Ketika Novel (Akhirnya) Diterbitkan
B. Pertahankan Eksistensi
Secara umum, tiap penulis bermimpi memiliki karier yang panjang dan gemilang. Sebenarnya hal ini tidak hanya berlaku di dunia tulis-menulis saja, melainkan di segala lapangan pekerjaan, terutama yang menjanjikan. Nah, bagaimana cara penulis mempertahankan eksistensinya? Jawabannya sederhana saja, kok! Tetaplah menulis selagi masih sanggup.
Itulah yang harus Anda lakukan dalam hidup ini jika memang berkeinginan menjadi seorang penulis. Jangan pernah berhenti menulis apa pun alasannya. Jika Anda terus menulis, otomatis produktivitas akan tetap terjaga. Dan pada akhirnya akan membuat eksistensi Anda bisa dipertahankan.
Katakanlah Anda bisa menyelesaikan satu buah novel dalam jangka waktu satu atau dua bulan. Dalam setahun, Anda seharusnya mampu menghasilkan enam buah novel, bukan? Dan jika Anda mengirimkan karya-karya tersebut ke berbagai penerbit, peluang untuk terbit akan semakin besar. Sehingga akhirnya buah karya Anda pun bisa terbit secara teratur. Dan itu sangat menyenangkan, loh!
Oh ya, izinkan saya membahas hal lain yang mungkin tidak berhubungan dekat dengan masalah eksistensi ini. Begini, setelah novel-novel Anda dipasarkan secara meluas, Anda akan mulai dibanjiri email atau permintaan pertemanan. Anda juga akan mendapat pertanyaan yang beraneka. Mulai dari yang lucu hingga pertanyaan menjengkelkan. Mulai dari pertanyaan yang tidak penting sampai hal-hal pribadi yang membuat Anda ingin menjerit kesal.
Semua itu adalah konsekuensi dari profesi yang Anda pilih. Meski bukan selebriti yang wira-wiri di depan televisi atau kolom gosip, profesi pengarang tetap dianggap memikat dan seksi.
Sekadar berbagi saran, perlakukan penggemar Anda dengan baik. Jawab pertanyaan mereka dengan sopan. Tidak perlu marah atau memaki ketika harus berhadapan dengan pertanyaan yang tidak menyenangkan. Kecuali memang sudah sangat keterlaluan, abaikan saja. Bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang yang telah menyempatkan diri membaca tulisan Anda.
Ini memang “kerepotan” yang harus dihadapi. Seorang penulis top pernah “mengeluhkan” hal tersebut. Bagaimana dia tidak henti dihujani beragam pertanyaan dari para pembaca. Dan banyak di antaranya yang tidak berhubungan sama sekali dengan dunia kepenulisan.
para pembaca di luar sana. Ada yang terpukau hingga menyatakan kekagumannya. Atau bagaimana tulisan Anda telah membuatnya ingin menjadi orang yang lebih baik, misalnya. Banyak penulis yang mengalami momen magis saat membaca curahan hati para pembacanya. Sungguh luar biasa rasanya tatkala tahu bahwa buah pena Anda telah mempengaruhi perasaan seseorang.
Kembali ke masalah eksistensi, usahakan untuk terus menulis. Jangan berhenti ketika karya yang dipublikasikan baru lima buah. Jadikan penulis sebagai pekerjaan yang mengikat Anda pada saat-saat tertentu. Anda kan tidak harus duduk di depan laptop selama berjam-jam. Anda bisa menyambinya dengan tetap bekerja kantoran atau malah mengurus rumah dan anak-anak.
Jadi, tidak ada alasan untuk mengajukan seribu dalih demi membenarkan tindakan Anda yang malas menulis. Ada banyak penulis yang cuma berkonsentrasi di depan laptop sekitar satu atau dua jam. Intinya, Anda harus cerdas dalam mengatur waktu sehingga tidak ada yang terabaikan.
C.Royalti
Secara umum, penerbit menawarkan besar royalti sejumlah 10%. Namun beda penerbit bisa saja terjadi perbedaan angka ini. Masing-masing disesuaikan dengan kebijakan penerbit. Jumlah itu nantinya harus dipotong pajak dengan besaran yang berbeda. Jika Anda memiliki NPWP, potongan pajak sejumlah 15% dari total royalti yang Anda terima. Jika tidak punya NPWP? Hmmm, jumlahnya mencapai dua kali lipat. Lumayan besar, kan? Royalti biasanya dibayarkan setiap satu semester atau per tahun. Kembali lagi, beda penerbit beda kebijakan.
