh kaum ini. Ponsel juga dijadikan sebagai mencari berbagai informasi yang up to date. Teknologi merupakan perkembangan yang terus

(17)

menerus dan tidak bisa ditahan. Teknologi sangat banyak mempengaruhi kehidupan, teknologi merupakan arah yang membawa kepraktisan dalam berbagai mendapatkan informasi. Teknologi mempermudah dalam berinteraksi satu dengan lainnya. Teknologi juga merupakan ilmu pengetahuan yang berkembang sehingga mampu mengembangkan perubahan tersebut.

Sejarah manusia adalah sejarah konsumsi dan produksi. Misalnya dalam hal mengonsumsi makanan atau minuman. Sesudah dengan tangan telanjang, kita memakai daun untuk makan lalu memakai sendok-garpu sumpit guna mengonsumsi makanan. Mengonsumsi merupakan implikasi dari manusia yang memiliki kebutuhan, namun tidak cukup diri. Belanja justru menjadi kegiatan mengonsumsi itu sendiri. Belanja berubah menjadi kebutuhan bagi manusia yang tak cukup diri. Disinilah letak konsumerisme dalam arti mengubah 'konsumsi yang seperlunya' menjadi "Konsumsi yang mengada-ada". Maksutnya motivasi seseorang untuk berbelanja tidak lagi guna memenuhi kebutuhan dasariah yang ia perlukan sebagai manusia, melainkan terkait dengan hal lain yaitu, identitas. orang membeli makanan dan minuman bukan lagi semata-mata guna memenuhi kebutuhan alami, yakni makan minum. tapi yang dimaksud disini adalah guna sebuah harga diri.

Konsumsi memiliki arti suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, salah satunya bahan makanan yang memberikan kepuasan dan sebagainya. Tetapi dasar-dasar makan dan minum bergeser dengan adanya gaya hidup millennial yang hedonis atau konsumerisme.

Dimana harga diri juga berhubungan dengan gaya hidup millennial. Karena anak millenial sekarang cenderung memilih makanan dan minuman. Pastinya yang

(18)

paling diminati anak millennial adalah yang sedang trend sekarang. Dimana dalam membeli makan dan minumpun harus memilih tempat yang terkenal ataupun mahal. Singkatnya manusia tidak lagi membeli barang, melainkan merek ternama terkandung di dalam barang tersebut. sekarang jati diri manusia terukur dari kemampuannya memperoleh sesuatu. Bahkan sampai meluangkan waktu berjam-jam hanya untuk membeli sesuatu yang dianggap trend atau kekinian.

Dengan ini terjadilah perubahan social budaya yaitu life style atau gaya hidup seseorang yang menjadi konsumerisme. Soerjono Soekanto, mendefinisikan perubahan sosial adalah segala perubahan yang terjadi dalam lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya. Perubahan sosial budaya merupakan suatu perubahan yang menyangkut banyak aspek dalam kehidupan seperti kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, aturan-aturan hidup berorganisasi, dan filsafat. (Haryanto Soedjatmiko,2017)

Teknologi juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya perubahan sosial budaya. Pola hidup manusia selalu mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Kehidupan yang semakin modern membawa manusia pada pola perilaku yang unik, yang membedakan individu satu dengan individu lain dalam persoalan gaya hidup. Bagi sebagian orang gaya hidup merupakan suatu hal yang penting karena dianggap sebagai sebuah bentuk ekspresi diri. Pola hidup merupakan pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang lain, yang berfungsi dalam interaksi dengan cara-cara yang mungkin tidak dapat dipahami oleh orang yang tidak hidup dalam masyarakat modern. Meskipun teknologi memberikan banyak manfaat bagi manusia, namun di sisi lain kemajuan teknologi akan berpengaruh negatif pada

(19)

aspek sosial budaya, yaitu dengan berubahnya gaya hidup atau life style seseorang.

Gaya hidup adalah faktor yang dipergunakan untuk dapat menentukan seberapa besar arti nilai suatu barang/jasa/uang yang berfungsi sebagai nilai tukar.

Semakin kaya seseorang, maka kebutuhan gaya hidup makin tinggi. Gaya hidup yang dipelajari dalam ilmu antropologi mengandung terdapat beberapa jenis. Jenis tersebut terbagi atas dasar klasifikasi penggunanya. Hal dikarenakan banyak indikator yang terjadi pada manusia sebagai makhluk sosial dalam menjalani gaya hidup.

Dengan adanya ini kita dapat mengetahui bahwa adanya hubungan erat antara gaya hidup dengan kapitalisme. Kapitalisme itu ada Karena adanya gaya hidup manusia itu sendiri. Dan salah satu faktornya juga dengan adanya perkembangan zaman yang diikuti oleh anak millennial dan juga masuknya budaya asing ke dalam negri. Ada banyak sekali contoh kapitalisme yang berada disekitar kita.

Contohnya adalah maraknya minuman boba atau buble di kalangan millennial di Medan. Minuman ini sedang tren dikalangan mereka. Sampai bisa merubah gaya hidup anak millineal. Karena dengan membeli minuman ini mereka merasakan kebanggaan tersendiri sampai ada yang selalu memamerkannya melalui media sosial. (Haryanto Soedjatmiko,2017)

Contoh minumannya yang lumayan trend pada kalangan millennial di daerah Kota Medan sekarang seperti Chatime, Xing Fu Tang, dan Koi. Di ketiga minuman tersebut terdapat Boba atau Buble yang menjadi toping di minuman tersebut. Topping adalah pilihan makanan tambahan pada minuman atau makanan yang dipesan. Dimana boba menjadi salah satu topping favorit bagi kalangan

(20)

millennial di Kota Medan. Tidak hanya di Kota Medan, anak millennial di seluruh Indonesia pun menyukai boba. Dan sekarang bobapun menjadi trend di kalangan mereka.

Dengan munculnya cabang-cabang minuman favorit ini di Kota Medan, membuat mereka sangat tertarik membeli minuman ini. Sampai mereka rela mengantri berjam-jam demi merasakan minuman ini. Tak jarang pula ditemukan di media sosial khususnya di instastory instagram, mereka mengupload foto minuman ini, hanya untuk memerkan ke teman di media sosialnya. Dan ini yang menjadi perhatian penulis tentang fenomena millennial yang sangat tergila-gila dengan minuman boba ini.

Berdasarkan fakta dan uraian yang dikemukakan sebelumnya, penulis merasa perlu dilakukan penelitian tentang fenomena yang terjadi dikalangan millennial, tepatnya kalangan millennial yang berada di Kota Medan.

1.2. Tinjauan Pustaka

1.2.1. Budaya Populer

Budaya populer menurut teori (Jhon Fiske1995:25), budaya adalah proses yang hidup dan aktif yang berkembang dan diterapkan hanya dari dalam. Pada kenyataanya, pembagian ketakutan para perumus teori budaya massa tidak muncul dalam praktik karena budaya massa merupakan sebuah kontradiksi istilah sehingga hal tersebut tidak terjadi. Biasanya kepentingan pokok dari budaya popular ini adalah untuk hiburan. Menurut Sullvian (1996) segala produk budaya yang secara disengaja dibuat sesuai selera orang kebanyakan dapat disebut sebagai budaya popular. Jadi budaya popular bentuk budaya yang disukai oleh orang banyak. Adanya keterkaitan budaya kaum muda atau anak millennial

(21)

dengan konsep diri. Budaya popular dapat merubah konsep diri seseorang.

