BAB I PENDAHULUAN
1.6. Pengalaman Penelitian
Penelitian saya dimulai pada bulan November 2019 setelah sudah di acc judul oleh Pak Fikarwin. Saya lanjut dengan mengerjakan proposal. Saat mengerjakan proposal saya melakukan kegiatan PKL di Samosir sehingga proposal saya
tertunda. Pada bulan Maret saya melanjutkan mengerjakan proposal. Setelah mendapatkan acc dari dosen pembimbing saya yaitu Pak Zulkifli, saya langsung melanjutkan penelitian tanpa surat izin untuk turun kelapangan.
Sebelum mendapatkan informan saya mengamati atau mengobservasi terlebih dahulu di media sosial dan di berbagai Mall di Kota Medan. Di awali dengan mengobservasi di media sosial salah satunya adalah Instagram. Saya mengamati teman-teman saya yang terbilang cukup sering memposting gaya hidup mereka di Instagram dan yang sering juga memposting ketika mereka sedang meminum boba. Beberapa kali saya mengomentari postingan mereka untuk berbasa-basi menanyakan dimana mereka nongkrong dan membeli minumannya. Setelah itu lanjut saya tanyakan melalui pesan pribadi untuk mencocokkan jadwal mewawancarainya. Terdapat empat orang yang saya dapatkan dua dari menengah keatas yaitu Annisa Intan 22 tahun, Shania Ananda 20 tahun dan dua dari menengah kebawah yaitu Inez Lapian 20 tahun dan Febiola 20 tahun. Inez saya jadikan dia sebagai informan karena dia adalah pelatih karate adik saya. Saat saya mengantar adik saya, beberapa kali saya melihat dia sedang meminum minuman boba. Dan ketika saya tanya ternyata dia rutin membeli boba.
Saya mengkategorikan mereka setelah mendapatkan informasi dari mewawancarai mereka. Setelah wawancara sayapun berkunjung kerumah mereka.
Adanya kendala dalam mencocokkan jadwal saya dengan mereka. Selain kerumah mereka sayapun beberapa kali ikut nongkrong dengan mereka.
Selain dari Instagram saya mengobservasi di berbagai mall di Kota Medan.
Pertama mall yang saya observasi adalah Ringroad City Walk Mall, di sana terdapat gerai Boba yaitu OneZo. Setelah saya amati pengunjungnya, saya
mewawancarai pegawai gerai Boba tersebut untuk mengetahui bagaimana pemasaran mereka dan target pasar mereka. Pegawai tersebut sangat tertarik akan tugas akhir saya sehingga setelah saya mewawancarainya saya diberikan voucher Boba sebanyak lima puluh lembar. Esoknya saya mewawancarai Annisa Intan di gerai boba itu lagi. Intan adalah informan pangkal saya. Karena dari dia saya banyak mendapatkan informasi bagaimana kehidupan millenial menengah ke atas.
Seminggu kemudian saya mengamati Mall lainnya yaitu Sun Plaza Medan.
Disana terdapat banyak gerai boba dari berbagai merek. Dan di sana saya mewawancarai millenial menengah keatas yaitu Shania. Dia menjawab semua pertanyaan saya dengan teliti hingga saya mendapatkan informasi yang banyak darinya. Setelah selesai dari Sun Plaza saya mengantar Shania kerumahnya dan menemui orang tuanya untuk mengobservasi dan mengamati kehidupannya.Lusanya mewawancarai Inez di rumahnya sambil mengantar adik saya latihan Karate. Dari Inez juga saya banyak mendapatkan informasi dari millenial menengah ke bawah. Dan beberapa hari kemudian saya mewawancarai Febiola. Saya mewawancarainya di Plaza Medan Fair. esoknya saya membuat janji untuk berkunjung kerumahnya. Ola adalah informan terakhir saya. Penelitian yang saya lakukan sekitar dua bulan lebih.
