PERKEMBANGAN EKONOMI DAN POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL APBN 2008
2.4. Kebijakan Fiskal
2.4.1. Pencapaian APBN Tahun 2006 dan Prospek Kebijakan Fiskal dalam APBN Tahun 2007Kebijakan Fiskal dalam APBN Tahun 2007
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan instrumen kebijakan fiskal yang menjadi salah satu penggerak laju perekonomian nasional. APBN menjadi penjabaran rencana kerja dan anggaran Kementerian/Lembaga dalam menyelenggarakan pemerintahan, mengalokasikan sumber-sumber ekonomi, mendistribusikan barang dan jasa, serta menjaga stabilisasi dan akselerasi kinerja ekonomi. Oleh karena itu, strategi dan pengelolaan APBN memegang peranan penting dalam mencapai sasaran pembangunan nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir strategi kebijakan fiskal lebih diarahkan untuk melanjutkan dan memantapkan langkah-langkah konsolidasi fiskal guna mewujudkan APBN yang sehat dan berkelanjutan (fiscal sustainability), serta memberikan stimulus fiskal dalam batas-batas kemampuan keuangan negara. Langkah konsolidasi fiskal ditempuh melalui optimalisasi pengumpulan sumber-sumber penerimaan negara, peningkatan efisiensi dan efektivitas belanja negara, serta pemilihan alternatif pembiayaan yang tepat untuk meminimalkan resiko keuangan (financial risk) ke depan. Pemberian stimulus fiskal dilakukan antara lain dalam bentuk: (i) insentif perpajakan; (ii) belanja
negara untuk sarana dan prasarana pembangunan, serta meningkatkan daya beli aparatur negara dan masyarakat berpenghasilan rendah; dan (iii) dukungan pemerintah kepada swasta dalam pembangunan infrastruktur (public private partnerships, PPPs). Realisasi APBN Tahun 2006 sangat dipengaruhi oleh dinamika kondisi eksternal maupun internal yang melingkupinya. Dari sisi eksternal, kinerja perekonomian dunia yang relatif masih kuat, telah mendorong meningkatnya permintaan luar negeri terhadap produk nasional di tengah relatif tingginya harga produk primer di pasar internasional, sehingga hal ini mendorong penguatan kinerja ekspor Indonesia. Selain itu harga minyak internasional masih relatif tinggi dengan kecenderungan yang menurun sampai akhir tahun 2006. Sementara itu, dari sisi internal, relatif masih lemahnya daya beli masyarakat akibat dampak kenaikan harga BBM pada bulan Maret dan Oktober 2005 serta belum pulihnya kinerja investasi, masih menjadi kendala tersendiri bagi upaya akselerasi pertumbuhan ekonomi. Selain itu dalam tahun 2006, telah terjadi sejumlah bencana seperti gempa bumi di beberapa wilayah Indonesia serta wabah flu burung (Avian
Influenza) yang cukup mempengaruhi kondisi perekonomian nasional dalam tahun 2006.
