• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2) Kelembagaan Informal

Kelembagaan informal dalam hal ini adalah lembaga-lembaga yang dibentuk oleh nelayan yang ada di Kota Ambon, yaitu merupakan kesepakatan bersama oleh kelompok nelayan. Di dalam kesepakatan tersebut terdapat struktur kelembagaan yang cukup baik, guna mengelola dan mengurus berbagai kepentingan kelompok nelayan. Hal ini mendukung kegiatan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Maluku Tengah, dalam memberikan paket bantuan kepada nelayan. Pemberian bantuan diharapkan dapat digunakan dengan baik oleh nelayan yang terdaftar sebagai anggota kelompok legal.

Berdasarkan pembahasan tersebut di atas, maka desain kelembagaan yang direncanakan untuk diterapkan di Kota Ambon khususnya kelompok nelayan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan pelagis kecil terlihat pada Gambar 37.

Pihak yang terlibat dalam desain ini dimulai dari pihak Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Ambon, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pihak Perbankan yang saling berkoordinasi untuk melaksanakan fungsi sesuai dengan kapasitasnya masing- masing yakni tenaga pendamping dari LSM untuk mendampingi pemerintah saat membentuk kelompok nelayan dan mendampingi nelayan dengan memberikan pelatihan guna pelaksanaan kegiatan penangkapan ikan, tenaga penyuluh dari Perbankan bertugas untuk memberikan pelatihan jika kegiatan yang akan dilakukan membutuhkan dana dari pemerintah dimana pihak pemerintah akan bekerjasama dengan pihak perbankan serta tenaga teknis dari LIPI dan DKP yang berfungsi untuk memberikan pelatihan tentang teknis pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan pelagis kecil yang optimal dan berkelanjutan.

141 Selanjutnya DKP, LIPI, pihak perbankan dan LSM bersama tenaga pendamping dan penyuluh serta tim teknis, akan berkordinasi dengan pihak pemerintah desa dan LSM yang telah membentuk kelompok nelayan. Selain nelayan ada pula pihak Jibu-jibu yang akan menyalurkan hasil yang diperoleh nelayan ke pasar, pengecer dan akhirnya sampai pada konsumen akhir.

Pihak-pihak yang terlibat dalam desain kelembagaan ini berkaitan erat dengan dimensi yang digunakan untuk menentukan status keberlanjutan sumberdaya perikanan pelagis kecil di Kota Ambon. Pihak LIPI dan DKP berkaitan dengan dimensi ekologi dan teknologi, pihak perbankan (BANK) berkaitan dengan dimensi ekonomi, pihak LSM berkaitan dengan dimensi sosial dan hukum dan kelembagaan.

Berdasarkan fungsi dan kapasitas masing-masing pihak yang berkolaborasi dalam desain kelembagaan ini, diharapkan dapat mencapai tujuan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan kecil di Pesisir Kota Ambon yang optimal dan berkelanjutan.

142

143 5.8 Analisis Kebijakan

Dalam rangka menganalisis kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Kota Ambon, maka dalam tahap ini digunakan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE). Teknik analisis MPE menggunakan informasi dari pakar terkait keputusan yang akan diambil. Para pakar yang dimintai keterangannya terdiri atas tiga orang, yaitu pertama yang mewakili Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon, kedua yang mewakili Fakultas Perikanan dan ilmu Kelautan UNPATTI Ambon, dan ketiga yang berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

a. Menyusun Alternatif-alternatif Keputusan

Keputusan dalam metode ini terdiri atas 10 alternatif antara lain : 1) Pemulihan sumberdaya ikan

2) Restrukturisasi armada kapal perikanan 3) Pengalihan dan diversifikasi usaha nelayan 4) Peningkatan pendapatan nelayan

5) Peningkatan produksi

6) Peningkatan Ekspor Hasil Perikanan tangkap 7) Penyerapan Tenaga Kerja Non Nelayan 8) Pembangunan Pelabuhan Perikanan

9) Peningkatan Investasi Usaha Perikanan Tangkap b. Kriteria yang penting untuk dievaluasi

Kriteria pembentuk MPE ini adalah ekologi yaitu dinamika perairan pesisir dan faktor keberlanjutan sumberdaya perikanan, ekonomi yaitu kesejahteraan masyarakat dan sosial yaitu kesesuaian dengan karakteristik masyarakat dan SDM lokal, teknologi yaitu ketepatan dan penguasaan penggunaan alat tangkap ramah lingkungan serta hukum dan kelembagaan (Peraturan perikanan formal maupun informal yang berhubungan dengan pengelolaan perikanan tangkap). c. Menentukan tingkat kepentingan untuk setiap kriteria keputusan

Tingkat kepentingan dalam metode ini diperoleh dengan menentukan besarnya bobot dari masing-masing kriteria yang ada. Penentuan besarnya bobot ini dilakukan melalui pendapat pakar. Angka pembobotan ditentukan berdasarkan skala ordinal dengan skala 1 sampai 9. Masing-masing alternatif pun di beri bobot seperti pada Tabel 50.

