“Silakan duduk.”
Berpasang-pasang mata memperhatikan saat Amanda duduk dengan sikap kikuk yang kentara.Bagaimana tidak? Di depannya duduk seorang cowok tampan, dan…terkenal.
Luisa dan Titi sudah pulang setelah memainkan “drama” yang membuat Amanda jengah. Dua karibnya itu gembira hingga histeris ketika melihat Leon dan tak alpa meminta tanda tangan.
“Kamu benar-benar makhluk beruntung.Biar aku saja yang menggantikanmu kencan dengan Leon ya,” bujuk Titi berkali-kali. Itu yang terjadi begitu mereka tahu ketika Amanda dipastikan mendapat hadiah yang luar biasa menggiurkan itu.
“Aku tidak mau kalian saling bunuh.Jadi, biar aku saja yang mengalah.Walau aku benar-benar nggak tahu bagaimana bentuk makhluk bernama Leon itu,” gurau Amanda. Sejenak gadis itu mengerutkan keningnya. “Kalian yakin dia pemain sinetron? Bukan penyanyi, kan?” tanyanya.
‘Astaga,” Luisa geleng-geleng kepala.“Selama ini kamu hidup di gua ya sampai-sampai tidak tau siapa itu Leon Fabian?” kecamnya tak habis pikir. Luisa memicingkan mata dan menatap Amanda dengan raut takjub. Sementara yang dilihat malah bersikap acuh dan tak peduli.
Heboh.Itulah yang terjadi kemudian, tatkala ketiganya bertemu Leon. Untungnya sang bintang tak tampak kaget. Setelah beberapa kali difoto berdua untuk dokumentasi perusahaan penyelenggara undian ini disusul pulangnya duo biang onar itu, Amanda disuguhi pandangan ingin tahu orang-orang di restoran steak itu.
“Abaikan saja mereka,” cowok itu mengukir senyum indah.Gadis-gadis saling berbisik dengan terang-terangan.
Cowok itu kembali tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak mereka tadi diperkenalkan, Amanda memandang tepat ke mata jernih itu. Baru disadarinya kalau bola mata Leon berwarna coklat.
Diam-diam Amanda “menilai” sosok di depannya. Kulitnya coklat, jangkung, dengan tubuh atletis.Wajahnya bahkan lebih tampan dibanding yang terlihat di sinetron atau iklan.Berhidung tinggi, alis tebal dan rapi, tulang pipi yang indah, dan rambut nan tebal. Namanya bule, tapi tampangnya melayu tulen. Amanda paling suka dengan matanya.
“Kamu mau pesan apa?” Leon memperhatikan daftar menu yang ada di tangannya. Amanda pun sama. Hingga terjadi sesuatu yang membuat keduanya terpaksa menunda untuk memesan makanan.
Setelah sebelumnya saling dorong, dua orang cewek berseragam SMP nekad mendatangi Leon.Untuk apa lagi kalau bukan untuk meminta tanda tangan? Dan yang lain segera mengikuti. Jadilah acara yang tadinya dijadwalkan untuk makan siang, berubah menjadi ajang jumpa fans.
Leon pun menjadi sibuk seketika. Amanda meletakkan daftar menu di meja. Dia tidak menyangka akan berhadapan dengan situasi seperti ini. Pihak panitia pun sepertinya tidak mengantisipasi hal ini. Sehingga tidak ada semacam pencegahan untuk membuat acara “kencan” ini benar-benar steril dari gangguan fans. “Hmm, ternyata cowok ini bener-benar populer,” desah Amanda dalam hati.
Amanda membuang pandangan ke langit yang luas. Matanya menangkap contrail1
yang mulai samar. Matahari tersaput mendung yang kian jelas. Sepertinya hujan akan segera turun.
Amanda gadis mungil yang hanya sedikit lebih tinggi dari bahu Leon. Wajahnya tidak terlalu cantik tapi punya daya tarik yang tak bisa diabaikan.Apalagi dengan lesung pipinya.Rambut sehatnya menyentuh punggung dengan bagian ujung yang ikal.Hanya bagian ujungnya, tapi terlihat cantik sekali. Amanda berbibir tipis, dengan mata lebar yang cantik. Hidungnya mungil, namun sangat proporsional. Dagunya lancip, dengan wajah berbentuk hati.
