B EBERAPA K AJIAN P ENGANTAR Prolog
VI. Perbedaan Pendapat Seputar Mendirikan Bangunan di atas Makam Para Nab
Sekaitan dengan masalah pengharaman mendirikan bangunan di atas makam, sekelompok muslimin berargumentasi dengan beberapa riwa-yat, dan yang terpenting adalah sebagai barikut:
1. Imam Ali as. berkata: “Suatu hari Rasulullah saw. tengah menghadiri
(pemakaman) jenazah seseorang. Beliau bersabda: ‘Siapakah di antara
kamu yang siap pergi ke Madinah (dengan syarat) jangan sampai ia meninggalkan satu berhala pun kecuali ia memecahkannya, tidak satu makam pun kecuali meratakannya, dan tidak juga satu gambar pun kecuali merobek-robeknya?’
‘Aku, ya Rasulullah!’ jawab seorang sahabat. Lalu ia pergi. Tidak
lama kemudian, karena takut kepada penduduk Madinah, ia kembali (gagal menjalankan tugasnya).
Aku berkata: ‘Aku akan pergi, ya Rasulullah!’ ‘Berangkatlah!’ jawab beliau pendek.
“Kemudian aku pergi dan tidak lama kemudian, aku kembali. Aku
berkata kepada beliau: ‘Ya Rasulullah, aku tidak meninggalkan satu
berhala pun di Madinah kecuali aku telah memecahkannya, tidak satu makam pun kecuali aku telah meratakannya, dan tidak juga satu gambar pun kecuali aku telah merobek-robeknya.’”
Hadis ini telah disebutkan berkali-kali di dalam buku-buku induk hadis dan kami cukup menyebutkan satu hadis itu saja, yang dari sisi redaksial, merupakan hadis yang paling sempurna.1
1Musnad Ahmad, jil. 1, hal. 87, 89, 96, 110, 111, 128, 138, 139, 145, dan 150; Musnad
Telaah Kritis atas Hadis
Pertama, pada pembahasan yang akan datang akan kami sebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah menziarahi makam ibunya; beliau menangis dan menangiskan orang-orang sekitarnya. Ibunda beliau telah wafat di Madinah pada saat beliau berusia enam tahun. Atas dasar ini, beliau menziarahi makam sang ibunda setelah beliau berusia empat puluh tahun lebih pada saat berhijrah ke Madinah. Hingga saat itu makam ibunda beliau masih dapat dilihat dengan mata kepala. Jika tidak, mana mungkin beliau mengetahui makamnya? Dan jika hukum Islam mengharuskan kita untuk menyama-ratakan setiap makam, mengapa Nabi saw. tidak meme- rintahkan untuk menghancurkan makam ibundanya pada waktu itu?
Kedua, setelah sebagian penduduk Madinah memeluk agama Islam,
untuk pertama kali Rasulullah saw. mengutus Mush‘ab bin ‘Umair demi
mengajarkan segala hukum Islam yang telah turun pada waktu itu kepada mereka. Ketika mereka menghadiri pelaksanaan ibadah haji, orang-orang
yang telah memeluk agama Islam itu menghadiri baiat ‘Aqabah dan
membaiat Rasulullah saw. secara diam-diam. Hingga saat itu, Islam belum lagi berkembang pesat di antara mereka hingga Rasu-lullah saw. berhijrah ke daerah mereka, dan Imam Ali as. mengikuti beliau setelah tiga hari atau lebih. Kisah masuknya Imam Ali as. ke Madinah setelah beliau itu sudah masyhur (di kalangan muslimin).
Setelah mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Yahudi
Bani Quraizhah, Bani Nadhîr, dan Bani Qainuqâ‘, Rasulullah saw. menye-
barkan hukum-hukum Islam secara bertahap, dan seluruh penduduk Madinah pun memeluk agama Islam secara bertahap pula. Dengan demikian, kapankah Rasulullah saw.—sebagai seorang penguasa yang segala titahnya tidak terbantah—mengutus Imam Ali as. ke Madinah supaya menghadiri acara pengiringan jenazah dengan tujuan supaya menghan- curkan seluruh berhala, meratakan makam, dan merobek-robek gambar?! Lebih dari itu, menurut kandungan hadis itu, utusan pertama pergi, sedangkan mereka masih berada dalam acara pengiringan jenazah, dan ia kembali dengan tangan hampa. Kemudian Rasulullah saw. mengutus Imam Ali as. setelahnya dan mereka juga masih sedang melakukan pengiringan jenazah. Mungkinkah hal itu terjadi?!