Selain dipengaruhi oleh perkembangan kondisi eksternal dan internal tersebut, pelaksanaan APBN Tahun 2006 juga dipengaruhi oleh implementasi berbagai kebijakan fiskal yang telah direncanakan Pemerintah, baik di bidang perpajakan, belanja negara, maupun pembiayaan, sejalan dengan arah dan sasaran yang telah ditetapkan dalam rencana kerja pemerintah (RKP) tahun 2006. Upaya konsolidasi dan stimulus fiskal menghasilkan realisasi defisit anggaran dalam APBN Tahun 2006 terkendali pada tingkat 0,9 persen terhadap PDB (dari targetnya 1,3 persen terhadap PDB). Tingkat defisit tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan defisit anggaran dalam tahun 2005 yang mencapai 0,5 persen terhadap PDB. Defisit anggaran tahun 2005 yang mencapai 0,5 persen terhadap PDB terkait erat dengan terlambatnya pelaksanaan DIPA 2005 akibat penerapan sistem penganggaran baru. Sementara itu kenaikan defisit anggaran dalam tahun 2006 terkait erat dengan lebih rendahnya realisasi penerimaan perpajakan akibat melambatnya kinerja perekonomian nasional pada satu sisi, dan meningkatnya belanja negara baik belanja pusat maupun daerah serta pelaksanaan DIPA luncuran tahun 2005. Terkendalinya tingkat defisit setelah krisis ekonomi, tidak terlepas dari keberhasilan berbagai kebijakan peningkatan pendapatan negara baik perpajakan maupun non perpajakan pada satu sisi, serta peningkatan efisiensi dan efektifitas belanja negara yang diikuti dengan pembaharuan pengelolaan keuangan negara pada sisi lain. Kontribusi positif terhadap laju defisit yang terkendali (managable) juga dihasilkan oleh perbaikan pengelolaan utang negara yang dilakukan sejalan dengan arah kebijakan konsolidasi fiskal yang telah menjadi fokus pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, rasio stok utang dalam tahun 2006 berhasil diturunkan menjadi 39,0 persen terhadap PDB sebagai kelanjutan dari langkah penurunan rasio stok utang terhadap PDB dalam beberapa tahun terakhir.
Pendapatan Negara dan Hibah
Pendapatan negara dan hibah mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam upaya meningkatkan kapasitas fiskal, baik dalam membiayai anggaran belanja negara, mengendalikan defisit anggaran, maupun menjaga dan memantapkan ketahanan fiskal yang berkelanjutan. Sejalan dengan perkembangan aktivitas perekonomian serta berbagai
langkah perbaikan kebijakan dan administrasi di bidang perpajakan dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) yang telah ditempuh, kinerja pendapatan negara dan hibah dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Dalam tahun 2006, pendapatan negara dan hibah mencapai sebesar Rp638,0 triliun (19,1 persen terhadap PDB), lebih tinggi dibanding realisasinya dalam tahun 2005 sebesar Rp495,2 triliun (17,8 persen terhadap PDB). Angka tersebut diharapkan dapat ditingkatkan sebesar Rp694,1 triliun (18,0 persen terhadap PDB) dalam tahun 2007. Perkembangan tersebut mencerminkan peningkatan kemampuan pendapatan negara dan hibah dalam membiayai belanja negara.
Dilihat dari komposisinya, sebagian besar pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2005 dan 2006 berasal dari penerimaan dalam negeri khususnya penerimaan perpajakan dan PNBP sebesar 99,7 persen dari total pendapatan, sedangkan selebihnya merupakan kontribusi dari penerimaan hibah. Dalam beberapa tahun terakhir penerimaan perpajakan yang terdiri dari penerimaan perpajakan dalam negeri dan pajak perdagangan internasional, masih merupakan penyumbang terbesar terhadap keseluruhan penerimaan dalam negeri. Meskipun demikian, persentase penerimaan perpajakan terhadap total pendapatan dan hibah terlihat menurun, yakni dari 70,2 persen dalam tahun 2005 menjadi 64,1 persen dalam tahun 2006. Sebaliknya, sumbangan PNBP terhadap total pendapatan dan hibah meningkat dari 29,7 persen pada tahun 2005 menjadi 35,7 persen dalam tahun 2006. Peningkatan ini tidak terlepas dari kenaikan harga minyak mentah yang cukup tajam di pasar internasional.
