Studi pustaka merupakan salah satu usaha untuk memperoleh data yang sudah ada, karena data merupakan salah satu hal yang terpenting dalam ilmu pengetahuan. Dalam studi pustaka ini penulis mencoba mengemukakan penelitian yang sejenis dengan apa yang penulis teliti baik itu dari penelitian tentang Banyuwangi sendiri ataupun tentang daerah lain yang mempunyai tema yang sejenis berupa laporan penelitian, jurnal maupun artikel dan karya ilmiah lainnya. Referensi yang akan dijadikan rujukan oleh peneliti diantaranya adalah sebagai berikut:
M. Nawa Syarif Fajar Sakti dengan Skripsi yang berjudul“
Internalisasi Nilai-nilai Pendidikan Agama Islam Pada Sanggar Budaya Posdaya Di Masjid Nurul Khasanah Pujon Kabupaten Malang” Dalam Skripsinya tersebut mengupas adanya internalisasi nilai pendidikan Agama Islam pada Sanggar Budaya kepada peserta didik agar lebih memahami ajaran Islam, tetapi mereka juga tetap mempertahankan kebudayaan setempat yang menjadi kearifan lokal. Adapun nilai pendidikan agama Islam diantaranya adalah nilai dalam bidang keimanan, syari’ah dan akhlak. Sedangkan kebudayaan diartikan segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia sebagai hasil akal dan budinya, peradaban sebagai akal budi manusian dan ilmu pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang dimanfaatkan untuk kehidupan dan memberi manfaat kepadanya.
Kemudian persamaan skripsi ini dengan penelitian yang sedang peneliti tulis diantaranya: Pertama, membahas tentang internalisasi Islam dengan kebudayaan lokal yang mana saling berkolaborasi tanpa menghilangkan kebudayaan yang semula ada. Kedua, memberi sebuah
9 Sugeng Priyadi, “Sejarah Lokal Konsep, Metode dan Tantangan,” (Yogyakarta: Ombak, 2012), h. 44.
pemahaman akan pentingnya budaya untuk selalu dilestarikan dan dikembangkan sebagai identitas daerah setempat yang budaya tersebut tidak dimiliki oleh daerah lain. Ketiga, sama-sama menggunakan sarana tempat ibadah yakni masjid ketika melakukan aktifitas pendidikan.
Kemudian jika melihat perbedaan dengan objek kajian penulis yakni: Pertama, dalam segi tempat atau daerah wilayah kajian Skripsi ini berada di Kabupaten Malang. Kedua, sasaran lingkungan kebudayaan ada di kawasan pendidikan dan peserta didik sebagai motor dalam pelaku internalisasi kebudayaan tersebut. Ketiga, sekripsi ini lebih mengarah pada nilai-nilai Islam tanpa menyebutkan seseorang untuk ditokohkan dalam internalisasi budaya tersebut.10
Skripsi Adnan Zulfikar Fanani, “Peran Tradisi Endog-endogan dalam Islamisasi di desa Kalirejo, kecamatan Kabat kabupaten Banyuwangi.” Sripsi ini memaparkan tentang Islamisasi dalam lingkup desa dan lebih khusus masjid Baitul Muttaqien. Persamaan dengan penelitian kami, yakni membahas tradisi endog-endogan akan tetapi skripsi ini lingkupnya cuman satu desa yang lebih terfokus di sebuah masjid, tidak sampai menerangkan pencetus serta pemetaan kawasan Using.
Berbeda dengan kajian kami yang lebih luas di beberapa tempat Suku Using, yang mana identik dengan tempat berjalannya tradisi tersebut. Selain itu menurut saya Skripsi ini belum tuntas dan terlalu lebay dalam menguraikan dengan contoh memberikan sumbangan dana ke panitia masjid, padahal ketika saya cek ke warga sekitar masjid.
Bahwa yang ada justru hanya sumbangan swadaya masyarakat dan membawa nasi, kue. Dalam segi acara juga biasa saja dan kurang meriah, seperti tradisi endog-endogan yang masih kental nilai spiritualnya di desa Kemiren ataupun daerah desa Balak.11
Tesis Nafidzatun Nuri Lailin Nisfah membahas tentang “Pepunden dalam konsep Keagamaan masyarakat” (studi atas ritual selametan
10 M. Nawa Syarif Fajar Sakti, “Internalisasi Nilai-nilai Islam Pada Sanggar Budaya Posdaya Di Masjid Nurul Khasanah Pujon Kabupaten Malang,” (Skripsi Program Studi Pendidikan Agama Islam Jurusan Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2018), h. 31.