Ketiga, pada lanjutan hadis itu Imam Ali as. berkata kepada Abul Hayyâj Al-Asadî: “Aku akan mengutusmu untuk mengemban tugas seperti
rintahkanku untuk menyamaratakan setiap makam dan menghancurkan
setiap berhala.”1
Dan pengutusan Abul Hayyâj Al-Asadî oleh Imam Ali as. tersebut tidak akan terjadi kecuali pada kekhalifahan beliau. Atas dasar ini, timbul pertanyaan: kapankah Imam Ali as. mengutus Abul Hayyâj Al-Asadî ter- sebut? Apakah pada masa kekhalifahan beliau setelah Islam berhasil menyebar ke seluruh penjuru dunia dan setelah periode tiga khalifah atau sebelum itu? Dan ke negeri manakah Imam Ali mengutus Abul Hayyâj untuk menghancurkan makam dan seluruh patung itu?
Keempat, di dalam kedua hadis tersebut terdapat perintah dari Rasulullah saw. dan Imam Ali a.s.—jika hadis tersebut sahih—untuk meng- hancurkan makam musyrikin yang terdapat di negeri syirik. Dengan demikian, bagaimana mungkin hal itu mengindikasikan universalitas hukum tersebut atas makam muslimin dan mewajibkan kita untuk meng- hancurkannya?
2. Para perawi hadis meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau
bersabda: “Ya Allah, janganlah Kau jadikan makamku sebagai ber-
hala. Semoga Allah melaknat kaum yang menjadikan makam para nabi mereka sebagai masjid (tempat beribadah).”2
Dalam hadis kedua ini, Rasulullah saw. menentukan orang-orang yang telah menjadikan makam para nabi mereka sebagai masjid. Beliau ber-
sabda: “Semoga Allah memerangi orang-orang Yahudi. Mereka telah
menjadikan makam para nabi mereka sebagai masjid.”3
Telaah Kritis atas Hadis
Setelah Bani Israil hengkang dari negara Mesir, menyeberangi lautan, melewati padang At-Tîh, dan sampai di negara Palestina, mereka memiliki sebuah tempat peribadatan yang bernama Baitul Maqdis, dan mereka tidak pernah memiliki tempat peribadatan lain selain Baitul Maqdis itu. Pada masa Nabi Sulaiman a.s.—seorang raja yang sekaligus adalah seorang nabi—memiliki sebuah istana besar yang bernama Haikal Sulaiman. Atas dasar ini, manakah makam para nabi yang telah mereka jadikan sebagai masjid itu? Sedangkan Baitul Maqdis dan negeri Palestina pada waktu
1Musnad Ahmad, jil. 1, hal. 89 dan 96. 2Musnad Ahmad, jil. 2, hal. 246. 3Ibid, jil. 2, hal. 285.
berada di bawah pengawasan muslimin dan Arab sebelum masa Nabi saw. Adapun berkenaan dengan sisa makam para nabi mereka, seperti Nabi
Ibrahim dan Nabi Musa bin ‘Imran as., kita tidak pernah melihat dan
mendengar, serta seorang pun belum pernah And menulis bahwa orang- orang Yahudi telah menjadikan makam mereka berdua sebagai berhala. Seandainya kita asumsikan bahwa sebuah makam telah dijadikan sebagai berhala, tindakan semacam ini justru tidak dapat disamakan dengan tindakan menghormati makam dan konsep ziarah kubur, karena makam dijadikan berhala artinya makam itu harus dijadikan sebagai Kiblat
sebagaimana Ka‘bah kita jadikan Kiblat pada saat kita melakukan salat.
Apakah kedua realita itu dapat dibandingkan?
Keraguan atas apa yang telah kami sebutkan dan juga atas apa yang akan kami bawakan nanti tidak bertumpu pada hadis-hadis Rasulullah saw. Semua itu bertalian erat dengan para perawi hadis yang tidak dijaga oleh Allah dari kesalahan, kelalaian, dan kelupaan.