Sesungguhnya dia tidak punya keinginan memenangkan hadiah “Kencan Sehari Dengan Leon”.Amanda mengikuti undian yang diadakan sebuah perusahaan minuman isotonik karena mengincar hadiah utamanya, sebuah netbook canggih. Itu adalah netbook idamannya yang rencananya akan menggantikan kedudukan komputernya tersayang. Tapi ‘malangnya’ dia justru memenangi hadiah kedua. Dan disinilah ia berada bersama sang
bintang iklannya. Sebenarnya, kencan sehari tak lebih dari makan siang beberapa jam.Judulnya saja yang bombastis.
Amanda memang keranjingan ikut undian.Hampir semua jenis undian pernah diikutinya.Dia pernah memenangi Ipod, sepeda gunung, dan handphone.Cukup lumayan meski dia belum pernah sukses menggondol hadiah utama. Ini kesempatan pertamanya, hadiah yang justru tidak diminatinya.
“Ayo kita pergi dari sini,” Leon menarik tangan Amanda dengan tergesa. Lamunan Amanda pun terputus dengan paksa.“Kalau kita terus disini, antrian yang minta tanda tangan akan semakin panjang,” imbuh Leon lagi.
Amanda mengikuti dengan langkah terseok.Cowok ini memiliki langkah-langkah kaki yang panjang.Amanda yang mungil harus mengeluarkan usaha ekstra untuk mengimbanginya.
Mereka meninggalkan restoran steak itu dan segera menuju mobil Leon yang diparkir tak jauh dari pintu masuk.
“Pasti kamu sering mengalami peristiwa kayak tadi,” desis Amanda sambil memasang sabuk pengaman.
“Lumayan.”Leon berkonsentrasi menyetir.Sekilas Amanda memperhatikan SUV2
keren yang ditumpanginya ini.Tak banyak berisi pernak-pernik seperti mobilnya.Simple tapi nyaman. Yang menonjol mungkin hanya seperangkat stereo set yang harganya jelas tidak murah.
Mereka menyusuri jalanan kota Bogor yang selalu ramai. Gerimis mulai menitik satu persatu membasahi kaca jendela. Amanda tak pernah membayangkan bahwa ada hari ini dalam hidupnya Cewek lain mungkin sudah semaput karena bahagia, atau pingsan karena kehabisan oksigen. Akan tetapi dia biasa saja. Lain cerita kalau sosok disebelahnyaadalahMichael Schumacher3.
“Maaf ya, ‘kencan’ kita jadi berantakan.Tadinya kukira makan disitu lebih nyaman.Itu dulu tempat favoritku.”
“Dulu?”
“Sebenarnya masih sampai sekarang.Tapi aku sudah hampir setahun tidak pernah kesitu lagi.Biasa, jadwal syuting terlalu padat,” bilang Leon.
2SUV (Sport Utility Vehicle) merupakan jenis kendaraan penumpang yang digabungkan dengan kemampuan membawa barang.
“Panitia tidak membuat persiapan dengan baik. Mereka harusnya sudah mempertimbangkan masalah kayak gini,” ulas Amanda. Lalu dia tiba-tiba merasa tidak sopan. “Ups, maaf.”
Leon tertawa kecil. “Minta maaf untuk apa? Aku yang minta acara hari ini jangan ribet dengan aturan.”
“Wajahmu terlalu familiar. Makanya cewek-cewek langsung berbaris, kayak antre sembako.”
“Mungkin.Tapi tidak untukmu. Buat kamu, wajahku tidak familiar, kan?” Amanda mengernyitkan dahinya.Bagaimana dia bisa tahu?
Pikiran Amanda seolah terpantul di udara dan didengar Leon. Cowok itu pun menjelaskan. “Aku tadi melihatmu celingukan saat temanmu histeris dan menunjuk kearahku.Padahal hanya ada dua orang cowok disitu.Dan yang satunya masih terlalu muda untuk berumur 21 tahun.”
Amanda merasa tak enak. “Maaf,” ujarnya.
Leon terkekeh geli. Cowok itu melirik ke arahnya sekilas. “Kalau boleh tahu, kenapa? Selama ini aku mengira kalau wajahku ini gampang dikenali. Jadi agak syok waktu ada remaja cewek yang... sebaliknya,” akunya.
