Sebelum melakukan kajian terhadap kelayakan finansial Padi Bt PRG, telah dilakukan penelitian dengan membuat rincian biaya investasi penelitian dan pengembangan tanaman Padi Bt PRG yang diintroduksi dengan gen Cry IA(b). Penelitian Padi Bt PRG telah dilakukan mulai dari Laboratorium Puslit Bioteknologi LIPI sejak tahun 1996. Penelitian terhadap Padi Bt ini, merupakan penelitian Padi Bt pertama di Indonesia, meskipun sampai saat ini belum dapat
1
4
3
63 dilepas dan dikomersialisasikan kepada masyarakat. Selain biaya pengembangan tanaman dengan teknologi rekayasa genetik di laboratorium, juga diperlukan biaya yang cukup besar untuk pengujian keamanan lingkungan di LUT.
Biaya pengembangan teknologi Padi Bt selama masa penelitian sampai pengujian keamanan lingkungan, di rumah kaca FUT Puslit Bioteknologi LIPI maupun LUT di beberapa lokasi Jawa Barat seperti yang disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Biaya (cost) pengembangan Padi Bt PRG mengandung gen Cry I A(b) tahan hama penggerek batang di Puslit Bioteknologi LIPI.
No Kegiatan Waktu
(tahun)
Biaya (x juta)
Keterangan
1. Kultur jaringan tanaman 2 200 Kegiatan penelitian padi Bt telah dilaksanakan pada tahun 1997 s/d 2007 2. Kloning gen, transformasi
dan regenerasi tanaman
3 450
3. Pengujian bioassay, uji ketahanan di FUT
1 75
4. Uji segregasi, stabilitas dan ekspresi gen
2 200
5. Pengujian LUT untuk keamanan lingkungan (3 lokasi x 150 juta) dan (2 lokasi untuk penelitian gene flow) 2 750 Pengujian LUT padi Bt dilakukan pada tahun 2004- 2007. Total 1.675** Ket :
** Biaya ril untuk tahun pelaksanaan 1997-2007 dan diluar biaya pengujian keamanan pangan
(Sumber:pengembang teknologi Padi Bt PRG, Puslit Bioteknologi LIPI)
Dari Tabel 2 diatas, dapat diketahui biaya yang harus dikeluarkan mulai dari tahap penelitian sampai pada tahap pengujian keamanan hayati, memerlukan modal yang cukup besar agar teknologi Padi Bt dapat diaplikasikan kepada masyarakat. Nilai yang tertera tidak memperhitungkan nilai keuangan sekarang serta kenaikan suku bunga yang terjadi setiap tahunnya. Agar pembangunan pertanian berkelanjutan dapat terlaksana, teknologi rekayasa genetik tanaman terutama untuk tanaman pangan harus dapat dikuasai, agar peningkatan produksi
64
pangan dapat tercapai dan kerusakan lingkungan berkurang terutama penggunaan insektisida yang berlebihan.
Dari rincian biaya pengembangan Padi Bt PRG, diketahui bahwa total biaya yang diperlukan untuk penelitian sampai pengujian sebesar lebih kurang Rp 1.675.000.000,- berdasarkan nilai mata uang pada tahun pelaksanaan penelitian dilakukan. Nilai ini akan semakin bertambah besar jika dikonversikan dengan nilai mata uang sekarang dengan memperhitungkan tingkat kenaikan suku bunga. Analisis ekonomi yang memperhitungkan nilai kembalian dan keuntungan belum dapat diprediksi, karena produk belum tersedia di pasaran. Menurut Soekartawi (1995) analisis kelayakan usaha dapat dilakukan dengan membuat evaluasi dari akibat-akibat yang disebabkan oleh terjadinya perubahan dalam proses teknologi, sedangkan perhitungan ekonomi digunakan jika ingin mengetahui hasil total dari produksi dan nilai ekonomi secara keseluruhan. Analisis yang tepat untuk mengetahui dampak perubahan teknologi pada tanaman Padi Bt PRG adalah analisis anggaran parsial (partial budget analysis) yang lebih sederhana dan tidak memerlukan data usaha tani keseluruhan khususnya untuk tanaman pertanian. Usaha pertanian dengan penanaman padi di sawah membutuhkan biaya pengelolaan meliputi biaya tenaga kerja dan pembelian pupuk serta obat-obatan yang cukup besar untuk mengatasi serangan hama dan penyakit. Penanaman Padi Bt PRG akan mengurangi biaya saprotan dalam pengelolaan, terutama biaya pembelian pestisida. Data-data primer yang diperoleh dan data secara ex ante, kemudian diolah dan dianalisis untuk mengetahui kelayakan dan keberlanjutan Padi Bt PRG jika akan dilepas atau dikomersialisasikan.
