• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengkajian Risiko Keamanan Lingkungan ( Environmental Risk

Assessment)

Berdasarkan kesepakatan negara-negara pada Konvensi Keanekaragaman

Hayati (Convention on Biological Biodiversity) di Montreal tahun 1994, telah dituangkan konsep Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik, yang mewajibkan setiap negara yang menandatangani kesepakatan tersebut untuk membuat peraturan dan pedoman bagi setiap produk rekayasa genetik sebelum dimanfaatkan dan dilepas ke lingkungan (Newell & Mackenzie 2000). Pengkajian risiko keamanan lingkungan merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan terhadap kelayakan penanaman tanaman PRG ke

22

lingkungan. Adanya issu mengenai keamanan hayati, diawal produk ini dilepas merupakan persoalan yang penting untuk melibatkan masyarakat melalui kegiatan pendidikan publik yang konsisten dan transparan.

Penelitian-penelitian tentang keamanan hayati tanaman PRG, lebih difokuskan pada pengaruh sifat toksik dari Bt (Bacillus thuringiensis) terhadap organisme non target, dampak ekologis tanaman PRG terhadap tanaman lain dan kerabat liar, serta interaksi dan pengaruh tanaman PRG tersebut pada keanekaragaman hayati, ekosistem dan mikroba tanah (Lu & Sweet 2010)

Karena dianggap lebih ramah lingkungan, maka bioteknologi modern menjadi harapan baru dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian yang belum dapat diselesaikan secara konvensional. Seperti tanaman tahan serangan hama, akan mengurangi penggunaan insektisida, sehingga menyelamatkan lingkungan dari pencemaran udara dan air. Dampak jangka panjangnya akan mengurangi pencemaran pestisida yang terakumulasi di dalam tanah sehingga menguntungkan bagi lingkungan (Barratt et al, 2010).

Berdasarkan fakta terbaru dari ISAAA (2013), angka perkiraan global luas areal tanam PRG di negara-negara berkembang sejak tahun 1996 sampai 2012 meningkat sampai 100 kali, dari 1,7 juta ha menjadi 170 juta ha. Bertambahnya jumlah petani yang menanam tanaman PRG seperti kapas Bt, jagung Bt di negara- negara berkembang telah berhasil meningkatkan pendapatan petani, sehingga program ini diharapkan mampu mendukung Sasaran Pembangunan Milenium dengan mengurangi angka kemiskinan. Harapan untuk mengangkat taraf hidup petani diharapkan tercapai dengan terjadinya peningkatan produksi sebesar 10– 20%, diikuti dengan efisiensi pengeluaran untuk insektisida dan biaya perawatan. (James 2012).

Upaya membangun kepercayaan publik dalam pemanfaatan produk rekayasa genetika memerlukan usaha yang cukup serius dari pemerintah, mengingat masih rendahnya tingkat pemahaman dan pengetahuan publik mengenai hal ini. Sebelumnya penemuan-penemuan varietas unggul baru melalui proses teknologi pemuliaan konvensional tidak pernah mendapat reaksi negatif yang serius dari masyarakat petani, maupun masyarakat konsumen pada umumnya. Sedangkan varietas unggul baru dari tanaman transgenik mendapat

23 reaksi yang keras dan beragam dari berbagai kalangan yang mengkhawatirkan dampak negatif terhadap keamanan hayati. Reaksi yang muncul dari masyarakat dapat diterima asalkan tidak berlebihan dan disampaikan melalui prosedur yang semestinya. Terdapat beberapa pemikiran dari kelompok yang kontra terhadap tanaman PRG seperti; potensi bahaya produk sehingga tidak ada antisipasi yang dapat dilakukan jika terjadi penyimpangan, risk assessment dan risk management masih lemah, sehingga berdampak luas. Di dalam PP 21 tahun 2005 disebutkan bahwa setiap produk bioteknologi yang akan dimanfaatkan secara luas harus diuji dan dikaji terlebih dahulu terhadap kemungkinan risiko yang akan ditimbulkannya.