BAB II
KEBERADAAN BOBA DI KOTA MEDAN
2.1. Sejarah Boba
Bubble tea atau yang punya nama lain boba tea dan pearl tea sesungguhnya adalah minuman asal negara Taiwan yang disana biasa dijual di kaki lima. Bisa dibilang boba ini adalah cendolnya Taiwan. Laman Eater mendefinisikan minuman boba sebagai kategori luas dari chunky drinks macam es teh, jus, atau minuman apa pun dengan mutiara tapioka. Di negeri asalnya, Taiwan, boba dikenal dengan nama zenzhu naicha. Sementara di Amerika, orang mengenal boba dengan dua nama, bubble tea di pantai timur Amerika, dan boba di pantai barat Amerika Meski pertama kali berkembang di Taiwan, mutiara tapioka itu justru terbuat dari ekstrak singkong asal Amerika Selatan. Tapioka sendiri tidak punya rasa atau hambar, namun rasa manis boba berasal dari gula atau madu yang direndam. Tanaman ini masuk ke Taiwan dari Brasil melalui Asia Tenggara pada 1895-1945. Yang pertama menjual minuman dengan bola tapioka adalah Tu Tsong-he, pemilik Hanlin Teahouse. Awalnya ia menjual minuman dengan mutiara tapioka putih. Teksturnya agak keras dan hambar. Kemudian Tu Tsong-he beralih ke mutiara hitam. Mutiara ini direbus dalam tong besar dan disiram sirup karamel manis selama berjam-jam. Menggelegak sampai menjadi mutiara tapioka hitam, bertekstur kenyal, seperti yang saat ini sering kamu nikmati. Hingga akhirnya tahun 1990, bubble atau boba menjadi sebuah sensasi di Asia. Dua puluh sembilan tahun bukanlah perjalanan singkat dari sebuah tren. Inovasi menjadi
kunci kesuksesan. Minuman boba ini mempunyai inovasi yang besar yang bisa bertransformasi dan menciptakan gaya tarik. (Kumparanfood :0607)
Telah menjadi tren sejak awal 90-an, rupanya butuh waktu sepuluh tahun untuk membawa minuman bubble masuk ke Indonesia. Brand pertama yang mendatangkan minuman itu ke Indonesia adalah Quickly. Ia berdiri di Taiwan tahun 1996, dan merambah ke negara-negara lain di Asia. Akhirnya tahun 2000, Quickly hadir pertama kali di Plaza Indonesia. Sebagai pionir bubble drink di Indonesia, Quickly Indonesia kini sudah berusia 19 tahun. (Pupit Tripeni, Elisa Dwi:2019)
Di Taiwan ibu-ibu di rumah itu biasa bikin pearl (bubble) sama seperti kita bikin cendol atau cincau, atau biji salak di rumah. Hanya saja, belum ada yang benar-benar menjualnya di toko. Nah, itu yang pertama-tamanya yang buat Quickly. Lalu minuman tradisional itulah yang dikemas dengan modern. Berawal dari minuman keseharian layaknya es cendol, minuman bubble kini punya banyak wajah, banyak nama. (Kumparanfood:0607) Bahkan seiring waktu, mutiara tapioka tak hanya menjadi pelengkap minuman. Sudah ada dessert dengan boba.
Salah satu minuman yang ada pearl atau boba ataupun buble yang juga sangat terkenal di Indonesia, sampai lebih banyak gerainya di Indonesia dari pada di Negara asalnya sendiri yaitu Taiwan, yaitu Chatime. Di medan sendiri gerai chatime atau both chatime ada 17.
Adanya fakta unik boba:
1. Dikenal dengan berbagai nama yaitu buble, pearl, dan zenzhu naicha.
2. Warna aslinya bening yang berubah karena dimasak dengan gula hitam Okinawa.
3. Adanya inovasi boba dengan brown sugar inovasi dari Jepang.
4. Inovasinya kian berkembang ada mie goring boba, cocktail, hingga ke skincare.(Kumparanfood :0607)
Boba memiliki beberapa jenis yaitu:
1. Black boba
Ini jenis boba yang paling umum, khususnya di minuman milk tea. Boba yang berbentuk seperti bola mutiara ini pada umumnya terbuat dari tepung tapioka. Warna hitam biasanya berasal dari gula merah atau pewarna karamel. Dengan teksturnya yang kenyal dan rasanya yang manis, black boba ini jadi topping minuman yang bikin banyak orang jadi ketagihan.