Amanda benar-benar merasa serba-salah. Apa yang harus dikatakannya? “Kamu benar-benar mau tau?”
Leon mengangguk. “Yup. Jawaban yang jujur, ya?”
Apa boleh buat. Amanda juga merasa kalau memberikan jawaban basa-basi tidak ada untungnya. “Sebenarnya, aku nggak suka... sinetron. Aku lebih suka nonton film-film dokumenter, serial Korea, atau The Biggest Loser4,” katanya jujur. Ya, untuk apa berpura-pura? Walau dilanda gelombang ketidaknyamanan, namun Amanda merasa lebih baik bicara apa adanya. Toh mereka cuma bersama selama beberapa jam.Ada baiknya Leon tahu bahwa tak semua orang memujanya.
‘Tak suka sinetron? Kenapa?” Leon dipenuhi penasaran. “Masih mau jawaban jujur?” gurau Amanda.
“Iya, dong!” tukas Leon.
Amanda tertawa kecil.“Aku tahu sinetron ratingnya tinggi, tapi maaf sekali ceritanya hmm... nggak mendidik.Banyak adegan kekerasan atau kata-kata makian.Bikin serem.Dan
4 Sebuah acara reality show dari Amerika yang menayangkan perjuangan sekelompok orang gemuk untuk menurunkan berat badan dengan cara diet dan olahraga yang cukup keras. Pemenang utamanya berhak untuk
hampir semua menampilkan kisah yang mirip. Anak yang tertukar, rebutan harta, atau rebutan cowok. ”
Leon tertawa.Mata coklatnya menyipit.“Pantas saja kamu nggak kenal aku.Padahal penggemarku paling banyak seusia kamu.Aku berani bertaruh, kamu pasti nggak senang menang hadiah ini,” tebaknya. Leon hanya bermaksud bercanda, namun dia kaget ketika Amanda terdiam. Penasaran, cowok itu melirik ke samping dan melihat wajah Amanda merah padam.
“Sejujurnya saja sepuluh menit yang lalu jawabanku adalah ‘iya’.Aku naksir netbook-nya,” tutur Amanda blak-blakan. Sudah kepalang, tidak perlu lagi untuk berpura-pura, pikirnya.
“Kenapa sepuluh menit bisa mengubah pendapatmu?”Leon penasaran.
“Kamu ini penuh rasa ingin tau ya? Banyak pertanyaan.Apa nggak terpikir kalau aku juga suka rahasia?” elak Amanda.
Leon tersenyum lagi. Suaranya seakan bergema di dalam mobil. “Terus terang aja, cewek seperti kamu itu langka untukku. Sejak dikenal publik, baru kali ini ada orang nggak suka ketemu aku, kencan lagi. Maaf, bukannya aku bermaksud sombong ya.Cuma rasanya gimanaaa gitu ternyata ada orang yang anti sinetron.Berarti hasil survei rating acara televisi nggak mewakili, dong!”
Amanda tertawa dengan bahu terguncang lembut.Lesung pipinya begitu menawan.Tawanya menulari Leon.Cowok itu pun akhirnya ikut melepas gelak.
“Astaga,” tiba-tiba wajah Leon berubah pias dan beberapa detik kemudian mobilnya diparkir dengan tergesa di pinggir jalan. Amanda kaget bukan kepalang.
“Ada apa?Kamu menabrak sesuatu?Atau melanggar rambu lalu lintas?Ada syuting?” tanyanya panik.
Mereka bertatapan. Dan dengan suara rendah untuk menutupi rasa malu, Leon berbisik, “Dompetku ketinggalan...”
Kali ini Amanda tak bisa menahan diri.Tawanya meledak tanpa henti sementara Leon hanya terperangah tanpa kata.
“Aku kira kita menghadapi bencana besar.Ternyata cuma masalah dompet. Astaga, keningku hampir saja benjol kalau saja tidak pakai sabuk pengaman.”
