a Status keberlanjutan Padi Bt PRG
6. Status Keberlanjutan Multidimensi Pengelolaan Kebijakan PRG
Hasil analisis dengan menggunakan Rap-PRG terhadap nilai indeks keberlanjutan untuk masing-masing dimensi. sebagai berikut yaitu dimensi ekologi sebesar 73.02% dengan status cukup berkelanjutan. Dimensi ekonomi 69.30% dengan status cukup berkelanjutan, dimensi sosial kemasyarakatan 51.22% dengan status cukup berkelanjutan, dimensi teknologi sebesar 46.71% dengan status kurang berkelanjutan, dimensi hukum kelembagaan 54.74% dengan
105 status cukup berkelanjutan. Berdasarkan uji multidimensi keberlanjutan pemanfaatan padi Bt PRG yang merupakan gabungan dari seluruh dimensi yang dikaji, diperoleh nilai indeks keberlanjutan sebesar 58.99% yang tergolong pada status cukup berkelanjutan.
Uji validitas dengan analisis Monte Carlo dan analisis MDS pada taraf kepercayaan 95% diperoleh bahwa nilai indeks keberlanjutan pemanfaatan Padi Bt PRG menunjukkan adanya selisih nilai rata-rata kedua analisis tersebut berkisar dari 0.19 – 1.37% (Tabel 2). Menurut uji validitas, model analisis MDS yang dihasilkan memadaiuntuk menduga nilai indeks keberlanjutan pemanfaatan Padi Bt PRG. Perbedaan nilai yang diperoleh tidak banyak mengalami perubahan dengan hasil analisis Rap-PRG. Hal ini berarti bahwa kesalahan dalam analisis dapat diperkecil dengan memperbaiki pemberian skoring setiap atribut. Variasi pemberian scoring karena perbedaan opini dan proses analisis data yang dilakukan secara berulang-ulang relatif stabil, serta kesalahan dalam menginput data dan data hilang dapat dihindari (Fauzi & Anna 2005). Analisis Monte Carlo juga dapat digunakan sebagai metoda simulasi untuk mengevaluasi dampak kesalahan acak/galat (random error) dalam analisis statistik yang dilakukan terhadap seluruh dimensi (Pitcher & Preikshot 2001).
Tabel 2. Perbedaan nilai indeks keberlanjutan analisis Monte Carlo dengan analisis Rap-PRG
Dimensi Keberlanjutan
Nilai Indeks Keberlanjutan (%)
Perbedaan MDS Monte Carlo Ekologi 73.02 71.65 1.37 Ekonomi 69.30 68.26 1.04 Sosial Masyarakat 51.22 51.31 0.09 Teknologi 46.71 47.05 0.34
Hukum dan Kelembagaan 54.74 54.93 0.19
Hasil analisis Rap-PRG menunjukkan bahwa semua atribut yang dikaji terhadap status keberlanjutan dalam pengelolaan pemanfaatan Padi Bt PRG, cukup akurat sehingga diperoleh hasil analisis untuk uji ketepatan (goodness of
106
fit) yang dapat dipertanggungjawabkan. Nilai stress berkisar antara 13.35 sampai 15.16% dan nilai koefisien determinasi (R2) berkisar antara 0.94 dan 0.95. Hasil analisis cukup memadai apabila nilai stress lebih kecil dari 0.25 (25%) dan nilai koefisien determinasi (R2) mendekati 1.0 (100%). Adapun nilai stress dan koefisien determinasi seperti yang disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Nilai stress dan koefisien determinasi(R2) hasil analisis Rap-PRG
No Dimensi Keberlanjutan Parameter
Stress (%) R2
Ekologi 13.35 0.95
Ekonomi 13.48 0.95
Sosial Masyarakat 15.16 0.94
Teknologi 14.30 0.95
Hukum dan Kelembagaan 14.80 0.95
Agar nilai indeks ini di masa yang akan datang dapat meningkat mencapai status berkelanjutan (sustainable), perlu perbaikan terhadap atribut-atribut yang sensitif dan memberi pengaruh terhadap nilai dari indeks dimensi ekologi, ekonomi, sosial masyarakat, teknologi serta hukum dan kelembagaan. Gambar diagram layang (kite diagram) yang menggambarkan status keberlanjutan secara terintegrasi antara dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi teknologi dan dimensi hukum kelembagaan dari Rap-PRG yang disajikan pada Gambar 14.
107 Gambar 14. Diagram layang ( kite diagram) nilai indeks keberlanjutan
pengelolaan Padi Bt PRG
b.
Faktor Pengungkit dalam Kebijakan Pengelolaan Padi Bt PRG BerkelanjutanHasil analisis tiga puluh enam atribut dari lima dimensi (ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan hukum kelembagaan) diperoleh 15 atribut sensitif sebagai faktor pengungkit (leverage factor) terhadap masing-masing dimensi secara parsial. Sebagai faktor pengungkit, ada atribut yang perlu ditingkatkan kinerja dan sebagian yang lain perlu dijaga kinerja dalam pengelolaan pemanfaatan Padi Bt PRG sehingga nilai indeks keberlanjutan ke depan menjadi lebih baik. Oleh sebab itu perlu intervensi dalam meningkatkan kinerja atribut untuk menaikkan status keberlanjutan pemanfaatan Padi Bt PRG.
