P ANDANGAN M AZHAB K HULAFÂ ’ T ENTANG K ONSEP I MÂMAH
1. Kepemimpinan Dalam Pandangan Mazhab Khulafâ’
1.1. Sikap Khalifah Abu Bakar1
Khalifah Abu Bakar berkata: “Masalah kekhalifahan ini hanya layak untuk
kabilah yang berasal dari bangsa Quraisy. Mereka adalah bangsa Arab yang paling mulia, baik dari sisi keturunan maupun kabilah. Aku telah menye-
tujui salah seorang di antara kedua orang ini, Umar dan Abu ‘Ubaidah.
Maka baiatlah siapa yang kamu sukai.”2
1.2. Sikap Khalifah Umar bin Khaththab3
Khalifah Umar bin Khaththab berkata: “Janganlah tergesa mengatakan
bahwa pembaiatan Abu Bakar terlaksana secara terburu-buru (faltah) dan final. Ketahuilah, memang demikian adanya, tetapi Allah telah menjaga
1 Abu Bakar, Abdullah bin Abi Quhâfah, Utsman bin ‘Âmir Al-Qurasyî At-Taimî.
Ibunya adalah Ummul Khair Salmâ atau Lailâ binti Shakhr At-Taimî. Ia dilahirkan dua atau tiga tahun setelah peristiwa tahun Gajah. Ia adalah seorang sahabat Rasulullah saw. ketika beliau berhijrah ke Madinah. Ia berdomisili di daerah Sunh yang terletak di luar Madinah. Pekerjaan sehari-harinya adalah memerah susu kambing Bani Luhai sehingga ia memegang kekhalifahan. Ia pindah ke kota Madinah enam bulan setelah itu. Ia meninggal dunia pada tahun 13 H. Para penulis Ash-Shihâh telah meri-wayatkan hadis darinya sebanyak 142 hadis. Silakan merujuk biografinya di dalam buku Usud Al- Ghâbah dan Târîkh Ibn Atsîr, jil. 2, hal. 162 ketika ia menyebutkan sebagian kisah tentangnya, serta Jawâmi‘ As-Sîrah, hal. 278.
2Shahîh Al-Bukhârî, kitab Al-Hudûd, bab Rajm Al-Hublâ, jil. 4, hal. 120.
3 Abu Hafsh, Umar bin Khaththab bin Nufail Al-Qurasyî Al-‘Adawî. Ibunya adalah
Hantamah binti Hâsyim atau Hisyâm bin Mughîrah Al-Makhzûmî. Ia memeluk agama Islam setelah berusia lima puluh tahunan lebih di Mekkah dan pernah mengikuti perang Badar dan peperangan-peperangan setelahnya. Abu Bakar telah mengangkatnya menjadi khalifah ketika ia sakit mau meninggal dunia. Ia meninggal dunia karena tikaman Abu
Lu’lu’. Ia dikuburkan pada tanggal 1 Muharram 24 H. di samping kuburan Abu Bakar.
Para penulis Ash-Shihâh telah meriwayatkan hadis darinya sebanyak 537 hadis. Biografinya terdapat dalam Al-Istî‘âb, Usud Al-Ghobah, dan Jawâmi‘ As-Sîrah, hal. 276.
sisi keburukannya. Tidak ada seorang pun di antara kalian yang ditaati seperti Abu Bakar. Barang siapa membaiat seseorang tanpa bermusya- warah dengan kaum muslimin, maka ia dan orang yang telah dibaiatnya
itu tidak layak, maka mereka berdua harus dibunuh.”1
1.3. Pandangan Para Pengikut Mazhab Khulafa’
Aqdhal Qudhât Al-Mâwardî (wafat 450 H.)2 dan ‘Allâmah Az-Zamân Al-
Qâdhî Abu Ya‘lâ (wafat 458 H)3 dalam Al-Ahkâm As-Sulthâniyah berkata:
“Imâmah (kepemimpinan) dapat terbentuk melalui salah satu metode berikut:
Pertama, dengan pilihan Ahlul Halli wal ‘Aqd; para ulama yang memi- liki kelayakan untuk menyelesaikan seluruh persoalan.
Kedua, dengan penentuan pemimpin sebelumnya. Adapun terben- tuknya kepemimpinan (khilâfah) dengan metode pertama, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kuantitas orang yang dapat menge- sahkan kepemimpinan (imâmah).”