Leon menggeleng tidak setuju. “Bagiku ini masalah besar. Apalagi aku kan harus traktir kamu. Kartu identitas, ATM, dan kartu kredit di dompet semua.Mati aku,” Leon menepuksetir dengan gemas.Dari arah belakang terdengar suara klakson yang
bersahut-Amanda menjadi panik. “Ayo kita jalan, jangan sampai dimarahi orang apalagi ditilang. Ayo!”
Leon memang menurut tapi wajahnya masih berwarna-warni.Sebentar merah sebentar pucat.
“Aku telepon manajerku dulu ya.”
“Buat apa?Mau minta duit? Emangnya kamu mau makan apa? Biar aku yang traktir.Ini kehormatan untukku lho,” sergah Amanda. Bintang sinetron itu terpana mendengar kata-katanya itu.
Tentu saja Leon menolak mentah-mentah, tapi Amanda terus membujuk tak putus asa. “Ayolah, jangan gengsi.Ini nggak akan masuk infotainment, kok. Atau begini saja, aku ajak kamu ke tempat makan favoritku.Gimana?” Amanda memberi alternatif.
Leon tampak serba salah.Harga dirinya sebagai cowok dan kebetulan selebriti cukup menyulitkan.Dibayarin makan oleh cewek asing yang jadi kencannya?Bagaimana kalo perusahaan minuman isotonik yang mengontraknya jadi bintang iklan mengetahui hal ini? Bisa rusak namanya.Bukankah mereka telah memberinya aneka fasilitas dan kemudahan untuk acara ini?Dan bukankah dia sendiri yang ingin kencan ini berjalan lebih personal sehingga menolak ditemani siapapun?
Tapi tampaknya Amanda tak mengenal penolakan.Gadis mungil yang tampak lembut itu, ternyata sangat keras kepala. Dan disinilah mereka akhirnya terdampar.Di sebuah rumah makan sunda dengan bangunan bergaya tradisional. Sekelilingnya dilapisi anyaman bambu. Amanda memilih area lesehan yang letaknya agak di belakang dan dibangun diatas kolam ikan.Suara gemericik air tanpa henti yang keluar dari pancuran bambu memberi efek menenangkan.
“Kamu sering kesini?” sebenarnya itu pertanyaan bodoh.Saat mereka masuk, Amanda langsung disapa penuh keakraban oleh para pelayan.Harusnya itu menunjukkan seberapa sering gadis itu ke tempat ini.
“He eh,” Amanda mengangguk.Lalu dengan cekatan dia segera menulis pesanan. “Tolong tuliskan pesananku sekalian,” sindir Leon halus.
“Tenang aja, aku pilihkan makanan yang enak untukmu. Biar wajahmu nggak pucat terus.”
Leon tersenyum pahit.Tadi pagi bila ada yang bertanya apakah mungkin dia ditraktir cewek asing, tanpa pikir dia pasti menjawab TIDAK MUNGKIN. Akan tetapi, saat ini dia tidak punya pilihan lain.
Harus diakui, tempat makan pilihan Amanda tidak jelek.Makanannya pun enak.Entah sudah berapa lama Leon tidak menyantap makanan seperti ini. Ayam goreng, karedok, sambal terasi, dan tempe bacem. Nikmatnya.
Tapi Leon ternganga melihat Amanda yang dengan gesit menghabiskan 2 potong ayam goreng, hampir sepiring karedok, dan dua porsi nasi putih.Astaga.Benar-benar bukan cewek biasa, pikirnya.
“Jangan kagum begitu,” Amanda terkekeh sembari mendorong piringnya yang sudah licin. Amanda sendiri tidak tahu mengapa dia bisa merasa nyaman dengan cowok ini. dia bahkan tak sungkan melemparkan gurau. Andai Titi dan Luisa melihat ini, tak terbayang komentar pedas mereka. Apalagi jika mengingat bagaimana Amanda sempat ogah-ogahan dengan hadiah ini.
“Baru kali ini aku ketemu cewek gembul kayak kamu.”
“Aku nggak pintar pura-pura walau di depan seleb top. Cewek-cewek yang ketemu kamu pasti jaim.Kalo aku nggak sanggup begitu.”
Leon geleng-geleng kepala.Cewek ini sangat benar.
“Oh ya, aku berterimakasih karena kita batal makan di restoran steak tadi.Aku punya sebuah rahasia kecil,” Amanda memajukan tubuhnya.Matanya berbinar jenaka. “Aku benci steak,” bisiknya.