Mengkaji konsep diri dalam menganalisis budaya popular anak millennial menjadi sangat penting dan memberikan wawasan tentang bagaimana anak millennial merespon dan memaknai budaya popular yang sedang mereka hadapi berdasarkan konsep diri yang dimiliki mereka. Menurut tokoh psikologi fenomenologi yaitu Rogers konsep diri sebagai cara seseorang memandang dan merasakan dirinya sendiri (Burns, 1993). Watson dan Hill (2000) menegaskan konsep diri sebagai keseluruhan gambaran seseorang tentang dirinya sendiri. Konsep diri ini juga dipandang sebagai gambaran yang bersifat personal, dinamis dan evaluatif. Maka dari itu pengertian seseorang mengenai dirinya dapat berubah-ubah dan berkembang sejalan dengan pengalaman seseorang dalam berinteraksi.

Konsep diri sangat berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. Sifatnya yang melekat pada diri seseorang maka konsep diri ini akan terus dibawa-bawa sepanjang perjalanan hidup seseorang. Konsep diri seseorang akan terlibat juga dalam segenap area kehidupan kita, bagaimana kita berbuat, menetapkan tujuan, berperilaku dalam status sosial tertentu, hingga bagaimana kita berperilaku dalam hal busana. Jadi untuk mengetahui mengapa seseorang berpakaian dengan cara tertentu dapat diketahui dengan mengkonstruksi konsep diri orang yang bersangkutan.

Menurut Rosenberg (Marshall:1998) konsep diri bukanlah kenyataan yang tunggal, dalam diri manusia terdapat tiga macam diri yakni; the extant self : siapa saya pada saat ini. Yang kedua desired self : diri yang saya inginkan. Dan yang terakhir resenting self : diri yang saya tampilkan dilingkungan.

(22)

Konsep diri merupakan hasil dari proses belajar manusia melalui hubungannya dengan orang lain. Lingkungan memiliki peran yang penting dalam proses mengenal diri terutama dalam pengalaman relasi dengan orang lain dan bagaimana orang lain memperlakukan dirinya. Dari situ ia menangkap pantulan tentang dirinya, seperti apakah dirinya tersebut sebagai pribadi. Jadi konsep diri seseorang dapat diketahui berdasarkan perbandingan antara apa yang ia rasakan terhadap dirinya sendiri dengan apa yang orang lain rasakan terhadap diri orang tersebut. Oleh sebab itu muncul presenting self (disebut juga public self) sebab biasanya orang menampilkan diri sesuai dengan apa yang dianggap baik atau diterima oleh lingkungannya. Markus dan Narius mengungkapkan hubungan antara extant self dan desired self pada remaja. Remaja adalah masa dimana seseorang memiliki idola tertentu atau memiliki gambaran yang ideal mengenai sesuatu yang akhirnya membentuk desired self.

1.2.2. Teori Konsumsi Jean Baudrillard

Baudrillard menjelaskan konsep dasar tentang konsumsi lalu menghubungkannya dengan kapitalisme global dan media massa yang berperan dalam menyebarkan tanda-tanda untuk dikonsumsi oleh masyarakat konsumen.

Baudrillard (1998 : 32) menyatakan, situasi masyarakat kontemporer dibentuk oleh kenyataan bahwa manusia sekarang dikelilingi oleh faktor konsumsi. Pada kenyataannya manusia tidak akan pernah merasa terpuaskan atas kebutuhankebutuhannya. Baudrillard (Nanang, 2012 : 134), rasionalitas konsumsi dalam sistem masyarakat konsumen telah jauh berubah, karena saat ini masyarakat membeli barang bukan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan (needs) namun lebih sebagai pemenuhan hasrat (desire). Teori konsumsi

(23)

Baudrillard, mengatakan bahwa masyarakat konsumeris pada masa sekarang tidak didasarkan kepada kelasnya tetapi pada kemampuan konsumsinya. Siapapun bisa menjadi bagian dari kelompok apapun jika sanggup mengikuti pola konsumsi kelompok tersebut. Konsumsi menurut Baudrillard adalah tindakan sistematis dalam memanipulasi tanda, dan untuk menjadi objek konsumsi, objek harus mengandung atau bahkan menjadi tanda. Masyarakat konsumsi akan ”membeli”

simbol-simbol yang melekat pada suatu objek, sehingga objek-objek konsumsi banyak yang terkikis nilai guna dan nilai tukarnya. Nilai simbolis kemudian menjadi sebuah komoditas. Untuk menjadi objek konsumsi, suatu objek harus menjadi tanda (sign), karena hanya dengan cara demikian, objek tersebut dapat dipersonalisasi dan dapat di konsumsi.

Jean Baudrillard mengatakan bahwa masyarakat konsumsi berkaitan dengan apa yang mereka miliki sebagai tanda objek konsumsi. Masyarakat konsumsi di control oleh tanda karena objek yang di pergunakan yakni sebagai tanda bukan sebagai bagian yang di konsumsi. Contohnya ialah ketika kita membeli makanan yang ada di pinggir jalan dengan yang ada di restoran. Dalam hal ini yang membedakannya bukan kepada makanannya tetapi lebih kepada tanda objeknya. Orang yang membeli makanan di pinggir jalan menunjukkan tanda bahwa orang tersebut memiliki ekonomi yang rendah yang tergabung ke dalam kaum proletar, sedangkan orang yang membeli makanan di restoran akan menunjukkan tanda bahwa orang tersebut termasuk orang yang memiliki ekonomi tinggi yang tergabung ke dalam kaum borjuis. Dari gambaran tersebut tanda pada akhirnya menunjukkan adanya status sosial dalam masyarakat.

(24)

Dalam masyarakat konsumsi Jean Baudrillard menyelidiki tentang masalah dunia fashion sebagai sebuah paradigma kode. Dalam dunia fashion semua yang kita lihat adalah permainan sederhana penanda-penanda dan akibatnya hilanglah setiap sistem rujukan. Fashion tidak menciptakan apa-apa, juga tidak merujuk pada sesuatu yang nyata bahkan tidak menggiring kemanapun tetapi hanya menciptakan suatu kode. Fashion juga tidak memiliki nilai moralitas dan cenderung menyebar laksana virus. Meskipun fashion menggambarkan dominasi kode dan juga komoditas dan simulasi ia juga dalam satu pengertian merupakan ancaman bagi sistem. Fashion adalah salah satu bidang yang bercirikan permainan ketimbang kerja dan dia adalah dunia ilusi. Ia bermain dengan sesuatu misalnya kebaikan dan kejahatan, rasionalitas dan irrasionalitas.

Fashion ini mengendalikan orang muda zaman sekarang sebagai perlawanan bagi setiap bentuk perintah, perlawanan tanpa ideologi, dan tanpa tujuan.

