Boks III.1. : Beberapa Pokok-Pokok Perubahan Ketentuan Umum Perpajakan (KUP)
9. PNBP Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans)
3.3. Pendapatan Negara 2008
3.3.2. Perkiraan Penerimaan Perpajakan
Penerimaan perpajakan dalam APBN tahun 2008 ditetapkan mencapai Rp592,0 triliun, atau sekitar 13,7 persen terhadap PDB. Jumlah ini, secara nominal mengalami peningkatan sebesar Rp100,0 triliun atau 20,3 persen apabila dibandingkan dengan sasaran penerimaan perpajakan yang dianggarkan dalam APBN-P tahun 2007 sebesar Rp492,0 triliun. Perhitungan perkiraan penerimaan perpajakan tahun 2008 dilakukan melalui dua pendekatan, pertama, menurut sektor ekonomi dan kedua, menurut jenis pajak.
Penerimaan Perpajakan Menurut Sektor Ekonomi
Secara umum pertumbuhan dan kondisi ekonomi makro tercermin dalam perkembangan sektor-sektor industri yang ada. Penerimaan Perpajakan per sektor, baik PPh maupun PPN Dalam Negeri diharapkan menunjukkan pertumbuhan yang selaras dengan pertumbuhan ekonomi. Penerimaan PPh rata-rata per sektor pada tahun 2008 diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 21,5 persen sedangkan PPN Dalam Negeri pada tahun 2008 diperkirakan mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2007 yaitu sebesar 29,7 persen. Untuk PPN Impor diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang rendah tetapi masih lebih tinggi dibandingkan dengan
Pendapatan Negara dan Hibah 723,1 19,1 694,1 18,5 781,4 18,1
I. Penerimaan dalam Negeri 720,4 19,1 690,3 18,4 779,2 18,1
1. Penerimaan Perpajakan 509,5 13,5 492,0 13,1 592,0 13,7
a. Pajak Dalam Negeri 494,6 13,1 474,6 12,6 570,0 13,2
b. Pajak Perdagangan Internasional 14,9 0,4 17,5 0,5 22,0 0,5
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak 210,9 5,6 198,3 5,3 187,2 4,3
a. Penerimaan Sumber Daya Alam 146,3 3,9 115,1 3,1 126,2 2,9
b. Bagian Laba BUMN 19,1 0,5 21,8 0,6 23,4 0,5
c. Surplus Bank Indonesia - - 13,7 0,4 -
-d. PNBP Lainnya 45,6 1,2 47,7 1,3 37,6 0,9
II. Hibah 2,7 0,1 3,8 0,1 2,1 0,0
PDB Nominal 3.531,1 3.761,4 4.306,6
Sumber: Departemen Keuangan (diolah)
Tabel III.15
Pendapatan Negara dan Hibah APBN-P 2007 dan APBN 2008 (triliun rupiah) APBN % thd PDB % thd PDB APBN-P 2008 APBN URAIAN 2007 % thd PDB
perkiraan pertumbuhan ekonomi sebesar 9,5 persen. Hal ini terjadi karena perkiraan melemahnya nilai tukar rupiah dibandingkan tahun sebelumnya. Gambaran pertumbuhan perpajakan berdasarkan sektor industri terlihat pada Tabel III.16.
Sektor ekonomi yang diperkirakan memiliki kontribusi PPh yang tinggi adalah sektor Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan dengan jumlah penerimaan sebesar Rp73,4 triliun dengan pertumbuhan sebesar 25,7 persen. Untuk PPN Dalam Negeri dan PPN Impor, sektor yang memberikan kontribusi tertinggi adalah Industri Pengolahan dengan kontribusi sebesar Rp31,5 triliun dengan pertumbuhan 26,0 persen untuk PPN dalam Negeri dan sebesar Rp23,7 triliun dengan pertumbuhan 2,2 persen untuk PPN impor. Sedangkan sektor ekonomi yang diperkirakan memiliki pertumbuhan PPh yang tinggi adalah sektor Pertambangan Bukan Migas, Pengangkutan dan Komunikasi, dan Jasa Lainnya yang pertumbuhannya diatas 30 persen. Untuk PPN Dalam Negeri dan PPN Impor, sektor yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi adalah Listrik Gas dan Air Bersih, Pertanian, Pengangkutan dan Komunikasi, Keuangan Real Estate dan Jasa Perusahaan, dan Penggalian dengan tingkat pertumbuhan diatas 50 persen.
