Step by Step : Dari Ide Hingga Menjadi Novel
B. Menyiapkan Karakter
Setelah mendapatkan ide yang menarik, saat bagi Anda untuk mulai menyiapkan karakter yang akan mewakili Anda menjalin kisah. Karakter ini bukan hal main-main, loh! Itulah sebabnya Anda harus menyiapkan si tokoh utama ini dengan sebaik-baiknya. Karena merekalah yang akan menggerakkan cerita. Sebagai sutradara, adakalanya seorang penulis “tidak berdaya” dan mengikuti ke arah mana tokohnya hendak berjalan. Penulis tunduk pada karakter ciptaannya.
Mengapa bisa demikian?
Karena idealnya seorang tokoh itu berkembang sesuai dengan karakternya. Jika Anda menciptakan tokoh utama yang sifatnya pemalu, apakah Anda bisa membayangkan orang tersebut bernyanyi sambil menari lincah di depan serombongan penonton? Atau perempuan berkarakter meledak-ledak akan kontras sekali jika dilukiskan lemah lembut dan punya kesabaran tingkat tinggi.
Sekadar masukan, pilihlah karakter yang unik dan punya ciri khas. Agar pembaca mudah terkenang pada tokoh ciptaan Anda. Itulah sebabnya sangat penting memikirkan dengan detil semua hal tentang karakter yang akan mengambil perang utama dan penghuni panggung pertunjukan Anda.
Dulu, saya anti dengan sinopsis. Artinya, sebelum mulai menulis sebuah naskah, saya tidak membuat sinopsis dengan detil. Saya hanya berpegangan pada sebuah ide besar saja karena saya ingin tulisan saya mengalir tanpa perencanaan. Saya benar-benar mengandalkan imajinasi yang bermain ketika sedang mengetik. Jadi, apa yang saya tulis sangat dipengaruhi oleh kondisi saya saat menulis.
Ada hal positif yang saya dapatkan dengan cara seperti ini. Hal-hal yang terkadang tidak terpikirkan malah melintas di kepala seperti kilat. Dan jika tidak buru-buru dieksekusi, saya sering kehilangan jejaknya. Buat saya pribadi, pengalaman seperti ini benar-benar sangat pribadi. Sulit diungkapkan dengan kata-kata bagaimana rasa puas itu kemudian memeluk saya.
Menurut pendapat (bodoh) saya ketika itu, cara seperti ini menjaga kemurnian tulisan saya. Hingga akhirnya saya lebih banyak berdiam diri di depan laptop yang terbuka tatkala ide enggan muncul. Dan inilah yang terjadi. Waktu terbuang sia-sia karena tidak ada ide yang
bisa ditulis. Semuanya terasa hampa dan menyulitkan. Wah, kalau sedang dalam kondisi seperti ini, saya tidak punya kekuatan untuk melakukan apa pun. Selain hanya membuang waktu yang berharga.
Saran dari seorang teman yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan, bikin sinopsis perbab lebih dulu. Pilih karakter yang punya kekhasan, jelaskan dengan detail dalam sebuah catatan khusus.
Awalnya saya ogah-ogahan menerima masukannya. Saya bahkan mempertanyakan mengapa perlu dibuat penjelasan tentang karakternya. Teman saya menjawab singkat dan padat. “Supaya karaktermu konsisten.”
Akhirnya saya pun mencoba mengikuti sarannya. Sebenarnya bukan karena merasa cara ini lebih berhasil, melainkan sekadar ingin mencoba. Saya pun mulai mempersiapkan karakter tokoh dengan matang. Ternyata, hasilnya luar biasa! Teman saya benar, karakter rekaan saya menjadi konsisten. Kalau ada yang agak terlupa, saya tinggal melihat uraian tentang karakter si tokoh. Sehingga naskah pun terjaga. Tokoh tidak melakukan hal yang di luar kebiasaannya.
Dalam mereka sebuah karakter, ada beberapa hal yang sebaiknya mendapat perhatian dari Anda. Apa sajakah itu?