Faktor pengungkit (leverage factor) yang perubahannya dapat mempengaruhi secara sensitif terhadap peningkatan indeks keberlanjutan. Lima belas atribut sensitif yang dikumpulkan dari setiap dimensi, dengan jumlah lima atribut pengungkit dari dimensi ekologi, empat atribut pengungkit dari dimensi ekonomi, dua atribut pengungkit dari dimensi sosial, dua atribut pengungkit dari dimensi teknologi dan dua atribut pengungkit dari dimensi kelembagaan. Terhadap faktor-faktor pengungkit tersebut dapat dilakukan perbaikan atau
108
perubahan sesuai dengan tujuan keberlanjutan pada masing-masing dimensi. Perbaikan yang dilakukan harus berdasarkan hasil penelitian dan data ilmiah yang telah tersedia sebelumnya agar keberlanjutan dari atribut-atribut sensitif dapat ditingkatkan sesuai dengan target keamanan hayati dalam pelaksanaan pengujian dan pengkajian risiko PRG. Kebijakan pengelolaan tanaman PRG juga dapat dijaga keberlanjutannya dengan memperbaiki atribut-atribut yang sensitif, kecuali untuk dimensi teknologi yang masih termasuk kategori kurang berkelanjutan, harus dilakukan intervensi dan perubahan supaya keberlanjutan di bidang teknologi rekayasa genetik dapat tercapai dengan memanfaatkan sumber daya alam yang kita miliki. Faktor-faktor pengungkit tersebut disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Atribut sensitif keberlanjutan kebijakan pengelolaan PRG sebagai faktor pengungkit dari setiap dimensi
No. Dimensi Faktor Pengungkit (leverage factor) RMS
1 Ekologi (5) 1. Perpindahan (crossing) material genetik dari Padi Bt PRG ke tanaman padi non PRG
10.21 2. Dampak Padi Bt PRG terhadap organisme
perairan.
4.45 3. Pengaruh Padi Bt PRG pada organisme non
target dan keanekaragaman hayati potensial
4.04 4. Potensi tanaman PRG menjadi gulma 3.65 5. Keamanan PRG terhadap kesehatan
manusia
3.50 2 Ekonomi (5) 6. Tingkat ketergantungan petani terhadap
benih PRG
9.49 7. Harga beli benih PRG yang terjangkau 6.45 8. Peningkatan pendapatan petani 5.13
9. Stabilitas produksi 4.25
3 Sosial ( 2) . 10. Ketersediaan informasi bagi masyarakat mengenai PRG
1.01 11. Penerimaan dan persepsi masyarakat 1.06 4. Teknologi (2) 12. Jumlah PRG yang telah dilepas dan
memperoleh izin peredaran di Indonesia
3.60 13. Kemampuan SDM dalam riset rekombinan
DNA
2.68 5. Hukum
Kelembagaan (2)
14. Peraturan perundang-undangan tentang PRG
2.50 15. Pelabelan (labelling) terhadap PRG 2.29
109
KESIMPULAN
1. Status keberlanjutan kebijakan pengelolaan tanaman PRG secara multidimensi menunjukkan kondisi yang tergolong cukup berkelanjutan dengan nilai 58.99%. Sedangkan kondisi keberlanjutan untuk masing-masing dimensi adalah 73.02% untuk dimensi ekologi, dimensi ekonomi 69.30%, dimensi sosial 51.22% dan dimensi hukum kelembagaan 54.74%, semuanya tergolong cukup berkelanjutan. Sedangkan untuk dimensi teknologi, diperoleh nilai keberlanjutan 46.71%, nilai ini tergolong kurang berkelanjutan.
2. Terdapat 15 atribut sensitif yang merupakan faktor pengungkit untuk setiap dimensi yang dikaji. Lima belas faktor ini memiliki potensi untuk dipertahankan atau diintervensi agar berubah menjadi lebih baik dengan indikasi terjadinya kenaikan indeks keberlanjutan.
Saran
1. Disarankan untuk menambah atribut keefektifan Padi Bt terhadap terhadap serangan hama target, karena pemanfaatan Padi Bt secara terus menerus di lapangan tanpa melakukan pengelolaan risiko dapat meningkatkan resistensi hama pada tanaman Padi Bt. Atribut ini bisa dimasukkan pada dimensi teknologi, karena melalui teknologi rekayasa genetik dapat dikembangkan tanaman yang dapat mematahkan ketahanan hama terhadap Padi Bt.
2. Atribut pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur yang lebih memadai, juga disarankan untuk ditambahkan pada dimensi teknologi, untuk memperbaiki indeks keberlanjutan pada dimensi teknologi. Karena pengembangan teknologi rekayasa genetik tidak mungkin dilakukan tanpa ketersediaan fasilitas dan pendanaan yang cukup.
110