Hasil analisis data primer terhadap padi kultivar Rojolele non PRG dibandingkan dengan Padi Bt PRG disajikan pada dua Tabel di bawah, dengan membuat asumsi terhadap harga benih tanam, dan jumlah produksi Padi Bt PRG dibandingkan dengan benih Padi non-PRG, termasuk efisiensi biaya jika produk ini sudah tersedia ditingkat petani.
65 Tabel 3. Analisis anggaran parsial Padi Bt PRG vs Padi non-Bt kultivar
Rojolele dengan asumsi harga benih premium (50%)
Instrumen Padi Bt PRG Padi non-Bt Ratio B/C
Elemen pendapatan Produksi (ton/ha) 4 - 4,9 4 - 4,9 - Biaya-biaya (cost) Harga per kg (Rp) 30.000 20.000 - Tenaga kerja 100.000 200.000 - Pemupukan 1.286.875 1.286.875 - Insektisida (10%) 178.700 1.787.000 1,52 Insektisida (50%) 893.500 1.787.000 1,50
Tabel 4. Analisis anggaran parsial Padi Bt PRG vs Padi non-Bt kultivar Rojolele dengan asumsi harga benih tidak berubah
Instrumen Padi Bt PRG Padi non-Bt Ratio B/C
Elemen pendapatan Produksi (ton/ha) 4 - 4,9 4 - 4,9 - Biaya-biaya (cost) Harga per kg (Rp) 20.000 20.000 - Tenaga kerja 100.000 200.000 - Pemupukan 1.286.875 1.286.875 - Insektisida (10%) 178.700 1.787.000 1,02 Insektisida (50%) 893.500 1.787.000 1,01
Hasil analisis anggaran parsial disusun berdasarkan asumsi, bahwa padi kultivar Rojolele non-PRG sama dengan Padi Bt PRG, kecuali perubahan yang terjadi akibat introduksi sifat gen Bt yang ditambahkan seperti berkurangnya penggunaan insektisida dengan dua skenario yaitu penggunaan insektisida 10% dan 50%. Penggunaan insektisida tetap diperlukan terutama jika terjadi serangan hama lain selain penggerek batang, karena gen Bt yang ditambahkan bersifat
66
spesifik dan efektif hanya terhadap hama penggerek batang dan tidak bersifat toksik terhadap serangga lain (non target) (Tu et al. 2000).
Dari hasil analisis parsial yang dilakukan, dengan menggunakan asumsi harga jual benih tanam yang berbeda, diketahui bahwa kisaran manfaat dan biaya (∆ B/C) yang diperoleh adalah 1,52 untuk aplikasi insektisida 10% dan 1,50 untuk aplikasi insektisida 50%. Hasil ini diperoleh untuk harga jual benih tanam Padi Bt PRG sebesar Rp 30.000 dengan harga premium 50% lebih tinggi dibandingkan dengan benih tanam Padi non Bt dari kultivar Rojolele sebesar Rp 20.000. Sedangkan pada Tabel 7, dengan harga jual benih tanam Padi Bt PRG sama dengan benih padi tanam non-Bt sebesar Rp 20.000, hasil kisaran manfaat dan biaya untuk kedua jenis tanaman pangan ini adalah 1,02 untuk aplikasi insektisida 10% dan 1,01 untuk aplikasi insektisida 50%. Nilai profitability index menunjukkan angka lebih besar dari 1, hal ini memberi arti bahwa rencana kegiatan penanaman Padi Bt PRG nantinya dapat menghasilkan pendapatan yang lebih besar dari pada biaya-biaya pengelolaan yang diperlukan. Bentuk usaha di bidang pertanian dapat diterima apabila kisaran manfaat dan biaya (benefit cost ratio) lebih besar dari angka satu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa usahatani Padi Bt kultivar Rojolele termasuk kategori layak untuk dilanjutkan, jika Padi Bt tersebut telah tersedia di pasaran.
Biaya produksi tanaman pertanian di negara berkembang lebih mahal bila dibandingkan dengan negara maju seperti USA. Contohnya di China untuk biaya (cost) produksi tanaman padi membutuhkan dana sekitar 40 – 60 % dari total produksi, sedangkan di USA dan Kanada hanya memerlukan dana sekitar 6 – 10% (Huang et al. 2001). Untuk mengatasi serangan hama dan penyakit pada tanaman padi, petani di China menghabiskan biaya sekitar 4.34 milliar dolar US utk pembelian pestisida per tahunnya. Biaya paling besar terutama berasal dari pengeluaran untuk pembelian insektisida (Pray et al. 2001 dan Huang et al. 2001). Penggunaan pestisida per ha untuk tanaman Padi PRG hanya menghabiskan sekitar 2.0 kg/ha dibandingkan dengan Padi non PRG yang menghabiskan 21.2 kg/ha (Rozelle et al. 2000). Diharapkan dengan dilepasnya Padi Bt PRG tahan serangan hama penggerek batang, akan mengurangi penggunaan pestisida khususnya insektisida pada tanaman padi di lahan pertanian Indonesia.