Sebagian memandang kepemimpinan (imâmah) tidak dapat terbentuk kecuali dengan kesepakatan seluruh Ahlul Halli wal ‘Aqd dari setiap negeri. Dengan cara itu keridaan terhadap pemimpin tersebut bersifat universal dan penerimaan kepemimpinannya berjalan secara ijmâ’. Pendapat ini bertolak dari peristiwa pembaiatan Abu Bakar sebagai khalifah yang terjadi hanya dengan persetujuan publik yang menghadiri pembaiatan tersebut, tanpa menunggu kedatangan yang lain.
Kelompok kedua berpandangan bahwa jumlah minimal yang dapat mengesahkan kepemimpinan seseorang adalah lima orang. Baik seluruh-
1Shahîh Al-Bukhârî, kitab Al-Hudûd, bab Rajm Al-Hublâ, jil. 4, hal. 120.
2 Al-Ahkâm As-Sulthâniyah, karya Abul Hasan Ali bin Muhammad Al-Bashrî Al-
Baghdâdî, cet. 2, tahun 1356 H., hal. 7-11. Nama Al-Mâwardî adalah bentukan dari
ungkapan “bai‘ mâ’ Al-ward”. Ia adalah salah seorang faqih besar mazhab Syâfi‘iyah
dan memiliki karya yang sangat banyak.
3 Al-Ahkâm As-Sulthâniyah, karya Syaikh Abu Ya‘lâ Muhammad bin Hasan Al-Farrâ’
Al-Hanbalî. Cet. 1. Mesir, tahun 1356 H., hal. 7-11. Kami lebih banyak bersandarkan kepada dua buku tersebut daripada buku-buku mazhab Khulafa’ yang lain. Karena buku- buku tersebut, seperti Al-Kharâj, karya Abi Yusuf ditulis untuk membahas hal-hal yang bertalian erat dengan hukum-hukum pemerintahan berdasarkan pandangan mazhab
Khulafa’ dan diaplikasikan. Berbeda dengan berbagai buku yang ditulis untuk tujuan mengkaji, bukan untuk diimplementasikan. Semua yang akan kami bawakan dalam pembahasan-pembahasan berikut ini, dinukil dari kedua buku tersebut dan pembahasan tambahan yang khusus dimiliki oleh salah seorang dari mereka berdua kami.
nya bersepakat untuk mengesahkan kepemimpinan tersebut, ataupun satu orang dengan persetujuan empat orang lainnya. Dalam hal ini, mereka mengajukan dua argumentasi:
Pertama, Pembaiatan Abu Bakar terjadi dengan perantara lima orang yang kemudian diikuti oleh seluruh masyarakat. Mereka adalah Umar bin
Khaththab, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrâh,1 Usaid bin Hudhair, Basyîr bin
Sa‘d, dan Sâlim, budak Abi Hudzaifah ra.
Kedua, Umar menunjuk enam orang anggota Dewan Syura untuk menentukan seorang pemimpin di antara mereka dengan persetujuan lima
orang lainnya. Ini pendapat mayoritas fuqaha’ dan ulama ilmu Kalâm dari
penduduk Bashrah.
Ulama Kufah berkata: “Kepemimpinan seseorang dapat terjadi
dengan kesepakatan tiga orang yang diketuai oleh salah seorang di antara mereka. Maka masing-masing menjadi hakim dan dua saksi. Sebagaimana
akad nikah akan sah dengan adanya seorang wali dan dua orang saksi.”
Kelompok yang lain berpandangan bahwa legalitas kepemimpinan seseorang dapat dibenarkan hanya melalui persetujuan satu orang, karena Abbas2 pernah berkata kepada Ali ra.: ‘Ulurkanlah tanganmu untuk
1 Abu ‘Ubaidah, ‘Âmir bin Abdullah bin Al-Jarrâh adalah seorang penggali kubur di
Mekkah. Dan pernah mengikuti perang Badar dan berbagai peperangan lainnya. Ia
meninggal dunia di daerah Thâ‘ûn ‘Amwâs, sebuah perkampungan kecil di dekat Baitul
Maqdis pada tahun 18 H. Para penulis Ash-Shihâh telah meriwayatkan hadis darinya sebanyak 14 hadis. Biografinya terdapat di dalam Usud Al-Ghâbah, Jawâmi‘ As-Sîrah, hal. 284, dan Thabaqât Ibn Sa‘d, cet. Eropa, jil. 2, Q2, hal. 74.
