• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kehidupan Suku Using di Banyuwangi (Pola Kekerabatan,

A. Profil Suku Using

2. Kehidupan Suku Using di Banyuwangi (Pola Kekerabatan,

Suku Using menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian timur, terutama di kecamatan Banyuwangi, kecamatan Rogojampi, kecamatan Blimbingsari, kecamatan Songgon, kecamatan Glagah, kecamatan Singojuruh, kecamatan Giri, kecamatan Kalipuro, kecamatan Kabat. Komunitas Osing atau lebih dikenal sebagai wong Using oleh beberapa kalangan dan hasil penelitian dianggap sebagai penduduk asli Banyuwangi, sebuah wilayah di ujung timur pulau Jawa yang juga dikenal sebagai Blambangan.

Komunitas ini menyebar di desa-desa pertanian subur dibagian tengah dan timur Banyuwangi, yang secara administratif merupakan kecamatan diantaranya Giri, Kabat, Glagah, Rogojampi, Sempu, Singojuruh, Songgon, Cluring, Banyuwangi Kota, Genteng, Srono.

Di tiga kecamatan terakhir, mereka bercampur dengan penduduk non Using, yang terdiri dari migran asal Madura, Jawa Timur bagian barat, jawa tengah dan Jogyakarta. Orang Using menyebut mereka dengan sebutan wong Jawa kulon.

Kehidupan sosialnya Nampak ada pelapisan yang berangsur-angsur sudah tidak digunakan. Pekerjaan utama suku Using adalah petani, dengan sebagian kecil lainnya adalah pedagang dan pegawai

di bidang formal seperti karyawan, guru, dan pegawai pemerintah daerah. Dalam hal stratifikasi sosial, suku Using berbeda dengan suku Bali yang mana suku Using tidak mengenal kasta seperti halnya suku Bali, hal ini banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduknya.

Sebagian besar masyarakat Using beragama Islam, dan setengahnya lagi beragama Hindu dan Budha. Penduduk suku Using ini masih menganut kepercayaan turun-temurun dahulu sebelum datangnya Islam. Suku Using merupakan keturunan dari kerajaan Majapahit yang memiliki kepercayaan pada agama Hindu dan Budha. Masyarakat Using percaya pada para roh leluhur, reinkarnasi, moksa, dan hukuman karma. Mereka juga percaya kepada roh yang dipuja (danyang) di sebuah tempat disebut punden yang biasanya di bawah pohon atau batu besar. Selain itu masyarakat Using masih memegang teguh tradisi dan budaya yang erat kaitannya dengan hal mistis, ini menimbulkan banyak persepsi negatif bagi masyarakat yang hanya mengetahui sebagian saja dari tradisi Using, terutama karena sebagian besar tradisi Using yang memang masih sangat dekat dengan budaya sebelum Islam.

Terbukanya suku Using dalam menerima pengaruh dari luar membuat kepercayaan mistis dan agama bercampur. Suku Using merupakan suku yang masih menjaga tradisi dan kepercayaan dahulu, dan tetap bisa menerima agama Islam yang masuk ke wilayah saat itu.83

Adapun kesenian suku Using sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya suku Bali dan suku Tengger. Kesenian utamanya suku Using antara lain Gandrung Banyuwangi, Patrol, Seblang, Angklung, Tari Barong, Kuntulan, Kendang Kempul, Janger, Jaranan, Jaran Kincak, Angklung Caruk, dan Jedor. Kesenian lain yang masih dipelihara adalah tembang dolanan, khususnya oleh kalangan anak usia sekolah. Contohnya adalah jamuran dan ojo rame-rame. Sesuai dengan sebutannya, tembang-tembang yang ada pada umumnya bersyair pendek, ini digunakan mengiringi permainan anak-anak. Selain menambah

83 Asep Ruhiyat, dkk. Ensiklopedia: “Kearifan Lokal Pulau Jawa,” (Bandung: Tiga Ananda, 2011), h. 288.

keceriaan anak saat bermain berkelompok, tembang dolanan dapat berfungsi mengajarkan nilai-nilai positif sejak dini. Tembang jamuran misalnya mengajarkan tentang gotong royong, dan ojo rame-rame mengajarkan patriotisme.84

