Step by Step : Dari Ide Hingga Menjadi Novel
E. Mulai Merangkai Kata
Setelah sinopsis per bab selesai dan dianggap matang, maka kini tiba saatnya untuk mulai merangkai kata. Anda mulai menguraikan bab demi bab yang gambarannya sudah tertulis jelas di sinopsis.
Sinopsis adalah panduan dalam mengembangkan naskah. Sinopsis dapat dikatakan sebagai kompas yang akan memandu Anda dalam menghasilkan cerita. Bagaimana cara mengembangkan sinopsis? Semuanya tentu saja terpulang kepada Anda pribadi, sebagai penulis.
Sinopsis per bab adalah modal dasar yang menjadi peta bagi penulisnya. Anda tentu sudah memiliki bayangan yang sangat jelas mengenai kisah yang akan diangkat. Itulah sebabnya sangat penting untuk membuat sebuah uraian yang sangat detail sehingga konsep benar-benar matang. Setelah itu, tugas penting Anda selanjutnya adalah mengurai tiap bab dalam jalinan cerita yang indah.
Saat akan menulis, Anda seharusnya sudah memiliki bayangan berapa lembar halaman naskah yang akan selesai nantinya. Misalnya begini, Anda berhasil membuat sinopsis untuk 10 bab. Sementara penerbit yang Anda tuju memberi isyarat kalau mereka menerima naskah minimal 150 lembar. Maka, tiap bab nantinya harus diubah menjadi 15 lembar halaman. Itu minimalnya. Dan jika bisa lebih, akan semakin bagus pula. Karena
ketebalan naskah 150 lembar A4 dengan spasi 1,5, kelak ketika sudah menjadi novel hanya berkisar 200 halaman saja. Dan rasanya novel dengan halaman sejumlah itu tidak bisa dikatakan cukup tebal, bukan? Karena ada banyak penulis yang merasa kurang bisa bereksplorasi dengan halaman sejumlah itu. Semakin banyak sinopsis per bab yang Anda buat, semakin besar kesempatan untuk melakukan pengembangan cerita. Kian banyak jumlah halaman, naskah Anda semestinya semakin kaya dengan aneka konflik dan penyelesaiannya juga.
Sedapat mungkin, hindari melakukan pengulangan karena akan membosankan bagi pembaca. Manfaatkan geliat imajinasi yang begitu bergelora di kepala Anda. Sehingga membuat cerita menjadi kaya.
Sekadar mengingatkan, pilihlah kata-kata menarik untuk memperindah naskah Anda. Jangan mau hanya terpaku untuk memilih kata-kata yang standar dan sudah banyak digunakan orang. Tapi bukan berarti dalam setiap paragraf Anda harus memutar otak demi mencari kalimat cantik. Jangan sampai menjadi beban karena nantinya menulis menjadi hal yang tidak menyenangkan. Jangan lupa untuk selalu memelihara api gairah karena sangat berpengaruh pada kualitas tulisan. Jika seseorang sudah kehilangan gairah, apa pun yang dilakukan pasti tidak lagi maksimal.
Jadi, uraikan bab demi bab yang sudah Anda buat gambarannya dengan kegembiraan dan kegairahan yang besar. Karena nantinya pembaca pun akan turut merasakan luapan perasaan yang Anda paparkan.
Ada baiknya kalau Anda menetapkan taget penulisan suatu naskah. Namun, pastikan kalau target Anda masuk akal. Jangan terlalu berlebihan atau terlalu keras pada diri sendiri. Karena pada dasarnya Andalah yang paling tahu dan mengerti sampai sejauh mana kemampuan Anda. Jangan memaksakan diri untuk melakukan hal-hal di luar batas kekuatan yang Anda miliki. Karena bisa-bisa nantinya Anda malah merasa frustasi karena gagal mencapai target.
Gambar 22. Kesulitan saat penulisan dapat diatasi dengan mematangkan ide semaksimal mungkin.
Sumber : mocoo.files.wordpress.com
Oh ya, banyak yang mengeluhkan sulitnya membuat novel dengan jumlah halaman mencapai ratusan. Umumnya penulis merasa kekurangan bahan atau ide sehingga cerita sudah kelar lebih singkat dari yang seharusnya. Ini bukan masalah pemula atau tidak, loh! Karena banyak penulis top yang sudah terbiasa menulis cerpen akan merasakan kesulitan yang sama.
Ini masalah kebiasaan. Bukan tentang senior atau junior.
Ketika Anda sudah terbiasa menulis cerpen, tentu tidak akan sulit kalau diminta menulis sepuluh halaman, bukan? Namun, jika jumlahnya digandakan menjadi dua puluh atau tiga puluh, pasti ada kesulitan yang harus ditaklukkan. Itu adalah sesuatu yang sangat wajar, kok!
Itulah gunanya sinopsis per bab. Terutama untuk Anda yang belum terbiasa menulis dalam jumlah banyak. Kehadiran sinopsis yang merinci garis besar cerita tiap bab akan sangat bermanfaat. Ini bisa menghindarkan Anda dari pengembangan cerita yang di luar kontrol.