Tiga sektor utama perekonomian, yakni industri pengolahan, keuangan, dan pertambangan migas diperkirakan mencapai pertumbuhan PPh dan PPN yang lebih tinggi. Untuk sektor industri pengolahan, perkiraan pertumbuhan PPh pada tahun 2008, diperkirakan sebesar 11,3 persen dan PPN Dalam Negeri 26,0 persen mengikuti upaya pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan memperbaiki iklim investasi yang cukup memadai untuk mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Tingginya perkiraan PPN Impor khususnya industri pengolahan menunjukkan masih tingginya kebutuhan impor barang modal yang dibutuhkan sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat pertumbuhan sektor industri pengolahan dan perdagangan. Membaiknya konsumsi masyarakat, meningkatnya kegiatan investasi dari sektor swasta dan belanja modal pemerintah, serta meningkatnya ekspor karena membaiknya daya saing produk Indonesia diperkirakan akan sejalan dengan peningkatan penerimaan perpajakan di semua jenis pajak.
Growth Growth Growth
(%) (%) (%)
Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan 3,2 3,7 15,6 2,0 3,1 55,0 0,1 0,2 50,0 Pertambangan Migas 13,7 15,6 13,9 28,3 24,6 43,9 10,1 11,9 17,8 Pertambangan Bukan Migas 7,2 10,4 44,4 1,2 1,6 33,3 0,2 0,2
-Penggalian 0,2 0,3 30,0 0,4 0,7 75,0 0,1 0,2 100,0
Industri Pengolahan 46,1 51,3 11,3 25,0 31,5 26,0 23,2 23,7 2,2 Listrik, Gas, dan Air Bersih 6,1 7,9 29,5 0,7 1,2 71,4 0,2 0,2
-Konstruksi 3,8 4,7 23,7 7,2 10,7 48,6 0,6 0,9 50,0
Perdagangan, Hotel, dan Restoran 19,2 24,6 28,1 14,1 18,3 29,8 11,0 12,1 10,0 Pengangkutan dan Komunikasi 19,8 26,3 32,8 7,4 13,9 87,8 2,1 2,6 23,8 Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan 58,4 73,4 25,7 14,1 24,8 75,9 0,5 0,6 20,0
Jasa Lainnya 8,5 12,1 42,4 1,9 2,3 21,1 0,1 0,1
-Kegiatan yang belum jelas batasannya 65,6 75,6 12,1 1,6 2,1 31,3 - 0,1
-Total 251,8 305,9 21,5 103,9 134,8 29,7 48,2 52,8 9,5
Sumber: Departemen Keuangan (diolah)
2007 2008 2007 2008
Sektor Ekonomi
Tabel III.16
Rencana Penerimaan dan Perkiraan Pertumbuhan Penerimaan PPh dan PPN menurut Sektor Ekonomi 2007-2008
(triliun rupiah)
PPh PPN Dalam Negeri PPN Impor 2007 2008
Penerimaan Perpajakan Menurut Jenis Pajak
Dalam APBN tahun 2008, penerimaan perpajakan ditetapkan sebesar Rp592,0 triliun, atau 13,7 persen terhadap PDB. Jumlah ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar Rp100,0 triliun atau 20,3 persen apabila dibandingkan dengan sasaran penerimaan perpajakan dalam APBN-P tahun 2007 sebesar Rp492,0 triliun (13,1 persen terhadap PDB). Dalam Tabel III.17 dapat dilihat perkiraan penerimaan perpajakan dalam APBN-P 2007 dan APBN 2008.
