• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM

2.3. Gaya Hidup Anak Millenial di Kota Medan Sejarah Boba

2.3.2. Millenial Menengah Kebawah

Pada dasarnya gaya hidup anak millennial menengah ke atas maupun ke bawah sama-sama memiliki sifat konsumtif. Hanya saja mereka mengaplikasikannya dengan objek yang berbeda. Seperti salah satu teman saya sebut saja Melati. Ia berasal dari daerah yang lumayan jauh dari kota. Tetapi ia kuliah di USU sehingga ia harus menyewa kamar di sekitaran Kampusnya. Kosan tempat ia tinggal terbilang biasa saja dengan kamar mandi di luar yang dipakai oleh anak kos lainnya juga, dan pendingin kamar yang hanya memakai kipas angin. Ia tidak memiliki kendaraan, selain angkot ia juga menggunakan aplikasi online seperti Gojek/Grab untuk berpergian ke Kampus maupun yang lainnya.

Barang yang ia kenakan seperti tas, baju, sepatu adalah barang yang tidak bermerk, sekalipun bermerk tapi ternyata palsu.

Karena dia bukan asli dari kota Medan jadi temannya di Medan hanya sedikit, selain teman sekelas dia juga berteman dengan teman organisasinya, ruang lingkupnya hanya sekedar sekitaran Kampus. Tetapi dari kehidupan di Kota dia jadi lebih mengetahui apa saja yang sedang hits pada masa ini. Selain dari

temannya yang emang tinggal di Medan dia juga melihat media sosial. Sehingga ada keinginannya untuk mengikuti yang sedang hits pada masanya, seperti merasakan berbagai jenis boba dan duduk di cafe-café yang hits pula. Tetapi sering kali yang saya amati terkadang dia terlalu mamaksakan mengikuti tren masakini sehingga tak jarang pula ia meminjam uang pada temannya hanya untuk sekedar nongkrong dicafe yang hits. Dalam mengamati anak millennial menengah kebawah saya melihat mereka terlalu memaksakan mengikuti tren masa kini walaupun materi yang tidak mendukung.

BAB III

KEHIDUPAN PARA PECINTA MNUMAN BOBA

3.1. Intan Yang Fashionable

3.1.1. Latar Belakang Keluarga Intan

Annisa Intan Muthia Sipahutar oleh teman-temannya dipanggil Intan sedangkan di lingkungan keluarga luasnya dipanggil Nisa. Lahir di Medan tanggal 18 Juli 1998. Intan lahir dari sebuah keluarga yang secara ekonomis termasuk dalam golongan menengah atas. Ayahnya adalah seorang general menejer di sebuah peusahaan swasta yang bergerak di industry makanan berasal dari Sibolga.

Sedangkan ibunya seorang tenaga pendidik berstatus sebagai pegawai negeri di sebuah sekolah menengah atas di kota Binjai. Oleh teman-teman Intan sering dipanggil tante Dewi. Ibunya berasal dari Gayo yang menghabiskan masa kecilnya di Aceh Singkil, kemudian ikut orang tua pindah kerja ke Sibolga. Kedua orang tua Intan menikah di Sibolga setelah itu pindah ke Medan.

Dalam keluarganya, intan memiliki dua orang adik yang sekarang masih duduk dibangku kelas 12 di sebuah Sekolah Menengah Atas tempat ibunya mengajar, sedangkan adik keduanya masih duduk di kelas Sembilan di sebuah SMP swasta yang “cukup” berkelas di kota Medan. Intan sebagai anak tertua dari keluarga ini sejak Taman Kanak-kanak, hingga SMP menempuh pendidikan swasta yang cukup “bekelas” di kota Binjai dan kota Medan, sedangkan jenjang Pendidikan SMA beliau menempuh di sekolah negeri tempat ibunya mengajar.

Saat ini Intan telah menyeleasaikan Pendidikamm S1 di Agribisnis USU. Tentang pilihan Pendidikan Intan dan kedua adiknya, intan berucap.