Jean Baudrillard mengatakan bahwa dalam masyarakat konsumsi banyak masyarakat yang melakukan konsumsi tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang tidak terbatas, akan tetapi lebih kepada untuk membuktikan dan untuk menunjukkan kemampuan dan kepemilikan mereka yang lebih dalam mengkonsumsi sesuatu. Dalam masyarakat konsumsi jika kita memiliki uang maka kita bebas mengkonsumsi apa yang kita inginkan. Namun dalam hal ini kita bebas untuk mengkonsumsi hanya semata-mata pada objek dan tanda yang berbeda-beda. Selain itu dalam masyarakat kapitalis modern saat ini orang mengkonsumsi sesuatu tidak hanya menyangkut masalah kesenangan hidup saja tetapi juga lebih kepada persoalan perbedaan dimana individu dalam kehidupan

(25)

masyarakat ingin tampil beda dari yang lain dan ingin dianggap lebih mampu dari pada yang lain.

Selain itu Jean Baudrillard mengatakan bahwa masyarakat konsumer merupakan tempat dimana segala sesuatu diperjual-belikan. Dalam hal ini tidak hanya semua tanda komoditas akan tetapi semua tanda adalah komoditas. Dalam masyarakat konsumer yang dimaksud diperjual-belikan yakni semua objek termasuk pelayanan seks, kebudayaan, pengetahuan dan lain sebagainya. Bagi Jean Baudrillard konsumsi adalah salah satu struktur yang bersifat eksternal dan bersifat memaksa individu dalam kehidupan masyarakat. Artinya media-media informasi maupun media elektronik seperti iklan-iklan di radio maupun televisi secara tidak langsung telah mempengaruhi pikiran masyarakat untuk mengkonsumsi benda-benda yang ditawarkan. Sehingga dalam hal ini masyarakat mau tidak mau memiliki keinginan untuk memiliki barang-barang yang ditawarkan oleh iklan tersebut.

Hal ini terlihat bahwa ada kalanya konsumsi tersebut memaksa individu untuk segera memiliki barang-barang yang dimaksudkan. Akan tetapi dengan catatan apabila individu tersebut melakukan berbagai cara untuk dapat memiliki barang yang di tawarkan oleh iklan tersebut seperti misalnya dengan cara mencuri untuk mendapatkan uang. Dimana nantinya uang yang dia peroleh dari hasil curian tersebut dipergunakan untuk membeli barang-barang yang ingin dia konsumsi.

Inti teori Baudrillard adalah memperdebatkan makna dengan realita, melihat realitas kontemporer kemudian merefleksikan masa depan dengan memberi peringatan dini tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang jika

(26)

kecenderungan realitas kontemporer hari ini terus berlanjut. Menurut analisis Baudrillard, globalisasi telah menyebabkan masyarakat perkotaan menjadi satu model global yang berperilaku “seragam”. Keseragaman ini disebabkan karena pengaruh media yang berperan dalam menyebarkan tanda-tanda dalam setiap kehidupan. Hal tersebut berakibat pada pergeseran pola pikir dan logika konsumsi masyarakat.

Menurut teori Baudrillard, kini logika konsumsi masyarakat bukan lagi berdasarkan use value atau exchange value melainkan hadir nilai baru yang disebut “symbolic value”. Maksudnya, orang tidak lagi mengkonsumsi objek berdasarkan nilai tukar atau nilai guna, melainkan karena nilai tanda / simbolis yang sifatnya abstrak dan terkonstruksi. Hal ini disebabkan karena beberapa bagian dari tawaran iklan justru menafikan kebutuhan konsumen akan keunggulan produk, melainkan dengan menyerang rasa sombong tersembunyi dalam diri manusia, produk ditawarkan sebagai simbol prestise & gaya hidup mewah yang menumbuhkan rasa bangga yang klise dalam diri pemakainya.

1.2.2.1. Budaya Konsumerisme

Kecenderungan masyarakat konsumsi yang ditandai dengan berkembangnya gaya hidup yang sering kali melampaui kebutuhan serta keperluan yang semestinya. Berbagai gaya hidup yang terlahir dari kegiatan konsumsi semakin beragam pada masyarakat Indonesia, para milenials sekarang ini terpengaruh budaya konsumsi nge-mall, clubbing, fitness, hang out di cafe, penggunaan gadget mewah adalah beberapa contoh gaya hidup yang nampak menonjol saat ini. Semua aktifitas tersebut adalah perwujudan dari hingar bingar konsumsi.

(27)

Baudrillard menyebut barang-barang sepele tersebut dengan istilah:

gadget, kitsch, sebagai objek murahan, yaitu pernik sederhana (cindera mata) yang merupakan objek semu, meskipun bukan objek nyata, namun memberi prestige dan simbol status sosial yang memiliki makna tersendiri bagi kehidupan subjek yang bersangkutan. Hal tersebut merupakan bentuk simulasi dari masyarakat konsumsi yang dianalogkan dengan masyarakat primitif. Simulasi diartikan sebagai “objek palsu”. (Baudrillard, 2009).

Perkembangan budaya konsumen telah mempengaruhi cara-cara masyarakat mengekspresikan estetika dan gaya hidup. Dalam masyarakat konsumen, terjadi perubahan mendasar berkaitan dengan cara-cara orang mengekspresikan diri dalam gaya hidupnya. David Chaney mengemukakan bahwa gaya hidup telah menjadi ciri dalam dunia modern, sehingga masyarakat modern akan menggunakan gaya hidup untuk menggambarkan tindakannya sendiri dan orang lain.

Gaya hidup adalah salah satu bentuk budaya konsumen. Karena memang, gaya hidup seseorang hanya dilihat dari apa-apa yang dikonsumsinya, baik konsumsi barang atau jasa. Secara literal, konsumsi berarti pemakaian komoditas untuk memuaskan kebutuhan dan hasrat. Konsumerisme merupakan kegiatan mengkonsumsi barang-barang yang memberikan status sosial. Terkait dengan perkembangannya menciptakan mode, estetika dan gaya hidup. Baudrillard melihat konsumerisme sebagai logika untuk memenuhi hasrat, melimpahnya barag bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan melainkan untuk memenuhi nafsu.

Hasrat mengkonsumsi barang bagaikan magnet tanpa paksaan.

(28)

Budaya konsumerisme muncul sebagai dampak dari perubahan makna konsumsi yang disebabkan oleh sikap, pandangan dan pola hidup konsumtif, yaitu kegiatan konsumsi yang berlebihan demi mengejar status sosial dan harga diri (prestige). Para milenials sekarang hasrat untuk memiliki barang mewah atau branded sangatlah tinggi karena milenials ingin mengikuti lifestyle dan mengejar status sosial. Budaya konsumerisme menyebabkan media ikut berperan dalam terciptanya budaya konsumsi oleh milenials dengan melihat iklan di televisi maupun di media sosial yang dikonstruksi secara menarik sehingga milenials jadi terhegemoni dan terbawasuasana sehingga lupa akan kebutuhan yang sebenarnya tidak sangat diperlukannya.

1.2.2.2. Pendekatan Antropologi Budaya dalam Memahami Perilaku Konsumen

Pada dasarnya antropologi budaya dalam konteks pemasaran menekan pada serangkaian pola pikir, tindak, dan perilaku suatu masyarakat pada komunitas tertentu yang memiliki reaksi ketika dihadapkan pada sebuah apresiasi interpretasi produk yang diedukasikan pada wilayah pasar dimana masyarakat tersebut berada.

fenomena pemasaran ini bisa diterjemahkan misalnya ketika mereka bereaksi terhadap media iklan cetak atau elektronik, launching produk pameran produk dsb. Pendekatan ini menjelaskan sebuah panduan pemikiran yang mendeskripsikan justtifikasi perilaku konsumen suatu pasar produk tertentu tidak begitu saja eksistensinya dipisahkan dari kemampuan pemasar mengeksplorasi unsure-unsur budaya yang membentuk karakter budaya perilaku konsumen.

