• Tidak ada hasil yang ditemukan

Syarat Mutlak Menjadi Penulis Berkualitas

Mungkin Anda yang membaca judul di atas akan mencibir dan berkata, “Siapa sih kamu?”. Saya memang bukan penulis terkenal yang memiliki puluhan novel best seller. Setidaknya belum. Tapi ada satu hal yang bisa saya tegaskan, bahwa saya selalu berusaha menulis dengan kualitas yang baik. Tidak pernah asal-asalan hanya sekadar untuk memenuhi target belaka.

Wajar kan jika kita mempunyai idealisme seperti itu? Karena itu yang akan membedakan diri kita dengan orang lain. Sekali lagi saya ingin mengingatkan bahwa kualitas kadang tidak berkolerasi dengan laris manisnya suatu novel. Novel yang bagus belum tentu laku keras di pasaran. Di lain pihak, novel yang berkali-kali cetak ulang pun belum tentu memenuhi kualitas sebagai bacaan yang bermutu.

Nah, jika ingin menghasilkan karya yang berkualitas, ada “harga” yang harus kita bayar. Mahalkah? Sebenarnya, TIDAK. Karena lebih berhubungan dengan keinginan dari diri sendiri. Apa sajakah?

A.Membaca, Membaca, dan Membaca

Menjadi seorang penulis harus mau dengan ikhlas menghabiskan banyak waktunya untuk membaca. Rasanya mustahil seorang penulis tidak menyukai kegiatan membaca. Karena itu berarti dia bukan penikmat dunia tulis-menulis. Lalu, bagaimana mungkin dia berharap akan mendapat atensi tatkala terjun sebagai penulis?

Gambar 8. Membaca adalah syarat mutlak bagi seorang penulis. Sumber : 3.bp.blogspot.com

Cobalah tanyakan kepada para penulis senior di luar sana. Apa yang kira-kira membuat mereka mampu menulis dengan indah? Jawabannya tidak akan jauh-jauh dari

membaca, Anda mentransfer ilmu seseorang hingga menjadi bagian dari diri Anda. Dan ilmu itu diambil terang-terangan.

Dengan membaca, Anda tentu bisa melihat bagaimana cara penulis lain mengungkapkan pendapatnya. Pilihan kata, kalimat, serta informasi yang disajikan tentu akan sangat berguna bagi Anda. Karena dari situ Anda belajar untuk mengetahui bagaimana cara yang nyaman dan tepat untuk mengungkapkan pendapat Anda melalui bahasa tertulis. Dalam hal ini novel.

Semakin banyak Anda membaca, semakin kaya pula perbendaharaan kata. Demikian juga dengan tema, plot, atau sudut pandang. Semuanya bisa didapat dengan menghabiskan waktu menikmati rangkaian kata yang dibuat oleh penulis-penulis hebat di luar sana. Pengetahuan itu mungkin Anda rasa tidak terlalu dibutuhkan. Tapi percayalah, tanpa disadari dia akan mengendap dalam memori Anda. Lalu ketika tiba saatnya, pengetahuan itu akan muncul dan menuntun Anda dalam membuat tulisan.

Yakinlah, itu yang terjadi dengan banyak orang!

Membaca tidak akan pernah merugikan Anda. Tidak asing kan, dengan istilah “Buku adalah jendela dunia”. Artinya, dengan membaca kita akan dibawa ke dunia khayal yang indah. Atau ke tempat-tempat yang selama ini hanya dinikmati di peta. Intinya, membaca akan membuat Anda bisa melihat ke seantero dunia dengan bermodal buku-buku tertentu. Dan rasanya sangat mengasyikkan!