Untuk menjaga kesinambungan penerimaan perpajakan yang dominan dalam struktur pendapatan negara, Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir telah dan sedang melakukan langkah-langkah pembaharuan serta penyempurnaan kebijakan dan administrasi perpajakan (tax policy and administration reform) antara lain dengan perubahan paket perundangan perpajakan dan UU Kepabeanan dan Cukai. Langkah-langkah tersebut dimaksudkan agar pelaksanaan sistem perpajakan berjalan lebih efisien dan efektif. Perubahan paket UU perpajakan tersebut pada dasarnya lebih dititikberatkan pada pemberian rasa keadilan dan kepastian hukum di bidang perpajakan, sebagai upaya untuk mendorong aktivitas ekonomi, optimalisasi penerimaan perpajakan, serta mendorong peningkatan disiplin dan good governance Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Dengan berbagai langkah reformasi perpajakan yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, secara nominal penerimaan perpajakan mengalami peningkatan cukup signifikan. Realisasi penerimaan perpajakan dalam tahun 2006 mencapai Rp409,2 triliun, lebih tinggi 17,9 persen dibandingkan penerimaan perpajakan tahun 2005 sebesar Rp347,0 triliun. Dilihat dari persentase kenaikannya, kinerja penerimaan perpajakan dalam tahun 2006 sedikit mengalami perlambatan dibandingkan dengan kinerja penerimaan
0 1 00 2 00 3 00 4 00 5 00 6 00 tr il iu n r u p ia h 2005 2006 2007 Grafik II.29
Perkembangan Pendapatan Negara dan Hibah
Penerimaan Perpajakan PNBP Hibah Su m ber: Departem en Keu angan
perpajakan dalam tahun 2005 yang mencapai kenaikan sebesar 23,7 persen. Perlambatan kinerja penerimaan perpajakan dalam tahun 2006 tidak terlepas dari melambatnya kinerja perekonomian nasional secara keseluruhan. Namun demikian, sejalan dengan perkiraan membaiknya kinerja perekonomian dalam tahun 2007, penerimaan perpajakan diperkirakan mencapai Rp492,0 triliun, atau naik sebesar 20,2 persen dibandingkan realisasi penerimaan perpajakan tahun 2006.
Pada sisi lain, realisasi PNBP dalam tahun 2006 mengalami peningkatan cukup signifikan. Apabila dalam tahun 2005 PNBP hanya mencapai sebesar Rp146,9 triliun, maka dalam tahun 2006, nominalnya meningkat signifikan menjadi Rp227,0 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 54,5 persen. Meningkatnya kinerja PNBP yang signifikan ini telah mendorong peningkatan proporsi PNBP terhadap total penerimaan dalam negeri dari 29,7 persen menjadi 35,7 persen. Pada tahun 2007, PNBP diperkirakan mengalami penurunan menjadi Rp198,3 triliun.
Perubahan PNBP tersebut terutama disebabkan oleh fluktuasi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price/ICP) di
pasar internasional. Hal ini disebabkan karena sebagian besar komponen PNBP berasal dari penerimaan sumber daya alam (SDA), khususnya penerimaan minyak bumi dan gas alam (migas), yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah internasional, lifting minyak, serta nilai tukar rupiah. Di samping itu, kinerja PNBP juga tidak terlepas dari langkah-langkah kebijakan yang diambil oleh Pemerintah dalam rangka optimalisasi PNBP di antaranya
meliputi: (i) efisiensi dan efektifitas PNBP yang berasal dari penerimaan SDA, (ii) intensifikasi pencegahan illegal mining, illegal logging, dan illegal fishing, (iii) peningkatan kesehatan dan kinerja BUMN yang disertai penerapan prinsip-prinsip
good corporate governance, dan (iv) pelaksanaan pungutan PNBP di berbagai
kementerian/lembaga.
Sementara itu, penerimaan hibah meningkat cukup tajam dari Rp1,3 triliun dalam tahun 2005 menjadi Rp1,8 triliun dalam tahun 2006. Penerimaan hibah tersebut merupakan donasi (grant) dari pihak asing (negara, lembaga, perorangan) yang tidak menimbulkan kewajiban bagi Pemerintah untuk membayarnya kembali. Dalam tahun 2007, penerimaan hibah diperkirakan mencapai Rp3,8 triliun, atau meningkat sekitar 111,1 persen. Mengingat tingkat penyerapan dana hibah yang relatif belum optimal dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah terus berupaya mendorong peningkatan kapasitas pengelolaan hibah secara lebih efisien dan efektif. Perkembangan penerimaan hibah yang diterima oleh Pemerintah Indonesia dalam tiga tahun terakhir terkait erat dengan terjadinya bencana alam yang melanda berbagai daerah khususnya dalam tahun 2006, seperti bencana alam, gempa bumi, dan gelombang tsunami yang menerpa sebagian besar wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias pada penghujung tahun 2004. Di samping itu peningkatan penerimaan hibah dalam tahun 2006 juga dialokasikan untuk mengatasi bencana alam yang menimpa pulau Simeuleu pada Maret
Grafik II.30
Penerim aan Negara Bukan Pajak
0 5 0 1 00 1 5 0 2 00 2 5 0 2 005 2 006 2 007 tr il iu n r u pia h
Total Penerimaan SDA Bagian Laba BUMN PNBP Lainny a Su m ber : Depa r tem en Keu a n ga n
2005 serta gempa bumi yang melanda Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006.