Semua yang telah kami sebutkan itu hanyalah sebuah contoh dari dalil-dalil orang yang meyakini bahwa membangun tempat ibadah di atas makam bertentangan dengan syariat Islam.
Pada pembahasan berikut ini akan disebutkan dalil-dalil orang yang meyakini bahwa hal itu sejalan dengan syariat Islam.
Argumentasi Yang Membolehkan Menjadikan Makam Para Nabi Sebagai Tempat Ibadah
Orang yang membolehkan kita menjadikan makam para nabi sebagai tempat ibadah beralasan bahwa orang-orang yang melakukan thawaf di
sekeliling Ka‘bah berthawaf di sekeliling Hijir Ismail as. dan mengusap
temboknya, sedangkan di dalamnya terdapat makam Ismail as. dan ibundanya, Hajar, sebagaimana hal itu telah disepakati oleh para ulama umat Islam.
Disebutkan di dalam buku Sîrah Ibn Hisyam (wafat 218 H.), Târîkh Ath- Thabarî (wafat 310 H.), Ibn Al-Atsîr (wafat 630 H.), dan Ibn Katsîr (wafat 774 H.)—dan teks berikut berasal dari Ibn Hisyam—bahwa Ismail telah dikuburkan di Hijir bersama ibundanya, Hajar. Dan teks yang berasal dari Ibn Al-Atsîr menyebutkan bahwa Ismail berwasiat supaya dikuburkan di sisi makam ibundanya di Hijir.1
1 Silakan merujuk biografi Ismail dan putranya di dalam buku Sîrah Ibn Hisyâm, cet.
Ibn Sa‘d meriwayatkan dalam Ath-Thabaqât-nya dan berkata: “Keti-ka Ismail berusia dua puluh tahun, ibundanya, Hajar meninggal dunia dalam usia sembilan puluh tahu. Ismail menguburkannya di Hijir. Ismail wafat setelah ayahandanya meninggal dunia dan ia dikuburkan di Hijir tepatnya
di samping Ka‘bah bersama ibundanya.”
Dan di dalam riwayat setelahnya disebutkan: “Makam Ismail terletak
di bawah pancuran air atap Ka‘bah di antara Rukun dan Baitullah.”1 Dan di dalam buku Al-Iktifâ’, karya Al-Kalâ‘î disebutkan fakta sejarah
yang ringkasannya adalah, bahwa Hajar, Ismail, dan putranya, Nabit dikuburkan di Hijir.2
Di dalam Rihlah, Ibn Jubair menceritakan makam Ismail dan ibunya,
Hajar sebagai berikut: “Di bawah pancuran yang terletak di ruangan Hijir,
dekat dengan tembok Baitullah terdapat makam Ismail as. Tandanya adalah batu marmer berwarna hijau yang sedikit memanjang berbentuk mihrab dan bersambung dengan batu marmer berwarna hijau yang berbentuk lingkaran. Kedua batu marmer itu tidak sama dengan batu-batu marmer biasa. Di atasnya terdapat bintik-bintik berwarna kekuning- kuningan seakan-akan sebuah papan yang memiliki dua warna. Bintik- bintik berwarna kekuning-kuningan itu persis seperti bekas bintik-bintik di sebuah papan yang telah digunakan untuk melelehkan emas. Di samping- nya, tepatnya di sebelah Rukun Irâqî terdapat makam ibundanya, Hajar ra. Tandanya adalah batu marmer berwarna hijau yang luasnya adalah satu setengah jengkal. Di kedua tempat Hijir ini, para jamaah haji mengambil berkah dengan me-ngerjakan salat di atasnya. Dan itu adalah hak mereka, karena kedua tempat itu termasuk dari Baitullah. Dan kedua tempat itu telah menampung dua jasad suci dan mulia. Semoga Allah menerangi keduanya dan memberikan manfaat dengan berkahnya kepada orang yang
Al-Atsîr, cet. Eropa, jil. 1, hal. 89; Târîkh Ibn Katsîr, jil. 1, hal. 193; Mu‘jam Al-Buldân,
kosa kata “Hijr”.