Antropologi budaya konsumen merupakan kolaborasi pendekatan ilmu antropologi untuk memahami pola pikir, pola tindak dan perilaku masyarakat

(29)

konsumen, yang mana akan mendefenisikan latar belakang perilaku konsumen dalam menterjemahkan apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan konsumen sebagai hasil dari entitas budaya komunitas itu berada.(Abdullah, 2008:16)

Kebudayaan mempengaruhi nilai-nilai yang dimiliki manusia, bahkan mempengaruhi sikap dan perilaku manusia. Dengan kata lain, semua manusia merupakan actor kebudayaan karena manusia bertindak dalam lingkup kebudayaan. Iris Varner dan Linda Beamer, dalam Intercultural Communication In The Global Workplace, mengartikan kebudayaan sebagai pandangan yang koheren tentang sesuatu yang dipeajari, yang dibagi, atau yang dipertukarkan oleh sekelompok orang. Pandangan itu berisi apa yang mendasari kehidupan, apa yang menjadi derajat kepentingan, tentang sikap mereka yang tepat terhadap sesuatu, gambaran suatu perilaku yang harus diterima oleh sesama atau yang berkaitan dengan orang lain. Dalam arti luas, kebudayaan adaah perilaku yang telah tertanam, ia merupakan totalitas dari sesuatu yang dipelajari manusia, akumulasi dari pengalaman yang dialihkan secara social (disosialisasikan), tidak sekedar sebuah catatan ringkas, tetapi bentuk perilaku melalui pembelajaran social (Social Learning).

Secara universal, seberapa luasnya kebudayaan yang menghampar di seluruh permukaan dunia ini akan mencakup ketujuh sumber unsure-unsur budaya yang dapat ditinjau melalui pertama, Bahasa. Kedua, Sistem pengetahuan. Ketiga, Organisasi social. Keempat, Sistem peralata hidup dan teknologi. Kelima, system mata pencarian hidup. Keenam, system religi dan ketujuh, Sistem kesenian. Bag pemasar ketujuh unsure budaya universal ini sangat penting karna mampu memetakan level kebutuhan dan keinginannya. Meskipun terbentuk dari

(30)

sekumpulan individu dengan perbedaan sikap dan presepsi sebelumnya, namum dengan hasil belajar maka terbentuk satu sintesa system pandangan hidup bersama yang dapat dinilai dari ketujuh unsure kebudayaan yang melingkupnya.

(Liliweri:2008)

Dalam pendekatan Antropologi budaya, keputusan pembelian konsumen tetap dipengaruhi secara stimulant dan kontinyu oleh dimensi eksternal dalam kultur yangbersangkutan dimana habitat komunitasnya berada. Jadi sebenarnya faktor experience melalui dimensi eksternalnya menjadi tolak ukur rujukan bagi konsumen dalam menentukan lima elemen dasar dimensi internal individu yang bersangkutan. Artinya seorang pemasar harus benar-benar memahami kondisi objektif konsumen tersebut dari ruang lingkup dimana ketujuh unsure kebudayaan yang hidup pada salah satu elemen dimensi eksternalnya, yang mempengaruhi pola pikir, tindak dan perilaku sebuah masyarakat yang menjadi focus of interest target pemasarannya.

Dalam perilaku konsumen, budaya dari konsumen tersebut sangatlah penting untuk dipelajari agar mengetahui apa saja yang sedang berkembang dan terjadi di suatu budaya yang membuat masyarakat menginginkan sesuatu bedasarkan budaya dimana ia berada.

1.2.3. Gaya Hidup

Menurut Kotler (2001:77), gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang di ekspresikan dalam aktifitas, minat dan opininya sehingga menggambarkan keseluruhan diri seseorang yang berintraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup mencakup sesuatu yang lebih dari sekedar kelas social atau kepribadian seseorang, gaya hidup menampilkan pola intraksi dan berintraksi

(31)

seseorang secara keseluruhan di dunia. Orang berasal dari sub-budaya, kelas social, dan pekerjaan yang sama mungkin mempunyai gaya hidup yang jauh berbeda karena gaya hidup adalah pola kehidupan seseorang yang diwujudkan dalam psikografiknya.

Menurut Setiadi (2010:148), gaya hidup didefinisikan sebagai, cara hidup yang didefinisikann oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas) apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia sekitarnya. Hal ini dijelaskan oleh Boyd, et al (2000:211) yang menyatakan bahwa dua orang dengan usia, pendapatan, pendidikan dan bahkan pekerjaan yang sama tidak perlu menjalankan kehidupan dengan cara yang sama. Mereka bisa memiliki minat, opini, dan aktifitas yang berbeda, sebagai akibat mereka cenderung memperlihatkan pola perilaku yang berbeda, termasuk membeli produk dan merek yang berbeda dan menggunakannya dalam cara yang berbeda dan untuk tujuan yang berbeda. Pola kegiatan. Minat, dan opini yang luas ini dan perilaku yang muncul disebut sebagai gaya hidup (Life Style).

Jadi pada kesimpulannya, gaya hidup adalah suatu pola atau cara individu mengekspresikan atau mengaktualisasikan, cita-cita, kebiasaan atau hobby, opini, dsb dengan lingkungannya melalui cara yang unik, yang menyimbolkan status dan peranan individu bagi linkungannya. Gaya hidup dapat dijadikan jendela dari kepribadian masing-masing invidu. Setiap individu berhak dan bebas memilih gaya hidup mana yang dijalaninya, baik itu gaya hidup mewah (glamour), gaya hidup hedonis, gaya hidup konsumtif, gaya hidup sehat, gaya hidup sederhana, dsb.

(32)

1.2.4. Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Yudi Adithya Dwitama (2016) yang berjudul

“CAFE ADDICT”; Gaya Hidup Milenials Perkotaan ( Studi Kasus Pada Milenials di Mojokerto). Dalam hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Perilaku konsumsi yang aktif terdapat pada masyarakat Mojokerto khususnya anak- anak yang menginjak usia milenials. Intensitas milenials - milenials Mojokerto dalam mengunjungi cafe -cafe termasuk perilaku konsumsi yang aktif. Milenials - milenials “Cafe addict” yang menganggap bahwa dengan mereka mengunjungi cafe maka simbol –simbol dari modernitas ada dalam diri mereka. Bahkan dari beberapa informan dapat dilihat bahwa intensitasnya melebihi tiga kali dalam seminggu untuk

nongkrong di dalam cafe - cafe eksklusif. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada satu dua orang milenials, bahkan ketika malam minggu tiba cafe – café eksklusif di Mojokerto dipenuhi oleh milenials - milenials “Cafe addict”. Mike Featherstone juga mengatakan bahwa “Budaya konsumen tidak diartikan sebagai suatu penilaian yang berbicara tentang sifat pasif konsumen yang digiring dan serba mudah diatur”. Bukan hanya sifat pasif konsumen yang dapat digiring melalui iklan dan media - media tetapi perilaku konsumsi yang aktif dan mencari - cari barang atau jasa yang bahkan tidak konsumen butuhkan. Konsumsi tidak lagi sekedar berkaitan dengan nilai guna untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia tetapi kaitannya dengan makna dan pembentukan identitas dari konsumen. Dalam teori asosiasi diferensial, Edwin H. Sutherland mengatakan perilaku menyimpang dapat dipelajari oleh seseorang individu dalam interaksinya dengan orang lain dan