Biografi Usaid bin Hudhair telah disebutkan sebelumnya.
Basyîr bin Sa‘d bin Tsa‘labah Al-Khazrajî. Diriwayatkan bahwa ia adalah orang yang
pertama kali membaiat Abu Bakar, dan ia sangat iri kepada Sa‘d bin ‘Ubâdah. Ia
terbunuh pada peristiwa ‘Ainut Tamr bersama Khalid. An-Nasa’î telah meriwayatkan
hadis di dalam Sunan-nya. Silakan merujuk Abdullah bin Saba’, jil. 1, hal. 96; At-Taqrîb, jil. 1, hal. 103; Usud Al-Ghâbah.
Abu Abdillah, Sâlim, budak Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Rabî‘ah Al-Umawî. Ia adalah seorang pemberani yang telah dibebaskan oleh Tsabîtah Al-Anshâriyah, istri Abu Hudzaifah. Lalu ia diambil anak angkat oleh Abu Hudzaifah. Oleh karena itu, ia dianggap dari kaum Muhajirin. Ia berhijrah ke Madinah sebelum Rasulullah saw. dan di dalam hijrah itu ia bertindak sebagai pemimpin Muhajirin yang Umar bin Khaththab juga termasuk di dalam rombongan itu, karena ia adalah orang yang paling pintar membaca Al-Qur’an. Rasulullah saw. mempersaudarakanya dengan Mu‘âdz dari kala- ngan Anshar. Ia terbunuh pada peristiwa Yamâmah. Biografinya terdapat dalam buku Usud Al-Ghâbah dan Al-Ishâbah.
2 Abul Fadhl, Abbas bin Abdul Muthalib. Ibunya adalah Natîlah binti Khubâb An-
Namirî. Ia pernah mengikuti Baiat ‘Aqabah bersama Rasulullah saw. Ia pernah ditawan
kubaiat.’ Dari sanalah, masyarakat berkesimpulan bahwa paman Rasu- lullah saw. telah membaiat kemenakannya. Maka jangan ada yang berbeda
pendapat, karena ketentuan satu orang dapat disahkan.”1
Adapun legitimasi kepemimpinan seseorang berdasarkan penen-tuan pemimpin sebelumnya adalah sesuatu yang disepakati keabsahannya karena dua pertimbangan yang direalisasikan seluruh kaum muslimin:
Pertama, Abu Bakar menunjuk Umar sebagai khalifah dan Muslimin pun menyetujui kepemimpinannya berdasarkan penunjukan Abu Bakar tersebut.
Kedua, Umar menyerahkan kekhalifahan itu kepada anggota Dewan Syura. Karena pembaiatan Umar tidak tergantung kepada restu para saha- bat dan pemimpin lebih berhak atas kekhalifahan itu.2
Mawardi atau ulama Kufah menjelaskan perbedaan pendapat para ulama tentang kewajiban mengenal seorang pemimpin. Sebagian ber- pendapat, “Seluruh masyarakat diharuskan mengenal pemimpin mere-ka secara terperinci, sebagaimana kewajiban mengenal Allah dan Rasul-Nya.”
Kemudian ia melanjutkan: “Yang diyakini oleh banyak orang adalah
kewajiban seluruh lapisan masyarakat untuk mengenal pemimpin secara
global, bukan mendetail.”3
Di samping pendapat-pendapat di atas, Al-Qadhî Abu Ya‘lâ Al-Farrâ’ Al-Hanbalî4 menambahkan pendapat ulama lain. Kepemimpinan sese- orang dapat terwujud dengan cara paksaan dan kudeta, sehingga tidak memerlukan legitimasi dan penentuan (‘aqd). Dia mengatakan: “Barang
siapa berhasil berkuasa atas rakyat dengan pedang sehingga ia menjadi
khalifah dan diberi julukan “Amirul Mukminin”. Maka tidak boleh bagi
seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk hidup di daerah tersebut dan ia tidak mengakuinya sebagai imam, baik penguasa itu
Naufal. Ia berhijrah sebelum peristiwa pembebasan kota Mekkah dan pernah mengikutinya. Umar bin Khaththab pernah meminta hujan kepadanya pada tahun paceklik. Ia wafat pada tahun 32 H. Para penulis Ash-Shihâh telah meriwayatkan hadis darinya sebanyak 35 hadis. Biografinya terdapat di dalam Usud Al-Ghâbah dan Jawâmi‘
As-Sîrah, hal. 281.