2. Clear Boba
Clear boba atau boba yang bening ini juga merupakan jenis boba yang cukup umum. Kalau black boba terbuat dari tepung tapioka, clear boba ini merupakan pati dari akar singkong. Kalau kamu lebih suka yang tidak terlalu manis, clear boba bisa jadi pilihan yang tepat buat kamu. Clear boba relatif hambar, makanya biasanya lebih banyak digunakan di bubble milk tea. Bola-bolanya mampu menyerap susu dan rasa tehnya, membuat rasa clear boba ini menyatu dengan aroma teh. Misalnya kamu memesan chai bubble tea, clear boba akan terasa seperti chai tea juga.
3. Flavored Tapioca Boba
Flavored boba adalah boba biasa yang dimasak atau dilapisi dengan sirup perasa. Cita rasanya bisa berbagai macam, mulai dari rasa buah seperti stroberi dan mangga, hingga rasa ekstois seperti lidah buaya dan kelapa.
Di sejumlah gerai bubble tea, flavored boba ini suka disebut sebagai jelly pearl. Boba tipe ini biasanya digunakan untuk smoothies dan teh seduh.
Sering juga digunakan sebagai topping es krim atau fro-yo.
4. Popping Boba
Dari namanya udah bisa tebak dong boba macam apa yang ini? Boba yang satu ini menyimpan kejutan karena begitu digigit, POP! Bobanya meledak. Jenis boba ini dibuat melalui gastronomi molekuler. Popping boba ini begitu digigit selain meledak juga menyemburkan jus buah asli yang ada di dalam boba. Popping boba juga ada yang tersedia dalam banyak rasa seperti mangga dan pisang. Popping boba ini berbeda dengan falvored boba karena bukan dibuat dari tapioka. Popping boba kebanyakan digunakan untuk smoothies dan shaken iced tea.
5. Mini Boba
Kembali lagi ke boba paling dasar, boba yang terbuat dari tapioka. Seperti namanya, mini boba ini layaknya black boba, clear boba, atau flavored boba tapi versi lebih kecilnya. Kalau kamu suka merasa bahwa boba ukuran biasa susah dikunyah atau ditelan, kamu bisa mencoba mini boba.
Mini boba ini jadi topping yang pas untuk fro-yo atau bubble tea.
(BlogCakap:2019)
2.2. Persebaran Boba di Kota Medan
Gambar 2.1: Denah Boba Kota Medan Sumber: Google
Boba yang pertama kali ada di Kota Medan yaitu Chatime. Sekitar tahun 2012 frenchise asal Taiwan ini langsung membuka empat gerai di Medan yaitu di Sun Plaza, Ace Hardware Juanda, Hermes Palace Polonia, dan Camridge Mall.
Sebenarnya keunggulan Chatime bukan pada boba atau pearlnya tetapi pada Milk tea nya. Tetapi pertama kali anak millenial di Medan mengenal boba adalah dari chatime. Pengalaman saya sendiri pun pertama kali merasakan boba dari Chatime.
Berawal dari berkunjung ke Sun plaza lalu melihat adanya gerai yang baru dibuka, tepatnya di Lantai dasar. Pengunjungnya cukup ramai hingga mengantri panjang untuk memesannya. Lalu disitulah saya pertama kali merasakan boba atau dalam chatime sebutannya adalah pearl. Pada saat itu mall di Medan tidak terlalu banyak dan Sun salah satu mall yang terbilang cukup ramai pengunjungnya. Saya rasa
Lalu seiring berjalannya waktu muncul brand-brand boba lainnya di Indonesia seperti Xing Fu Tang, Kokumi, Gulu-Gulu, dan lainnya. Lalu masuklah pertama kali Xing Fu Tang di Medan, tepatnya di Lippo Mall. Sama seperti Chatime, Xing Fu Tang juga franchise yang berasal dari Taiwan. Dan pada akhirnya menyusul brand-brand lain yang membuka gerainya di Medan. Karena menurut mereka di Medan banyak juga penggemar boba. Target pasar mereka awalnya adalah anak millenial menengah ke atas. Lalu beralih ke seluruh kalangan anak millenial dari menengah ke atas sampai yang menengah kebawah karena faktanya yang membeli bukan hanya anak millenial menengah ke atas.
