Naskah “Jungkir Balik Dunia Mel” sebelumnya pernah saya kirim ke sebuah
H. Riset, Faktor Penting dalam Sebuah Cerita
Seseorang penulis kadang merasa keren jika menyelipkan suatu fakta pengetahuan yang (mungkin saja) belum banyak diketahui orang lain. Sah-sah saja bila ingin melakukan hal itu. Saya pun pernah sangat tertarik melakukannya sehingga menyertakan catatan kaki di naskah yang saya kerjakan.
Tujuannya sih mulia, supaya pembaca bisa mendapat ilmu yang bermanfaat. Idealnya memang kita menuliskan cerita yang hanya numpang lewat tanpa memberi pencerahan atau pengetahuan baru pada pembacanya. Jika ingin melakukan itu, pastikan semua dalam porsi yang tepat. Tidak berlebihan karena bisa jadi kesannya malah Anda sok pintar. Lagian, segala yang lebai itu malah tidak keren, kan?
Supaya bisa memberikan informasi yang tepat, sangat penting untuk melakukan riset. Tidak usah susah-susah, cukup memilih internet sebagai ujung tombak riset Anda. Bila memang punya sumber data berupa buku, itu lebih baik lagi. Misalnya Anda ingin menulis cerita berlatar Korea (seperti yang sedang booming saat ini), lakukanlah riset. Mulai dari kapan saja terjadinya empat musim, nama kota-kotanya, apa saja yang istimewa dari kota
yang akan dijadikan setting cerita, makanan khasnya, dan banyak lagi. Perhatikan detail. Jangan sampai ada informasi penting yang terlewat.
Itu baru hanya masalah latar belakang cerita. Belum lagi hal lainnya. Tapi, jangan kerutkan kening Anda begitu dalam, karena hanya akan meninggalkan jejak garis halus yang tidak menarik. Jangan terbebani dengan kata “riset”. Sekali lagi, internet sangat bisa diandalkan kok!
Apa pun yang kita tulis, usahakan agar menyajikan data yang valid. Bila tidak yakin dengan suatu informasi, lakukan cek dan ricek. Karena ketika naskah yang kita tulis sudah berubah bentuk menjadi buku, tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Kita tidak ingin ditertawakan hanya karena hal-hal sepele, bukan?
Gambar 12. Untuk novel “Cinta Tanpa Jeda” ini saya harus riset tentang dunia balap mobil.
Sumber : dok. pri
Saya punya sedikit kisah tentang masalah ini. Beberapa bulan yang lalu saya membaca novel seorang penulis yang cukup kondang. Penulis ini sudah menghasilkan ratusan cerpen dan puluhan buku. Nah, di salah satu novel terbarunya terdapat suatu fakta yang menggelitik. Penulis top ini memberi informasi yang tidak tepat. Menurutnya, penemu oksigen adalah Sir Isaac Newton. Mengapa informasi ini menjadi menggelitik dan tidak tepat? Karena memang salah!
Sir Isaac Newton adalah penemu gravitasi. Dia juga penemu kalkulus. Juga “Hukum Gerak Newton”. Ada banyak prestasi luar biasa ilmuwan satu ini. tapi, bukan oksigen. Itu merupakan kejayaan milik Antoine Lavoisier, ilmuwan Prancis yang menemui ajal dihukum guillotine karena masa lalunya sebagai pengumpul pajak.
Di novel lain dengan pengarang yang berbeda ada yang menemukan fakta lain. Kali ini tidak berhubungan dengan fakta sejarah sejenis ini. namun lebih ke arah logika. Di sebuah novel teenlit dengan angka penjualan cukup tinggi, ada kisah yang agak aneh. Seorang anak SMP bertemu dengan cowok cakep, naksir, dan akhirnya dekat. Hingga kemudian si cewek ini menyadari kalau sang cowok yang ditaksirnya adalah ketua OSIS di sekolahnya sendiri! Coba pikir ulang, apakah ini masuk akal?
Perhatikan saja polah remaja sekarang yang tergolong lepas dalam mengekspresikan perasaannya. Jika ada seorang ketua OSIS yang tampan, pintar, dan (biasanya) atlet basket, apakah mungkin seorang cewek tidak akan mengenalinya? Bahkan untuk kategori cewek kuper sekalipun!
Lain halnya jika kita membicarakan mahasiswa. Dengan jumlah peserta didik yang bisa mencapai ribuan di suatu fakultas, masih wajar dan bisa diterima akal jika ada yang tidak tahu wajah Ketua Senat.
Sampai di sini, bisa mengerti apa yang saya maksud, bukan? Meski “hanya” kisah fiktif, novel yang kita tulis haruslah menyajikan fakta yang benar dan tidak boleh berkhianat pada akal sehat.
I. Temukan Gaya Orisinal
Setiap penulis ingin memiliki ciri khas tersendiri. Entah itu dalam hal diksi, penokohan, atau tema. Akan tetapi pada praktiknya tidak selalu mulus untuk menemukan ciri yang bisa menunjukkan identitas Anda. Seorang penulis kadang terseret ingin mengekor penulis idolanya.
Itu sesuatu hal yang sangat manusiawi, kok! Jangan berkecil hati jika Anda belum menemukan ciri khas dalam menulis. Saya dulu sangat ingin mengekor gaya Sidney Sheldon. Nyaris setiap bab berisi adegan-adegan dramatis dan fakta yang mengejutkan. Membaca karya pengarang satu ini berarti harus siap menghadapi berbagai kemungkinan. Prediksi pembaca sering salah.
Namun saya akhirnya menyadari, saya bukan Sidney Sheldon. Saya, Anda, dan setiap orang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain. Jadi, saya pun berusaha keras untuk menemukan keunikan tersebut. Sulitkah? Tentu saja. Tapi, saya berterima kasih pada latihan yang saya lakukan selama ini. Kegiatan menulis yang rutin saya lakukan ternyata membuat saya menjadi lebih mengenal diri sendiri. Pada akhirnya, saya pun semakin tahu
bagian mana yang harus dikembangkan dan bagian mana pula yang harus diubah. Dan memang itu tidak butuh waktu yang sebentar.
Awalnya saya tidak menyadarinya. Namun pembaca yang memberi tahu saya. Dan itu mulai terjadi di novel kedua saya yang berjudul “Black Angel”. Apa ciri khas saya? Menurut pembaca, pilihan kata yang tidak biasa. Untuk bagian ini akan kita bahas secara khusus di bagian selanjutnya.
Terus terang saya lega karena merasa sudah menemukan ciri yang akan menajamkan identitas saya pribadi. Belakangan saya pun mulai menambahkannya dengan puisi atau quote versi pribadi. Jadi, bukan puisi atau kalimat terkenal milik orang ternama. Saya tidak melakukan itu. Saya mencarinya di dalam diri sendiri. Karena itulah maka disebut ciri khas, hal yang membedakan.