11 Adnan Zulfikar Fanani, “Peran Tradisi Endog-endogan dalam Islamisasi di desa Kalirejo, Kecamatan Kabat kabupaten Banyuwangi”, (Skripsi, UIN Sunan Kalijaga, 2015), h. 15.
Buyut Cili di masyarakat suku Using desa Kemiren kecamatan Glagah Banyuwangi). Pemahaman suku Using terkait pepunden, adalah sebuah bentuk ritual yang sederhana. Adapun ritual itu sendiri berupa selametan dan mempunyai ciri khas sendiri, berbeda pada selametan pada umumnya. Selametan sendiri ada tempat khusus yakni di makam Buyut Cili, yang mana Buyut Cili merupakan leluhur desa.
Bahkan konon masyarakat setempat mempercayai Buyut Cili sebagai penjaga yang melindungi desa dan menjadi semacam tempat pengaduan segala bentuk keluh kesah yang dialami masyarakat sekitar.
Selain itu juga dalam proses selametan pasca ritual, semua makanannya dimakan ditempat. Berangkat dari situ dapat ditarik kesimpulan, bahwasanya ritual itu biasa dijadikan pusat keagamaan dan kehidupan masyarakat yang mengakar kuat dan dalam perkembangan kehidupan masyarakat desa Kemiren mengandung bentuk religi, budaya, maupun ekonomi.
Kemudian ritual itu memberikan kontribusi kepada masyarakat dalam menyelesaikan masalah, meminimalisir bahkan menghindarkan konflik seperti halnya ketika ada orang kena santet. Proses penyembuhannya biasanya selain ke orang pintar, masyarakat sekitar juga tak lupa membawa ke makam Buyut Cili, dengan terlebih dahulu mengadakan ritual selametan. Penelitian ini mengandung beberapa kesamaan diantaranya: Dalam sasaran kajian terfokus dalam budaya suku Using, tradisi yang digunakan juga memakai simbol penanda berupa makam Buyut Cili, mempunyai manfaat mempererat persatuan dan kesatuan masyarakat di suku Using.
Adapun perbedaannya dengan penelitian kami, yakni: penelitian ini menggunakan teori Clifford Geertz tentang (stratifikasi abangan, santri dan priyayi), bentuk simbol sebagai alat penanda juga berbeda, penelitian ini cuman fokus pada satu desa Kemiren saja. Sedangkan penelitian kami lebih luas dan mencakup beberapa daerah suku Using yang melestarikan tradisi endog-endogan sampai sekarang.12
12 Nafidzatun Nuri Lailin Nishfah, Pepunden Dalam Konsep Keagamaan Masyarakat “Studi Atas Ritual Selametan Buyut Cili di Masyarakat Suku Using Desa Kemiren Kecamatan Glagah Banyuwangi”,(Tesis S2 Prodi Interdisciplinary Islamic Studies, Konsentrasi Islam Nusantara, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2017), h. 24.
Skripsi livia Anis Metasari “fungsi tradisi Seblang terhadap kehidupan sosial dan Keagamaan masyarakat desa Bakungan kecamatan Glagah kabupaten Banyuwangi”. Universitas Islam negeri sunan kalijaga Yogyakarta. Seblang adalah sebuah ritual tradisi penolak balak serta bertujuan untuk penyucian desa. Dengan tradisi ini juga merupakan bagian dari cara mengucapkan rasa bersyukur masyarakat desa Bakungan terhadap nikmat dan kesejahtraan yang selama ini diberikan oleh sang pencipta kepada masyarakat desa, adapun diwujudkan dengan sebuah tarian mistik (magis).
Penari yang melakukan ritual tersebut dalam keadaan tidak sadar (dirasuki oleh roh atau danyang), umur wanita tua yang berusia 50 tahun ke atas dan telah mati haid. Tradisi ini mempunyai kontribusi yang besar dalam mempengaruhi kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat sampai saat ini masih tetap dipertahankan serta dilestarikan. Penelitian ini ada kesamaan dengan penelitian kami, dimana sama-sama membedah tentang tradisi lokal. Seblang memang tradisi tertua di Banyuwangi yang mana tradisi itu menempati urutan pertama dari pada tradisi endog-endogan.