Belanja Negara
Sejalan dengan peningkatan kapasitas fiskal, volume anggaran belanja negara dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami peningkatan, untuk mendukung pendanaan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan sarana dan prasarana, pemantapan stabilitas ekonomi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain dipengaruhi oleh arah kebijakan alokasi anggaran seperti yang telah diuraikan sebelumnya, perkembangan alokasi anggaran belanja negara dari waktu ke waktu juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan berbagai indikator ekonomi makro, serta implementasi berbagai langkah kebijakan yang diambil oleh Pemerintah, seperti penetapan harga barang dan jasa yang dikendalikan Pemerintah (administered prices), serta berbagai kebutuhan mendesak yang timbul akibat bencana alam.
Sesuai dengan arah kebijakan fiskal yang digariskan dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) dan rencana kerja pemerintah (RKP), pengelolaan kebijakan anggaran negara dalam beberapa tahun terakhir diarahkan untuk mendukung proses konsolidasi fiskal, serta untuk memberikan stimulus fiskal dalam batas-batas kemampuan keuangan negara dalam rangka mendukung upaya akselerasi pertumbuhan ekonomi. Hal ini dilakukan mengingat salah satu peran strategis APBN khususnya kebijakan belanja negara adalah mendukung upaya memperkuat kerangka ekonomi makro yang stabil dan berkelanjutan. Dukungan terhadap langkah-langkah konsolidasi fiskal tersebut pada sisi belanja negara dilakukan melalui pengalokasian anggaran secara efektif dan efisien agar memberikan hasil yang optimal sesuai dengan prioritas yang ditetapkan dalam RPJMN dan RKP. Sementara itu pemberian stimulus fiskal di bidang belanja negara dilakukan melalui peningkatan belanja modal Pemerintah dengan prioritas pada pembangunan infrastruktur, perbaikan penghasilan aparatur negara, dan program pemberian bantuan langsung kepada masyarakat kurang mampu untuk mendorong sisi permintaan.
Selanjutnya, dalam rangka menunjang kelancaran penyelenggaraan fungsi pemerintahan, kebijakan alokasi anggaran belanja negara diarahkan antara lain untuk: (i) meningkatkan kualitas pelayanan publik; (ii) memenuhi kewajiban pembayaran bunga utang; (iii) menjaga stabilitas harga barang dan jasa strategis; serta (iv) memantapkan pelaksanaan desentralisasi fiskal. Sejalan dengan arah kebijakan belanja negara yang telah ditetapkan oleh Pemerintah,
implementasi berbagai kebijakan Pemerintah serta perkembangan berbagai indikator ekonomi makro yang ada, realisasi belanja negara dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Dalam tahun 2006, realisasi anggaran belanja negara meningkat cukup tajam, yakni dari semula sebesar Rp509,6 triliun dalam tahun 2005
Grafik II.31
Perkem bangan Belanja Negara
0 1 00 2 00 3 00 4 00 5 00 6 00 7 00 8 00 2 005 2 006 2 0 07 tr il iu n r u p ia h
Total Belanja Negara Belanja Pusat Transfer ke Daerah
menjadi Rp667,1 triliun, yang meningkat sebesar Rp157,5 triliun atau sekitar 30,9 persen. Dalam tahun 2007, anggaran belanja negara diperkirakan meningkat menjadi sebesar Rp752,4 triliun atau mengalami peningkatan 12,8 persen bila dibandingkan realisasi belanja negara tahun 2006.