1Kami telah meringkas ketiga riwayat Sa‘d tersebut dari Ath-Thabaqât-nya, cet. Eropa,
jil. 1, hal. 25.
2 Al-Iktifâ’ fî Maghâzî Al-Mushthafâ wa Ats-Tsalâtsah Al-Khulafâ’, hal. 119. Diteliti
kembali oleh Henry Maseh, cet. Joule Crionelle, Aljazair, 1931 M.
Al-Kalâ‘î adalah Abur Rabî‘ Sulaiman bin Musa bin Salim Al-Himyarî Al-Kalâ‘î. Ia lahir pada tahun 565 H. dan wafat pada tahun 634 H. Kami ambil biografi ringkasnya ini dari prolog bukunya.
melakukan salat di atasnya. Dan jarak antara kedua makam tersebut
adalah tujuh jengkal.”1
Semua itu adalah hadis-hadis yang terdapat dalam buku-buku induk Ahli Sunnah. Dan hadis-hadis yang terdapat dalam buku-buku induk Ahlul Bait as. tentang hal ini adalah sebagai berikut:
1. Di dalam kitab Al-Kâfî, karya Al-Kulainî (wafat 329 H.), Man Lâ Yahdhuruh Al-Faqîh dan ‘Ilal Asy-Syarâ’i‘, karya Ash-Shadûq (wafat 381 H.), Al-Wâfî, karya Faidh Al-Kasyânî (wafat 1089 H.), dan Al-Bihâr, karya Al-Majlisî (wafat 1111 H.)—teks hadis ini dinukil dari buku pertama—disebutkan bahwa di dalam Hijir tersebut terdapat makam Hajar dan Ismail a.s.2
2. Di dalam buku-buku itu juga disebutkan bahwa di dalam Hijir itu terdapat makam para nabi a.s.3
1 Ibn Jubair adalah Muhammad bin Ahmad bin Jubair Al-Kinânî Al-Andalûsî. Dia
berkebangsaan Al-Balansî dan bermukim di daerah Gharnâthah. Dia dilahirkan pada
malam Sabtu, 10 Rabi’ul Awal 540 atau 539 H. dan wafat di Iskandariyah pada malam
Rabu, 9 atau 7 Sya‘ban 616 H. Dia adalah seorang sastrawan yang mahir, penyair kena-
maan, berjiwa luhur, berakhlak budiman, dan salah seorang ulama Andalusia dalam bidang fiqih dan hadis.
Rihlah Ibn Jubair adalah sebuah buku yang menceritakan perjalanan hajinya. Penulisan- nya memakan waktu sekitar dua tahun dan tiga setengah bulan, dimulai dari hari Senin, 19 Syawal 578 hingga tamat pada hari Kamis, 21 Muharram 581. Di dalam perja- lanannya itu ia pernah mengujungi Mesir, negara-negara Arab, Irak, Syam (Suriah), Shaqliyah, dan lain sebagainya. Buku Ar-Rihlah ini menjelaskan perihal kota-kota yang pernah dilewatinya dan tempat-tempat di bumi ini yang pernah disinggahinya.
Penjelasannya yang telah diuraikan di atas kami nukil dari buku tersebut, cetakan Dâr Mesir, tahun 1374 H., yang telah diteliti kembali leh Dr. Husain Nashshâr, hal. 63. Dan tentang biografi ringkasnya itu kami cuplik dari prolog kitabnya.
2Furû‘ Al-Kâfî, kitab Al-Hajj, bab Hajj Ibrahim wa Ismail as. wa Binâ’ihimâ Al-Bait ...
hadis ke-14, cet. Dâr Al-Kutub Al-Islamiyah, Tehran, 1391 H., jil. 4, hal. 210; Man Lâ Yahdhuruh Al-Faqîh, kitab Al-Hajj, bab ‘Ilal Al-Hajj, hadis ke-3, cet. Dâr Al-Kutub Al- Islamiyah, Tehran, 1390 H., jil. 2, hal. 125-126 dan bab Nukat fî Hajj Al-Anbiyâ’ wa Al- Mursalîn, hadis ke-8, jil. 2, hal. 149; Al-Wâfî, kitab Al-Hajj, bab Hajj Ibrahim wa Ismail as. ..., cet. 1, jil. 8, hal. 28; Bihâr Al-Anwâr, kitab An-Nubuwah, bab Ahwâl Awlâd
Ibrahim as. wa Azwâjih wa Binâ’ Al-Bait, hadis ke-41, jil. 5, hal. 143 dan hadis ke-54, jil. 5, hal. 144.