1 Al-Ahkâm As-Sulthâniyah, Al-Mâwardî, hal. 6-7.
2 Ibid., hal. 10. Dari ucapan-ucapan mereka dapat dipahami bahwa mereka meng-imani
segala sesuatu yang telah terjadi dan segala sesuatu yang telah terjadi itu adalah agama (yang harus diyakini). Mereka tidak berbeda pendapat dalam hal tersebut. Perbedaan mereka hanya terdapat pada cara terjadinya sebuah peristiwa.
3 Ibid., hal. 15.
adalah orang baik maupun orang zalim. Ia adalah pemimpin orang-orang
yang beriman.”
Tentang orang yang menentang pemimpin karena menuntut hak miliknya darinya sementara ia memiliki pengikut dan pemimpin itu juga memiliki pengikut, Al-Qodhi berkomentar: “Pemerintahan dikendalikan oleh kelompok yang menang.” Ia berargumentasi bahwa Ibn Umar pernah
mengerjakan salat bersama penduduk Madinah pada masa peristiwa
Harrah dan ia berkata: “Kami bersama orangyang menang.”1
Imâmul Haramain Al-Juwainî (wafat 478 H.) dalam Al-Irsyâd-nya, bab Al-Ikhtiyâr wa Shifatih, ketika menyebutkan kriteria berdirinya kepemim-
pinan, berkata: “Ketahuilah, ijmâ‘ tidak disyaratkan dalam legitimasi
kepemimpinan, bahkan kepemimpinan akan terwujud meskipun seluruh umat tidak sepakat untuk mewujudkannya. Argumentasi atas klaim ini yaitu ketika kepemimpinan diserahkan kepada Abu Bakar, ia langsung menjalankan berbagai hukum terhadap kaum muslimin. Ini dilakukan tanpa menunggu berita kepemimpinannya itu sampai ke telinga sahabat yang berada jauh dari pusat pemerintahannya. Tidak ada seorang pun yang menentangnya dan tidak ada juga orang yang memaksanya untuk bersabar
menunggu hal itu. Atas dasar ini, jika ijmâ‘ tidak disyaratkan dalam
melegitimasi kepemimpinan, maka jumlah dan batasan tertentu (dalam hal ini) tidak harus ada. Oleh karena itu, kepemimpinan dapat terwujud dengan penentuan satu orang dari Ahlul Halli wal ‘Aqd.”2
1 Ibid., hal. 7-8 menurut sebuah cetakan dan dalam cetakan lainnya, hal. 20-23.
Ibn Umar, Abdullah bin Umar bin Khaththab. Ibunya adalah Zainab binti Mazh‘ûn Al- Jamhiyah. Rasulullah saw. masih menganggapnya sebagai anak kecil pada peristiwa Uhud, sehingga beliau tidak mengizinkannya berperang. Ia pernah mengikuti berbagai peperangan setelah perang Uhud. Telah diriwayatkan darinya hadis-hadis yang sangat banyak berkenaan dengan pujian terhadap dirinya dan ayahnya. Ia mengeluarkan fatwa pada musim haji setelah Rasulullah saw. meninggal dunia selama enam puluh tahun.
Para ulama berkata, “Ia adalah bagus dari sisi hadis, dan tidak bagus dari sisi fiqih.” Ia
tidak pernah mengikuti satu pun peperangan bersama Ali. Kemudian ia menyesal ketika
hampir meninggal seraya berkata, “Aku tidak pernah menyesali diriku atas dunia ini
kecuali ketika aku tidak memerangi golongan sesat (al-fi’ah al-bâgiyah) bersama Ali bin
Abi Thalib.” Kematiannya karena ulah Al-Hajjâj yang memerintahkan seseorang untuk
menusukkan mata anak panah beracun di atas kakinya, ketika ia berada dalam kerumunan massa. Akhirnya ia meninggal dunia pada tahun 73 H. Para penulis Ash- Shiâh telah merirwayatkan hadis darinya sebanyak 2630 hadis. Biografinya terdapat dalam Usud Al-Ghâbah, Siyar An-Nubalâ’, dan Jawâmi‘ As-Sîrah, hal. 275.