1. Paparkan dengan detail
Sebagai penulis, Anda harus bisa memaparkan dengan rinci tentang semua karakter di naskah Anda. Terutama untuk karakter utama. Semakin detail justru semakin bagus. Sehingga Anda benar-benar mengenal tokoh rekaan yang akan Anda tuliskan kisahnya.
Tuliskan di tempat khusus tentang ciri-ciri fisik sang tokoh. Mulai dari tinggi, ciri fisik tertentu, atau kelebihan yang dimilikinya. Demikian juga dengan sifat-sifatnya. Apakah galak, cerewet, suka mengatakan kalimat tertentu. Pokoknya segala hal yang melekat padanya.
Kelak, deskripsi tentang tokoh utama ini bisa digambarkan dengan beragam cara. Mulai dari dialog tokoh utama atau tokoh lainnya, perjalanan cerita yang berliku, atau penjelasan Anda sendiri. Padukan semuanya dalam tulisan Anda sehingga pembaca juga bisa “melihat” si tokoh sesuai gambaran yang diberikan. Dan akhirnya bisa membayangkan sosoknya.
Gambar 19. Sosok tokoh-tokoh utama di novel ini digambarkan dengan cukup terperinci.
Sumber : dok. pri
Diam-diam aku memperhatikannya. Lelaki ini berambut legam dengan mata mirip almond dan bola mata coklat yang menarik. Alis hitam dan tebalnya tampak kontras dengan warna kulitnya yang terang. Bibirnya tipis dan kemerahan, menandakan dia bukan seorang perokok. Giginya putih dan rapi. Juga ada hidung yang langsing dan sangat pas dengan semua yang ada di wajahnya. Lelaki ini mewakili kata “kesempurnaan”. (Black Angel, halaman 138)
Mengapa ini penting? Karena jika tidak mendapat porsi yang tepat untuk menggambarkan sosok sang tokoh utama, pembaca mungkin hanya bisa meraba-raba. Sehingga tokoh utama ini pun seolah berdiri di balik kabut, tidak terlihat jelas. Kita tahu dia ada, namun tidak bisa menjelaskan bagaimana dirinya. Bagi pembaca, itu sesuatu yang kurang nyaman.
Jadi, jangan hanya menggunakan kata “tampan”, “cantik”, atau “menawan” saja. Karena maknanya sangat luas. Tampan versi Anda belum tentu mewakili tampan versi saya. Begitu juga sebaliknya. Sehingga perlu diberikan penjelasan yang benar-benar rinci.
Selain fisik, jangan lupakan juga sifat-sifatnya. Bahkan bila memungkinkan latar belakangnya. Sehingga pembaca lebih kenal lagi. Kalaupun ada sifat atau trauma tertentu, pembaca dapat memaklumi hal itu setelah mengetahui alasannya. Ya, setiap akibat pasti ada sebabnya. Dan semuanya harus diuraikan dengan jelas supaya terlihat hubungannya.
2. Sesuaikan dengan tema cerita
Tema apa yang ingin Anda angkat? Jangan menulis naskah komedi dengan tokoh-tokoh yang serius. Karena hal itu akan menjadi sebuah hal yang tidak sesuai. Jadi,
pastikan tokoh-tokoh cerita Anda sesuai dengan tema yang diusung. Sehingga cerita pun menjadi padu dan tidak memberi kesempatan pada orang lain untuk mengernyitkan dahi. Setuju?
3. Karakter jangan hanya hitam dan putih
Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna baiknya dan sempurna pula jahatnya. Manusia adalah makhluk yang lemah dan kadang tidak mampu menghalau godaan. Kita maklum itu. Manusia juga sering berbuat kesalahan, entah itu disengaja atau sebaliknya.
Jadi, munculkanlah karakter yang manusiawi dalam novel Anda. Jangan buat tokoh yang sangat baik dan kesannya tidak bercacat. Demikian jgua sebaliknya, jangan ciptakan tokoh yang hanya mampu berbuat kejahatan belaka. Percayalah, manusia tidak seperti itu. Tidak hanya hitam dan putih. Adakalanya kita menginjak wilayah abu-abu. Di mana antara hitam dan putih begitu absurd dan kadang sulit untuk dipilih dengan tegas.
