DAFTAR LAMPIRAN
10) Strategi Kebijakan Peningkatan Ekspor Hasil Perikanan tangkap
Ekspor merupakan salah satu pendapatan devisa Negara. Khusus untuk perikanan tangkap, hasil yang diperoleh jika diekspor masih sangat dipercaya oleh Negara lain, karena kondisi perairan yang cukup baik dengan sumberdaya ikan yang beragam. Dengan demikian nilai jualnya akan sangat tinggi. Beberapa upaya yang dilakukan untuk meningkatkan ekspor hasil perikanan adalah :
Pelaksanaan CCRF (Code of Conduct for Responsible Fisheries) pada perikanan tangkap
Pelaksanaan CCRF ini menjadi asas dan standar internasional mengenai pola perilaku bagi praktek yang bertanggung jawab, dalam pengusahaan sumberdaya perikanan dengan maksud untuk menjamin terlaksananya aspek konservasi, pengelolaan dan pengembangan efektif sumberdaya hayati akuatik berkenaan dengan pelestarian ekosistem dan
160
keanekaragaman hayati. Tatalaksana ini mengakui arti penting aspek gizi, ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya yang menyangkut kegiatan perikanan dan terkait dengan semua pihak yang berkepentingan dan peduli terhadap sektor perikanan. Selain itu juga memperhatikan karakteristik biologi sumberdaya perikanan yang terkait dengan lingkungan atau habitatnya serta menjaga terwujudnya secara adil dan berkelanjutan kepentingan para konsumen maupun pengguna hasil pengusahaan perikanan lainnya.
Perbaikan penanganan ikan hasil tangkapan untuk mempertahankan mutu Ikan yang dikonsumsi tubuh manusia sesungguhnya bermanfaat sebagai sumber energi yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari, membantu pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh, serta untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan kecerdasan. Ikan diperdagangkan dalam keadaan sudah mati maupun dalam kondisi masih hidup dalam air. Pada kondisi hidup tentu saja ikan bukan merupakan masalah. Sebaliknya dalam kondisi mati ikan akan segera mengalami kemunduran mutu. Pada ikan yang mati, akan segera terjadi perubahan-perubahan yang mengarah pada terjadinya pembusukan. Perubahan tersebut terutama disebabkan oleh adanya aktivitas enzim, kimiawi dan bakteri, selain itu semakin tinggi mutu ikan maka semakin tinggi harga jual di pasar lokal, nasional maupun internasional sehingga dibutuhkan penanganan yang baik untuk mempertahankan mutu ikan
Pembinaan penanganan pasca panen hasil tangkapan di atas kapal
Dalam rangka meningkatkan mutu hasil perikanan khususnya ikan pelagis kecil di Pesisir Kota Ambon sekaligus untuk mengurangi resiko kerusakan ikan (perishable fish), meningkatkan nilai ekonomis, meningkatkan efisiensi, serta untuk memenuhi selera konsumen, maka perlu dilakukan penanganan pasca panen yang para pelakunya harus terlebih dahulu memahami kondisi biologi ikan serta penerapan teknologi pasca panen dengan baik, sehingga perlu dilakukan pembinaan.
161
6
SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Simpulan
1) Pemanfaatan sumberdaya perikanan pelagis kecil di Pesisir Kota Ambon akan optimal jika didapatkan produksi sebesar 1.287,61 ton per tahun, menggunakan effort sebesar 2.447,53 trip per tahun dan menghasilkan rente ekonomi sebesar Rp.2.442,58 juta per tahun. Kondisi aktual pemanfaatan sumberdaya perikanan pelagis kecil di Pesisir Kota Ambon adalah sebesar 688,92 ton per tahun, upaya (effort) aktual sebesar 3.717,97 trip per tahun dan rente ekonomi aktual sebesar Rp.(3.564,58) juta per tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan pelagis kecil di perairan Kota Ambon, sudah terjadi overfishing secara ekonomi (economical overfishing) dan secara biologi (biological overfishing). Rata-rata laju depresiasi dan degradasi sumberdaya perikanan pelagis Kecil di Kota Ambon sebesar 0,26 dan 0,25. Hanya pada tahun 2006, sumberdaya perikanan pelagis kecil terdegradasi sebesar 0,76.