Jadi, modal utama kalau ingin menjadi penulis yang mumpuni adalah rajin membaca. Jadikan kegiatan ini sebagai salah satu kebutuhan primer dalam hidup Anda. Bukan sekadar kegiatan sampingan yang kurang bermakna. Ketika membaca menjadi salah satu kegiatan

Semakin banyak Anda membaca, semakin kaya pula perbendaharaan kata. Demikian juga dengan tema,

plot, atau sudut pandang. Semuanya bisa didapat dengan menghabiskan waktu menikmati rangkaian kata yang dibuat oleh penulis-penulis hebat di luar sana. Pengetahuan itu mungkin Anda rasa tidak terlalu dibutuhkan. Tapi percayalah, tanpa disadari

dia akan mengendap dalam memori Anda. Lalu ketika tiba saatnya, pengetahuan itu akan muncul dan

utama, dampaknya akan begitu besar bagi diri Anda. Terutama untuk mewujudkan mimpi menjadi penulis berkualitas. Cobalah!

B.Jangan Hanya Sekadar “Ingin Menulis”

Seperti yang saya singgung di depan, menulis menjadi kegiatan yang cukup seksi belakangan ini. Kebayang kan kalau seorang cowok melihat lawan jenis yang memenuhi standar sebagai makhluk seksi? Pasti inginnya memberi perhatian yang lebih. Minimal melihat dengan antusias.

Begitu juga dengan aktivitas menjadi penulis.

Kini, banyak sekali orang yang ingin menjadi penulis. Itu hal yang wajar. Namun sebaiknya temukan alasan yang jelas dan masuk akal, mengapa Anda menginginkan pekerjaan ini. Banyak kok penulis di luar sana yang tetap mempunyai pekerjaan tetap di luar profesinya sebagai penulis. Sementara tidak sedikit pula yang memilih untuk menjadi pengukir kata dengan total.

Apa sebenarnya yang mendasari keinginan Anda menjadi penulis? Apakah karena tergiur materi, ingin populer, atau merasa memang berbakat? Alasan boleh saja beragam, tapi (menurut saya) penulis harus memiliki ketertarikan besar pada pekerjaan ini.

Kenapa? Karena tanpa ketertarikan yang luar biasa, Anda mungkin suatu hari akan memutuskan bahwa pekerjaan ini tidak menarik lagi. Atau mungkin terlalu berat untuk dijalani. Karena memang ada tantangan besar di sini. Dan kadangkala penghalang terbesar berasal dari diri sendiri loh!

Segala sesuatu yang sifatnya hanya ikut-ikutan saja, tidak akan menghasilkan apa-apa. Karena akan ada seleksi alam yang menjadi penyaringnya. Mana yang benar-benar tertarik, biasanya akan bertahan. Sementara yang hanya menjadi pengekor tidak akan bisa mempertahankan gairah menulisnya agar tetap menyala.

Apa pun pekerjaan yang kita pilih, rasa cinta itu harusnya berada di peringkat pertama. Kalau ada yang bertanya alasannya, sederhana saja. Karena cinta akan memberi kita kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi apapun tantangan dan rintangan di luar sana. Nah, cinta ini yang menjadikan segalanya terasa lebih mudah untuk kita. Sehingga tidak ada tuh yang namanya putus asa.

Misalnya begini, Anda terbiasa menulis novel romantis. Tiba-tiba ada tantangan baru dari penerbit untuk membuat novel bergenre misteri. Meski itu hal baru untuk Anda, namun

Anda pasti tidak keberatan untuk menjawab tantangan tersebut. Dan tidak langsung menyerah begitu disodori kesempatan.

Rasa cinta yang tidak cukup juga yang membuat seseorang tidak pernah menyelesaikan tulisannya. Di awal sudah begitu bersemangat akan menggarap novel dengan jumlah minimal 150 halaman. Sayang, belum sampai menyentuh halaman lima puluh, sudah beralih ke novel lain yang –menurutnya- akan lebih hebat. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya tidak ada satu karya pun yang bisa tuntas dengan sempurna. Semua terkatung-katung tanpa penyelesaian.

Kebetulan saya banyak menemukan tipe penulis seperti itu. Sayang sekali, kan? Jadi, tanyakan pada diri sendiri tentang kecintaan Anda terhadap dunia tulis-menulis. Apakah memang ada cukup banyak gairah di dalam diri Anda? Atau hanya ingin seperti orang lain di sekitar Anda, teman Facebook misalnya? Karena menyelesaikan tulisan sesuai deadline itu merupakan tantangan yang luar biasa, loh! Dan banyak orang yang akhirnya bertekuk lutut di tengah jalan.