Kesamaan yang lain memakai simbol penari sebagai media dalam pelaksanaan upacara. Akan tetapi yang membedakan adalah arah subtansi kajian penelitian ini fokus membahas fungsi dari sebuah tradisi dan hanya memakai satu teori saja tentang agama. Sedangkan penelitian kami memakai dua sampai tiga teori yang lebih spesifik. Selain itu perbedaannya, penelitian ini secara tidak langsung menggunakan bantuan roh halus dan mempunyai tujuan mengusir balak, sedangkan penelitian kami bermaksud memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Begitu juga prosesi dalam pelaksanaan, terlebih dahulu menghias beberapa alat penanda yang mau dibuat kirab serta tak lupa di iringi musik khas Banyuwangi yakni kuntulan, kemudian dibawa ke masjid untuk di doain lewat pembacaan Al Barzanji, baru setelah itu dibagikan ke jamaah yang hadir.13
13 Lavia Anis Metasari, “Fungsi Tradisi Seblang Terhadap Kehidupan Sosial dan Keagamaan Masyarakat Desa Bakungan, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi”, (Skripsi S1 Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, 2015), h. 20.
Rujukan lain adalah Selain itu artikel Suhalik yang berjudul
“Sejarah masuknya agama Islam dan multikultural Banyuwangi”.14 Menjelaskan tentang sejarah masuknya agama Islam di Blambangan yang berawal dari perkawinan cucu penguasa Blambangan Prabu Menak Sembuyu (Menak Dedali Putih), yaitu Putri Sekardadu dengan Syekh Maulana Ishak atau Syekh Wali Lanang. Berangkat dari situlah kemudian Islam berkembang di bumi Blambangan. Tempat berseminya diaspora beberapa kebudayaan suku-suku bangsa di Indonesia. Suhalik juga menjelaskan bahwa keanekaragaman tersebut selain menjadi faktor daya tarik, juga merupakan kelemahan pembangunan Banyuwangi.
Karya Suhalik ini memberikan gambaran yang sangat banyak terhadap sejarah Banyuwangi.
Selanjutnya persamaan artikel ini dengan penelitian kami, adalah kesamaan dalam segi pembahasan Islam, letak lokasi yakni kabupaten Banyuwangi, serta bermuatan sejarah yang dalam. Adapun perbedaan, artikel ini tidak membahas tentang kebudayaan lokal seperti halnya tradisi endog-endogan, yang sedang kami teliti, selain itu dalam Artikel ini tidak ditemukan teori-teori, sebagaimana yang kami gunakan.
Tesis Bambang Soeyono juga menjelaskan tentang Gandrung sebagai identitas budaya, Gandrung Banyuwangi.15 Sebagai identitas budaya masyarakat Using di Jawa Timur. Tesis ini menjelaskan tentang awal mula munculnya Gandrung dan segala perubahannya, fungsi Gandrung, bentuk sajian, nilai dan estetika Gandrung, bahkan sampai Gandrung yang menjadi pilihan profesi bagi wanita-wanita muda di Banyuwangi. Eksistensi penari Gandrung dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat Using, latar belakang perjalanan penari Gandrung serta arti Gandrung bagi masyarakat Using, hingga menjadi identitas budaya.
Kontribusi tradisi tarian pertunjukan Gandrung dapat memberikan nilai lebih dalam budaya dan menjadikan sebuah daya tarik pariwisata asing, sehingga membuat pemerintah bangga dan kemudian dapat perhatian khusus dalam pelestariannya.
14 Suhalik, “Sejarah Masuknya Agama Islam dan Multikultural Banyuwangi”, (Lembar Kebudayaan, Edisi 20, 2011), h. 11.
15 Bambang Soeyono, “Gandrung Banyuwangi Sebagai Identitas Budaya Masyarakat Using di Jawa Timur”, (Tesis. Universitas Gadjah Mada, 1998), h. 56.
Kemudian persamaan tesis ini adalah penelitian yang membahas tentang tradisi kebudayaan, sama-sama menjadi aikon daerah dalam setiap tahunnya, selain itu Gandrung merupakan ciri khas tradisi budaya lokal suku Using.
Adapun perbedaannya Gandrung sebuah tarian adat daerah tetapi jika endog-endogan tradisi khusus memperingati hari besar agama Islam, dalam pelaksanaan Gandrung berpusat di daerah pendopo dan pas penyambutan tamu yang berkunjung di kabupaten Banyuwangi, sedangkan endog-endogan dilaksanakan di masing-masing desa, kecamatan dengan keliling daerah tersebut dan saling berlomba-lomba dalam menghias endog-endogan, sampai kendaraan yang dipakai untuk berjalan keliling, kemudian penelitian kami juga mengungkapkan bagaimana asal-usul dan proses internalisasi terhadap tradisi tersebut, bahkan dalam penyebarannya bisa melebur dengan kebudayaan komunitas suku Using lewat seorang tokoh KH. Abdullah Faqih.