Menurut informan bapak Cip desa Kemiren menyebutkan bahwa desa Kemiren kecamatan Glagah merupakan desa adat yang masih kental dan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya suku Using. Masyarakat suku Using di desa Kemiren mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Masyarakat desa Kemiren mayoritas juga beragama Islam, pak Cip mengaku hanya dua orang saja yang beragama lain. Meski begitu masyarakat juga kompak dan menyelenggarakan kesenian maupun tradisi tanpa membedakan agama maupun golongan. Tak jarang juga masyarakat Kemiren berjualan makanan khas Banyuwangi, dan juga mendirikan sanggar-sanggar yang mengajarkan kesenian khas kabupaten Banyuwangi, dan khas desa Kemiren khususnya. Adapun ada tiga pola kehidupan dalam suku Using di kabupaten Banyuwangi, diantaranya sebagai berikut:

a. Pola Kekerabatan

Sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat adat tertentu dalam perkembangannya dapat mengalami perubahan-perubahan. Adapun perubahan hukum adat dapat terjadi karena pengaruh kejadian dan keadaan hidup yang silih berganti.

Perubahan hukum adat tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba, mengingat sifat adat istiadat yang suci dan sudah dilakukan sejak dahulu kala. Adapun peraturan hukum adat diterapkan dan diperkenalkan oleh pemangku adat terlebih dahulu pada situasi-situasi tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian tidak akan disadari adanya pergantian sifat hukum adat yang tidak tertulis mengakibatkan hukum adat sanggup untuk menyelesaikan diri dengan situasi yang baru.

Bangsa Indonesia terdiri beraneka ragam suku, budaya, agama dan adat istiadat yang mempunyai sistem kekerabatan

84 Wawancara Pribadi dengan Pak Pauzi, Staff Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, (Banyuwangi, 13 November 2018).

yang berbeda-beda. Adapun sistem kekrabatan Suku Using menganut sistem kekerabatan dapat dibedakan sebagai berikut:

1) Sistem patrilineal, yaitu sistem kekerabatan yang ditarik menurut garis bapak, kedudukan laki-laki lebih menonjol pengaruhnya dibanding perempuan dalam hal warisan dan yang berhak melanjutkan garis keturunan hanyalah anak/keturunan laki-laki saja.

2) Sistem matrilineal, yaitu sistem kekerabatan yang ditarik menurut garis ibu, dan kedudukan yang paling pengaruh silsilah dari ibu.

3) Sistem parental, adalah sistem kekerabatan yang ditarik menurut garis kedua orang tua, baik ayah maupun ibu.

Sehingga kedudukan laki-laki dan perempuan tidak dibedakan dalam hal pewarisan dan masing-masing dari mereka mempunyai hak yang sama.85

Melihat diskripsi di atas, penulis menyatakan bahwa suku Using menganut sistem kekerabatan parental, karena memiliki ciri-ciri anak laki-laki dan anak perempuan adalah ahli waris yang sama dalam segi pembagian, bahkan selain itu adanya keseimbangan dalam memperhatikan proses hidup dari anak-anak sampai menjelang pernikahan. Mulai dari membuatkan rumah sampai merayakan proses pernikahan tersebut.

Suku Using tidak bersifat ekslusif, meskipun hidup berkelompok dalam suatu wilayah tertentu, mereka dapat beradaptasi dan terbuka terhadap unsur kebudayaan lain bila hal tersebut memberikan pengaruh yang baik dan berguna.

Ciri khas masyarakat Using yang melekat, yaitu karakter mereka yang tidak membeda-bedakan derajat seseorang. Ini terbukti dari bahasa Using yang tidak mengenal tingkatan bahasa seperti bahasa Jawa dan tidak mengenal tingkatan struktur masyarakat, seperti kasta pada suku Bali atau golongan priyayi

85 Hilman Hadikusuma, “Hukum Waris Adat,” Cetakan ke-6, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

1999), h. 23.

pada suku Jawa. Suku Using sendiri merupakan salah satu bagian sub-etnis Jawa dan berkaitan erat dengan sejarah Blambangan.86

Kearifan suku Using memiliki nilai-nilai yang dapat digunakan sebagai sumber belajar, yaitu:

1) Religius (menjunjung tinggi nilai keagamaan dalam berprilaku).

2) Mencintai lingkungan (melakukan pola tanam sesuai dengan waktu yang ditunjukkan oleh alam, semisal mendekati musim hujan dan penanaman setahun dua kali).

3) Kerjasama (dibuktikan banyaknya kegiatan-kegiatan tradisi yang merupakan perwujudan dari kegiatan gotong royong, selain itu membangun rumah, kegiatan arisan).

4) Kesetaraan (dalam hal ini diwujudkan dalam pembangunan rumah yang menjadi tempat tinggal, mulai bentuk atap mencerminkan tidak adanya stratifikasi sosial yang menyebabkan adanya permusuhan dan terciptalah kerukunan antar warga).