2) Status keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya perikanan pelagis kecil menggunakan purse seine di Pesisir Kota Ambon digambarkan dalam lima dimensi, mencakup dimensi ekologi dengan indeks 73,62 (cukup), dimensi ekonomi dengan indeks 70,35 (cukup), dimensi sosial dengan indeks 72,05 (cukup), dimensi teknologi dengan indeks 52,40 (cukup), dimensi hukum dan kelembagaan 79,54 (baik). Berdasarkan Kelima dimensi yang terdiri dari 38 atribut, dapat dinyatakan status keberlanjutan sumberdaya perikanan pelagis kecil cukup sampai baik dengan indeks keberlanjutan antara 52,40 – 79,54
3) Kelembagaan pengelolaan sumberdaya perikanan pelagis kecil maupun perikanan secara keseluruhan di Pesisir Kota Ambon terdiri atas aktor-aktor yang terlibat secara langsung yakni Departemen Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Maluku, Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon, stakeholder desa, pedagang pengumpul, nelayan serta wanita nelayan yang adalah keluarga nelayan maupun bukan keluarga.
162
Khusus untuk alat tangkap purse seine melibatkan mulai dari pemilik, ABK, pedagang, jibu-jibu, masyarakat desa dan nelayan.
4) Urutan prioritas alternatif kebijakan yang harus dilakukan adalah pemulihan sumberdaya ikan, pengalihan dan diversifikasi usaha nelayan, restrukturisasi armada kapal perikanan, peningkatan pendapatan nelayan, peningkatan ipm nelayan, optimalisasi produksi, penyerapan tenaga kerja non nelayan, pembangunan pelabuhan perikanan, peningkatan investasi usaha perikanan tangkap dan peningkatan ekspor hasil perikanan tangkap.
6.2 Saran
1) Dalam upaya mengatasi pengelolaan sumberdaya perikanan pelagis kecil yang telah overfishing secara ekonomi maupun biologi, maka pelaku perikanan tangkap khususnya sumberdaya perikanan pelagis kecil dengan menggunakan purse seine perlu mengutamakan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan pelagis kecil di Pesisir Kota Ambon yang optimal dan berkelanjutan demi tetap menjaga kelestariaannya.
2) Dimensi teknologi perlu diperbaiki karena memiliki indeks keberlanjutan yang paling rendah dengan meningkatkan selektivitas alat tangkap sehingga dapat lebih menjamin kelestarian.
3) Keterpaduan kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya ikan harus melibatkan pihak nelayan, pedagang, swasta dan pemerintah, sehingga mampu secara sinergis mencapai pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan pelagis kecil yang optimal dan berkelanjutan.
4) Berbagai kebijakan yang akan dibuat oleh pemerintah daerah, perlu memperkuat pembinaan nelayan agar dapat secara aktif terlibat dalam pengelolaan kelestarian sumberdaya dan lingkungan di Pesisir Kota Ambon.
163
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini E. 2005. Analisis Biaya Transaksi dan Penerimaan Nelayan dan Petani di Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi. [Tesis] Program Studi Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor
Alder J, Pitcher TJ, D Preikshot, K Kaschner and B Ferriss. 2000. How Good is Good?ARapid Appraisal Technique for Evaluationof the Sustainability Status of Fisheries of the North Atlantic.In Pauly and Pitcher (eds) Methods for Evaluation the Impacts of Fisheries on the North Atlantic Ecosystem Fisheries Research Report, 2000 Vol 8.
Anna S. 2003. Model Embedded Dinamik Ekonomi Interaksi Perikanan Pencemaran. [Disertasi]. Bogor : Institut Pertanian Bogor. Program Pascasarjana.
Adzwar. 2012. PURSE SEINE (PUKAT CINCIN). Metode Penangkapan dan Alat Tangkap Pukat Cincin (Purse seine). Teknika Kapal Penangkap Ikan SMK Negeri 3 Tegal.Tegal.
Badan Pusat Statistik Kota Ambon. 2011. Kota Ambon dalam angka 2010. Ambon
Badan Pusat Statistik Maluku. 2011. Maluku dalam angka 2010. Maluku
Budiharsono S. 2001. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan . Jakarta : Pradya Paramita
Bogdan RN and S Taylor. 1984. Introduction to Qualitative Research Methods. The Search for meanings (2.Auflage).Wiley &Sons :New York. Chichester, Brisbane, Toronto, Singapore.
Charles AT. 2001. Sustainable Fisheries Systems. United Kingdom: Blackwell Science.
Clark CW. 1985. Bioeconomic Modelling and Fisheries Management. John Wiley & Sons. New York
Clark CW and G Munro. 1975. The economic of fishing and modern capital theory. a simplified approach. Journal of Environmental Economics and Management
164
Clark JR. 1996. Coastal Zone Management Handbook.Lewis/CRC Press, Boca Raton, Florida.
Diniah. 2008. Pengenalan Perikanan Tangkap. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB ; Bogor.
Djojohadikusumo S. 1994. Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Indonesia PT Pustaka LP3ES : Jakarta.
Dunn WN. 2003. Analisis Kebijakan Publik. Gajah Mada University Press.Yogyakarta.