(33)

melibatkan proses komunikasi yang intens. Maka seorang individu akan melakukan perilaku menyimpang jika ia melakukan interaksi dan komunikasi yang intens dengan teman - teman sebaya (peer group) yang melakukan perilakumenyimpang juga. Individu akan belajar melakukan perilaku menyimpang yang ia lihat dari perilaku menyimpang teman -temannya. Hal ini juga terbukti pada milenials -milenials Mojokerto yang kebanyakan mengenal café - cafe eksklusif karena ajakan dari teman - temannya (peergroup). Pengaruh dari peergroup sangat kuat terhadap individu yakni milenials karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan bersama dengan teman - teman sebaya daripada keluarga. Sebagian besar informan milenials “Cafe addict” mengatakan bahwa awal mereka pertama kali mengunjungi cafe- café eksklusif karena pengaruh dari teman -teman mereka.

1.3. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka perumusan masalah dalam penelitian ini akan tertuang dalam pertanyaan penelitain berikut:

1. Bagaimana gaya hidup generasi millenial di perkotaan?

2. Bagaimana gaya hidup konsumtif pada kalangan millennial?

1.4. Tujuan Penelitian dan Manfaat penelitian 1.4.1. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian tentunya memiliki tujuan dan manfaat yang sangat penting, karena itu melalui tujuan dan manfaat itulah maka suatu penelitian dapat

dimengerti oleh peneliti maupun dibaca oleh publik. Adapun tujuan dari penelitian ini :

(34)

1. Untuk mengetahui bagaimana gaya hidup generasi milenial.

2. Penyebab perubahan gaya hidup konsumtif pada kalangan millennial.

1.4.2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Manfaat teoritis

a. Penelitian ini dapat diharapkan menambah wawasan dan pengetahuan bagi mereka, juga sekaligus menjadi referensi karya ilmiah lainnya baik dalam rangka tugas maupun bukan.

2) Manfaat praktis

i. Memberikan masukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan, yang dijadikan sebagai bahan atau informasi mengenai perubahan gaya hidup anak millennial.

ii. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran atau masukan yang bermanfaat.

1.5. Metode Pengumpulan Data 1.5.1. Metode Penelitian

Metode Penelitian adalah cara untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.. Saya memakai metode kualitatif, dimana kualitatif adalah metode yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis (2020:3101). Masalah yang saya ambil dalam penelitian ini saya lihat sendiri fenomena yang terjadi pada kaum millennial yang semakin bersifat konsumtif terhadap membeli minuman yang kata mereka adalah “boba”.

1.5.2. Observasi

(35)

Observasi adalah mengamati dan mendengar dalam rangka memahami, mencari jawaban, mencari bukti terhadap fenomena yang berkaitan dengan gaya hidup anak millenial. Sebelum saya mewawancarai anak millenial. Saya mengobservasi mereka terlebih dahulu mana yang bisa saya jadikan informan.

Yang pertama saya amati adalah media sosial mereka yaitu Instagram, dimana mereka sering mengunggah gambar dengan atau sambil meminum boba. Setelah saya mengetahui bahwa mereka termasuk millenial yang sering minum boba lalu baru saya mewawancarainya.

Saya melakukan observasi di beberapa Mall yaitu, Mall Ringroad City Walk, Sun Plaza, dan Medan Fair plaza. Saya memilih ketiga mall tersebut dikarenakan adanya pembagian kelas mall menurut para millennial. Yaitu kelas paling rendah sampai kelas paling eksklusif. Dan selain itu di mall-mall tersebut juga terdapat gerai penjualan minuman boba. Tidak semua mall ada yang menjual boba, rata-rata mall yang menjual boba yang paling lengkap jenis bobanya adalah mall yang paling eksklusif seperti Sun Plaza Mall. Mall Ringroad City Walk dan Medan Fair plaza adalah mall menengah kebawah yang penjual bobanya tidak selengkap di mall yang menengah keatas.

1.5.3. Wawancara Mendalam

Teknik wawancara. yaitu percakapan antara dua orang dengan maksut tertentu. Yang saya wawancara yang pertama adalah petugas atau pekerja di gerai minuman boba tersebut. Yang saya tanyakan adalah bagaimana sejarahnya dan cara memasarkan produk mereka. Selain itu saya juga memakai pedoman wawancara atau bisa dibilang (Interview Guide). Pedoman wawancara dibuat untuk menangkap pola penelitian yang mempunyai sifat khusus dari interkasi

(36)

verbal antara peneliti dan responden yang hal ini dimulai untuk suatu tujuan dari penelitian.

Dan yang kedua adalah penikmat boba atau customer mereka, dimana merekalah para millennial yang juga saya amati perilakunya dalam mengkonsumsi boba. Saya memilih enam penikmat boba yang menurut saya pantas dijadikan informan. Mereka termasuk kedalam anak millenial yang candu akan boba karena saya sering kali melihat aktifitas mereka di sosial media. Sebagai berikut:

1. Annisa Intan Muthia, alumni dari jurusan Agribisnis Fakultas pertanian USU.

2. Shania Ananda, mahasiswi IPB

3. Inez Lapian, mahasiswi Universitas Panca Budi

4. Febiola Putri, pekerja di salah satu hotel bintang empat.

Saya mewawancarai mereka dengan pertanyaan yang sama dari informan pertama sampai informan terakhir. Mereka memiliki pengalaman yang berbeda- beda akan minuman boba. Dalam penelitian ini, saya juga menggunakan metode tambahan seperti dokumentasi, yang bertujuan untuk mempermudah penulis dalam mencari data dengan akurat sesuai dengan aspek penelitian yang dikaji di lapangan. Dokumen tersebut dapat berupa catatan pribadi, buku harian, rekaman wawancara, dan lainnya.

1.6. Pengalaman Penelitian

Penelitian saya dimulai pada bulan November 2019 setelah sudah di acc judul oleh Pak Fikarwin. Saya lanjut dengan mengerjakan proposal. Saat mengerjakan proposal saya melakukan kegiatan PKL di Samosir sehingga proposal saya

(37)

tertunda. Pada bulan Maret saya melanjutkan mengerjakan proposal. Setelah mendapatkan acc dari dosen pembimbing saya yaitu Pak Zulkifli, saya langsung melanjutkan penelitian tanpa surat izin untuk turun kelapangan.

Sebelum mendapatkan informan saya mengamati atau mengobservasi terlebih dahulu di media sosial dan di berbagai Mall di Kota Medan. Di awali dengan mengobservasi di media sosial salah satunya adalah Instagram. Saya mengamati teman-teman saya yang terbilang cukup sering memposting gaya hidup mereka di Instagram dan yang sering juga memposting ketika mereka sedang meminum boba. Beberapa kali saya mengomentari postingan mereka untuk berbasa-basi menanyakan dimana mereka nongkrong dan membeli minumannya. Setelah itu lanjut saya tanyakan melalui pesan pribadi untuk mencocokkan jadwal mewawancarainya. Terdapat empat orang yang saya dapatkan dua dari menengah keatas yaitu Annisa Intan 22 tahun, Shania Ananda 20 tahun dan dua dari menengah kebawah yaitu Inez Lapian 20 tahun dan Febiola 20 tahun. Inez saya jadikan dia sebagai informan karena dia adalah pelatih karate adik saya. Saat saya mengantar adik saya, beberapa kali saya melihat dia sedang meminum minuman boba. Dan ketika saya tanya ternyata dia rutin membeli boba.