“…. Orang tua aku memang mencari sekolah yang kualitas pendidikannya baik, ada agama islamnya dan cukup dikenal, berapapun biayanya mereka menyanggupi yang penting terkenal sih….”

Intan dan keluarganya tinggal di sebuah kompleks perumahan untuk golongan ekonomi menengah keatas berlokasi di Kilometer 12 jalan Medan Binjai. Rumah yang ditempati Intan dan keluarga kecilnya, bertingkat dua dengan lantai kedua adalah gudangnya. Memiliki tiga kamar yang masing-masing memiliki kamar mandi di dalam kamarnya. Dan terdapat dua kulkas besar.

Ayahnya pergi ke kantor setiap harinya menggunakan mobil Inova Reborn dengan speksifikasi yang paling tinggi. Ayahnya juga aktif dalam kelompok masjid di kompleksnya. Yang saya amati ayahnya juga memiliki penampilan yang lumayan necis, dengan outfit yang rata-rata bermerk terkenal. Ibunya pun begitu memiliki tas yang bermerk terkenal serta ibunya juga aktif mengikuti arisan. Total arisan yang diikutinya sekitar empat arisan.

“….mamaku sering kali arisan hampir setiap minggu ada aja arisan yang diikutinya. Kadang capek juga aku ngantar ke café-café yang kekinian, walaupun kadang aku juga ikut nongkrong jugasih…”

3.1.2. Intan Dalam Kehidupan Kesehariannya

Setelah menamatkan Pendidikan S1 di Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada tanggal 30 Juni 2020 yang lalu, saat ini Intan belum memperoleh pekerjaan, dulu sempat memiliki kerjaan tetapi karena ketidak cocokan terhadap kerjaan tersebut Intan hanya sanggup bekerja selama sebulan dan tidak diberikan gaji. Setelah itu dia sudah banya mengajukan pekerjaan dibeberapa perusahaan terkenal tetapi tak satupun mendapat jawaban dari pihak perusahaan. Karena tidak ada kegiatan dia membantu ibunya berjualan di media sosial, yaitu berjualam pempek, dimsum, dan lainnya. Selain itu Intan juga melakukan bisnis kecil-kecilan menjual berbagai jenis tas kekinian di Instagram miliknya. Bisnis ini dilakukan Intan untuk menutupi pemotongan uang bulanan yang diperolah dari orang tuanya setelah menamatkan Pendidikan S1.

“….untuk nambah-nambah uang jajanlah nik karena kan uang jajanku di potong abis sidang kemaren..”

Dalam kesehariannya, Intan memiliki hobi traveling baik bersama keluarga, temannya maupun pacarnya. Kegiatan trevelling tersebut selalu diperlihatkan kedalam akun instagram milikinya setiap melakukan treveling. Intan juga merupakan seorang yang fashionable. Dari pengamatan yang dilakukan terlihat dari gaya berpakaian yang mengikuti tren terkini. Merk pakaiannya pun bukan dari sembarang merk. Dia selalu memilih merk yang cukup berkelas.

“…brand favoritku masih Uniqlo nik, bisa kau liat sendiri bajuku rata-rata pasti dari uniqlo karena emang adem kali bahannya dan kualitasnya yang menurutku worth it dengan harga yang dua ratus ribu keatas…”

Selain itu, tas hingga sepatunya pun termasuk kedalam brand ternama yang harganya mecapai jutaan. Dan tentu saja ia memakai smartphone yang

berlambang apel. Tipe smartphone yang ia pakai adalah iphone 11dengan harga lima belas juta rupiah. Yang membuat saya yakin dia termasuk anak millennial menengah keatas adalah kesehariannya yang selain memakai pakaian dari brand ternama ia juga selalu mengendarai mobil kemanapun ia pergi. Mobil yang ia pakai adalah Xpander dari Mitsubisi.

Dia memiliki teman lumayan banyak tetapi yang paling akrab hanya dua geng yaitu geng teman kuliahnya dan geng dengan saya yaitu teman satu SMPnya. Saya bertemu dengan Intan pertama kali di SMP Alfityan. Saat itu kami berada disatu kelompok yang sama saat masa orientasi anak baru. Di geng teman kampusnya terdapat empat orang termasuk dia. Dan keempatnya sama-sama memakai transportasi pribadi yaitu mobil untuk ke kampus. Didalam geng kami terdapat lima orang dan ada tiga orang yang memakai transportasi pribadi termasuk dia juga.