Ponsel Leon tiba-tiba berdering. Cowok itu beranjak dari tempat duduknya dan menjauh sebelum menjawab telepon.Amanda hanya bisa mendengar beberapa kata. Kencan…bencana….fans…dompet…sebentar lagi…
Tiba-tiba Amanda merasa jengah pada dirinya sendiri. Hei, mengapa dia merasa nyaman bersama Leon?Jauh dari bayangannya sebelumnya? Semula dia kira akan bertemu sosok angkuh nan sombong. Amanda juga menerka kalau acara “kencan” ini akan menjadi siksaan paling kejam di usia remajanya.
“Pacarmu ya?” tebaknya seenaknya.
“Manajerku,” Leon merasa tak perlu menjelaskan lebih jauh.Toh, Amanda bisa dapat info tentang dirinya dengan gampang.Tapi dia langsung ingat kalau gadis tidak pernah menonton sinetron. Dan sepertinya gosip selebriti juga.
“Aku belum punya pacar.Susah mencari orang-orang yang mencintaiku apa adanya. Mencintaiku bukan sebagai Leon Fabian, tapi sebagai Leo Rusdiana.” Leon menyesap minumannya perlahan.
Amanda mati-matian menahan tawa.Dia tidak ingin Leon tersinggung dan merasa dilecehkan. Namun Amanda bisa membaca tawa di mata cowok itu. Mungkin dia pun merasa geli juga.
Leon tiba-tiba bersuara. “Maaf ya sepertinya aku harus pulang sekarang.Ada janji dengan klien mau fish spa5.”
“Kamu mau fish spa?” Amanda melongo.Dia bukan cewek kolot, tapi tetap saja ada banyak hal yang membuatnya terkaget-kaget.Leon mengangguk.
“Maaf kita terpaksa pisah disini,” Leon kemudian merebut ponsel Amanda dan mulai memencet keypad dengan cekatan.Kemudian dia menelepon ke ponselnya sendiri dan menyimpan nomor Amanda.
“Nomor pribadiku udah disimpan.Cuma keluarga dan manajemen yang tau nomor ini.Sekali lagi maaf karena ‘kencan dengan Leon’ jadi kacau.”
Amanda tersenyum manis. Mereka bertatapan.“Kencan denganmu ternyata mengasyikkan, kecuali bagian dimintai tanda tangan tadi.Makasih ya,” gumamnya dengan suara perlahan.
“Bayar dulu makanan kita.Aku janji nanti kuganti duapuluh kali lipat,” Leon mengingatkan Amanda.
“Mana dia punya duit untuk bayar,” sesosok tubuh tinggi besar yang mengingatkannya pada beruang grizzly6 muncul tiba-tiba. Membuat jantung Leon terasa berhenti berdetak dan lepas dari tempatnya. Langsung terbayang di benaknya berita heboh di infotainmen.
Amanda tergelak. “Jangan bikin dia takut, Om!Lihat, wajahnya udah nggak berdarah.”
Lalu Amanda berbalik ke arahnya. “Ini restoran nenekku, jadi kita nggak perlu bayar. Sebenarnya... dompetku juga ketinggalan di mobil temanku tadi,” Amanda tersenyum nakal.Lesung pipinya tercetak indah. Leon hanya bisa bengong tanpa kata.Perlahan, dia merasa hidup lagi. Jantungnya kembali berdetak normal. Tulang-tulangnya yang serasa menjadi jeli, sudah kembali.
Hadiah undian itu berbuah kencan nyata kemudian.Leon dan Amanda memutuskan untuk melangkah di atas selera mereka yang saling berpunggungan. Leon tetap dengan segala kesibukannya di dunia entertainmen, dan Amanda yang masih tetap saja tidak bisa menyukai sinetron. Meskipun sang kekasih yang menjadi bintangnya.
5 Spa yang dilakukan dengan bantuan ikan Garra Rufa yang bertugas menghilangkan sel kulit mati dengan cara menggigiti kulit manusia.
Catatan : Cerpen ini menjadi juara 1 pada lomba cerpen tabloid Gaul tahun 2009 dan pernah dimuat di majalah Story. Cerpen ini sudah mengalami sedikit perubahan.