Dalam prakteknya ada beberapa perbedaan antara desa satu dengan desa yang lain, bahkan perayaannya juga di buat festival oleh pemerintah Banyuwangi tiap tahunnya.
1. Perayaan festival di depan pemerintahan kabupaten Banyuwangi.113
Gambar 4.1:
Pamlet Festival
113 Pak Soleh, Aktifis Pelajar IPNU Kabupaten Banyuwangi, (Banyuwangi, 19 November 2018).
Gambar 4. 3:
Sambutan dari Bapak Yusuf Widyatmoko (Wakil Bupati Banyuwangi)
Gambar 4. 2:
Pembukaan Acara Tradisi endog-endogan oleh Ust Andi Hidayat (Tokoh Agama Banyuwangi)
Dalam sambutannya, Menurut wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widiyatmoko, endog-endogan merupakan bagian dari ekspresi khas kecintaan masyarakat Banyuwangi kepada Nabi Muhammad SAW.
"Tradisi endog-endogan ini, merupakan tradisi yang khas Banyuwangi.
Tak ada di tempat lain. Ini adalah bentuk ekspresi kecintaan warga Banyuwangi kepada Nabi Muhammad SAW," ungkap Yusuf. Kembang endog sendiri bukan semata hiasan ataupun hiburan. Namun, sarat dengan nilai-nilai filosofis. Hiasan bunga pada bambu hingga buah berbentuk telur memiliki makna tersendiri.
Tradisi ini adalah visualisasi dari kelahiran dari Nabi Muhammad SAW yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Bambu yang tak berbunga dan berbuah, bisa berbunga dan berbuah berkat rahmat Allah yang diberikan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW," katanya. Lebih dari itu, lanjut Yusuf, yang terpenting dari peringatan maulid Nabi tersebut adalah semangat untuk meneladaninya. "Jangan sampai kita semangat saat pawai, tapi lupa untuk meneladani apa yang telah Nabi Muhammad SAW ajarkan," ujarnya. Rangkaian festival endog-endogan ditutup dengan tausiyah Maulid yang disampaikan oleh Ustad Andi Nur Hidayat sekaligus doa. Kemudian, ancak yang diarak dimakan bersama.
Sedangkan kembang endognya dibagikan ke segenap pengunjung.114
114 Ira Rachmawati, “Ribuan Telur diarak pada festival endog-endogan” Artikel diakses pada 12 Desember 2018 dari
https://travel.kompas.com/read/2018/11/21/075100927/ribuan-telur-diarak-pada-festival-endog-endogan-di-Banyuwangi.
Gambar 4. 4:
Para pejabat pemerintahan kabupaten, tokoh masyarakat dan tamu undangan
dalam Acara Tradisi Endog-endogan
Gambar 4. 5:
Kesenian kuntulan dan tari gandrung khas Banyuwangi dalam ngisi waktu istirahat tradisi endog-endogan
Gambar 4. 6:
Kreasi Peserta berlambang Naga dalam tradisi Endog-endogan
Gambar 4. 7:
Ancak-ancakan dalam pelengkap tradisi Endog-endogan
Menurut pengakuan Pak Sholeh informan dari Aktifis Pelajar IPNU sekaligus pegawai dinas koperasi dan usaha mikro Banyuwangi, perayaan endog-endogan di pemerintahan daerah Banyuwangi tahun ini sangat meriah, yang dilaksanakan tanggal 21 November 2018. Arak-arakan ini dilaksanakan dari empat penjuru yaitu timur, barat, utara dan selatan menuju titik di depan kantor pemerintahan daerah Banyuwangi. Hal ini berbeda dengan perayaan endog-endogan di pemerintahan daerah Banyuwangi tahun 2016 yang diarak dari dua penjuru saja yaitu utara dan selatan. Ribuan endog tersebut diletakan di bambu yang dihias di bunga kertas atau disebut sebagai kembang endog.
Kembang endog ditancapkan di Jodang, namun jodang ini sudah beragam ada yang berbahan pelepah pisang, ada yang dari gabus, dll.
Ribuan endog yang terdiri dari ratusan Jodang tersebut diarak dilengkapi dengan tabuhan Rebana dan Tarian Kuntulan khas Banyuwangi. Ada pula masyarakat yang membawa ancak yang
Gambar 2.16
Makan ancak bersama setelah tradisi Endog-endogan
berupa makanan siap saji. Menurut Pak Sholeh acara endog-endogan merupakan wujud kecintaan masyarakat Banyuwangi kepada Nabi Besar Muhammad SAW.