[FAO] Food and Agriculture Organization of the United nations. 1999. FAO Species Identification Guide for Fisheries Purposes : The Living Marine Resources of the Western Central Pacific Vol 3-5. Roma.
Fauzi A. 2004. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. PT Gramedia: Jakarta
Fauzi A dan S Anna. 2002. Evaluasi Status Keberlanjutan Pembangunan Perikanan : Aplikasi Pendekatan Rapfish (Studi Kasus Perairan Pesisir DKI Jakarta). Jurnal Pesisir dan Lautan Indonesia Vol 4 (2).
______.2005. Pemodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan, Untuk Analisis Kebijakan. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.
______. 2010. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan ,Teori dan Aplikasi. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.
Gulland JA. 1983. Fish Stock Assesment: Manual of Basic Method. Volume 1, FAO/Wileys Series on Food and Agricultural. Wiley and Sons Inter-sience : New York.
Gunarso W dan D Bahar 1990. Tingkah Laku Ikan. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan.Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Hakim, 2012. PURSE SEINE (Pukat Cincin).Universitas Gajah Mada.Yogjakarta.
Hanley N and CL Splash. 1995. Cost – Benefit Analysis and The Environment. Elgar Publishing. Broofield, VT.
Hartono T, Taryono, A Iqbal dan S Koeshendrajana. Pengembangan Teknis RAPFISH untuk Indikator Kinerja Perikanan Tangkap Berkelanjutan di Indonesia. Buletin ekonomi perikanan Vol. VI
165 Hoogwood, W Brian, A Lewis and Gunn. 1986. Policy Analysis for the real
World. Princeton University Press.Princeton.
Indriantoro N dan B Supomo.(1999). Metodologi Penelitian Bisnis.Yayasan Bina Prestasi Yatim: Yogyakarta.
Islamy MI. 2000. Prinsip Prinsip Perumusan Kebijakan Negara, PT Bumi Aksara : Jakarta.
Kadariah. 1985. Ekonomi Perencanaan. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.Jakarta.
Kavanagh P. 2001.Rapid Appraisal of Fisheries (Rapfish) Project.Rapfish Software Description (for Microsoft Excell).University of British Columbia Fisheries Center, Vancouver.
Kula E. 1984. Derivation of Social Time Preference Rates for The United States and Canada. The Quarterly Journal of Economics XCIX (4)
Kusumastanto T. 2002. Reposisi Ocean Policy dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia di Era Otonomi Daerah.[Orasi Ilmiah}Guru Besar Tetap Bidang Kebijakan Ekonomi Perikanan dan Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor
_____________. 2003. Ocean Policy dalam Membangun Negeri Bahari di Era Otonomi Daerah. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
_____________. 2006. Ekonomi Kelautan (Ocean Economics-Oceanomics). PKSPL-IPB.Bogor.
Kusumastanto et al. 2009. Kebijakan Kelautan Indonesia, Dewan Kelautan Indonesia Jakarta.
Laevastu T andML Hayes. 1981. Fisheries Oceanography and Ecology. Fishing News Books Ltd. London.
Lawson RM. 1984.Economic of Fisheries Development.Fraces Pinter (Publisher) London.
Legendre P. 1983. Numerical Ecology Elsevier Scientific Publishing Company. Laporan Tahunan Pelabuhan Perikanan Nasional Ambon. 2010. Kota Ambon. Mamuaya R. 2008. Pengenalan WIFI (Wireless Fidelity). [online]. Tersedia
:http://www.rampok.org/blog/[Akses: Juni 2008].
Marimin dan Maghfiroh.2011. Aplikasi Teknik Pengambilan Keputusan dalam Manajemen Rantai Pasok. PT Penerbit IPB Press. Bogor.
166
Nasution S. 2003. Metode Research. PT. Bumi Aksara.Jakarta. NazirM. 2009. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia.Bogor.
Nikijuluw VPH. 2002. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. PT. Pustaka Cidesindo. Jakarta.
Nijkamp. 1980. Environment Policy Analysis: Operasional Methods and Models. John Wiley and Sons. New York.
Nugroho R. 2003. Kebijakan Publik, Formulasi, Implementasi, dan Evaluasi. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.
Nontji A. 1987. Laut Nusantara. Djambatan.Jakarta.
NybakkenJ.W. 1988. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Diterjemahkan oleh H M. Eidman, Koesoebiono, D.G. Bengen, M. Hotomo, dan S. Sukardjo.PT. Gramedia. Jakarta.
