B. Pengertian Tradisi Dan Tradisi Agama
1. Pengertian Tradisi
Tradisi adalah “Kebiasaan” masyarakat yang telah dilakukan berulang kali secara turun temurun. Kata adat sendiri dipakai tanpa membedakan mana yang mempunyai sanksi, seperti “hukum adat”.
Dan mana yang tidak mempunyai sanksi, seperti adat saja. Tradisi dalam arti sempit merupakan benda material dan gagasan yang
47 Sulismadi dan Ahmad Sofwani, “Ilmu Sosial dan Budaya,” (Malang: UMM Press, 2011), h.
32.
diberi makna khusus yang berasal dari masa lalu dan mengalami perubahan.48 Secara terminologi perkataan tradisi mengandung sesuatu pengertian yang tersembunyi tentang adanya kaitan masa lalu dengan amsa kini. Ia menunjuk kepada sesuatu yang diwariskan oleh masa lalu tetapi masih berwujud dan berfungsi pada masa sekarang. Tradisi memperlihatkan bagaimana anggota masyarakat bertingkahlaku, baik dalam kehidupan yang bersifat duniawi maupun terhadap hal yang gaib atau keagamaan. Tradisi dipahami sebagai pengetahuan, doktrin, kebiasaan, praktek dan lain-lain yang diwariskan turun-temurun termasuk cara penyampaian pengetahuan. Doktrin dan praktek tersebut merupakan adat kebiasaan yang dilakukan turun temurun dan masih terus menerus dilakukan di masyarakat, di setiap tempat atau suku yang berbeda-beda. Jadi yang menjadi hal penting dalam memahami tradisi adalah sikap atau orientasi pikiran atau benda material atau gagasan yang berasal dari masa lalu yang dipungut orang dimasa kini. Sikap dan orirentasi ini menempati bagian khusus dari keseluruhan warisan historis dan mengangkatnya menjadi tradisi. Arti penting penghormatan atau penerimaan sesuatu yang secara sosial ditetapkan sebagai tradisi menjelaskan betapa menariknya fenomena tradisi itu.49
Dari pemahaman tersebut apapun yang dilakukan manusia secara turun temurun dari setiap aspek kehidupannya yang merupakan upaya untuk meringankan hidup manusia, dapat dikatakan sebagai “tradisi” yang berarti bahwa hal tersebut adalah menjadi bagian dari kebudayaan. Secara khusus tradisi oleh. C.A.
van Peursen diterjemahkan sebagai proses pewarisan atau penerusan norma-norma, adat istiadat, kaidah-kaidah, harta-harta. Tradisi dapat dirubah, diangkat, ditolak dan dipadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia.50
48 Ensiklopedi Islam, Jilid I (Cet.3: Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999), h. 21.
49 Anisatun Muti’ah, dkk, Harmonisasi Agama dan Budaya di Indonesia Vol I, (Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, 2009), h. 15.
50 C.A van Peursen, “Strategi Kebudayaan,” (Yogyakarta: Kanisius, 1988), h. 11.
Dalam kamus antropologi tradisi sama dengan adat istiadat yakni kebiasaan-kebiasaan yang bersifat magis-religius dari kehidupan suatu penduduk asli yang meliputi mengenai nilai-nilai budaya, norma-norma, hukum dan aturan yang saling bekaitan dan kemudian menjadi suatu sistem atau peraturan yang sudah mantab serta mencakup segala konsepsi sistem budaya dan suatu kebudayaan untuk mengatur tindakan sosial.51 Sedangkan dalam kamus sosiologi diartikan sebagai adat istiadat dan kepercayaan yang secara turun temurun dapat dipelihara.52
Tradisi juga merupakan suatu sistem menyeluruh, yang terdiri dari cara aspek dari pemberian arti perilaku ajaran, prilaku ritual dan beberapa jenis perilaku lainnya dari manusia atau sejumlah manusia yang melakukan tindakan satu dengan yang lain. Unsur terkecil dari sistem tersebut adalah simbol. Simbol meliputi simbol konstitutif (yang berbentuk kepercayaan), simbol penilaian norma dan sistem ekspresif (simbol yang menyangkut pengungkapan perasaan). Jadi hal paling penting dalam memahami tradisi adalah sikap atau orientasi pikiran atau benda material dari masa lalu yang dipungut orang di masa kini. Sikap ini menempati bagian khusus dari keseluruhan warisan historis dan mengangkatnya menjadi tradisi.