Selain peningkatan pada volume belanja, dalam beberapa tahun terakhir juga terjadi perubahan komposisi belanja negara. Hal ini ditandai dengan relatif meningkatnya proporsi anggaran transfer ke daerah terhadap total belanja negara, sementara proporsi anggaran belanja pemerintah pusat menurun. Bila dalam tahun 2005, proporsi anggaran transfer ke daerah sebesar 29,5 persen dari total belanja negara, dalam tahun 2006 proporsi tersebut meningkat menjadi 33,9 persen dari total belanja negara. Kecenderungan meningkatnya alokasi transfer ke daerah dalam rangka pemantapan pelaksanaan desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan pengelolan dan pemanfaatan keuangan daerah yang lebih baik, sehingga dapat memberikan dampak yang optimal bagi perekonomian nasional secara keseluruhan. Di lain pihak, proporsi belanja Pemerintah Pusat, menurun dari semula 70,5 persen dalam tahun 2005 menjadi 66,1 persen dalam tahun 2006. Meskipun proporsi belanja Pemerintah Pusat terhadap total belanja negara mengalami penurunan, namun belanja Pemerintah Pusat secara nominal meningkat cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Bila dalam tahun 2005 anggaran belanja Pemerintah Pusat tercatat sebesar Rp361,1 triliun, dalam tahun 2006 meningkat menjadi Rp440,0 triliun, naik sebesar Rp78,9 triliun dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam tahun 2007, volume anggaran belanja Pemerintah Pusat diperkirakan meningkat menjadi sebesar Rp498,2 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 13,2 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan volume tersebut selain dipengaruhi oleh perkembangan indikator ekonomi makro, suku bunga, harga minyak mentah Indonesia (ICP), nilai tukar rupiah, juga ditentukan oleh berbagai kebijakan dan program kerja Pemerintah khususnya terkait upaya peningkatan target produksi beras, penanggulangan bencana alam, upaya perbaikan kualitas pertumbuhan melalui peningkatan alokasi belanja modal, upaya peningkatan infrastruktur, dan pengembangan energi alternatif untuk mengurangi konsumsi BBM.
Transfer ke Daerah
Sejalan dengan upaya reformasi di bidang pengelolaan keuangan negara, telah dilakukan pula upaya reformasi di bidang keuangan daerah dengan penyempurnaan terhadap UU Nomor 22 Tahun 1999 menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 25 Tahun 1999 menjadi UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Kedua UU di bidang keuangan daerah tersebut merupakan upaya reformasi terhadap pengelolaan keuangan daerah yang ditandai dengan: (i) penerapan prinsip unified budget; (ii) perubahan
T-account menjadi I-T-account; (iii) perubahan anggaran berimbang menjadi anggaran
defisit/surplus; (iv) perubahan incremental budgetary menjadi performance
based-budget; (v) adanya klasifikasi anggaran berdasarkan organisasi, fungsi dan jenis belanja;
(vi) perubahan dari single entry menjadi double entry; (vii) penerapan Sistem Akuntansi Pemerintahan yang mengacu pada Standar Akuntansi Internasional; serta (viii) anggaran berdasarkan medium term expenditure framework (MTEF). Sejalan dengan pelaksanaan reformasi tersebut, daerah juga diberikan kewenangan yang lebih besar untuk memungut
pajak daerah dan retribusi daerah agar dapat meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Hal tersebut diatur dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 yang telah diubah dengan Undang-Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas UU Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Dalam upaya melaksanakan kebijakan desentralisasi fiskal, kebijakan alokasi anggaran transfer ke daerah dalam kurun waktu 2006-2007 diarahkan untuk: (i) meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nasional; (ii) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas alokasi transfer ke daerah serta partisipasi masyarakat; (iii) mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah (vertical fiscal imbalance) dan antardaerah
(horizontal fiscal imbalance); (iv) meningkatkan pelayanan publik; serta
(v) meningkatkan efisiensi melalui anggaran berbasis kinerja sejalan dengan format APBN.