Minuman favoritnya tentu saja yang kekinian pula yaitu boba dari berbagai merk. Pertama kali mengetahui boba dari temannya sendiri, dan ia tertarik mencobanya.

“kan boba sedang hits, jadi pengen aja aku rasain gimana rasanya. Masa orang lain sudah pernah rasain aku belum”.

Pertama kali yang ia rasakan boba adalah chatime. Karena chatime salah satu merk boba yang sudah lama buka di Medan dibanding dengan merk yang lainnya. Awalnya ia tidak begitu menyukai boba karena menurutnya boba dari chatime agak sedikit keras. Setelah buka merk-merk boba yang lainya baru ia mulai menyukai boba seperti Xing Fu Tang, Xiboba, Kokumi dan lainnya. Saat pertama kali gerai Xing Fu Tang dibuka di Medan tepatnya di Lippo Mall Jl.

Imam Bonjol No.6, Suka Damai, Kec. Medan Polonia. Ia ikut mengantri panjang

setelah seminggu buka, demi mendapatkan dan merasakan boba merk Xing Fu Tang tersebut. Ia rela mengantri panjang sampai setengah jam karena melihat dari sosmed temannya yang mengupload foto kemasan Xing Fu Tang jadi ia juga harus merasakannya juga dalam waktu dekat.

Ia selalu membeli boba dengan duit cash melalui gojek ataupun datang langsung ke gerainya, karena dia jarang memasukkan uang sakunya ke bank.

Tetapi dia lebih sering membeli langsung digerainya karena ketika melalui gojek dia menganggap ongkos kirimnya yang terlalu mahal. Dan tentu saya dia pergi mengendarai mobilnya sendiri.

Walaupun ia lebih sering membeli boba di mall yang menengah keatas seperti Sun Plaza Medan, tetapi kadang ia juga membelinya di mall menengah kebawah. Tergantung ketika ia menginginkan boba berada di dekat mall ataupun gerai yang mana. Biasanya ketika dia menginginkan boba tanpa memikir panjang selalui langsung membelinya. Ia sangat menyukai boba karena ketika memakan boba ada tenaga yang harus dikeluarkan dengan tekstur boba yang kenyel sehingga tidak bisa langsung ditelan. Mungkin sudah ratusan botol boba yang sudah diminum dalam hidupnya. Minimal seminggu sekali dia pasti membeli boba. Sejauh ini boba favoritnya dari merk Xing Fu Tang.

Intan termasuk anak millennial yang sangat aktif menggunakan sosmed.

Yang saya amati dia cukup sering memposting kehidupannya di sosmed lebih tepatnya di Instagram. Dari pagi hingga malam rutinitasnya pasti di posting di story instagramnya, dari yang hanya foto selfie, hangout bersama temannya, hingga foto makanan dan minuman yang baru dia beli. Contohnya adalah boba, hampir setiap dia membeli boba pasti selalu mempostingnya di Instagram.

“…aku sering upload di IG kalau lagi minum boba karena menurut aku kemasan botolnya gemes-gemes jadi makanya aku upload, trus aku ngerasa keren aja kalau lagi postingnya”

3.2. Shania Mahasiswa Pecandu Boba

3.2.1. Latar Belakang Keluarga Shania

Shania Ananda Siregar, lahir di Medan tanggal 5 November tahun 1999.

Shania juga dibesarkan oleh keluarga dengan ekonomi menengah atas. Shania mengungkapkan bahwa orang tuanya sudah lama bercerai sejak di SMP. Setelah bercerai, Ayah Shania pindah ke Jakarta lalu menikah lagi dengan wanita lain.

Berbicara mengenai usaha orang tuanya, Ayah Shania adalah seorang wiraswasta yang bergerak dibidang property. Ibu Shania juga membuka butik di salah satu mall menengah ke atas di Medan. Kedua Ayah dan Ibu Shania merupakan orang asli Medan, sejak dari lahir berada di Medan, keluarga besar Shania juga berdomisili di Medan.

