Berdasarkan Prioritas Pembangunan Tahun 2008 Sebagai tahun keempat dari pelaksanaan RPJMN Tahun 2004-2009, tema pembangunan
4.3.2. Meningkatkan pelayanan dasar dan pemerataan
Dalam melaksanakan agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat, upaya peningkatan pelayanan dasar dan pemerataan pembangunan akan terus dilakukan, baik dalam rangka mempercepat penurunan jumlah orang miskin, maupun dalam upaya mengurangi kesenjangan antarwilayah, yang tercermin dari meningkatnya peran perdesaan sebagai basis pertumbuhan ekonomi agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan; meningkatnya pembangunan pada daerah-daerah terbelakang dan tertinggal; meningkatnya pengembangan wilayah yang didorong oleh daya saing kawasan dan produk-produk unggulan daerah; serta meningkatnya keseimbangan pertumbuhan pembangunan antar kota-kota metropolitan, besar, menengah, dan kecil dengan memperhatikan keserasian pemanfaatan ruang dan penatagunaan tanah.
Dalam kerangka tersebut, peningkatan pelayanan dasar dan pemerataan dalam tahun 2008, akan dilakukan melalui prioritas: (i) peningkatan akses dan kualitas pendidikan dan kesehatan; dan (ii) peningkatan efektivitas penanggulangan kemiskinan.
4.3.2.1. Peningkatan Akses dan Kualitas Pendidikan dan
Kesehatan
Sebagai bagian dari upaya pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, pembangunan pendidikan dan kesehatan terus ditingkatkan dalam rangka memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu memperoleh layanan pendidikan dan kesehatan yang layak dan memadai. Dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM), indikator status pendikan dan kesehatan merupakan komponen utama selain pendapatan per kapita. Dengan demikian, pembangunan pendidikan dan kesehatan merupakan salah satu upaya utama untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang pada gilirannya mendukung percepatan pembangunan nasional.
Dalam upaya meningkatkan pelayanan dasar pendidikan dan pemerataan pembangunan di bidang pendidikan, prioritas akan diberikan kepada upaya-upaya: (i) akselerasi penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun yang merata dan bermutu;
(ii) peningkatan ketersediaan, kualitas dan kesejahteraan pendidik; (iii) peningkatan akses,
pemerataan dan relevansi pendidikan menengah dan tinggi yang berkualitas; dan
(iv) peningkatan pendidikan luar sekolah. Sedangkan dalam rangka meningkatkan
pelayanan dasar kesehatan dan pemerataan pembangunan di bidang kesehatan, fokus kegiatan akan ditekankan pada: (i) peningkatan akses, pemerataan, keterjangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat miskin; (ii) peningkatan ketersediaan tenaga medis dan paramedis, terutama untuk pelayanan kesehatan dasar di daerah terpencil dan tertinggal; (iii) pencegahan dan pemberantasan penyakit menular;
(iv) penanganan masalah gizi kurang dan gizi buruk pada ibu hamil, bayi dan anak
balita; (v) peningkatan pemanfaatan obat generik esensial, pengawasan obat, makanan dan keamanan pangan; serta (vi) revitalisasi program KB.
Dampak yang diharapkan dari upaya peningkatan akses dan kualitas pendidikan dalam tahun 2008 adalah: (i) meningkatnya partisipasi jenjang pendidikan dasar yang diukur dengan meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) jenjang SD termasuk SDLB/MI/Paket A setara SD menjadi 110,9 persen dan 94,8 persen; meningkatnya APK jenjang SMP/MTs/Paket B setara SMP menjadi 95 persen; meningkatnya angka partisipasi sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun menjadi 99,5 persen; dan meningkatnya APS penduduk usia 13-15 tahun menjadi 94,3 persen;
(ii) meningkatnya partisipasi jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang
diukur dengan meningkatnya APK jenjang SMA/SMK/MA/Paket C setara SMA menjadi 64,2 persen; meningkatnya APS penduduk usia 16–18 tahun menjadi 65,8 persen; dan meningkatnya APK jenjang pendidikan tinggi menjadi 17,2 persen; (iii) meningkatnya proporsi sekolah yang memiliki fasilitas pelayanan pendidikan sesuai dengan standar nasional pendidikan, yang merujuk pada standar pelayanan minimal (SPM) pendidikan;
(iv) meningkatnya keadilan dan kesetaraan pendidikan antarkelompok masyarakat
termasuk antara perkotaan dan perdesaan, antara daerah maju dan daerah tertinggal, antara penduduk kaya dan penduduk miskin, serta antara penduduk laki-laki dan perempuan; (v) meningkatnya proporsi pendidik yang memenuhi kualifikasi pendidikan dan standar kompetensi yang disyaratkan; (vi) meningkatnya kesejahteraan pendidik; serta (vii) menurunnya angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas menjadi 6,2
persen, bersamaan dengan makin berkembangnya budaya baca yang didukung oleh tersedianya perpustakaan sebagai fasilitas sumber belajar sepanjang hayat.