Dalam tiga tahun terakhir, realisasi transfer ke daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiskal menunjukkan peningkatan baik dari besaran nominalnya maupun rasionya terhadap PDB. Bila dalam tahun 2005, total realisasi transfer ke daerah mencapai sebesar Rp150,5 triliun (5,4 persen terhadap PDB), dalam tahun 2006 besarnya realisasi transfer ke daerah meningkat menjadi Rp226,2 triliun (6,8 persen terhadap PDB). Dalam tahun 2007, realisasi transfer ke daerah diperkirakan meningkat kembali menjadi Rp254,2 triliun (6,8 persen terhadap PDB). Alokasi transfer ke daerah dalam APBN terdiri dari dana perimbangan, serta dana otonomi khusus (Otsus) dan dana penyesuaian.
Alokasi dana perimbangan yang merupakan komponen terbesar dalam alokasi transfer ke daerah senantiasa menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Dana perimbangan terdiri atas dana bagi hasil (DBH), dana alokasi umum (DAU), dan dana alokasi khusus (DAK). Dalam tahun 2007, perkiraan realisasi dana perimbangan mencapai Rp244,6 triliun atau 6,5 persen terhadap PDB. Jumlah ini meningkat bila dibandingkan dengan realisasi dana perimbangan tahun 2006, yaitu sebesar Rp222,1 triliun (6,7 persen terhadap PDB). Realisasi dana perimbangan tersebut diperkirakan akan terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam tahun 2008 seiring dengan kenaikan pendapatan dalam
negeri (PDN) neto.
Sejalan dengan peningkatan realisasi transfer ke daerah dalam rangka pemantapan pelaksanaan desentralisasi fiskal, realisasi DBH dalam tiga tahun terakhir juga mengalami kenaikan. Perlu diketahui bahwa dalam tahun 2006, DAK DR beralih ke dalam DBH kehutanan karena DAK DR mempunyai sifat yang sama dengan DBH (by origin). Dalam tahun 2006, realisasi DBH mencapai sebesar Rp64,9 triliun, meningkat cukup tajam dibandingkan dengan realisasi DBH tahun 2005 (termasuk DAK DR) sebesar Rp50,5 triliun. Kenaikan yang
Grafik II.32
Perkembangan Alokasi Transfer ke Daerah
0 2 0 4 0 6 0 8 0 1 00 1 2 0 1 4 0 1 6 0 1 8 0 2 005 2 006 2 007 tr il iu n r u p ia h
DBH DAU DAK Dana Otsus dan Peny
cukup signifikan ini terutama berasal dari DBH minyak dan gas (migas) yang terkait dengan kenaikan harga minyak ICP di pasar internasional. Sementara itu dalam tahun 2007, besarnya realisasi DBH diperkirakan sedikit mengalami penurunan menjadi sebesar Rp62,7 triliun akibat menurunnya harga minyak dunia dan apresiasi nilai tukar rupiah. Perhitungan DBH migas sangat dipengaruhi oleh perkembangan asumsi harga minyak internasional dan nilai tukar rupiah.
DAU dialokasikan kepada daerah dengan tujuan untuk mengurangi ketimpangan fiskal antardaerah (horizontal fiscal imbalance) guna mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DAU diberikan dalam bentuk block grant sehingga penggunaannya merupakan kewenangan penuh daerah. Berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2004, total pagu DAU nasional ditetapkan sekurang-kurangnya 25,5 persen dari PDN neto dalam APBN. Dalam tahun 2006 dan 2007, alokasi DAU ditetapkan sebesar 26 persen dari PDN neto. Adapun pembagian DAU antara kabupaten/kota dan provinsi adalah 90 persen untuk daerah kabupaten/kota dan 10 persen untuk daerah provinsi. Realisasi DAU setiap tahun senantiasa mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada tahun 2005 realisasi DAU mencapai Rp88,8 triliun (3,2 persen terhadap PDB), sedangkan dalam tahun 2006 mencapai sebesar Rp145,7 triliun (4,4 persen terhadap PDB). Sementara itu, dalam tahun 2007, realisasi DAU diperkirakan mencapai Rp164,8 triliun (4,4 persen terhadap PDB), atau mengalami kenaikan cukup signifikan, yakni sekitar 13,1 persen. Kecenderungan kenaikan realisasi DAU dalam dua tahun terakhir terkait dengan kebijakan kenaikan tingkat persentase yang digunakan dalam formula perhitungan dari 25,5 persen menjadi 26,0 persen terhadap total PDN neto. Selain itu, sejalan dengan membaiknya kinerja perekonomian nasional, PDN neto yang merupakan basis perhitungan DAU juga mengalami kenaikan.