Gambar 9. Menyelesaikan deadline tidaklah mudah. Dan ini menjadi tantangan tersendiri.

Sumber : www.theminorityreport.com

Selain itu, bila hanya sekadar ingin menulis saja tidak akan pernah menjadi “bahan bakar” yang mumpuni untuk menghasilkan tulisan yang cantik. Karena sudah terjebak pada pola “ala kadarnya”

Sekali lagi, milikilah alasan yang kuat untuk menjadi penulis. Sehingga Anda akan benar-benar mengisi tulisan-tulisan Anda dengan gairah, harapan, dan keindahan. Dan pembaca akan bisa merasakannya.

C.Disiplin dan Konsistensi

Di setiap profesi yang digeluti manusia, disiplin dan konsistensi itu hukum wajib yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Begitu juga jika Anda ingin menjadi penulis. Apalagi jika hendak menulis novel. Karena novel bukan hanya beberapa halaman, melainkan menyentuh angka ratusan lembar. Bayangkan jika Anda tidak memiliki disiplin yang memadai dan konsistensi yang bisa diandalkan, apa jadinya naskah novel itu? Kemungkinan besar tidak akan pernah selesai. Anda mungkin tidak akan pernah menuliskan kata “Tamat”, “Fin”, atau “The End” di halaman terakhir.

Katakanlah Anda ingin menulis novel setebal 150 halaman. Tulisan sebanyak itu tidak akan mungkin diselesaikan dalam waktu semalam. Akan butuh waktu panjang untuk menyelesaikannya. Semuanya tentu tergantung pada kemauan dan kecepatan menulis seseorang. Dan tiap penulis membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Ada yang butuh beberapa hari, sebulan, dua bulan, hingga waktu yang lebih panjang lagi. Belum lagi jika penulis memiliki kesibukan lain yang menyita waktu sehingga membutuhkan pengaturan khusus pula. Faktor kesulitan dalam novel juga memberi andil. Jadi, ada banyak faktor yang mungkin menjadi penghambat.

Nah, ini tantangan besar untuk Anda. Jika memang kecintaan pada dunia menulis dmikian besar, tidak ada penghalang yang cukup kuat untuk menghentikan Anda. Dengan kedisiplinan yang tinggi Anda bisa mengatur waktu yang lebih baik sehingga tidak ada yang harus dikorbankan.

Bagaimana dengan konsistensi? Poin ini menjadi kunci keberhasilan jika semua orang berpegang teguh padanya. Apa pun pekerjaan yang dilakukan. Termasuk menjadi seorang penulis. Dan memang tidak mudah.

Menjaga irama agar pekerjaan tetap bisa diselesaikan itu bukan perkara gampang. Akan ada banyak sekali godaan yang menggiurkan. Ibaratnya ketika sedang berdiet ketat untuk menurunkan berat badan, ada banyak makanan penggoda yang bisa membuat air liur menetes. Cokelat, es krim, kripik, hingga junk food.

Semua godaan dan halangan baru akan bisa dilewati jika kita disiplin dan konsisten menjalaninya. Dan semuanya hanya berarti satu hal: menundukkan diri sendiri! Konsistensi yang membuat Mira W. berhasil menulis puluhan novel selama puluhan tahun. disiplin juga yang membuat beliau mampu membagi waktu dengan adil, menulis tanpa meninggalkan profesinya sebagai dokter.

D. Sabar

Menjadi penulis berarti harus sabar. Itu syarat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kenapa? Tanpa kesabaran mustahil sebuah novel bisa dituntaskan karena membutuhkan waktu. Anda yang tidak sabar sering malah berpindah ke ide lain karena tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk menuntaskan sebuah naskah. Akibatnya, naskah tidak pernah selesai dan hanya menggantung begitu saja. Sayang sekali, bukan? Padahal Anda hanya perlu sedikit menahan diri.