Saya mengkategorikan mereka setelah mendapatkan informasi dari mewawancarai mereka. Setelah wawancara sayapun berkunjung kerumah mereka.

Adanya kendala dalam mencocokkan jadwal saya dengan mereka. Selain kerumah mereka sayapun beberapa kali ikut nongkrong dengan mereka.

Selain dari Instagram saya mengobservasi di berbagai mall di Kota Medan.

Pertama mall yang saya observasi adalah Ringroad City Walk Mall, di sana terdapat gerai Boba yaitu OneZo. Setelah saya amati pengunjungnya, saya

(38)

mewawancarai pegawai gerai Boba tersebut untuk mengetahui bagaimana pemasaran mereka dan target pasar mereka. Pegawai tersebut sangat tertarik akan tugas akhir saya sehingga setelah saya mewawancarainya saya diberikan voucher Boba sebanyak lima puluh lembar. Esoknya saya mewawancarai Annisa Intan di gerai boba itu lagi. Intan adalah informan pangkal saya. Karena dari dia saya banyak mendapatkan informasi bagaimana kehidupan millenial menengah ke atas.

Seminggu kemudian saya mengamati Mall lainnya yaitu Sun Plaza Medan.

Disana terdapat banyak gerai boba dari berbagai merek. Dan di sana saya mewawancarai millenial menengah keatas yaitu Shania. Dia menjawab semua pertanyaan saya dengan teliti hingga saya mendapatkan informasi yang banyak darinya. Setelah selesai dari Sun Plaza saya mengantar Shania kerumahnya dan menemui orang tuanya untuk mengobservasi dan mengamati kehidupannya.Lusanya mewawancarai Inez di rumahnya sambil mengantar adik saya latihan Karate. Dari Inez juga saya banyak mendapatkan informasi dari millenial menengah ke bawah. Dan beberapa hari kemudian saya mewawancarai Febiola. Saya mewawancarainya di Plaza Medan Fair. esoknya saya membuat janji untuk berkunjung kerumahnya. Ola adalah informan terakhir saya. Penelitian yang saya lakukan sekitar dua bulan lebih.

(39)

BAB II

KEBERADAAN BOBA DI KOTA MEDAN

2.1. Sejarah Boba

Bubble tea atau yang punya nama lain boba tea dan pearl tea sesungguhnya adalah minuman asal negara Taiwan yang disana biasa dijual di kaki lima. Bisa dibilang boba ini adalah cendolnya Taiwan. Laman Eater mendefinisikan minuman boba sebagai kategori luas dari chunky drinks macam es teh, jus, atau minuman apa pun dengan mutiara tapioka. Di negeri asalnya, Taiwan, boba dikenal dengan nama zenzhu naicha. Sementara di Amerika, orang mengenal boba dengan dua nama, bubble tea di pantai timur Amerika, dan boba di pantai barat Amerika Meski pertama kali berkembang di Taiwan, mutiara tapioka itu justru terbuat dari ekstrak singkong asal Amerika Selatan. Tapioka sendiri tidak punya rasa atau hambar, namun rasa manis boba berasal dari gula atau madu yang direndam. Tanaman ini masuk ke Taiwan dari Brasil melalui Asia Tenggara pada 1895-1945. Yang pertama menjual minuman dengan bola tapioka adalah Tu Tsong-he, pemilik Hanlin Teahouse. Awalnya ia menjual minuman dengan mutiara tapioka putih. Teksturnya agak keras dan hambar. Kemudian Tu Tsong-he beralih ke mutiara hitam. Mutiara ini direbus dalam tong besar dan disiram sirup karamel manis selama berjam-jam. Menggelegak sampai menjadi mutiara tapioka hitam, bertekstur kenyal, seperti yang saat ini sering kamu nikmati. Hingga akhirnya tahun 1990, bubble atau boba menjadi sebuah sensasi di Asia. Dua puluh sembilan tahun bukanlah perjalanan singkat dari sebuah tren. Inovasi menjadi

(40)

kunci kesuksesan. Minuman boba ini mempunyai inovasi yang besar yang bisa bertransformasi dan menciptakan gaya tarik. (Kumparanfood :0607)

Telah menjadi tren sejak awal 90-an, rupanya butuh waktu sepuluh tahun untuk membawa minuman bubble masuk ke Indonesia. Brand pertama yang mendatangkan minuman itu ke Indonesia adalah Quickly. Ia berdiri di Taiwan tahun 1996, dan merambah ke negara-negara lain di Asia. Akhirnya tahun 2000, Quickly hadir pertama kali di Plaza Indonesia. Sebagai pionir bubble drink di Indonesia, Quickly Indonesia kini sudah berusia 19 tahun. (Pupit Tripeni, Elisa Dwi:2019)

Di Taiwan ibu-ibu di rumah itu biasa bikin pearl (bubble) sama seperti kita bikin cendol atau cincau, atau biji salak di rumah. Hanya saja, belum ada yang benar-benar menjualnya di toko. Nah, itu yang pertama-tamanya yang buat Quickly. Lalu minuman tradisional itulah yang dikemas dengan modern. Berawal dari minuman keseharian layaknya es cendol, minuman bubble kini punya banyak wajah, banyak nama. (Kumparanfood:0607) Bahkan seiring waktu, mutiara tapioka tak hanya menjadi pelengkap minuman. Sudah ada dessert dengan boba.

Salah satu minuman yang ada pearl atau boba ataupun buble yang juga sangat terkenal di Indonesia, sampai lebih banyak gerainya di Indonesia dari pada di Negara asalnya sendiri yaitu Taiwan, yaitu Chatime. Di medan sendiri gerai chatime atau both chatime ada 17.

Adanya fakta unik boba:

1. Dikenal dengan berbagai nama yaitu buble, pearl, dan zenzhu naicha.

2. Warna aslinya bening yang berubah karena dimasak dengan gula hitam Okinawa.

(41)

3. Adanya inovasi boba dengan brown sugar inovasi dari Jepang.

4. Inovasinya kian berkembang ada mie goring boba, cocktail, hingga ke skincare.(Kumparanfood :0607)

Boba memiliki beberapa jenis yaitu:

1. Black boba

Ini jenis boba yang paling umum, khususnya di minuman milk tea. Boba yang berbentuk seperti bola mutiara ini pada umumnya terbuat dari tepung tapioka. Warna hitam biasanya berasal dari gula merah atau pewarna karamel. Dengan teksturnya yang kenyal dan rasanya yang manis, black boba ini jadi topping minuman yang bikin banyak orang jadi ketagihan.

2. Clear Boba

Clear boba atau boba yang bening ini juga merupakan jenis boba yang cukup umum. Kalau black boba terbuat dari tepung tapioka, clear boba ini merupakan pati dari akar singkong. Kalau kamu lebih suka yang tidak terlalu manis, clear boba bisa jadi pilihan yang tepat buat kamu. Clear boba relatif hambar, makanya biasanya lebih banyak digunakan di bubble milk tea. Bola-bolanya mampu menyerap susu dan rasa tehnya, membuat rasa clear boba ini menyatu dengan aroma teh. Misalnya kamu memesan chai bubble tea, clear boba akan terasa seperti chai tea juga.