67
b. Persepsi dan Penerimaan Petani terhadap Keberlanjutan Pemanfaatan Padi Bt PRG
Analisis mengenai persepsi (perception) atau penerimaan (acceptance) merupakan kajian yang berhubungan langsung dengan pengguna (user), dimana teknologi tidak ada artinya jika tidak memperoleh pengakuan atau penerimaan dari masyarakat. Dalam kasus Padi Bt PRG, upaya untuk memperkenalkan produk bioteknologi baru ini masih menjadi tantangan dan tanggung jawab pemerintah melalui pengembang teknologi, agar produk lebih dikenal dan dipahami oleh masyarakat seperti petani. Beberapa upaya yang perlu dilakukan adalah sosialisasi dan komunikasi terhadap keunggulan dan risiko yang mungkin timbul dari Padi Bt PRG jika nanti diterapkan dan dikomersialisasikan kepada mereka. Komunikasi kepada pengguna dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana agar produk bioteknologi ini mudah diterima dan dipahami.
Perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan masyarakat mengenai tanaman PRG akan selalu terjadi jika program sosialisasi dalam bentuk komunikasi risiko tidak intensif dilakukan, sehingga menimbulkan kesalahpahaman karena ketidakmengertian akan PRG. Sebagai produk bioteknologi modern, terdapat kesulitan dalam memberi respon dan implementasi produk kepada masyarakat, karena sangat terkait dengan aturan dan regulasi yang berlaku disetiap negara (McCammon 2007).
Untuk mengetahui tingkat persepsi, pengetahuan dan partisipasi petani terhadap Padi Bt PRG telah dilakukan survei dengan melakukan wawancara dan pengarahan dalam bentuk pengenalan sederhana tanaman Padi Bt PRG kepada petani serta meminta petani mengisi langsung kuisioner yang telah disiapkan. Responden petani yang disurvei mewakili empat wilayah penelitian, yang berasal dari wilayah sentra produksi padi di Propinsi Jawa Barat. Hasil survei dapat dikelompokkan menjadi dua bagian utama yaitu: a) karakteristik petani sebagai responden dan b) persepsi serta penerimaan petani terhadap rencana pelepasan Padi Bt PRG berdasarkan informasi yang diperoleh dari isian kuisioner (Lampiran 3).
68
a. Karakteristik Petani Padi Sawah
Karakteristik petani padi sawah di wilayah penelitian disajikan pada Gambar 2. Berdasarkan kelompok usia, kebanyakan petani padi sawah berada pada usia yang tergolong tidak muda lagi yakni antara 41-58 tahun, dimana jumlah mereka lebih dari 50% untuk semua wilayah penelitian, kecuali untuk wilayah Cianjur jumlah responden tertinggi masih tergolong pada usia muda (23- 40 tahun) dengan jumlah melebihi 40% dari total responden di wilayah tersebut. Sedangkan usia yang tergolong cukup tua untuk bekerja di lahan pertanian masih cukup banyak di setiap lokasi penelitian dengan kisaran 10 – 30% pada setiap wilayah penelitian.
Gambar 2. Distribusi kelompok usia petani di wilayah penelitian Propinsi Jawa Barat. 0 10 20 30 40 50 60 70
Cianjur Karawang Subang Sukabumi
Persen ta se Respo nde n
Usia
23-40 th 41-58 th 59-76 th69 Gambar 3. Distribusi tingkat pendidikan petani di wilayah penelitian
Propinsi Jawa Barat
Yang cukup menarik dari hasil pendataan terhadap tingkat pendidikan dari responden petani (Gambar 3), yakni wilayah Karawang ternyata memiliki tingkat pendidikan SMU keatas lebih banyak (mendekati 40%) bila dibandingkan dengan wilayah penelitian lain, meskipun yang berpendidikan SD-SMP tetap lebih mendominasi. Hal ini terkait dengan jumlah penghasilan rata-rata yang diperoleh petani dari wilayah Karawang berkisar antara satu juta sampai dengan 5 juta rupiah per bulan, yang merata diantara semua responden dengan jumlah melebihi angka 80% (Gambar 4). Umumnya tingkat penghasilan di kalangan petani berdasarkan kuisioner masih kurang dari satu juta rupiah, dengan angka melebihi 50% di setiap wilayah penelitian. Tingkat pendidikan yang lebih merata yaitu SD- SMP berada di wilayah penelitian Sukabumi, kurang dari 10% yang memiliki tingkat pendidikan diatas SMP, dan tidak ada yang lebih tinggi dari SMU, demikian juga dengan penghasilan yang mereka peroleh dengan jumlah kurang dari satu juta sampai satu juta rupiah untuk lebih dari 90% jumlah responden.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Cianjur Karawang Subang Sukabumi