144

Tabel 50. Alternatif dan skala pembobotannya

No Alternatif Skala Pembobotan

1 Pemulihan sumberdaya ikan 5

2 Restrukturisasi armada kapal perikanan 4

3 Pengalihan dan diversifikasi usaha nelayan 5

4 Peningkatan pendapatan nelayan 4

5 Peningkatan produksi 4

6 Peningkatan ekspor hasil perikanan tangkap 3

7 Penyerapan tenaga kerja non Nelayan 4

8 Pembangunan pelabuhan perikanan 4

9 Peningkatan IPM Nelayan 4

10 Peningkatan investasi usaha perikanan tangkap 4

Sumber : Hasil Analisis Data 2013

Berdasarkan perhitungan MPE diperoleh nilai rata-rata total dari pakar yang diwawancarai. Setiap penilaian tentulah berbeda hingga diperoleh nilai-nilai seperti yang di tampilkan pada Tabel 51

Tabel 51. Nilai total alternatif kebijakan perikanan tangkap

No Alternatif Bobot

Kriteria

Nilai Ekologi Ekonomi Sosial Teknologi Hukum dan

Kelembagaan 1 Pemulihan sumberdaya ikan 5 9 9 9 9 9 295.245 2 Restrukturisasi armada kapal perikanan 4 7 9 9 9 7 24.485 3 Pengalihan dan diversifikasi usaha nelayan 4 7 9 9 9 7 24.485 4 Peningkatan pendapatan nelayan 5 9 9 9 9 9 295.245 5 Optimalisasi produksi 5 9 9 7 7 7 168.519 6 Peningkatan ekspor hasil perikanan tangkap 4 9 9 9 9 9 32.805 7 Penyerapan tenaga kerja non nelayan 4 9 9 9 7 7 24.485 8 Pembangunan pelabuhan perikanan 4 7 7 7 9 7 16.165 9 Peningkatan IPM nelayan 4 9 9 9 7 9 28.645 10 Peningkatan investasi usaha perikanan tangkap 4 7 9 9 7 7 20.325

145

d. Menentukan urutan prioritas keputusan

Langkah terakhir dalam Metode Perbandingan Eksponensial adalah menentukan urutan prioritas keputusan dari seluruh alternatif keputusan yang tersedia. Perankingan dilakukan dengan mengurutkan alternatif keputusan dari jumlah nilai yang terbesar ke nilai terkecil. Dengan adanya urutan ini, maka dapat diperoleh alternatif keputusan yang paling baik untuk kemudian dipilih menjadi sebuah kebijakan pengelolaan.

Berdasarkan hasil tabulasi daftar pertanyaan dan wawancara dengan pakar melalui metode ordinal MPE, diperoleh hasil bahwa prioritas alternatif untuk perikanan tangkap khususnya ikan pelagis kecil di Pesisir Kota Ambon, mulai dari ranking 1 sampai 3 adalah pemulihan sumberdaya ikan, pengalihan dan diversifikasi usaha nelayan dan restrukturisasi armada kapal perikanan (Tabel 52).

Tabel 52. Urutan prioritas alternatif

Alternatif Nilai Rangking

Pemulihan sumberdaya ikan 295.245 1

Pengalihan dan diversifikasi usaha nelayan 267.084 2 Restrukturisasi armada kapal perikanan 32.805 3

Peningkatan pendapatan nelayan 10.821 4

Peningkatan IPM Nelayan 7.861 5

Optimalisasi produksi 7.269 6

Penyerapan tenaga kerja non nelayan 4.901 7

Pembangunan pelabuhan perikanan 3.717 8

Peningkatan investasi usaha perikanan tangkap 2.944 9 Peningkatan ekspor hasil perikanan tangkap 1.134 10

Sumber : Hasil Analisis Data 2013

Berdasarkan hasil perankingan alternatif keputusan, maka dapat diambil sebuah kebijakan pembangunan bidang kelautan di Kota Ambon. Kebijakan yang tepat untuk pengembangan perikanan secara berkelanjutan adalah menfokuskan pembangunan di sektor perikanan, memulihkan sumberdaya ikan pelagis kecil di Pesisir Kota Ambon yang telah mengalami overfishing dimana

146

kelestarian sumberdaya ikan pelagis kecil perlu dijaga. Demikian pula dengan alat tangkap yang digunakan, yaitu purse seine, perlu dikendalikan pertumbuhannya dan diawasi pengoperasiannya sehingga tidak terjadi kelebihan armada penangkapan sumberdaya perikanan pelagis kecil di Pesisir Kota Ambon.

Implikasi kebijakan Sektor Perikanan

Sesuai dengan hasil analisis MPE, ada tiga alternatif kebijakan yang utama dari 10 alternatif, yang dapat dijadikan sebagai strategi dalam penentuan berbagai kebijakan perikanan tangkap ikan pelagis kecil di Pesisir Kota Ambon dengan tidak mengabaikan 7 alternatif atau strategi yang berada pada ranking 4 sampai 10. Berbagai strategi dapat diwujudkan dengan upaya yang tepat.