Sementara itu, sasaran pembangunan kesehatan dalam tahun 2008, yaitu meningkatnya status kesehatan dan gizi masyarakat, yang ditandai dengan: meningkatnya usia harapan hidup, menurunnya angka kematian bayi, menurunnya angka kematian ibu, dan menurunnya prevalensi gizi kurang pada balita. Sedangkan dampak yang diharapkan dari upaya peningkatan aksesibilitas dan kualitas kesehatan dalam tahun 2008 diantaranya meliputi: (i) meningkatnya persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat; (ii) meningkatnya persentase keluarga menghuni rumah yang memenuhi syarat kesehatan mencakup 50,0 persen; persentase keluarga menggunakan air bersih mencakup 61,0 persen; dan persentase keluarga menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan mencakup 66,5 persen; (iii) meningkanya persentase tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan mencakup 80,0 persen;
(iv) meningkatnya cakupan rawat jalan mencakup 15,0 persen; (v) meningkatnya
cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan mencakup 85,0 persen;
(vi) meningkatnya persentase rumah sakit yang memiliki pelayanan gawat darurat yang
memenuhi standar mutu mencakup 50,0 persen; persentase rumah sakit yang melaksanakan pelayanan obstetri dan neonatal emergensi komprehensif mencakup 70,0 persen; meningkatnya persentase rumah sakit yang terakreditasi mencakup 70,0 persen;
(vii) terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan di 28.000 desa; (viii) meningkatnya Case Detection Rate TB mencakup > 70,0 persen; (ix) menurunnya angka Acute Flaccid Paralysis menjadi d” 1 per 100 ribu anak usia kurang dari 15 tahun; (x) menurunnya Case Fatality Rate diare saat KLB mencakup < 1,2 persen; (xi) meningkatnya persentase
penderita flu burung yang ditangani mencakup 100,0 persen; (xii) meningkatnya persentase guru, dosen dan instruktur bidang kesehatan yang ditingkatkan kemampuannya mencakup 12,0 persen; (xiii) meningkatnya persentase peredaran produk pangan yang memenuhi syarat mencakup 70,0 persen; serta (xiv) meningkatnya cakupan pemeriksaan sarana produksi dalam rangka cara pembuatan obat yang baik (CPOB) mencakup 45,0 persen; (xv) meningkatnya pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di puskesmas dan kelas III rumah sakit mencakup 100 persen. Berbagai sasaran tersebut di atas, akan diupayakan pencapaiannya melalui berbagai program/kegiatan yang akan dilaksanakan oleh berbagai kementerian/lembaga, yang penjelasan detailnya dapat diikuti dalam subbab 4.4.1. mengenai belanja pemerintah pusat menurut organisasi.
4.3.2.2. Peningkatan Efektivitas Penanggulangan Kemiskinan
Penurunan angka kemiskinan selain cermin dari peningkatan kesejahteraan rakyat, juga akan berdampak positif pada peningkatan harkat dan martabat bangsa Indonesia di mata dunia. Dalam kerangka tersebut, upaya penanggulangan kemiskinan akan terus ditingkatkan efektivitasnya, dan dipercepat pelaksanaannya.
Peningkatan efektivitas penanggulangan pengurangan kemiskinan pada tahun 2008 akan dititikberatkan pada upaya-upaya: (i) menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok, dengan alokasi anggaran sebesar Rp289,7 miliar; (ii) mengembangkan kegiatan ekonomi yang berpihak pada rakyat miskin, dengan alokasi anggaran sebesar Rp779,6 miliar;
(iii) menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis
masyarakat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp4.773,7 miliar; (iv) meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan dasar terutama pada daerah tertinggal dan terisolasi, dengan alokasi anggaran sebesar Rp1.802,4 miliar; serta (v) membangun dan menyempurnakan sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin, dengan alokasi anggaran sebesar Rp2.444,3 miliar. Pendekatan utama yang digunakan adalah melindungi rumah tangga miskin, khususnya yang sangat miskin serta meningkatkan keberdayaan rumah tangga miskin dalam satu kelembagaan kelompok masyarakat miskin pada tingkat lokal. Masyarakat miskin didorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan secara kolektif, berbasis masyarakat, serta memberikan manfaat bagi peningkatan pendapatan rumah tangga miskin. Dalam kaitan itu, kapasitas pemerintahan dan pendampingan langsung kepada masyarakat akan ditingkatkan sehingga mampu mendorong kepercayaan diri kelompok masyarakat miskin dalam menanggulangi permasalahannya.
Dalam rangka meningkatkan peran perdesaan sebagai basis pertumbuhan ekonomi agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan seperti telah diuraikan dalam bagian 4.3.1.2, pembangunan pertanian dan pembangunan perdesaan juga akan didorong melalui peningkatan produksi pangan, produktivitas pertanian secara luas, diversifikasi ekonomi perdesaan, pembaharuan agraria nasional, serta pengembangan kota kecil dan menengah pendukung ekonomi perdesaan. Di samping itu, upaya untuk menurunkan jumlah penduduk miskin juga akan didorong oleh berbagai program yang diarahkan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi yang pro-rakyat miskin, memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat dalam program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri (PNPM-mandiri), dan mengoptimalkan fungsi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan, baik di pusat maupun di daerah, serta meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar. Sementara itu, kebutuhan pokok, utamanya beras yang berpengaruh bagi kesejahteraan masyarakat miskin akan dijamin ketersediaannya dengan akses dan harga yang terjangkau.
Melalui berbagai fokus tersebut, dampak yang diharapkan dari prioritas peningkatan efektivitas penanggulangan kemiskinan adalah meningkatnya kesejahteraan penduduk miskin dan sekaligus menurunnya angka kemiskinan berada pada kisaran 14,2 persen sampai dengan 16,0 persen. Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut, dalam tahun 2008 melalui berbagai kementerian/lembaga akan dilakukan berbagai program/proyek/kegiatan yang mempunyai manfaat nyata kepada masyarakat miskin dan rumah tangga miskin, dan difokuskan pula pada program/proyek/kegiatan yang menjangkau lokasi/daerah miskin dengan kategori mempunyai jumlah masyarakat miskin dan rumah tangga miskin yang besar. Berbagai program/kegiatan yang akan dilaksanakan oleh berbagai kementerian/lembaga dalam upaya peningkatan efektivitas penanggulangan kemiskinan tersebut dapat diikuti dalam subbab 4.4.1. mengenai belanja pemerintah pusat menurut organisasi.