• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka APBN Jangka Menengah (Medium Term Budget Framework/MTBF)Budget Framework/MTBF)

PERKEMBANGAN EKONOMI DAN POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL APBN 2008

ASUMSI INDIKATOR EKONOMI MAKRO 2007-2008

2.4.6. Proyeksi Fiskal Jangka Menengah

2.4.6.1. Kerangka APBN Jangka Menengah (Medium Term Budget Framework/MTBF)Budget Framework/MTBF)

Kerangka APBN jangka menengah merupakan suatu kerangka proyeksi APBN dalam kurun waktu 3 - 5 tahun ke depan, yang mencakup ringkasan mengenai: (i) proyeksi indikator ekonomi makro yang menjadi dasar penyusunan APBN; (ii) prioritas APBN;

(iii) sasaran dan tujuan yang hendak dicapai pemerintah melalui kebijakan fiskal ke

depan; dan (iv) proyeksi sumber-sumber pembiayaan yang tersedia dalam kurun waktu tersebut. Angka-angka proyeksi yang termuat dalam MTBF setiap tahun akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi ekonomi makro dan berbagai kebijakan fiskal pemerintah lainnya. Dengan MTBF, pemerintah dapat menyelaraskan kebutuhan dan kebijakan belanja negara serta alternatif pendanaannya, baik yang bersumber dari perpajakan maupun sumber-sumber pendanaan lainnya, dengan tetap memperhatikan perkembangan berbagai asumsi ekonomi makro dalam jangka menengah.

Dalam jangka menengah, faktor-faktor eksternal diperkirakan cukup kondusif bagi perkembangan ekonomi makro nasional, yaitu ekonomi internasional yang diperkirakan tumbuh dalam level yang moderat, harga minyak mentah internasional yang diperkirakan cenderung menurun seiring dengan perkiraan meningkatnya pasokan minyak mentah internasional serta meredanya konflik di Timur Tengah dan negara-negara penghasil minyak, laju inflasi di Amerika Serikat yang diperkirakan menurun pada tahun 2008 dan cenderung stabil sampai dengan tahun 2010, cenderung menurunnya suku bunga

The Fed seiring dengan kebijakan moneter yang relatif longgar di Amerika Serikat, laju

inflasi negara-negara mitra dagang yang relatif stabil, melambatnya perkembangan harga produk manufaktur dunia, dan menurunnya harga produk primer bukan migas. Selain faktor eksternal tersebut, kinerja ekonomi makro nasional dalam jangka menengah juga dipengaruhi oleh perkembangan faktor-faktor internal, antara lain: tetap

terkendalinya konsolidasi fiskal guna mendukung fiscal sustainability, penyerapan DIPA yang diupayakan semakin tinggi, rasio utang terhadap PDB yang cenderung menurun, pembangunan infrastruktur semakin meningkat, dan penerapan target inflasi (inflation

targeting) yang konsisten. Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas, proyeksi asumsi

makro jangka menengah dapat dilihat pada Tabel II.10.

Sementara itu, penetapan kerangka APBN jangka menengah dilakukan dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor-faktor yang dapat dikendalikan oleh pemerintah, baik yang bersifat makro maupun sektoral. Kebijakan yang diambil pemerintah dalam kerangka ekonomi makro merupakan kebijakan yang tidak terlepas dari kebijakan perekonomian secara keseluruhan, seperti besaran defisit anggaran, rasio utang terhadap PDB maupun terhadap ekspor, stimulus fiskal, subsidi, dan kebijakan stabilisasi harga. Kebijakan pemerintah yang bersifat sektoral seperti peningkatan kesejahteraan pegawai negeri, TNI dan Polri, efisiensi pengelolaan keuangan negara, serta kebijakan penganggaran yang lain, turut mempengaruhi pengeluaran pemerintah pusat dalam jangka menengah. Di sisi lain, faktor eksternal merupakan faktor-faktor di luar kendali pemerintah, misalnya harga minyak mentah internasional, tingkat suku bunga internasional, kejadian-kejadian alamiah, serta

kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pihak-pihak di luar pemerintah seperti pemerintahan negara lain dan pihak swasta.

Target dan kebijakan APBN dalam kurun waktu 2008 – 2010 masih dalam kerangka pemantapan konsolidasi fiskal, namun tetap memberikan stimulus fiskal bagi perekonomian secara terkendali dan terukur guna mendorong investasi dan meningkatkan penyediaan pelayanan dasar bagi masyarakat. Oleh sebab itu, dalam kurun waktu tersebut, keseimbangan primer tetap dipertahankan pada tingkat yang dapat menjamin kesinambungan fiskal (fiscal sustainability). Stimulus fiskal diberikan melalui peningkatan belanja negara dan disertai dengan peningkatan pendapatan negara, serta penajaman sasaran belanja negara pada sektor-sektor yang lebih produktif dan mengurangi pengeluaran yang kurang produktif. Sampai dengan tahun 2010 keseimbangan umum APBN diperkirakan belum dapat mencapai kondisi surplus sejalan dengan upaya pemerintah untuk percepatan pertumbuhan ekonomi nasional dalam rangka penanggulangan tingkat pengangguran dan kemiskinan. Perkiraan besaran APBN dalam jangka menengah dapat dilihat dalam Tabel II.11.