Shania adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Abang pertamanya sudah menikah dan sudah memiliki satu anak perempuan. Abangnya memiliki usaha sendiri di salah satu bidang ekspedisi di Medan. Abang keduanya juga sudah besar, beliau bekerja di salah satu perusahaan swasta. Dan adik terakhirnya, laki-laki, masih duduk di SMA salah satu sekolah ternama di Medan. Shania adalah satu-satunya anak perempuan, sehingga tidak heran kalau dia dimanjakan oleh keluarganya layaknya satu-satunya anak perempuan di keluarganya. Shania juga tamatan dari SD, SMP, dan SMA swasta berkelas di Kota Medan. Ibu Shania tidak pernah mengizinkan anaknya untuk bersekolah dia negeri kecuali saat kuliah. Beliau menganggap bahwa swasta lebih bagus daripada negeri, dan

pendidikan yang bagus wajib diemban oleh anak-anaknya demi masa depan mereka, selama beliau bisa membiayai pendidikan mereka. Selain itu, Ibu Shania menganggap dia terkendala antar jemput bila Shania sekolah di sekolah negeri, karena kebanyakan sekolah negeri pulang siang. Kini, Shania berstatus sebagai salah satu mahasiswi dari jurusan Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian di IPB.

“…mamaku gakpernah ngasih, karena mamaku sibuk gaksempet jemput aku siang. Kalau negeri kan pulangnya siang. Dan pendidikan di negeri pun gak sebaik di swasta. Dan sekolahku pun sudah sangat terkenal di Medankan…”

Setelah kedua orang tuanya bercerai, Shania tinggal bersama ibunya di daerah Helvetia. Shania mendeskripsikan rumahnya dengan nuansa putih, bergaya klasik Eropa terdapat dua lantai dengan luas tanah lebih dari 300m2. Rumah Shania memiliki taman yang dilintasi sebelum masuk ke rumahnya. Pintu rumahnya sendiri bukan pintu kayu biasa, melainkan pintu kayu yang berat.

Rumahnya terdiri atas empat kamar tidur dan tiga kamar mandi. Keempat kamar tidur tersebut adalah kamar Ibu Shania, kamar Shania, kamar adiknya, dan kamar asisten rumah tangganya. Tiga kamar mandi di rumahnya terbagi menjadi kamar mandi tamu di lantai satu, kamar mandi dalam di kamar Ibu Shania, dan kamar mandi yang dia bagi bersama adiknya. Kamar Shania sendiri yang cukup luas dengan dinding yang dilapisi wallpaper putih dengan kasur king size, dilengkapi dengan lemari berisikan pakaian dan barang-barang fashion Shania, meja rias tempatnya berdandan, serta meja belajar untuk Shania belajar dan bermain laptopnya. Rumah mereka memiliki balkon yang berada di kamar Ibu Shania.

Berdasarkan deskripsi Shania terhadap rumahnya, dapat disimpulkan bahwa Shania berasal dari keluarga menengah ke atas, dan rumah Shania sudah pasti terletak di lingkungan orang dengan kondisi ekonomi yang sama.

3.2.2. Shania dalam kehidupan sehari-harinya

Shania memiliki gaya hidup menengah ke atas karena kehidupan sehari-harinya sejak dari dulu dibesarkan di lingkungan dan gaya hidup ekonomi menengah ke atas. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Shania mendapatkan uang saku dari ibu dan ayahnya dengan jumlah sekitar tiga juta rupiah perbulannya. Untuk menambah pemasukan, Shania menerima jasa desain freelance, dan terkadang ia mendapat pemasukan dari hasil desainnya seratus sampai dua ratus ribu rupiah perbulannya. Meskipun sudah diberi jajan, Shania mengatakan bahwa dia tetap melakukan kerja freelance agar dia bisa membeli barang yang dia mau tanpa harus meminta jajan tambahan pada orang tuanya, atau sekedar tambahan uang saku yang Shania dapat nikmati di luar jajan dari orang tuanya. Dia tidak ingin membebani orang tuanya dengan gaya hidupnya yang ingin mengikuti gaya milenial.