2 Al-Irsyâd fî Al-Kalâm, karya Imâmul Haramain Abdul Malik bin Abdullah Al-Juwainî,
Imam Ibn Al-‘Arabî (wafat 543 H.) berkata: “Dalam melegitimasi baiat seorang pemimpin, tidak wajib baiat itu dilakukan oleh seluruh umat manusia, bahkan cukup untuk mewujudkan kepemimpinannya itu baiat
dua atau satu orang.”1
Asy-Syaikh Al-Faqîh Al-Imâm Al-‘Allâmah Al-Muhaddits Al-Qurthubî (wafat 671 H.) pada masalah kedelapan dari tafsir ayat “innî jâ‘ilun fil ardhi khalîfah” (QS. Al-Baqarah [2]:30) berkata: “Jika kekhalifahan itu ditentukan
oleh satu orang sekalipun, maka hal itu sudah syah dan wajib mene- rimanya. Berbeda dengan pandangan sebagian orang yang mengatakan bahwa kepemimpinan tidak dapat terwujud kecuali dengan kesepakatan beberapa orang dari Ahlul Halli wal ‘Aqd. Umar menetapkan baiat bagi Abu Bakar dan tak seorang pun dari sahabat yang mengingkarinya. Dengan ini, penetapan kepemimpinan tersebut tidak memerlukan jumlah tertentu untuk legitimasinya sebagaimana kontrak-kontrak yang lain.”
Imam Abul Ma‘âlî berkata: “Jika kepemimpinan seseorang terwujud
dengan penentuan satu orang, maka kepemimpinan itu sudah wajib dan tidak boleh dicabut tanpa adanya alasan tertentu. Dan hal ini adalah suatu pendapat yang sudah disepakati (mujma‘ ‘alaih).”
Pada masalah kelima belas dari tafsir ayat tersebut Al-Qurthubî
berkata: “Jika kepemimpinan seseorang terwujud melalui kesepakatan
Ahlul Halli wal ‘Aqd atau kesepakatan satu orang, seperti telah dijelaskan.
Maka wajib atas seluruh masyarakat untuk membaiatnya.”2
Dalam Al-Mawâqif, pada “Pembahasan Ketiga: Tolok Ukur Terwu-
judnya Kepemimpinan”, Aqdhal Qudhât‘Adhududdin Al-Îjî (wafat 756 H.)
berpendapat: “Kepemimpinan dapat terwujud melalui penentuan perso-
nifikatif. Rasulullah dan pemimpin sebelumnya secara ijmâ‘, maupun
terwujud dengan pembaiatan Ahlul Halli wal ‘Aqd, berbeda dengan Syi‘ah. Dalil kami adalah kepemimpinan Abu Bakar yang terwujud dengan baiat.”
Ia melanjutkan: “Jika kepemimpinan terwujud dengan penentuan
pemimpin sebelumnya dan baiat, maka ketahuilah, hal itu tidak perlu lagi
ijmâ‘. Karena, tidak ada argumentasi rasional maupun tekstual atas hal itu.
Bahkan, satu atau dua orang dari Ahlul Halli wal ‘Aqd cukup untuk itu.
1Syarah Sunan At-Tirmidzî, karya Imam Abu Bakar bin Abdullah Al-Isybîlî, yang lebih
dikenal dengan nama Ibn Al-‘Arabî, jil. 13, hal. 229.
2 Al-Jâmi‘ li Ahkâm Al-Qur’an, cet. Mesir, tahun 1387 H., jil. 1, hal. 269-272.
Al-Qurthubî, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farah Al- Anshârî Al-Khazrajî Al-Andalusî.
Karena para sahabat dengan keteguhan mereka dalam memegang agama mencukupkan diri dengan satu atau dua orang. Ini seperti penunjukan Umar atas Abu Bakar dan penunjukan Abdurrah-man bin ‘Auf atas
Utsman, dan mereka tidak mensyaratkan ijmâ‘ penduduk Madinah,
apalagi ijmâ‘ seluruh umat manusia. Inilah kenyataan yang tak seorang
pun dari mereka yang mengingkarinya, yang dijadikan dasar pijakan
seluruh pendapat di sepanjang masa hingga kita.”1
Pendapat Al-Qâdhî Al-Îjî didukung oleh mayoritas ulama yang menulis syarah atas buku Al-Mawâqif, seperti Sayyid Syarîf Al-Jurjânî (wafat 816 H.).2