Ya, tahanlah semua gairah untuk menulis naskah baru jika masih ada naskah yang belum selesai. Memang, itu akan terasa sangat menyiksa. Namun Anda tidak punya pilihan lain. Latih terus kesabaran dan bertahanlah di tengah “ketersiksaan” itu. Hanya dengan demikian maka naskah Anda bisa selesai.

Betapapun menariknya sebuah ide baru, lakukan satu hal saja! Tulis ide tersebut dalam catatan khusus sedetail mungkin. Jangan sampai ada yang terlupa. Lalu, simpan catatan tersebut baik-baik. Katakan pada diri sendiri bahwa ide itu akan mendapat giliran nantinya, setelah pekerjaan Anda tuntas. Bila mungkin, beri tenggat waktu yang masuk akal dan bisa Anda patuhi. Dengan begitu Anda tahu bahwa ide keren tadi akan mendapat gilirannya. Dan selama menunggu itu, selesaikan naskah yang masih tersisa. Bersabarlah dalam menyelesaikan pekerjaan, sehingga naskah Anda mendapat perlakuan yang semestinya. Bukan serba terburu-buru.

Bahkan naskah yang sudah selesai pun bukan berarti bebas dari ketergesaan. Banyak loh novel di pasaran yang kesannya diselesaikan dengan tergesa-gesa. Dan biasanya pembaca bisa merasakan itu.

Apa indikasinya?

Mudah saja. Jika ada konflik yang belum dituntaskan atau pun masih menyisakan pertanyaan karena terasa masih mengganjal, itu berarti sang penulis tidak cukup sabar untuk menyelesaikan semuanya. Alasannya bisa macam-macam. Entah karena keterbatasan waktu akibat mepetnya deadline. Atau bisa juga karena sudah tidak bisa menahan diri untuk segera beralih ke naskah baru.

Ketidaksabaran membuat naskah kita menjadi “cacat” di (biasanya) bagian akhir. Sayang sekali, kan? Setiap naskah yang kita tulis adalah istimewa. Pastikan mereka mendapatkan segenap perhatian dan kasih sayang yang berlimpah. Sehingga dengan demikian Anda menghasilkan kisah yang menyelusup ke dalam kalbu tiap pembacanya. Bukankah itu yang diinginkan setiap penulis?

Setelah naskah selesai dan dikirim ke penerbit, saatnya kesabaran seorang penulis benar-benar diuji. Karena akan butuh waktu hingga beberapa bulan untuk mendapat jawaban. Tidak jarang malah tidak ada balasan sama sekali dari penerbit apakah naskah diterima atau ditolak. Menyebalkan, ya? Setidaknya kalau ada kabar yang pasti, penulis tahu bagaimana harus bersikap. Kalau ditolak, berarti selanjutnya akan direvisi dan dikirim ke penerbit lainnya. Begitu seterusnya.

Umumnya, kabar dari penerbit datangnya dalam hitungan bulan. Namun ada juga yang lebih cepat atau lebih lamban. Ada juga yang sudah menandatangani SPP, namun belum terbit juga. Sehingga memang menjadi seorang penulis membutuhkan stok kesabaran yang sangat besar.

Tahukah Anda kalau mengirim naskah ke sebuah majalah khusus cerpen bisa memakan waktu hingga lebih setahun hingga dimuat? Sementara untuk novel bisa jauh lebih cepat dari itu. Tapi memang begitulah prosedurnya. Jadi memang seorang penulis wajib memiliki kesabaran yang tinggi. Oh ya, selagi menunggu naskah kita mendapat kabar yang semoga saja baik, teruslah menulis naskah lain. Jangan terpaku pada naskah yang sudah dikirim itu. Biarkan naskah kita menemukan takdirnya sendiri karena pada titik itu penulis sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

Prinsipnya begini saja, Anda sudah bekerja keras hingga naskah setebal ratusan halaman pun tuntas. Anda juga sudah mengupayakan untuk mengirimkannya kepada penerbit idaman. Kini biarkan Tuhan memberikan keputusan yang terbaik bagi Anda. Jadi, tunggulah dengan sabar. Dan supaya masa menunggu itu tidak menyiksa, sibukkan diri Anda untuk menulis naskah lain yang tak kalah bagus.