“Jadi uang jajanku itu tiga juta lebih belum termasuk kosannya sih. Kalau kosanku satu bulannya kalau tidak salah dua juta sudah termasuk listrik dan air.

Kosanku pakai AC dan kamar mandi di dalam.”

Ibunya seorang pengusaha yang mempunyai butik di salah satu mall di Medan dan ayahnya bekerja di perusahaan swasta di Jakarta. Dengan seorang ibu pemilik butik dan ayah yang bekerja di perusahaan swasta, tidak heran bila gaya hidup Shania lumayan “berduit” dan berkelas menengah ke atas. Maka dari itu, tak perlu diragukan lagi, outfit yang ia kenakan sehari-hari sudah pasti bermerk mahal, atau setidaknya memiliki brand yang terkenal. Saat saya bertemu dengannya ia memakai baju dan celana dari Zara dengan sepatu Air Force dari Nike dan tas selempang bermerk Balanciaga. Dan lagi-lagi sesuai kriteria anak millennial jaman sekarang yaitu menggunakan smartphone berlambang apel.

“Aku sebenernya gak harus make barang branded tapi kadang yang cocok aku pakai dan yang bahannya yang aku suka dari barang branded. Aku pakai iphone pun karena suka foto, soalnya iphone kameranya paling bagus diatara merk smartphone yang lain.”

Apabila dibandingkan antara tas, sepatu atau handphone, Shania lebih suka berbelanja sepatu. Hal ini terbukti dari pengakuan Shania yang memiliki sepuluh pasang sepatu branded. Meskipun Shania mengaku bahwa dia tidak termasuk anak millennial yang maniak berbelanja dan hanya membeli sesuatu yang menurut dia penting, tetapi yang saya lihat dia sangat suka mengkoleksi sepatu dari brand Nike yang jenis Air Jordan. Seperti yang kita ketahui, harga sepatu brand Nike selalu fantastis dan tinggi harganya, sehingga untuk memperoleh sepatu Nike, seseorang harus merogoh koceknya cukup dalam agar bisa membeli sepatu tersebut. Untuk sepatu yang baru harganya bisa mencapai empat jutaan lebih.

Shania menjelaskan bahwa tidak semua sepatu branded tersebut adalah sepatu yang dia beli baru, ada beberapa yang dia beli bekas (secondhand). Dari total sepuluh sepatu yang kini Shania miliki, lima pasang diantaranya bermerk Nike dan lima pasang sisanya lagi dari berbagai macam merk yang juga merupakan merk terkenal, seperti Adidas, Vans, Converse, dan Onitsukatiger.

Kebanyakan sepatu tersebut dia dapatkan dari hasil tabungan dia sendiri, tapi ada satu pasang sepatu yang merupakan hadiah ulang tahun dari ayahnya, yaitu sepatu bermerk yang harganya sepasang sekitar tiga jutaan rupiah.

Selama kuliah daring di Medan, kegiatan Shania dimulai dari bangun subuh sekitar pukul lima pagi lalu lanjut tidur biasanya bangun kembali pukul Sembilan sampai sepuluh siang jika tidak ada kelas pagi. Shania kini sedang berada di semester akhir dimana dia sedang merancang skripsinya. Ia sudah

sedikit terhambat penelitiannya karena alat-alat untuk penelitiannya berada di lab kampusnya. Dengan keadaan pandemi, mahasiswa tidak dapat pergi ke kampus sembarangan, oleh sebab itu pengerjaan skripsinya sedikit tertunda.