Walaupun sebenanrnya anak millenial menengah ke atas sudah lebih dulu merasakan boba yang sebelumnya belum dibuka di Medan. Karena anak millenial menengah ke atas yang sering pergi keluar kota atau bahkan keluar negeri yang memang sudah ada gerai bobanya seperti Xing Fu Tang. Jadi ketika baru muncul di Medan anak millenial menengah ke atas ini lebih dulu mengetahui brand boba ini, dan mereka berbondong-bondong membelinya sehingga ramai sampai mengantri panjang. Kadang ia membawa temannya yang memang belum pernah merasakan brand ini sehingga temannya pun tertarik untuk merasakan boba tersebut. Setelah membelinya biasanya anak millenial menengah ke atas ini mempunya media sosial yang memiliki banyak pengikut, lalu mereka mempostingnya. Postingan inilah yang membuat pengikut di meda sosialnya ikut membeli. Dalam pengikutnya ini termasuklah didalamnya anak millenial menengah ke bawah. Ketika melihat yang menurutnya hits mereka langsung ikut membelinya. Biasanya anak millenial menengah ke atas adalah panutan dalam
sesuatu fenomena yang hits, karena mereka menganggap anak millenial menengah ke atas ini yang lebih tahu info-info terbaru.
Biasanya anak millenial menengah ke atas nongkrong di mall yang kelas menengah ke atas juga. Sebelumnya menurut para millenial baik menengah keatas maupun ke bawah, mall meliki tingkat kelasnya juga yaitu menengah ke atas dan menengah ke bawah. Menurut mereka biasanya semakin tinggi kelasnya semakin tinggi pula pengunjung yang berasal dari menengah ke atas. Selain itu toko-toko dari mall menengah ke atas juga lebih Branded dibanding Mall menengah ke bawah.
Menurut hasil wawancara dan observasi saya mall menengah ke bawah adalah Plaza Medan Fair yang berada di Jl. Jend. Gatot Subroto No. 30 (Jl.
Iskandar Muda), Medan, Sumatera Utara 20113. Dan yang kedua ada Ringroad City Walk medan. Yang berada di jalan Ringroad Mengapa kelas mall paling rendah karena sangat berpengaruh pada pengunjung yang datang, dari sebanyak apa pengunjung yang datang sampai pengunjung yang bagaimana yang datang.
Apakah orang biasa atau orang kaya. Biasanya menurut para millennial “semakin tinggi kelas mallnya semakin banyak pengunjung yang beretnis cinanya”.
Mengapa demikian karena etnis cina rata-rata identik dengan pengunjung kelas atas. Maksutnya mereka lebih memilih mall-mall yang menurut mereka lebih bersih, lebih nyaman dan lengkap.
Gambar 2.1: Mall Plaza Medan Fair Sumber: Google
Gambar 2.2: Mall Ringroad City Walk Sumber: Google
Dan Mall dengan kelas menengah ke atas ada tiga yaitu yang pertama Centre Point Mall berada di jalan Jawa no.8, Gang Buntu, Medan Timur. Yang kedua ada Sun Plaza Medan yang berada di jalan KH. Zainul Arifin no.7, Madras Hulu, kec. Medan Polonia. Yang terakhir mall yang paling baru yaitu Delipark Mall Medan. Ketiga Mall ini yang paling elite di Kota Medan. Selain itu mengapa dikatakan kelas menengah ke atas, fasilitas dan gerai minuman boba disini sangat lengkap jenisnya. Mulai dari chatime, Koi, OneZo, kokumi, gulu-gulu, xing fu tang, dan lainnya. Sehingga pengunjung lebih memilih mall yang lebih banyak pilihan makanan ataupun minumannya. Yang lebih spesifik lagi mall kelas menengah ke atas selain pengunjung yang sudah pasti rata-rata adalah dari kelas atas juga terdapat gerai atau butik barang-barang branded salah satunya Zara, Uniqlo, danlainnya. Terlihat juga dari lantai yang mereka pakai adalah
marmer yang membuat bangunan menjadi lebih mewah. Selain itu dilengkapi dengan toilet dengan fasilitas wc duduk, wastafel yang canggih danlainnya.