Komponen lainnya dari dana perimbangan adalah DAK. DAK merupakan bantuan khusus
(specific grant) yang dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan
khusus yang merupakan urusan daerah sesuai dengan prioritas nasional. DAK dialokasikan terutama untuk membantu membiayai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat atau untuk mendorong percepatan pembangunan daerah. Alokasi DAK ke daerah ditentukan berdasarkan kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis, dimana nilainya meningkat dari tahun ke tahun. Realisasi DAK dalam tahun 2006 mencapai Rp11,6 triliun (0,3 persen terhadap PDB), meningkat dibandingkan DAK tahun 2005 (tidak termasuk DAK DR) sebesar Rp4,0 triliun (0,1 persen terhadap PDB). Dalam tahun 2007, jumlah tersebut diperkirakan mencapai sebesar Rp17,1 triliun (0,5 persen terhadap PDB). DAK tahun 2007 tersebut dialokasikan untuk bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, prasarana pemerintahan, kelautan dan perikanan, pertanian, serta lingkungan hidup.
Selain dana perimbangan, sejak tahun 2002 Pemerintah juga mengalokasikan dana Otsus dan dana penyesuaian pada pos anggaran transfer ke daerah dalam APBN. Dana Otsus dialokasikan kepada Provinsi Papua dalam rangka pelaksanaan otonomi khusus sebagai pelaksanaan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Sementara itu, dana penyesuaian merupakan dana yang dialokasikan kepada daerah tertentu yang menerima DAU lebih kecil dari tahun anggaran sebelumnya
(hold-harmless), yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara. Namun
keuangan kepada daerah apabila pemerintah mengeluarkan kebijakan secara nasional yang dapat berdampak pada peningkatan beban pengeluaran daerah, serta untuk penyediaan sarana dan prasarana pembangunan infrastruktur di daerah-daerah berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan oleh DPR.
Dalam tahun 2006, realisasi dana Otsus dan penyesuaian mengalami penurunan yang cukup signifikan, yaitu dari Rp7,2 triliun (0,3 persen terhadap PDB) dalam tahun 2005 menjadi Rp4,0 triliun (0,1 persen terhadap PDB). Dalam tahun 2007, realisasi dana Otsus dan penyesuaian diperkirakan meningkat menjadi sebesar Rp9,6 triliun (0,3 persen terhadap PDB) atau meningkat sebesar Rp5,5 triliun dari tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama disebabkan adanya realisasi dana penyesuaian dalam rangka mendukung pelaksanaan program percepatan pembangunan infrastruktur, dan dana tunjangan kependidikan guru.
Dalam pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal selama ini masih terdapat beberapa tantangan, antara lain: perlunya peningkatan harmonisasi hubungan antara undang-undang desentralisasi dengan undang-undang-undang-undang sektoral, peningkatan kapasitas daerah, adanya penghapusan kebijakan penyesuaian DAU (hold-harmless), dimana tidak ada daerah yang menerima DAU lebih kecil daripada DAU yang diterima pada tahun sebelumnya, masih terdapatnya berbagai peraturan daerah (perda) yang dapat mendorong timbulnya ekonomi biaya tinggi dan menghambat investasi, belum tersedianya standar pelayanan minimum (SPM), pelaksanaan aturan pengelolaan keuangan daerah yang lebih baik, serta rencana pengalihan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan menjadi