Shania sering pula pergi untuk sekedar nongkrong dengan teman-temannya. Ia memiliki banyak teman salah satunya geng dari SD-nya yaitu terdapat sembilan orang yang semuanya terbilang cukup kaya. Salah satunya adalah seorang selebgram Medan yang bernama Clara Haniyah. Clara terbilang lumayan terkenal di Medan, karena di circle pertemanan sayapun, rata-rata mengetahui Clara Haniyah. Shania cukup dekat dengan geng ini, saya sendiri sering melihat ketika Shania sering memposting ke media sosial ketika sedang nongkrong bersama mereka. Saat diamati, tempat tongkrongan Shania bersama teman-temannya juga tidak terlepas dari tempat-tempat elit dan kekinian yang sedang trending. Tempat tongkrongan mereka rata-rata memiliki tempat yang bagus dan estetik untuk foto.

Yang sudah pasti saya bertanya perihal minuman yang sedang hits yaitu boba. Dia sangat antusias menjawabnya karena dia sangat maniak dengan boba.

Hampir setiap hari dia membeli boba. Shania tipe anak yang pantang menyerah bila bersangkutan dengan boba. Bahkan disaat pandemi seperti ini yang membuat dia susah keluar untuk membeli langsung, ia membelinya melalui gojek. Gojek adalah salah satu penyelamat anak millennial seperti Shania karena ketika mereka menginginkan minuman boba ini bisa langsung order melalui gojek. Dia tidak keberatan dengan uang ongkos kirim dan harga item di GoFood yang dimarkup dua puluh persen.

Shania pertama kali mengetahui mengenai boba ketika topping minuman kenyal tersebut baru-baru booming. Saat itu, rasa yang paling populer adalah boba milk tea dan rata-rata anak kekinian pasti mencoba minuman itu, sehingga membuat Shania penasaran. Sebelum terlalu jauh, boba yang pertama kali ia rasakan tentu saja Chatime. Saat itu dia masih SMP dan pertama kali merasakannya di Sun Plaza Medan bersama teman-temannya saat sedang hangout.

Tetapi karena tekstur boba di Chatime sedikit keras jadi tidak terlalu menyukai boba dari Chatime. Setelah beberapa tahun kemudian muncul jenis boba baru tentunya lebih enak menurut seperti Xiboba, Xing Fu Tang, Street Boba, Kokumi dan lainnya sehingga membuat dia candu akan tekstur yang kenyal.

Yang membuat dia menjadi candu akan boba karena di Bogor tepat di samping kosannya terdapat gerai boba yaitu Xiboba. Sehingga setiap pergi ke kampus ataupun pulang dari kampus ia membeli boba terlebih dahulu. Tetapi sejauh ini boba favoritnya adalah Kokumi. Menurutnya boba yang dijual Kokumi lebih enak kenyalnya dan rasa manisnys tidak membuat eneg ketika banyak diminum. Selain itu, brown sugar yang dipakai boba Kokumi juga enak dan wangi.

Di Medan Kokumi hanya ada satu gerai yaitu di Sun Plaza Medan. Ketika dia pergi ke Sun Plaza gerai pertama yang harus ia singgahi adalah Kokumi, sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya saat mengunjungi Sun Plaza. Shania bahkan tidak keberatan mengantri lama-lama di antrian panjang demi bisa membeli minuman boba yang disukainya. Shania begitu menyukai minuman boba, sampai-sampai ketika dia tidak dapat minum boba, Shania akan merasa badmood dan tidak semangat menjalani kegiatan sehari-harinya.

“Kadang kalau aku lupa beli atau gak sempet beli boba buat badmood, aku juga gatau kenapa apa karena kebiasaan atau bagaimana. Kadang aku rela antri panjang kalau lagi rame sangking pengennya aku minum boba, apalagi waktu Kokumi baru buka di Medan. Saat itu aku lagi liburan semester di Medan jadi karena udah lama kali gak minum kokumi kujabanin antri sampai satu jam”

Karena kesukaannya pada boba, Shania rela menghabiskan waktunya untuk mengantri membeli boba. Selain karena lokasi, alasan kenapa Shania ketagihan terhadap boba adalah karena teksturnya yang kenyal dan rasanya manis

Karena kesukaannya pada boba, Shania rela menghabiskan waktunya untuk mengantri membeli boba. Selain karena lokasi, alasan kenapa Shania ketagihan terhadap boba adalah karena teksturnya yang kenyal dan rasanya manis