Informasi ilmiah mengenai hasil pengujian dari pengembangan dan pemanfaatan tanaman PRG yang tersedia saat ini masih rendah, sehingga pengetahuan masyarakat terkait PRG sangat terbatas. Persepsi publik terutama terhadap tanaman PRG terbagi dua kelompok, antara pro dan kontra. Kelompok yang kontra terhadap PRG memprediksi jika tanaman PRG dilepas ke alam dan terjadi persilangan, maka gen yang akan mencemari lingkungan hayati tidak dapat ditarik kembali. Pandangan ini tidak dapat dibenarkan karena adanya aturan yang telah dibuat untuk menjamin keamanan hayati setiap PRG yang akan dilepas atau dimanfaatkan. Menurut Herman (2009) sebelum tanaman PRG dimanfaatkan untuk di tanam ke lingkungan harus melalui pengkajian keamanan lingkungan dengan melakukan percobaan di lapangan uji terbatas, dengan lingkungan fisik yang dapat dikontrol dan dikendalikan. Tindakan isolasi genetik dengan pembatasan materi/bahan yang digunakan dalam membatasi penggunaan bahan tanaman PRG hanya untuk area spesifik dari suatu lingkungan di lokasi percobaan. Percobaan lapangan terbatas adalah kegiatan penelitian skala kecil dan pra komersial, dengan menyediakan teknologi untuk mengevaluasi tampilan tanaman PRG serta mengkoleksi data yang diperlukan dalam pengkajian keamanan lingkungan, pengujian varietas, registrasi, dan tujuan untuk sertifikasi benih (Halsey 2006).

Berdasarkan pada pemikiran-pemikiran tersebut maka metode pengkajian risiko (risk assessment) untuk PRG dilaksanakan berdasarkan kasus per kasus, karena setiap produk PRG yang ditanam pada ekosistem yang berbeda

24

memerlukan sistem pengkajian risiko yang berbeda juga (Hilbeck & Andow 2004). Oleh karena itu PRG yang dihasilkan dari kegiatan penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan di laboratorium, fasilitas uji terbatas dan/atau lapangan uji terbatas sebelum diusulkan untuk dilepas dan/atau diedarkan harus diuji efikasi dan memenuhi persyaratan keamanan hayati (PP No 21 2005)

Peraturan yang telah dibuat sesuai dengan PP No 21 tahun 2005 dimana unsur pengujian dan penilaian kelayakan PRG harus melalui risk assessment dan risk management yang sangat teliti dan hati-hati sehingga berbagai kemungkinan dampak negatif yang muncul dapat diantisipasi. Bioteknologi pertanian dalam bidang rekayasa genetik bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan, dan memperbaiki sistim kehidupan tanpa melakukan eksploitasi terhadap alam agar tercapai kesejahteraan hidup manusia.

Terdapat beberapa peraturan yang terkait dengan pengaturan keamanan PRG yang berbentuk undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri, dan keputusan menteri. Dalam undang-undang yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup telah dijelaskan bahwa setiap orang dilarang melepaskan PRG ke media lingkungan hidup yang bertentangan dengan peraturan perundang- undangan atau izin lingkungan. Pada pasal 101 dari Undang-Undang tersebut, ditulis adanya sanksi bagi yang melanggar, baik sanksi uang maupun tahanan. Oleh karena itu pemanfaatan PRG di tengah-tengah masyarakat harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah sesuai dengan kesepakatan dalam Protokol Cartagena. Meskipun kelembagaan yang terkait dengan keamanan hayati telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden No 39 tahun 2010, tetapi belum dilakukan kajian mengenai fungsi kelembagaan yang terkait serta kebijakan yang ditetapkan dalam peraturan tersebut, apakah cukup efektif terhadap pelepasan dan komersialisasi PRG di Indonesia.

Beberapa kendala dalam penelitian dan pengembangan PRG di Indonesia adalah waktu yang cukup lama untuk penelitian, minimal 3 – 5 tahun, belum terlaksananya keseluruhan regulasi yang telah ditetapkan sampai pada koordinasi antar kelembagaan serta sikap dan konsistensi pemerintah dalam pengembangan tanaman PRG yang mempengaruhi kinerja penelitian sehingga menghasilkan arah

25 yang kurang fokus. Ketersediaan dana dan grand strategy dalam pengembangan PRG juga menjadi kendala dalam pengembangannya. Teknologi rekayasa genetik ini memerlukan biaya yang cukup besar termasuk biaya pengujian keamanan hayati sebelum dilepas. Keterbatasan dana untuk melakukan pengujian keamanan hayati khususnya tanaman PRG menjadi salah satu kendala dalam upaya pemanfaatan dan pelepasan tanamab PRG kepada masyarakat, terutama di lembaga-lembaga penelitian milik pemerintah dimana sumber dana untuk melakukan penelitian berasal dari dana APBN. Selain itu, beberapa aturan pendukung pemanfaatan PRG belum dapat diselesaikan seperti pedoman teknis pelaksana. Termasuk pedoman untuk pengujian hewan PRG dan pakan PRG serta pedoman untuk penelitian dan pengembangan PRG di Laboratorium.