Persen ta se Respo nde n
Tingkat Pendidikan
Tidak sekolah/tidak lulus SD SD-SMP SMU-akademi/PT S2 ke atas70
Gambar 4. Distribusi tingkat penghasilan petani di wilayah penelitian Propinsi Jawa Barat
b. Persepsi dan Penerimaan Petani terhadap Padi Bt PRG
Berdasarkan hasil analisis persepsi dan penerimaan petani secara umum terhadap produk teknologi baru, sangat baik dan responsif. Tetapi terdapat kesenjangan informasi yang mereka terima, karena sangat kurangnya sosialisasi dan komunikasi antara pengembang teknologi dengan petani sebagai pengguna pertama dari teknologi ini. Umumnya petani sangat tertarik dengan keunggulan dari tanaman PRG, tetapi tidak begitu mengerti dengan adanya risiko yang mungkin dapat ditimbulkan oleh tanaman PRG tersebut. Jika dapat meningkatkan produksi, rata-rata petani tidak keberatan menanam dan memanfaatkan Padi Bt di lahan mereka. Oleh karena itu sangat diperlukan sosialisasi dan komunikasi risiko kepada petani sebelum tanaman PRG dikomersialisasikan, agar manfaat jangka panjang tetap dapat diperoleh. Secara umum hasil rangkuman dari persepsi dan penerimaan petani terhadap rencana pelepasan Padi Bt PRG disajikan pada Gambar 5, Gambar 6 dan Gambar 7. Dari hasil survei yang telah dilakukan,
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Cianjur Karawang Subang Sukabumi
Persen ta se Respo nde n
Penghasilan
≤ 1 juta rupiah1 juta-5 juta rupiah
71 diketahui tingkat pengetahuan petani yang sangat rendah terhadap keamanan tanaman PRG terutama terhadap lingkungan. Meskipun persyaratan tanaman PRG sebelum dilepas harus memenuhi keamanan hayati yang meliputi keamanan pangan, keamanan lingkungan dan/atau keamanan pakan, tetapi umumnya petani hanya memahami bahwa tanaman PRG aman untuk dikonsumsi dan tidak membahayakan kesehatan manusia.
Gambar 5. Persepsi petani terhadap keamanan Padi Bt PRG di wilayah penelitian Jawa Barat
Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa, persepsi petani terhadap keamanan tanaman PRG hanya untuk kesehatan manusia, kebanyakan (hampir melebihi 60%) menyatakan tidak tahu tentang prinsip keamanan yang harus dipahami untuk tanaman PRG. Hal ini disebabkan karena sangat sedikitnya akses informasi yang dapat mereka peroleh terkait dengan tanaman PRG sebagai pangan. Terdapat sekitar 30% responden dari wilayah Sukabumi yang menyatakan tahu tentang tanaman PRG dan hanya lebih kurang 20% yang mengetahui tanaman PRG dari wilayah Cianjur dan Subang (Gambar 5). Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan petani, meskipun mereka menjawab tahu tentang tanaman PRG, itupun hanya sebatas pernah mendengar saja tanpa
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Cianjur Karawang Subang Sukabumi
Persen ta se Respo nde n
Keamanan Padi Bt PRG
Aman Tidak aman Tidak tahu72
memahami maksudnya. Seiring dengan kebutuhan peningkatan produksi pangan yang cukup mendesak, dikhawatirkan kelompok masyarakat seperti petani kurang memperhatikan dampak tanaman PRG terhadap lingkungan, oleh karena itu sangat diperlukan sosialisasi dan pemahaman yang intensif kepada petani, terutama usaha pengelolaan tanaman Padi Bt PRG sebelum komersialisasi, agar pemanfaatannya lebih optimal. Karena beberapa dampak jangka panjang tanaman PRG terhadap lingkungan belum dapat diprediksi dan diketahui dengan pasti (Tietenberg & Lewis 2010).
Sebagian besar petani menyatakan tidak tahu mengenai tanaman PRG jika dilepas ke lingkungan apakah lebih menguntungkan atau merugikan, karena ketidakmengertian mereka terhadap Padi Bt PRG yang dikembangkan. Tujuan dilepasnya Padi Bt kepada petani, diharapkan dapat mengurangi penggunaan insektisida yang mencemari lingkungan seperti udara, air dan tanah, sehingga Padi Bt lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan Padi non-Bt (Tietenberg & Lewis 2010).
Gambar 6. Persepsi petani terhadap dampak Padi Bt PRG terhadap lingkungan di Propinsi Jawa Barat
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Cianjur Karawang Subang Sukabumi
Persen ta se Respo nde n