3. Flavored Tapioca Boba

Flavored boba adalah boba biasa yang dimasak atau dilapisi dengan sirup perasa. Cita rasanya bisa berbagai macam, mulai dari rasa buah seperti stroberi dan mangga, hingga rasa ekstois seperti lidah buaya dan kelapa.

(42)

Di sejumlah gerai bubble tea, flavored boba ini suka disebut sebagai jelly pearl. Boba tipe ini biasanya digunakan untuk smoothies dan teh seduh.

Sering juga digunakan sebagai topping es krim atau fro-yo.

4. Popping Boba

Dari namanya udah bisa tebak dong boba macam apa yang ini? Boba yang satu ini menyimpan kejutan karena begitu digigit, POP! Bobanya meledak. Jenis boba ini dibuat melalui gastronomi molekuler. Popping boba ini begitu digigit selain meledak juga menyemburkan jus buah asli yang ada di dalam boba. Popping boba juga ada yang tersedia dalam banyak rasa seperti mangga dan pisang. Popping boba ini berbeda dengan falvored boba karena bukan dibuat dari tapioka. Popping boba kebanyakan digunakan untuk smoothies dan shaken iced tea.

5. Mini Boba

Kembali lagi ke boba paling dasar, boba yang terbuat dari tapioka. Seperti namanya, mini boba ini layaknya black boba, clear boba, atau flavored boba tapi versi lebih kecilnya. Kalau kamu suka merasa bahwa boba ukuran biasa susah dikunyah atau ditelan, kamu bisa mencoba mini boba.

Mini boba ini jadi topping yang pas untuk fro-yo atau bubble tea.

(BlogCakap:2019)

(43)

2.2. Persebaran Boba di Kota Medan

Gambar 2.1: Denah Boba Kota Medan Sumber: Google

Boba yang pertama kali ada di Kota Medan yaitu Chatime. Sekitar tahun 2012 frenchise asal Taiwan ini langsung membuka empat gerai di Medan yaitu di Sun Plaza, Ace Hardware Juanda, Hermes Palace Polonia, dan Camridge Mall.

Sebenarnya keunggulan Chatime bukan pada boba atau pearlnya tetapi pada Milk tea nya. Tetapi pertama kali anak millenial di Medan mengenal boba adalah dari chatime. Pengalaman saya sendiri pun pertama kali merasakan boba dari Chatime.

Berawal dari berkunjung ke Sun plaza lalu melihat adanya gerai yang baru dibuka, tepatnya di Lantai dasar. Pengunjungnya cukup ramai hingga mengantri panjang untuk memesannya. Lalu disitulah saya pertama kali merasakan boba atau dalam chatime sebutannya adalah pearl. Pada saat itu mall di Medan tidak terlalu banyak dan Sun salah satu mall yang terbilang cukup ramai pengunjungnya. Saya rasa

(44)

Lalu seiring berjalannya waktu muncul brand-brand boba lainnya di Indonesia seperti Xing Fu Tang, Kokumi, Gulu-Gulu, dan lainnya. Lalu masuklah pertama kali Xing Fu Tang di Medan, tepatnya di Lippo Mall. Sama seperti Chatime, Xing Fu Tang juga franchise yang berasal dari Taiwan. Dan pada akhirnya menyusul brand-brand lain yang membuka gerainya di Medan. Karena menurut mereka di Medan banyak juga penggemar boba. Target pasar mereka awalnya adalah anak millenial menengah ke atas. Lalu beralih ke seluruh kalangan anak millenial dari menengah ke atas sampai yang menengah kebawah karena faktanya yang membeli bukan hanya anak millenial menengah ke atas.

Walaupun sebenanrnya anak millenial menengah ke atas sudah lebih dulu merasakan boba yang sebelumnya belum dibuka di Medan. Karena anak millenial menengah ke atas yang sering pergi keluar kota atau bahkan keluar negeri yang memang sudah ada gerai bobanya seperti Xing Fu Tang. Jadi ketika baru muncul di Medan anak millenial menengah ke atas ini lebih dulu mengetahui brand boba ini, dan mereka berbondong-bondong membelinya sehingga ramai sampai mengantri panjang. Kadang ia membawa temannya yang memang belum pernah merasakan brand ini sehingga temannya pun tertarik untuk merasakan boba tersebut. Setelah membelinya biasanya anak millenial menengah ke atas ini mempunya media sosial yang memiliki banyak pengikut, lalu mereka mempostingnya. Postingan inilah yang membuat pengikut di meda sosialnya ikut membeli. Dalam pengikutnya ini termasuklah didalamnya anak millenial menengah ke bawah. Ketika melihat yang menurutnya hits mereka langsung ikut membelinya. Biasanya anak millenial menengah ke atas adalah panutan dalam

(45)

sesuatu fenomena yang hits, karena mereka menganggap anak millenial menengah ke atas ini yang lebih tahu info-info terbaru.

Biasanya anak millenial menengah ke atas nongkrong di mall yang kelas menengah ke atas juga. Sebelumnya menurut para millenial baik menengah keatas maupun ke bawah, mall meliki tingkat kelasnya juga yaitu menengah ke atas dan menengah ke bawah. Menurut mereka biasanya semakin tinggi kelasnya semakin tinggi pula pengunjung yang berasal dari menengah ke atas. Selain itu toko-toko dari mall menengah ke atas juga lebih Branded dibanding Mall menengah ke bawah.

Menurut hasil wawancara dan observasi saya mall menengah ke bawah adalah Plaza Medan Fair yang berada di Jl. Jend. Gatot Subroto No. 30 (Jl.

Iskandar Muda), Medan, Sumatera Utara 20113. Dan yang kedua ada Ringroad City Walk medan. Yang berada di jalan Ringroad Mengapa kelas mall paling rendah karena sangat berpengaruh pada pengunjung yang datang, dari sebanyak apa pengunjung yang datang sampai pengunjung yang bagaimana yang datang.

Apakah orang biasa atau orang kaya. Biasanya menurut para millennial “semakin tinggi kelas mallnya semakin banyak pengunjung yang beretnis cinanya”.

Mengapa demikian karena etnis cina rata-rata identik dengan pengunjung kelas atas. Maksutnya mereka lebih memilih mall-mall yang menurut mereka lebih bersih, lebih nyaman dan lengkap.