Seperti yang sudah saya ingatkan sebelumnya, berpatokanlah pada sinopsis yang sudah Anda buat. Kalaupun di tengah jalan ada sedikit tambahan yang dirasa membuat ramuan cerita kian jempolan, tidak ada salahnya. Hanya saja, jangan pernah melakukan perombakan secara berlebihan, apalagi besar-besaran. Pastikan semuanya dalam porsi yang sepatutnya.
Saya ingin berbagi sedikit pengalaman pribadi. Saya belum berpengalaman menulis naskah dalam jumlah banyak. Di awal-awal, tingkat kesulitannya sangat tinggi. Apalagi saya tidak menggunakan jasa sinopsis per bab sama sekali. Hal itu membuat produktivitas saya sangat rendah. Jika ide sedang membludak, saya bisa menulis lebih dari sepuluh halaman. Tapi itu tidak selalu terjadi, loh! Ada kalanya saya hanya bisa menekuri layar monitor selama berjam-jam tanpa menambahkan satu huruf pun di sana. Dan kadangkala itu terjadi selama beberapa hari berturut-turut.
Setelah menyiapkan sinopsis terlebih dahulu, pekerjaan saya menjadi lebih mudah. Itulah sebabnya saya menyarankan Anda untuk membuat sinopsis sedetail mungkin. Kian rinci, kian bagus pula.
Anda tentu pernah mendengar peribahasa yang berbunyi “Alah bisa karena biasa”, kan? Kira-kira artinya adalah kita akan memiliki kemampuan yang baik jika sudah terbiasa mengerjakan sesuatu. Atau dengan kata lain, latihan akan meningkatkan performa seseorang. Dan itu merupakan sebuah pendapat yang sangat benar dan harus Anda yakini dengan sepenuh hati.
Sejak remaja saya terbiasa menulis cerpen. Puluhan di antaranya sudah berhasil menembus media nasional dan dimuat. Saya sempat vakum menulis saat bekerja dan kemudian berumah tangga. Dan tahu-tahu sudah berlalu sekitar tiga belas tahun! Saat mulai menulis lagi, saya pun dilanda kegamangan. Saya sangat cemas kalau waktu yang panjang sudah mengambil kemampuan saya menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan. Ketika mulai lagi, wajar jika banyak kesulitan dan kesalahan.
Tapi entah kenapa saya tiba-tiba punya hasrat untuk menulis novel. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, novel pertama sedianya ditulis khusus untuk lomba. Perjuangan untuk menyelesaikannya pun tidak mudah. Begitu juga dengan novel kedua. Namun kemudian saya berusaha mengubah pola pikir untuk membuat pekerjaan yang saya cintai ini menjadi lebih mudah.
Bagaimana caranya? Saya menganggap kalau menulis novel adalah menulis beberapa cerpen sekaligus. Bedanya, cerpen-cerpen saya mempunyai hubungan yang sangat erat. Jadi, ketika menyelesaikan satu bab, saya beranggapan sedang menuntaskan sebuah cerpen. Lalu ketika berlanjut ke bab selanjutnya, saya pun berpindah ke cerpen baru. Hanya saja cerpen baru saya memakai tokoh yang sama dengan “cerpen lama”. Dan ceritanya pun merupakan lanjutan dari kisah sebelumnya. Begitu seterusnya. Dan buat saya pribadi, hal itu ternyata cukup berhasil.
Ketika membayangkan novel yang panjangnya ratusan lembar, tanpa sadar ada yang menyerah di dalam diri Anda. Dan memang banyak sekali penulis yang mengaku tidak sanggup karena “tidak bernapas panjang”. Saat kita mengubah strategi dan hanya memikirkan kumpulan cerpen, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Anda pasti dipenuhi kebulatan tekad. Bukankah selama ini terbiasa mengutak-atik cerpen? Apalah artinya kalau hanya – katakanlah- menulis dua puluh cerpen? Andai Anda mampu menulis satu buah cerpen sehari, dua puluh bab bisa diselesaikan hanya dalam waktu sekitar tiga minggu saja, bukan? Bukankah itu cukup cepat?
Mungkin Anda akan membantah dan menganggap saya mengada-ada. Saran saya, coba saja ikuti dulu cara yang saya lakukan. Anda pasti akan terkejut dengan hasilnya.
terjadi memang demikian. Sebaliknya, bila kita tidak menganggap ada kesulitan berarti, maka semuanya cenderung lancar. Jadi, biarkan otak kita berpikir bahwa pekerjaan ini tidak sukar. Maka kenyataan akan mengikutinya.
Nah, hal seperti ini pada dasarnya sama saja dengan banyak pekerjaan lainnya. Jika kita bisa mengeset pola pikir dan mengidentikkan banyak hal dengan “mudah” atau “aku pasti bisa”, tidak akan ada problema yang tidak bisa ditaklukkan. Sebaliknya, begitu kita merasa semuanya serba sulit, maka kenyataan menjadi begitu berat. Sangat penting bagi kita untuk selalu berpikir positif agar apa pun yang kita lakukan di dunia ini akan menuai hasil yang positif pula.