E. Tidak Mudah Putus Asa

Ketika sedang menghadapi suatu masalah, pernahkah Anda merasa putus asa? Tolonglah, jangan pernah memilih berada di posisi itu. Keputusasaan tidak akan memberikan

Selagi menunggu kabar tentang naskah kita yang dikirim ke penerbit, teruslah menulis naskah lain. Jangan terpaku pada naskah yang sudah dikirim. Biarkan naskah kita menemukan takdirnya sendiri.

kebaikan. Yang ada hanyalah belitan persoalan baru tanpa menyelesaikan masalah yang sudah tercipta.

Seorang penulis juga kadang merasa mentok dengan tulisannya. Itu sesuatu yang sangat normal, kok. Semua penulis pasti pernah mengalaminya. Yang penting, jangan sampai merasa putus asa dan berhenti menulis. Kesulitan itu datang untuk dihadapi, bukan untuk dihindari. Menghindar tidak akan membantu sama sekali. Justru segala masalah itu harus ditaklukkan agar tidak menggeroti Anda.

Jadi, jangan kalah dengan naskah yang “bermasalah”. Selesaikan hingga tuntas, jangan ditinggal begitu saja. Jika memang perlu, ambil jeda sejenak untuk menarik napas selama beberapa saat. Bisa satu atau dua hari. Bisa juga satu atau dua minggu. Tapi, jangan terlalu lama. Setelah itu, silakan selesaikan naskah Anda dengan baik. Sejenak berjauhan dengan si naskah akan mengembalikan semangat dan kejernihan pikiran Anda. Jadi, jangan pernah merasa putus asa!

Karena menjadi penulis itu harus memiliki mental yang kuat dan tahan banting. Tidak boleh cengeng dan mudah menyerah. Seorang penulis dituntut untuk selalu optimis dan punya semangat yang terus berkobar. Dalam prosesnya nanti, akan menjadikan Anda seorang penulis yang matang.

Gambar 10. Kalaupun naskah Anda ditolak, jangan sedih! Bahkan John Grissom pun mengalaminya.

Sumber : 1.bp.blogspot.com

Banyak penulis yang merasa kecewa dan hampa begitu naskahnya mendapat penolakan. Hei, jangan lakukan itu pada diri Anda! Bahkan J.K. Rowling atau John Grisham pun pernah ditolak berkali-kali sebelum naskah mereka menemukan “jodoh” yang serasi. Ya, mencari penerbit yang sesuai dengan naskah Anda memang tidak mudah. Mirip dengan proses pencarian jodoh. Apa yang semula Anda rasa akan sangat tepat, ternyata malah

Ketika naskah diterima, Anda pasti akan merasa sangat bahagia, kan? Saya pun sama. Bahkan waktu itu saya kehabisan kata-kata dan telinga mendadak tuli. Saya tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh pihak penerbit. Memalukan, tapi hati saya selalu hangat bila mengingat momen itu.

Apa yang terjadi ketika naskah ditolak? Kecewa, itu pasti. Silakan kalau Anda ingin “menangis semalam’ seperti judul lagunya Audy Item. Namun jangan lama-lama, cukup semalam saja. Besoknya? Ada banyak pilihan. Kalau merasa yakin naskah Anda cukup bagus, silakan kirim ke penerbit lainnya yang kira-kira sesuai. Jika ingin memoles naskah agar kian kinclong, tidak masalah juga Anda melakukan revisi dulu. Setelah itu? Kembali kirim ke penerbit lain!

Jangan pernah berhenti hanya karena naskah Anda ditolak!

Naskah “Jungkir Balik Dunia Mel” sebelumnya pernah saya kirim ke sebuah penerbit top. Setahun berlalu, tanpa kabar yang jelas. Saya yakin naskah tersebut ditolak. Akhirnya, saya kirim ke Bentang Belia. Hasilnya? Di-ACC dalam waktu 16,5 jam saja!

Naskah “Jungkir Balik Dunia Mel”