Arti penting penghormatan atau penerimaan sesuatu yang secara sosial ditetapkan sebagai tradisi menjelaskan betapa menariknya fenomena tradisi itu.53
Proses munculnya tradisi ada dua cara, yaitu: pertama, kemunculannya secara spontan bahkan tak diharapkan melibatkan rakyat banyak, karena suatu alasan individu tertentu menemukan warisan historis yang menarik perhatian, ketakziman, kecintaan, kekaguman yang kemudian disebarkan melalui berbagai cara.
Sehingga kemunculannya itu mempengaruhi rakyat banyak, mulai dari takzim berubah menjadi prilaku bentuk lain seperti ritual, upacara adat dan semua itu akan membentuk rasa kekaguman serta tindakan individual menjadi milik bersama yang akan menjadi fakta
51 Ariyono, Siregar, Aminudi, “Kamus Antropologi,” (Jakarta:Akademik Presindo, 1985), h. 4.
52 Soekanto, “Kamus Sosiologi,” (Jakarta: Pt Raja Grafindo persada, 1993), h. 459.
53 Piotr Sztompka, “Sosiologi Perubahan Sosial,” (Jakarta: Prenada Media Grup, 2007), h. 70.
sosial sesungguhnya, kemudian nantinya akan diagungkan. Kedua, melalui mekanisme paksaan. Dalam artian sesuatu yang dianggap sebagai tradisi dipilih dan dijadikan perhatian umum atau dipaksakan oleh individual yang berpengaruh atau yang berkuasa.
Dua jalan tradisi tersebut tidak membedakan kadarnya.
Perbedaannya terdapat antara “tradisi asli”, yakni yang sudah ada di masa lalu. Tradisi buatan mungkin lahir ketika orang memahami impian masa lalu dan mampu menularkan impian itu kepada orang banyak. Lebih sering tradisi buatan ini dipaksakan dari atas oleh penguasa untuk mencapai tujuan politik mereka. Begitu terbentuk, tradisi mengalami berbagai perubahan. Perubahan kuantitatifnya terlihat dalam jumlah penganut atau pendukungnya. Rakyat dapat ditarik untuk mengikuti tradisi tertentu yang kemudian mempengaruhi seluruh rakyat dan Negara atau bahkan dapat mempengaruhi skala global.
Arah perubahan lain adalah perubahan kualitatif yakni perubahan kadar tradisi, gagasan, simbol dan nilai tertentu ditambahkan dan yang lain dibuang. Sepat atau lambat setiap tradisi mulai dipertanyakan, diragukan, diteliti ulang dan bersamaan dengan itu fragmen-fragmen masa lalu ditemukan disahkan sebagai tradisi. Perubahan tradisi disebabkan banyaknya tradisi dan bentrokan antara tradisi yang satu dengan saingannya, benturan itu dapat terjadi antara masyarakat atau kultul yang berbeda di dalam masyarakat tertentu.54
Adapun fungsi dari tradisi bagi masyarakat lain diantaranya:
a. Tradisi merupakan kebijakan turun temurun. Tempatnya di dalam kesadaran, keyakinan norma dan nilai yang kita anut kini serta di dalam benda yang diciptakan di masa lalu.
b. Memberikan legitimasi terhadap pandangan hidup, keyakinan, pranata dan aturan yang sudah ada. Semuanya ini memerlukan pembenaran agar dapat mengikat anggotanya. Salah satu sumber legitimasi terdapat dalam tradisi.
54 Piotr Sztompka, “Sosiologi Perubahan Sosial,” (Jakarta: Prenada Media Grup, 2007), h. 71-72.
c. Menyediakan simbol identitas kolektif yang meyakinkan, memperkuat loyalitas primodial terhadap bangsa, komunitas dan kelompok.
d. Membantu menyediakan tempat pelarian dari keluhan, kekecewaan dan ketidakpuasan kehidupan modern. Tradisi yang mengesankan masa lalu yang lebih bahagia menyediakan sumber pengganti kebanggaan bila masyarakat berada dalam krisis.55
2. Macam-Macam Tradisi