Pertumbuhan PDB (%) 6,3 6,8 7,5 - 8,0 8,5 - 9,0

Inflasi (%) 6,0 6,0 5,0 - 5,5 5,0 - 5,5

Nilai Tukar (Rp/US$1) 9.050 9.100 9.100 - 9.300 9.100 - 9.300

Tingkat bunga SBI rata-rata (%) 8,0 7,5 6,5 - 7,0 6,5 - 7,0

Harga minyak ICP (US$/barel) 60 60

Lifting (Juta barel per hari) 0,950 1,034

Sumber: Departemen Keuangan

Tabel II. 10

2009 2010 Kerangka Asumsi Makro Jangka Menengah

APBN-P

2007 APBN 2008

60 60

Pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2010 diperkirakan sekitar 18,5 - 18,6 persen terhadap PDB dengan penerimaan perpajakan sebagai komponen utamanya. Peningkatan penerimaan perpajakan tidak terlepas dari perencanaan dan kebijakan perpajakan jangka menengah yang meliputi: (i) prospek perkembangan asumsi ekonomi makro;

(ii) sensitivitas dan elastisitas masing-masing komponen perpajakan terhadap berbagai

indikator ekonomi makro; (iii) tax base (dasar pengenaan pajak); (iv) tarif pajak (tax

rate); dan (v) pemilihan basis pajak (tax base) berdasarkan pendekatan definisi dari

masing-masing jenis pajak sesuai dengan pengertian dalam undang-undang perpajakan. Sementara itu, kebijakan di bidang penerimaan negara bukan pajak (PNBP) diarahkan dalam rangka optimalisasi, yang dilakukan antara lain dengan: memperbaiki iklim investasi, meningkatkan efisiensi pemakaian BBM (konservasi) dan memanfaatkan jenis energi alternatif, menjaga ketahanan cadangan strategis minyak mentah dan BBM nasional, mengevaluasi dan memperbaiki peraturan, sistem dan prosedur PNBP

kementerian/lembaga, meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan pemungutan dan penyetoran PNBP ke kas negara, memberikan sanksi yang tegas kepada wajib bayar (kementerian/lembaga) yang tidak menyetor/melaporkan PNBP-nya ke kas negara, meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan dan pemanfaatan dana hibah guna memenuhi kebutuhan pembiayaan anggaran.

Belanja negara dalam tahun anggaran 2010 diperkirakan sekitar 19,9 - 20,2 persen terhadap PDB. Besarnya belanja negara tersebut terkait dengan kebijakan pengelolaan belanja pemerintah pusat dan kebijakan alokasi transfer ke daerah dalam jangka menengah. Belanja pemerintah pusat diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada publik, pemenuhan kewajiban kepada pihak ketiga, menjaga stabilitas harga komoditas strategis, memberikan perlindungan kepada masyarakat, meningkatkan ketahanan pangan, meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastruktur di pedesaan dan daerah terpencil, serta memberikan stimulus pada perekonomian secara tepat dan terukur. Untuk perencanaan jangka menengah, kebijakan dan penganggaran alokasi transfer ke daerah tetap mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, serta Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. Selain itu, perencanaan penganggaran jangka menengah untuk alokasi transfer ke daerah, juga memperhatikan Undang-undang

A Pendapatan Negara & Hibah 18,5 18,1 17,9 - 18,1 18,5 - 18,6

B Belanja Negara 20,0 19,8 19,5 - 19,8 19,9 - 20,2

C Keseimbangan Primer 0,7 0,4 0,4 - 0,2 0,3 - 0,0

D Keseimbangan Umum -1,5 -1,7 -1,5 - -1,7 -1,4 - -1,6

E Pembiayaan 1,5 1,7 1,5 - 1,7 1,4 - 1,6

Sumber: Departemen Keuangan

Tabel II. 11 (persen terhadap PDB)

2009 2010

Kerangka APBN Jangka Menengah

Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

Dalam perencanaan jangka menengah, kebijakan anggaran transfer ke daerah masih ditekankan pada langkah-langkah menjaga konsistensi dan keberlanjutan proses konsolidasi desentralisasi fiskal sebagai upaya pemantapan penyelenggaraan otonomi daerah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Kebijakan tersebut selain diprioritaskan untuk mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah (vertical

fiscal imbalance), dan antardaerah (horizontal fiscal imbalance) serta mengurangi

kesenjangan pelayanan publik antardaerah (public service provision gap), juga ditujukan untuk meningkatkan kualitas alokasi belanja ke daerah.

Berdasarkan proyeksi pendapatan negara dan hibah serta belanja negara, keseimbangan umum dalam jangka menengah diperkirakan mencapai defisit sekitar 1,4 - 1,6 persen terhadap PDB dalam tahun 2010. Dalam jangka menengah, upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan anggaran tersebut dititikberatkan pada:

(i) peningkatan pemanfaatan sumber-sumber pembiayaan dalam negeri; (ii) penurunan

stok utang secara bertahap; dan (iii) pemenuhan kewajiban pembayaran utang secara tepat waktu. Selain itu, kebijakan pemerintah yang menjadi pertimbangan dalam penyusunan pembiayaan anggaran jangka menengah antara lain adalah kebijakan untuk mewujudkan kesinambungan fiskal (fiscal sustainability), termasuk menjaga kesinambungan utang (debt sustainability). Penurunan stok utang luar negeri dilakukan dengan terus mengupayakan penurunan outstanding-nya, baik sebagai persentase terhadap PDB maupun secara absolut/nominal. Hal ini dimaksudkan untuk memperkokoh ketahanan fiskal, memberikan kepercayaan dan kepastian akan kemampuan pengelolaan fiskal pada masa-masa mendatang dalam menghadapi kemungkinan gejolak yang terjadi.