3Furû‘ Al-Kâfî, kitab Al-Hajj, bab Hajj Ibrahim ... hadis ke-15, jil. 4, hal. 210; Bihâr Al-
Anwâr, meriwayatkan dari Ash-Shadûq, kitab An-Nubuwah, bab Ahwâl Awlâd Ibrahim as. ..., hadis ke-40, jil. 5, hal. 142; cet. 1 Kompânî, bab Akhbâr Awlâd Ibrahim as. ..., hadis ke-55, jil. 5, hal. 144; Al-Wâfî, kitab Al-Hajj, bab Hajj Ibrahim ..., jil. 8, hal. 28.
3. Di dalam kitab Al-Kâfî, Al-Wâfî, dan Al-Bihârdisebutkan: “Di da-lam
Hijir, tepatnya di samping Rukun Ka‘bah yang ketiga dikuburkan
gadis-gadis Ismail a.s.”1
4. Abu Bakar Al-Faqîh meriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau
bersabda: “Tidak ada seorang nabi pun yang lari dari kaumnya kecuali ia lari menuju Ka‘bah sehingga ia meninggal dunia di situ. Makam Hud, Syu‘aib, dan Shalih terdapat di antara mata air
Zamzam dan maqâm (Ibrahim). Di dalam Ka‘bah sendiri terdapat makam tiga ratus nabi, dan di antara Rukun Al-Yamânî dan Rukun
Al-Aswad terdapat makam tujuh puluh nabi.”2
Untuk membuktikan kebenaran membangun bangunan di atas makam para wali Allah, mereka berargumentasi—di samping dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya—bahwa makam Rasulullah saw. dan kedua khalifah, Abu Bakar dan Umar berada di bawah sebuah bangunan beratap dari semenjak mereka meninggal dunia hingga sekarang ini.
Mereka juga beragumentasi dengan firman Allah swt.:
“Dan jadikanlah sebagian maqâm Ibrahim itu sebagai tempat salat.” (QS. Al-Baqarah [2]:125)
Dan firman Allah swt. tentang kisah Ashhâbul Kahfi:
“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadahan di atasnya.’” (QS. Al-Kahfi [18]:21)
Para pengikut aliran Wahhabi menyebut muslimin yang menziarahi
makam para nabi, sahabat, dan imam as. dengan nama “Al-Qubûriyyîn”
(orang-orang yang sangat menghormati kuburan). Akan tetapi, sesuai dengan penjelasan kami di atas, lebih layak jika mereka menjuluki pamungkas para nabi saw., para sahabat, dan para nabi sebelum mereka
yang telah berthawaf di sekeliling Hijir Ismail as. dengan nama“Al-
Qubûriyyîn” itu, karena di dalam Hijir Ismail tersebut terdapat makam
Hajar, Ismail, dan putranya, serta para nabi sebelum mereka.
1Furû‘ Al-Kâfî, kitab Al-Hajj, bab Hajj Ibrahim ... hadis ke-16, jil. 4, hal. 210; Al-Wâfî,
kitab Al-Hajj, bab Hajj Ibrahim ..., jil. 8, hal. 28; Bihâr Al-Anwâr, hadis ke-56, jil. 5, hal. 144.
2Muhtashar Kitâb Al-Buldân, karya Abu Bakar binAl-Faqîh Al-Hamadânî (wafat 340
Begitulah, perbedaan hadis-hadis atau—dengan ungkapan yang lebih cermat—perbedaan pemahaman tentang hadis-hadis tentang membangun makam menjadi sumber perbedaan pendapat (di antara Muslimin).
Pada pembahasan di bawah ini, kami akan menjelaskan perbedaan pendapat berkenaan dengan menangisi mayit dan sumber perbedaan pendapat tersebut.
VII. Perbedaan Pendapat Tentang Menangisi Jenazah dan Dasar