Selain itu kembang endog atau endog-endogan juga bukan hanya sekedar festival tetapi juga mengandung filosofi yang sangat dalam akan Islam. Menurutnya dari kelahiran Nabi Muhammad SAW menghadirkan rahmat dan berkah bagi semesta alam, yang membuat bambu yang tak berbunga dan berbuah berkat rahmat Allah, berbunga dan berbuah. Rangkaian acara endog-endogan di pemerintahan daerah Banyuwangi ini ditutup dengan tausiyah maulid yang disampaikan oleh Ustad Andi Nur Hidayat sekaligus doa. Kemudian ancak-ancak yang sudah dibuat tersebut dimakan bersama, sedangkan ribuan endog yang sudah dihias tersebut dibagikan kepada semua pengunjung yang hadir pada saat acara tersebut.115
2. Perayaan di desa dusun Cemoro desa Balak, merupakan tempat awal pencetus tradisi Endog-endogan tersebut muncul.
Gambar 4. 9:
Kirab Endog-endogan sekitar lingkungan dusun Cemoro desa Balak (kampung KH. Abdullah Faqih).
115Wawancara Pribadi dengan Pak Soleh, Aktifis Pelajar IPNU Kabupaten Banyuwangi, (Banyuwangi, 19 November 2018).
Gambar 4. 10:
Makam pencetus tradisi endog-endogan (KH. Abdullah Faqih)
Gambar 4. 11:
Detik-detik dimulainya
tradisi Endog-endogan di dalam masjid
Gambar 4. 12:
Pembacaan Al-Barzanji dalam tradisi Endog-endogan
Perayaan tradisi endog-endogan yang dilakukan di dusun Cemoro, desa Balak, kecamatan Songgon tempat Pencetus Tradisi itu dilakukan. Yang mana di sana dalam prosesinya cukup warga sekitar membawa kembang endog satu sampai dua, kemudian diarak keliling dusun. Selain membawa endog, para warga dan santri juga membawa oncor dan tak lupa di iringi seni Kuntulan, seni musik khas Banyuwangi. Titik akhir pasca keliling, semua endog ditancapkan ke jodang yang sudah di hias, lalu dimulailah acara dengan pembacaan tahlil, al-Barzanji, tausiah dari pengasuh yayasan KH. Abdullah Faqih dan ditutup doa.
Kemudian dalam sesi terakhir makan-makan dan pembagian kembali Endog yang sudah ditancapkan ke jodang tadi. Bisa dibilang perayaan di tempat pencetus tradisi ini sangatlah sederhana, tanpa adanya mengundang desa lain, akan tetapi hanya melibatkan warga sekitar dan para santri. Yang paling penting menurut gus Reza, dalam perayaan ini selain melestarikan juga harus tetep mempertahankan
simbol-simbol yang digunakan agar tidak mengurangi nilai ke sakralan dalam praktek tradisi dilakukan.116
3. Perayaan di dusun Kendal desa Sumberbaru.
Di desa inilah, merupakan warga suku Using dan diapit beberapa desa suku Jawa, akan tetapi masih kental dalam merayakan tradisi endog-endogan, bahkan warga Jawa yang ada disekitar turut serta dalam perayaan dan ikut sumbangsih dana guna meramaikan, memeraihkan, bahkan mereka juga rela ikut dalam pelaksanaan dilapangan.
Gambar 4. 13:
Kreasi peserta tradisi Endog-endogan desa Sumberbaru
116 Wawancara Pribadi dengan Gus Reza, Cicit KH. Abdullah Faqih, Cemoro (Banyuwangi, 15 November 2018).
Gambar 4. 14:
Kreasi peserta berlambang ikan dalam tradisi endog-endogan
desa Sumberbaru
Gambar 4. 15:
Kreasi peserta berlambang musollah dalam tradisi endog-endogan
desa Sumberbaru
Menurut warga desa Sumberbaru (Pak Nur Hadi), kecamatan Singojuruh. Tradisi endog-endogan ada sedikit perbedaan, diataranya:
Dalam proses setiap warga diberi tempat nasi sebanyak 3 buah dan harus ada telurnya, bahkan setiap warga dimintain infak untuk kontribusi acara di masjid. Setiap warga per rumah mengundang warga desa lain dan memberi undangan satu minggu sebelum acara dilaksanakan untuk hadir, kemudian berkumpul terlebih dahulu ke masing-masing musollah sebelum merayakan tradisi itu di masjid.
Akan tetapi warga tak lupa satu jam sebelum berkumpul di masjid warga mengadakan kirab Endog-endogan dengan berbagai keunikan yang sudah dibuat. Setelah pulang dari masjid kembali ke musollah untuk jamuan makan-makan, Bahkan tak sedikit para undangan yang datang, ketika pulang membawa 4-6 buah berkat (oleh-oleh bingkisan kue dan nasi), tradisi ini juga bersaing dari musollah satu dengan musollah yang lain dalam hal kemewahan dan banyaknya berkat yang dibawa oleh para tamu undangan pada waktu pulang.117 4. Perayaan di desa Kemiren
Desa Kemiren merupakan salah satu desa yang paling kuat memegang teguh dan melestarikan kebudayaan Using. Di tengah budaya Using dan budaya popular melalui media massa khususnya televisi, masyarakat di sini masih bersatu padu mempertahankan budaya lokal. Baik bahasa, adat istiadat maupun kesenian masih berkembang pesat dan kultur budayanya masih melekat keasliannya.