Pakpahan A. 1990. Permasalahan dan Landasan Konseptual Dalam Rekayasa Institusi (Koperasi). [Makalah] disampaikan pada Seminar Pengkajian Masalah Pengkoperasian Nasional, Badan Litbang Koperasi di Jakarta 23 Oktober 1990. Bogor: Pusat Penelitian Sosial Ekonmi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Parsons W. 2001.Public Policy : An Introduction to the theory and practice of Policy Analysis. (Terjemahan). Edward Elgar Publishing, Ltd.
Partowidagdo W.1999. Memahami Analisis Kebijakan. Program Studi Pembangunan. Program Pascasarjana IPB. Bogor.
Pauly D. 1984. Fish Population Dynamics in tropical water : a manual for use with programmable calculators. ICLARM stud Rev (8)
_______ . 1998. When is fisheries management needed? In Adams, T., Dalzell, P and Roberts, P. (eds) SPC/FFA Workshop on Management of South pacific Inshore Fisheries, Noumea, New Caledonia, Vol 3
Pido MD, RS Pomeroy, LR Garces, and MB Carlos. 1997.A. Rafid Aprasial Aproach to evaluation of Community-Level Fisheries Management Systam Framework and Field Application at Selected CoastalFishing Vilage in the Philippines and Indonesia.
Pitcher TJ. 1999. Rapfish. A. Rapid Appraisal Technique for Fisheries and Its Application to the Code of Conduct for Responsible Fisheries. In AlderRome: Food and Agriculture Organization of the United Nations.
167 Pitcher TJ and MD. Power. 2000. Fish Figures: Quantifying the Ethical Status of
Canadian Fisheries, East and West. In H. Coward., R. Omer., and T.Pitcher. Just Fish: Ethics and Canadian Marine Fisheries. ISER. New Foundland. Canada.
Pitcher TJ and D Preikshot. 2001. Rapfish : A Rapid Appraisel Technique to Evaluate the Sustainability Status of Fisheries. Fisheries Research.
Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. 2002. Indikator Kinerja pembangunan Kelautan dan perikanan. Laporan teknis kegiatan penelitian tahun 2002. PRPPSE. BRKP DKP. Jakarta
Ramsey DL. 2006. Sustainable Bussiness Development. Cambridge University Press. Cambridge.
Satria A. 2002. Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. Cidesindo. Jakarta. Simanjuntak S. (2000). Platform Riset Ekonomi Sumberdaya Perikanan.Forum
Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan.Badan Riset Kelautan dan Perikanan.DKP. Jakarta.
Simatupang P. 2001. Konsepsi Teoritis Analisis Kebijakan Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Laporan Forum Sosial Ekonomi Kelautan I. Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan.Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Singarimbun M dan S Effendi. 2000. Metode Penelitian Survey. (LP3ES) Lembaga Penyelidikan, Penelitian Pengembangan Ekonomi Dan Sosial. Jakarta.
Sitorus MTF. 1998. Penelitian Kualitatif : Suatu Perkenalan. Kelompok Dokumentasi Ilmu Sosial untuk Laboratorium Sosiologi, Antropologi dan Kependududkan Bogor: Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial dan Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Subani W dan HR Barus.1989.Alat Tangkap Ikan.Institut Pertanian Bogor.Bogor Suhana.2008. Analisis Ekonomi Kelembagaan Dalam Pengelolaan Sumberdaya
Ikan Teluk Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi. [Tesis]. Bogor: Program Studi Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sumarno MS. 1992. Pengantar Ekonomi Sumberdaya Alam dan Pengendalian Lingkungan Hidup. Pusat Penerbitan Institut Pertanian Malang. Malang. Susilo M. 2003. Audit Sumberdaya Manusia. PT Bumi Aksara. Jakarta.
168
Suyasa IN. 2007. Keberlanjutan dan Produktivitas Perikanan Pelagis Kecil yang Berbasis di Pantai Utara Jawa. [Disertasi]. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sobari MP, Diniah dan Widiastuti.2009. Kajian Model Bionomi terhadap Pengelolaan Sumberdaya Ikan Layur di Perairan Pelabuhan Ratu. Prosiding Seminar Nasional Perikanan Tangkap.Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK-IPB.
Sobari MP, Diniah dan Isnaini.2009.Kajian Bioekonomi dan Investasi Optimal Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Ekor Kuning di Perairan Kepulauan seribu : Bio-Economics Analysis dan Optimalization investmen of Yellow tairl Resources Utilization In seribu Island Water. Padang: Jurnal Mangrove Bung Hatta
Undang-Undang Republik Indonesia No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan. Undang-Undang Republik Indonesia No. 45 tahun 2009 tentang Perikanan.
WahyudinY. 2005. Alokasi Optimum Sumberdaya Perikanan di Perairan Teluk Pelabuhan Ratu. [Tesis]. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
World Resources Institute. 2001. Coastline Length. World Vector Shoreline, United State Defense Mapping Agency.
171
172