(46)

Gambar 2.1: Mall Plaza Medan Fair Sumber: Google

Gambar 2.2: Mall Ringroad City Walk Sumber: Google

Dan Mall dengan kelas menengah ke atas ada tiga yaitu yang pertama Centre Point Mall berada di jalan Jawa no.8, Gang Buntu, Medan Timur. Yang kedua ada Sun Plaza Medan yang berada di jalan KH. Zainul Arifin no.7, Madras Hulu, kec. Medan Polonia. Yang terakhir mall yang paling baru yaitu Delipark Mall Medan. Ketiga Mall ini yang paling elite di Kota Medan. Selain itu mengapa dikatakan kelas menengah ke atas, fasilitas dan gerai minuman boba disini sangat lengkap jenisnya. Mulai dari chatime, Koi, OneZo, kokumi, gulu- gulu, xing fu tang, dan lainnya. Sehingga pengunjung lebih memilih mall yang lebih banyak pilihan makanan ataupun minumannya. Yang lebih spesifik lagi mall kelas menengah ke atas selain pengunjung yang sudah pasti rata-rata adalah dari kelas atas juga terdapat gerai atau butik barang-barang branded salah satunya Zara, Uniqlo, danlainnya. Terlihat juga dari lantai yang mereka pakai adalah

(47)

marmer yang membuat bangunan menjadi lebih mewah. Selain itu dilengkapi dengan toilet dengan fasilitas wc duduk, wastafel yang canggih danlainnya.

2.3. Gaya Hidup Anak Millenial di Kota Medan.

Gaya hidup saat ini menjadi sebuah trend atau identitas baru yang dipakaidalam mengukur tingkat kemapanan seseorang (Tambunan,2011). Gaya hidup atau lifestyle sebenarnya sudah ada sejak manusia mulai mengenal barter atau pembayaran yang dilakukan dengan cara menukar dengan barang yang dianggap sepadan. Ini juga dapat menjadi ciri atau identitas suatu bangsa karena setiap bangsa memiliki ciri khas masing–masing dalam melakukan gaya hidup mereka. Toffler (Subandy 2000: 165) mengemukakan bahwa gaya hidup yaitu alat yang dipakai individu untuk mengidentifikasi ekspresi dalam kelompok yang mencampurkan nilai-nilai tertentu dari agama, sosial, dan kehidupan moral melalui bentuk-bentuk yang mencerminkan perasaandengan subkultur-subkultur tertentu sehingga gaya hidup dipakai seseorang dalam bertingkahlaku dan mempunyai konsekuensi dalam membentuk pola perilaku tertentu. Misalkan saja menyangkut gaya hidup sehat seorang individu. Untuk merubah gaya hidup sehat seorang individu maka yang diubah bukan hanya individunya saja namun juga lingkungan sosial dan kondisi tempat tinggal yang mempengaruhi pola perilaku individu tersebut. Gaya hidup sering dihubungkan dengan kelas sosial ekonomi dan menunjukkan citra seseorang. Gaya hidup yang ditunjukkan dalam variasi keputusan citra rasanya. Dalam hal merek, merek bukanlah sekedar nama.

Didalamnya terkandung sifat, makna, arti dan isi dari produk bersangkutan.

Bahkan dalam perkembangan lebih lanjut merek akan menandai simbol dan status dari produk tersebut.

(48)

Gaya hidup millenial, mengarah kepada perilaku konsumtif yang bertujuan untuk meningkatkan prestise. Gaya hidup merupakan istilah yang sedang populer saat ini dalam kehidupan millenial. Dahulu masyarakat tidak terlalu mementingkan urusan penampilan dan gaya hidup. Mereka lebih mementingkan masalah kebutuhan pokok daripada masalah penampilan, tetapi sekarang berbeda keadaannya karena kini urusan penampilan dan gaya hidup mulai menjadi perhatian serius. Perkembangan disegala bidang terjadi sekarang ini, baik secara langsung maupun tidak langsung menuntut seseorang untuk mampu beradaptasi dengan berbagai bentuk perubahan dan pembaharuan.

2.3.1. Millenial Menangah Keatas.

Anak millennial menengah ke atas memiliki kehidupan yang berkecukupan bahkan lebih dari cukup. Contohnya teman saya sebut saja Mawar, memiliki kendaraan pribadi yaitu mobil yang terbilang lumayan mewah yaitu HRV tipe tinggi atau bisa dibilang tipe yang paling mahal. Ia tinggal di salah satu kawasan elit di Medan yaitu di komplek Tasbih satu. Rumahnya cukup besar nan megah. Barang yang ia kenakan juga mewah seperti tas bermerk, baju bermerk, sepatu bermerk, dan handphone bermerek.

Ia termasuk anak millennial yang sering nongkrong dengan temannya, bisa dibilang hampir setiap hari saya melihat postingannya di media sosial lebih tepatnya di Instagram bersama teman sepermainannya. Dari yang sering mengunjungi mall mewah atau menengah ke atas seperti Sun Plaza maupun sekedar duduk di cafe mewah. Ia pun memiliki pengikut yang lumayan banyak di media sosial. Sehingga bisa dibilang ia memiliki teman yang cukup banyak

(49)

Tetapi yang saya lihat ia lebih sering nongkrong atau sekedar main keluar dengan teman yang sederajat dengannya atau bisa dibilang teman yang menengah ke atas juga.

Dalam mengamati kehidupannya dalam media sosial saya bisa menyimpulkan bahwasanya dia salah satu anak millennial menengah ke atas yang sangat konsumtif dengan yang selalu bermain bersama teman dan selalu mengunjungi tempat-tempat mewah.

2.3.2. Millenial Menengah Kebawah.

Pada dasarnya gaya hidup anak millennial menengah ke atas maupun ke bawah sama-sama memiliki sifat konsumtif. Hanya saja mereka mengaplikasikannya dengan objek yang berbeda. Seperti salah satu teman saya sebut saja Melati. Ia berasal dari daerah yang lumayan jauh dari kota. Tetapi ia kuliah di USU sehingga ia harus menyewa kamar di sekitaran Kampusnya. Kosan tempat ia tinggal terbilang biasa saja dengan kamar mandi di luar yang dipakai oleh anak kos lainnya juga, dan pendingin kamar yang hanya memakai kipas angin. Ia tidak memiliki kendaraan, selain angkot ia juga menggunakan aplikasi online seperti Gojek/Grab untuk berpergian ke Kampus maupun yang lainnya.

Barang yang ia kenakan seperti tas, baju, sepatu adalah barang yang tidak bermerk, sekalipun bermerk tapi ternyata palsu.

Karena dia bukan asli dari kota Medan jadi temannya di Medan hanya sedikit, selain teman sekelas dia juga berteman dengan teman organisasinya, ruang lingkupnya hanya sekedar sekitaran Kampus. Tetapi dari kehidupan di Kota dia jadi lebih mengetahui apa saja yang sedang hits pada masa ini. Selain dari

Gambar

Gambar 2.1: Denah Boba Kota Medan  Sumber: Google
Gambar 2.1: Mall Plaza Medan Fair  Sumber: Google

Referensi

Dokumen terkait

mengalami pembinaan sebagai seorang biarawan aa..kadang kala membuat saya lemah, membuat saya meragukan kemampuan saya untuk menjadi seorang Imam pertama kesepian

Telepon genggam atau yang biasa disebut dengan gadget digunakan untuk komunikasi, mengakses informasi dan media refreshing dengan kemajuan teknologi informasi dan

Menurut Asseal ada tiga faktor yang mempengaruhi konsumen dalam membuat keputusan pembelian yaitu, Faktor Pertama, Konsumen individual artinya bahwa pilihan untuk

Pertama-tama saya mengucapkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya serta kemudahan, sehingga saya dapat menyelesaikan penelitian

Dengan tersusunnya skripsi yang penulis beri judul Analisis Perilaku Konsumtif Terhadap Makanan Dalam Perspektif Al-Qur’an Studi Kasus Terhadap Gaya Hidup Mahasiswi Semester 8 Institut