Sekadar contoh: untuk satu semester novel yang terjual adalah 1.000 eksemplar. Harga jual novel sebesar Rp40.000,00. Jika penulis mendapat royalti sebesar 10%, maka royalti yang diterimanya adalah :
1.000 x Rp.40.000 x 10% = Rp4.000.000,00
Jumlah di atas masih harus dipotong pajak lagi. Jika Anda memiliki NPWP maka royalti yang diterima adalah :
Royalti Rp4.000.000,00
PPh pasal 23 : Rp4.000.000,00 x 15% Rp 600.000,00
Apabila Anda tidak memiliki NPWP, pajak yang dikenakan sebesar 30%. Jadi, tinggal menggandakan besar PPh di atas.
Gambar 30. Seorang penulis sebaiknya memiliki NPWP untuk menghindari pemotongan pajak yang terlalu besar.
Sumber : dok. pri
Penerbit juga punya standar berbeda ketika mencetak novel. Ada yang mencetak 3.000 eksemplar, 5.000 eksemplar, atau 8.000 eksemplar. Semakin tenar seorang penulis tentu semakin besar pula angkanya. Tentu dengan mempertimbangkan pembaca setia dan nama besar sang pengarang.
Ada penerbit yang memberikan uang muka kepada penulis, ada pula yang tidak. Untuk penerbit-penerbit top, mereka sudah melakukan kebijakan ini. Buat saya peribadi, ini menjadi semacam bentuk penghargaan untuk penulis.
Perhitungan besar uang muka berbeda-beda. Ada yang menetapkan jumlah tertentu, misalnya sebesar Rp1.500.000,00. Ada pula yang memberikan dimuka 25% dari royalti dengan perhitungan seperti di atas.
Sebenarnya tidak semua novel itu memberikan sistem royalti kepada penulisnya. Karena adakalanya penulis dan penerbit mencapai kesepakatan tersendiri dan memilih untuk melakukan jual putus.
Anda tentu sudah tahu perbedaan keduanya. Namun ada baiknya saya berikan sedikit bayangan tentang hal ini. Jika Anda memilih sistem royalti, maka ada periode tertentu yang harus dilewati sebelum royalti dibayar. Entah itu setiap tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun sekali.
Jika naskah Anda laris manis dan dicetak ulang, maka pendapatan bisa membengkak. Karena semakin banyak buku yang laku terjual, semakin besar pula royalti yang Anda terima. Selain itu, penulis novel laris berkesempatan mendapat tambahan royalti, loh! Wah,
Namun, hal yang sebaliknya akan terjadi jika novel Anda kurang laku di pasaran. Pendapatan minim sebanding jumlah buku yang terjual dan harus menunggu hingga masa pembayaran royalti tiba.
Lalu bagaimana jika Anda memilih jual putus? Penulis hanya menerima pembayaran satu kali saja, ketika sudah tercapai kesepakatan. Jadi, tidak perlu menunggu periode tertentu untuk mendapat transferan dari penerbit. Apakah novel Anda hanya laku 25 eksemplar atau cetak ulang berkali-kali, tidak ada pengaruhnya lagi. Jumlah uang yang Anda terima tidak berubah sama sekali.
Banyak yang bertanya-tanya, lebih enak memilih sistem yang mana? Royalti atau jual putus? Nah, kalau masalah pilihan kembali lagi kepada pribadinya masing-masing. Karena apa pun pilihan Anda, ada risiko yang harus ditanggung. Selalu ada keuntungan dan kerugian yang menyertainya. Keuntungan sistem A justru menjadi kerugian di sistem B. Begitu pula sebaliknya.
Pilihan ada di tangan Anda. Mana yang kira-kira paling membuat nyaman? Tentu ada faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan Anda kelak. Apa pun itu, semoga yang terbaik untuk Anda.
Oh ya, untuk naskah dengan sistem royalti biasanya mendapat bukti terbit sebanyak 10 eksemplar. Ketika novel dicetak ulang, biasanya mendapat bukti cetak lagi meski tidak sebanyak yang pertama. Sementara jika Anda memilih sistem jual putus, tidak selalu mendapat bukti terbit. Masalah ini kembali terpulang pada kebijakan yang ditetapkan oleh penerbit.