Berangkat dari situ, pemerintah Banyuwangi menetapkan wilayah ini sebagai desa budaya dengan nama desa wisata Using.
Berbeda dengan perayaan tradisi Endog-endogan di desa-desa lain, khususnya di Kemiren sebelum melakukan acara tradisi, warga melakukan upacara selametan di makam Buyut Cili, dengan membawa nasi dan ayam yang sudah di peteteng (ayam yang dibakar dan dikasih sambal kelapa), kemudian membaca tahlian serta ditutup dengan doa. Baru nasi tersebut dimakan bersama-sama disekitar makam.
117 Wawancara Pribadi dengan Pak Nur Hadi, Tokoh Masyarakat Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, (Banyuwangi, 7 Maret 2019).
Gambar 4. 16:
Masuk desa Kemiren kecamatan Glagah.118
Gambar 4.17:
Makam Buyut Cili
118 Diunduh pada tanggal 17 Desember 2018 dari
http://www.goodnews-from-Indonesia.id/2017/09/12/keunikan-desa-wisata-osing-Kemiren-Banyuwangi.
Gambar 4.18:
Makan-makan setelah prosesi selametan di makam Buyut Cili.119
Kemudian malam hari sebelum tradisi endog-endogan dimulai pada besok hari, warga desa Kemiren melakukan tradisi Gredoan, yang mana tradisi ini dilakukan sebagai media mencari jodoh dan semalam suntup tradisi itu dilakukan. Akan tetapi seiring jaman yang sudah modern sekarang mulai luntur bahkan sudah bukan ajang satu-satunya dalam mencari jodoh, ucap tokoh masyarakat Using. Berikut ini gambar malam tradisi Gredoan di desa Kemiren kecamatan Glagah.
119 Diunduh pada tanggal 17 Desember 2018 dari
http://Banyuwangi.merdeka.com/seni-budaya/2016/04/08/menengok-ritual-adat-ritual-adat-desa-Kemiren-kenduri-di makam Buyut Cili.
Gambar 4. 19:
Hiburan dalam perayaan Gredoan diantaranya permainan Oncor-oncoran pada malam hari di desa Kemiren.120
Gambar 4.20:
Pertarungan Pakai api
120 Diunduh pada tanggal 17 Desember 2018 dari
http://regional.Kompas.com.read/2016/01/03/08530501/tradisi.gredoan-di-Banyuwangi.
Kemudian pada praktek besok harinya juga sama dengan desa lainnya, yang mana dimulai dengan perayaan sambil membawa endog-endogan dengan berbagai ornamen hiasan yang mana di desa Kemiren masih tetep mengutamakan nilai kesakralan dalam tradisi tersebut. Karena selain menjaga nilai sejarah dalam simbol endog-endogan itu sendiri, para warga desa Kemiren juga memberikan contoh terhadap desa-desa lain akan khas budaya suku Using Banyuwangi. Maka dari itu sampai sekarang budaya apapun terkait suku Using masih melekat di desa Kemiren yang banyak orang menyebut desa wisata atau desa yang menjadi perhatian utama pemerintahan kabupaten Banyuwangi.
Gambar 4.21:
Macam-macam kreasi
tradisi endog-endogan di desa Kemiren
Gambar 4. 21:
Kreasi warga dalam menghias endog
Menurut tokoh desa Kemiren yang lain pak Sucipto, yaitu generasi ke-6 dari Barong Sapu Jagat percaya bahwa perayaan endog-endogan sudah ada sejak jaman dahulu. Menurut kepercayaan suku Using di desa Kemiren, endog-endogan dimaksudkan untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW dan juga mengumpulkan masyarakat Islam di daerah itu pada bulan maulid Nabi Muhammad, menggunakan endog-endogan yang ditusuk menggunakan bambu, yang berarti awal kehidupan seperti bambu yang digunakan untuk memotong tali pusar. Dan juga makna dari endog-endogan yang diibaratkan dunia yang di dalamnya berbeda-beda terdiri dari kulit, putih telur dan kuning telur. Telur juga dihias menggunakan bung-bunga kertas agar cantik, yang melambangkan saat kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW dunia menjadi cantik, dan subur.
Telur yang ditusuk menggunakan bambu tersebut ditancapkan di pohon pisang, menurut pak Sucipto, desa Kemiren mempercayai karena pisang bisa berbuah selama-lamanya dan selalu mengeluarkan
air. Yang bisa diartikan seorang ibu yang selalu menyusui anak-anaknya, merawat serta membesarkannya sehingga tumbuh dewasa dan selain itu memberikan pelajaran bahwa seorang anak juga selayaknya, sepatutnya selalu mengingat dan berbakti terhadap kedua orang tuanya begitu juga jika ditarik ke nilai Islam anak harus mengingat serta memperingati keagungan Nabi Besar Muhammad SAW.121