5) Kreatif (suku Using memiliki batik khas yakni Gajah Oling dan Kangkung Setingkes).

6) Terakhir dari suku Using yakni, mempunyai rasa tanggung jawab. Maksudnya mereka sangat bertanggung jawab dalam melestrikan budaya warisan leluhur yang dibuktikan dengan masih dilestarikannya budaya tradisi endog-endogan setiap tahunnya. Ini merupakan sebagian contoh dari bentuk rasa tanggung jawab dan rasa syukur terhadap segala sesuatu yang diberikan Tuhan kepada mereka.

b. Pola Sebaran

Masyarakat suku Using menurut penulis, tidak mengenal stratifikasi bahasa. Tetapi mengenal santun bahasa yang digunakan terhadap lawan bicara berdasarkan kategori usia, kekerabatan sosial dan pencerminan rasa hormat pada seseorang.

Pemakaian bahasa Using di masyarakat kebih dominan

86 Iwan Suprijanto, “Rumah Tradisional Osing: Konsep Ruang dan Bentuk, Dimensi Teknik Arsitektur,” Volume 30, No 1, (Juli, 2002: 10-20), h. 13.

digunakan dalam rumah tangga sebagai alat komunikasi dan interaksi. Selain itu, dalam komunitas suku Using. Penggunaan bahasa tersebut sebagai ciri khas warga Using dan sebagian cara dalam melestarikan pengembangan kebudayaan lokal Banyuwangi.

Sedangkan dalam komunikasi birokrasi maupun pemerintahan kebanyakan tetep mengunakan bahasa Indonesia karna di Banyuwangi sendiri masih ada beberapa suku Jawa, Madura, keturuan Arab, Mandarin dan Bali.

Dalam

Tabel 3.2:

Perbedaan bahasa Jawa dengan bahasa Using.87

Dialek bahasa Using, kosa kata pada bahasanya terdapat penekanan pada huruf, kekhususan (pergeseran akibat pengaruh logat Madura), dan penambahan kata. Berikut ini beberapa contoh kosa kata bahasa Using yang memiliki perbedaan dengan bahasa Jawa:

87 Wawancara pribadi dengan bapak Suhailik, Budayawan Lokal Banyuwangi, (Banyuwangi, 6 maret 2019).

PENEKANAN

Jawa Baku Using Indonesia

Siji Sijai Satu

Pitu Pitau Tujuh

KEKHUSUSAN

Jawa Baku Using Indonesia

Bajul Byajul Buaya

Kabeh Kabyeh Semua

PENAMBAHAN

Jawa Baku Using Indonesia

Sewa+-an Sewan Sewaan

Waca+-an Wacanan Bacaan

c. Nilai Kesenian

Nilai kesenian Banyuwangi yang merupakan pengaruh dari seni Islam. Secara garis besar, sebenarnya ragam kesenian Islami di Banyuwangi dapat dikelompokkan dalam dua kategori.

Diantaranya: (1) Seni Islami karena waktu pelaksanaannya berkaitan dengan perayaan hari besar agama Islam. (2) Seni Islami yang unsur sajiannya memuat semangat dan ajaran agama Islam, meskipun tidak dilaksanakan dalam waktu yang bertepatan dengan hari-hari besar Islam. Akan tetapi dalam tradisi endog-endogan memuat atau mencakup kategori seni yang ada di Banyuwangi.

Seni endog-endogan merupakan nama dari bentuk karya seni kerajinan tangan berupa telur yang disusun menyerupai bentuk tertentu dan dihiasi dengan beragam hiasan motif dan warna.

Endog-endogan sendiri selalu muncul dalam kegiatan pawai khusus yang disebut pawai “Kembang endog”. Adapun tujuan pawai ini adalah untuk memperingati kelahiran baginda Nabi Besar Muhammad SAW, dan bulan pelaksanaan berada di bulan Maulid setiap tahunnya.

Di samping itu, sajian utama dalam pelaksanaan pawai

“Kembang Endog” adalah pawai yang dilakukan oleh masyarakat setiap dusun, desa, yang berkumpul di masing-masing Masjid bahkan mereka saling memamerkan hasil hiasannya tersebut.

Bahkan secara khusus pemerintah Banyuwangi mengadakan festival yang diikuti antar dusun di wilayah area kantor bupati Banyuwangi guna menyemarakkan dan memeriahkan tradisi endog-endogan tersebut.