2.3. Gaya Hidup Anak Millenial di Kota Medan.
Gaya hidup saat ini menjadi sebuah trend atau identitas baru yang dipakaidalam mengukur tingkat kemapanan seseorang (Tambunan,2011). Gaya hidup atau lifestyle sebenarnya sudah ada sejak manusia mulai mengenal barter atau pembayaran yang dilakukan dengan cara menukar dengan barang yang dianggap sepadan. Ini juga dapat menjadi ciri atau identitas suatu bangsa karena setiap bangsa memiliki ciri khas masing–masing dalam melakukan gaya hidup mereka. Toffler (Subandy 2000: 165) mengemukakan bahwa gaya hidup yaitu alat yang dipakai individu untuk mengidentifikasi ekspresi dalam kelompok yang mencampurkan nilai-nilai tertentu dari agama, sosial, dan kehidupan moral melalui bentuk-bentuk yang mencerminkan perasaandengan subkultur-subkultur tertentu sehingga gaya hidup dipakai seseorang dalam bertingkahlaku dan mempunyai konsekuensi dalam membentuk pola perilaku tertentu. Misalkan saja menyangkut gaya hidup sehat seorang individu. Untuk merubah gaya hidup sehat seorang individu maka yang diubah bukan hanya individunya saja namun juga lingkungan sosial dan kondisi tempat tinggal yang mempengaruhi pola perilaku individu tersebut. Gaya hidup sering dihubungkan dengan kelas sosial ekonomi dan menunjukkan citra seseorang. Gaya hidup yang ditunjukkan dalam variasi keputusan citra rasanya. Dalam hal merek, merek bukanlah sekedar nama.
Didalamnya terkandung sifat, makna, arti dan isi dari produk bersangkutan.
Bahkan dalam perkembangan lebih lanjut merek akan menandai simbol dan status dari produk tersebut.
Gaya hidup millenial, mengarah kepada perilaku konsumtif yang bertujuan untuk meningkatkan prestise. Gaya hidup merupakan istilah yang sedang populer saat ini dalam kehidupan millenial. Dahulu masyarakat tidak terlalu mementingkan urusan penampilan dan gaya hidup. Mereka lebih mementingkan masalah kebutuhan pokok daripada masalah penampilan, tetapi sekarang berbeda keadaannya karena kini urusan penampilan dan gaya hidup mulai menjadi perhatian serius. Perkembangan disegala bidang terjadi sekarang ini, baik secara langsung maupun tidak langsung menuntut seseorang untuk mampu beradaptasi dengan berbagai bentuk perubahan dan pembaharuan.
2.3.1. Millenial Menangah Keatas.
Anak millennial menengah ke atas memiliki kehidupan yang berkecukupan bahkan lebih dari cukup. Contohnya teman saya sebut saja Mawar, memiliki kendaraan pribadi yaitu mobil yang terbilang lumayan mewah yaitu HRV tipe tinggi atau bisa dibilang tipe yang paling mahal. Ia tinggal di salah satu kawasan elit di Medan yaitu di komplek Tasbih satu. Rumahnya cukup besar nan megah. Barang yang ia kenakan juga mewah seperti tas bermerk, baju bermerk, sepatu bermerk, dan handphone bermerek.
Ia termasuk anak millennial yang sering nongkrong dengan temannya, bisa dibilang hampir setiap hari saya melihat postingannya di media sosial lebih tepatnya di Instagram bersama teman sepermainannya. Dari yang sering mengunjungi mall mewah atau menengah ke atas seperti Sun Plaza maupun sekedar duduk di cafe mewah. Ia pun memiliki pengikut yang lumayan banyak di media sosial. Sehingga bisa dibilang ia memiliki teman yang cukup banyak
Tetapi yang saya lihat ia lebih sering nongkrong atau sekedar main keluar dengan teman yang sederajat dengannya atau bisa dibilang teman yang menengah ke atas juga.
Dalam mengamati kehidupannya dalam media sosial saya bisa menyimpulkan bahwasanya dia salah satu anak millennial menengah ke atas yang sangat konsumtif dengan yang selalu bermain bersama teman dan selalu mengunjungi tempat-tempat mewah.