Manusiawikan tokoh Anda dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Karena memang tidak ada manusia yang sempurna dan luput dari kesalahan. Justru melakukan hal-hal yang kadang bertentangan dengan pemahaman orang sekitar, membuat cerita mengasyikkan.
4. Karakter harus konsisten
Jangan sampai karakter yang tadinya pendiam dan baik berubah menjadi jahat tanpa alasan yang logis. Perubahan karakter itu wajar kok, hanya saja harus dijelaskan dengan baik sehingga bisa terlihat alasan perubahannya.
Itu jika terpaksa harus berubah.
Selain itu, Anda harus memastikan bahwa karakter yang diciptakan selalu berlaku dan berucap sebagaimana yang diharuskan oleh sifat-sifatnya. Jangan orang yang santun tiba-tiba melontarkan kata-kata makian yang menyakitkan hati.
5. Memilihkan nama yang tepat
Nama mungkin dianggap hal yang tidak penting. Namun saya justru selalu memilih nama terlebih dahulu sebelum menguraikan karakternya. Nama buat saya sangat penting, karena bisa memberi gambaran akan sosok si tokoh utama. Anda bisa mencarinya di berbagai buku nama bayi yang biasanya memuat artinya juga. Atau berburu via internet. Kadangkala kita mendapat ide untuk nama tokoh utama novel kita setelah menonton film tertentu.
Saat menulis novel “Mendua”, salah satu tokohnya bernama Tristan. Nama itu tiba-tiba muncul begitu saja saat saya mulai menggarap naskah itu. Belakangan saya tersadar, Tristan adalah salah satu tokoh dalam film Legends of The Fall yang diperankan Brad Pitt. Bukan faktor Brad Pitt-nya yang berperan, tapi memang karena saya sangat suka nama itu.
Pernah menonton film-filmnya Aidan Quinn? Hampir pasti, remaja sekarang tidak mengenal nama ini. Akan tetapi, di tahun 1990-an Mr. Quinn ini sangat populer. Selain Legends of The Fall, dia juga membintangi film The Assignment atau Practical Magic bersama Nicole Kidman dan Sandra Bullock. Filmnya yang diangkat dari kisah nyata berjudul “Evelyn” cukup menguras air mata. Quinn berperan sebagai pengacara dan beradu akting dengan mantan James Bond, Pierce Brosnan. Nah, karena suka dengan film-filmnya, saya pun membuat tokoh utama dengan namanya. Tapi bukan hanya satu tokoh, melainkan menjadi dua. Yaitu Aidan serta Quinn. Keduanya terdapat di novel “Black Angel”.
Gambar 20. Dari film menawan berjudul “Legends of the Fall” ini saya menemukan banyak nama menarik.
Sumber : bookbounce.files.wordpress.com
Nama adalah bagian yang penting. Saya makin merasakan itu belakangan ini. Jika dulu saya tergolong asal memilih nama tokoh, sekarang menjadi jauh lebih selektif. Saya juga kadang memilih nama yang singkat dan (kalau bisa) unik. Ada Cyril di “Loves in Insa-Dong” atau Mae di “Cinta Tanpa Jeda”.
Usahakan memilih nama yang tidak pasaran. Siapa bilang nama Tasya itu tidak menarik? Akan tetapi, kalau sudah terlalu banyak digunakan, apa lagi istimewanya? (Maaf untuk semua yang bernama Tasya). Coba saja lihat di sekitar
kita! Berapa banyak anak perempuan yang diberi nama Tasya? Banyak sekali, bukan? Demikian juga dengan Nabila, Salsabila, Indra, Bintang, Anita, Donny, Aldo, Adjie, dan banyak lagi. (Sekali lagi, mohon maaf sebesar-besarnya untuk pemilik nama yang saya tulis di sini ya ) Oleh karenanya, kita harus selektif memilih nama. Bila memungkinkan, ciptakan nama sendiri. Mengapa tidak?