2.3.2. Millenial Menengah Kebawah.
Pada dasarnya gaya hidup anak millennial menengah ke atas maupun ke bawah sama-sama memiliki sifat konsumtif. Hanya saja mereka mengaplikasikannya dengan objek yang berbeda. Seperti salah satu teman saya sebut saja Melati. Ia berasal dari daerah yang lumayan jauh dari kota. Tetapi ia kuliah di USU sehingga ia harus menyewa kamar di sekitaran Kampusnya. Kosan tempat ia tinggal terbilang biasa saja dengan kamar mandi di luar yang dipakai oleh anak kos lainnya juga, dan pendingin kamar yang hanya memakai kipas angin. Ia tidak memiliki kendaraan, selain angkot ia juga menggunakan aplikasi online seperti Gojek/Grab untuk berpergian ke Kampus maupun yang lainnya.
Barang yang ia kenakan seperti tas, baju, sepatu adalah barang yang tidak bermerk, sekalipun bermerk tapi ternyata palsu.
Karena dia bukan asli dari kota Medan jadi temannya di Medan hanya sedikit, selain teman sekelas dia juga berteman dengan teman organisasinya, ruang lingkupnya hanya sekedar sekitaran Kampus. Tetapi dari kehidupan di Kota dia jadi lebih mengetahui apa saja yang sedang hits pada masa ini. Selain dari
temannya yang emang tinggal di Medan dia juga melihat media sosial. Sehingga ada keinginannya untuk mengikuti yang sedang hits pada masanya, seperti merasakan berbagai jenis boba dan duduk di cafe-café yang hits pula. Tetapi sering kali yang saya amati terkadang dia terlalu mamaksakan mengikuti tren masakini sehingga tak jarang pula ia meminjam uang pada temannya hanya untuk sekedar nongkrong dicafe yang hits. Dalam mengamati anak millennial menengah kebawah saya melihat mereka terlalu memaksakan mengikuti tren masa kini walaupun materi yang tidak mendukung.
BAB III
KEHIDUPAN PARA PECINTA MNUMAN BOBA
3.1. Intan Yang Fashionable
3.1.1. Latar Belakang Keluarga Intan
Annisa Intan Muthia Sipahutar oleh teman-temannya dipanggil Intan sedangkan di lingkungan keluarga luasnya dipanggil Nisa. Lahir di Medan tanggal 18 Juli 1998. Intan lahir dari sebuah keluarga yang secara ekonomis termasuk dalam golongan menengah atas. Ayahnya adalah seorang general menejer di sebuah peusahaan swasta yang bergerak di industry makanan berasal dari Sibolga.
Sedangkan ibunya seorang tenaga pendidik berstatus sebagai pegawai negeri di sebuah sekolah menengah atas di kota Binjai. Oleh teman-teman Intan sering dipanggil tante Dewi. Ibunya berasal dari Gayo yang menghabiskan masa kecilnya di Aceh Singkil, kemudian ikut orang tua pindah kerja ke Sibolga. Kedua orang tua Intan menikah di Sibolga setelah itu pindah ke Medan.
Dalam keluarganya, intan memiliki dua orang adik yang sekarang masih duduk dibangku kelas 12 di sebuah Sekolah Menengah Atas tempat ibunya mengajar, sedangkan adik keduanya masih duduk di kelas Sembilan di sebuah SMP swasta yang “cukup” berkelas di kota Medan. Intan sebagai anak tertua dari keluarga ini sejak Taman Kanak-kanak, hingga SMP menempuh pendidikan swasta yang cukup “bekelas” di kota Binjai dan kota Medan, sedangkan jenjang Pendidikan SMA beliau menempuh di sekolah negeri tempat ibunya mengajar.
Dalam keluarganya, intan memiliki dua orang adik yang sekarang masih duduk dibangku kelas 12 di sebuah Sekolah Menengah Atas tempat ibunya mengajar, sedangkan adik keduanya masih duduk di kelas Sembilan di sebuah SMP swasta yang “cukup” berkelas di kota Medan. Intan sebagai anak tertua dari keluarga ini sejak Taman Kanak-kanak, hingga SMP menempuh pendidikan swasta yang cukup “bekelas” di kota Binjai dan kota Medan, sedangkan jenjang Pendidikan SMA beliau menempuh di sekolah negeri tempat ibunya mengajar.