Rencana penerimaan perpajakan tahun 2008 tersebut, berasal dari penerimaan pajak dalam negeri sebesar Rp570,0 triliun (96,3 persen dari total penerimaan perpajakan), dan sisanya pajak perdagangan internasional Rp22,0 triliun (3,7 persen dari total penerimaan perpajakan).
Rencana penerimaan perpajakan dalam tahun 2008 tersebut, selain dipengaruhi oleh faktor membaiknya kondisi ekonomi makro, juga berkaitan dengan berbagai langkah kebijakan dan administrasi yang telah dan akan diambil di bidang perpajakan. Perubahan UU perpajakan akan berdampak pada penerimaan negara dan perekonomian, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek perubahan UU KUP dan UU PPh akan mengakibatkan potential loss karena tertundanya pembayaran pajak berdasarkan hasil pemeriksaan dan adanya penurunan tarif PPh Badan dan PPh Orang Pribadi. Namun, pada tahun-tahun berikutnya penerimaan pajak diperkirakan akan meningkat sejalan dengan meningkatnya gairah investasi sebagai akibat peningkatan daya saing produk Indonesia sebagai dampak perubahan kebijakan tersebut. Penyempurnaan terhadap administrasi perpajakan yang diperkirakan memberikan dampak positif pada penerimaan perpajakan diantaranya mencakup langkah-langkah:
(i) peningkatan kepatuhan terhadap UU Perpajakan yang baru; (ii) pembentukan
kantor-kantor pelayanan pajak modern dengan penerapan sistem pemungutan berbasis tekonologi informasi; (iii) reorganisasi pada struktur organisasi DJP dari organisasi
APBN % thd PDB APBN-P % thd PDB APBN % thd PDB Penerimaan Perpajakan 509,5 13,5 492,0 13,1 592,0 13,7 a. Pajak Dalam Negeri 494,6 13,1 474,5 12,6 570,0 13,2
i. Pajak Penghasilan 261,7 6,9 251,8 6,7 306,0 7,1 1. Migas 41,2 1,1 37,3 1,0 41,6 1,0 2. Nonmigas 220,5 5,8 214,5 5,7 264,3 6,1 ii. PPN dan PPnBM 161,0 4,3 152,1 4,0 187,6 4,4 iii. PBB 21,3 0,6 22,0 0,6 24,2 0,6 iv. BPHTB 5,4 0,1 4,0 0,1 4,9 0,1 v. Cukai 42,0 1,1 42,0 1,1 44,4 1,0
vi. Pajak Lainnya 3,2 0,1 2,7 0,1 2,9 0,1
b. Pajak Perdagangan Internasional 14,9 0,4 17,5 0,5 22,0 0,5
i. Bea Masuk 14,4 0,4 14,4 0,4 17,9 0,4
ii. Bea Keluar (Pungutan Ekspor) 0,5 0,0 3,0 0,1 4,1 0,1
Sumber : Departemen Keuangan (diolah)
Uraian
Tabel III.17
Penerimaan Perpajakan APBN-P 2007 dan APBN 2008 (triliun rupiah)
berdasarkan jenis pajak menjadi organisasi berdasarkan fungsi; (iv) penegakan Kode Etik Pegawai; (v) perbaikan sistem remunerasi; dan (vi) pembentukan Account
Representative.
Pajak Penghasilan Nonmigas
Dari rencana penerimaan perpajakan tersebut pada Tabel III.17, sasaran penerimaan PPh dalam APBN tahun 2008 ditetapkan sebesar Rp306,0 triliun atau 7,1 persen terhadap PDB. Jumlah ini sebagian besar (86,4 persen) berasal dari penerimaan PPh Nonmigas, sedangkan sisanya (13,6 persen) berasal dari PPh migas. Dalam APBN tahun 2008, penerimaan PPh Nonmigas ditetapkan sebesar Rp264,3 triliun, atau 6,1 persen terhadap PDB. Jumlah ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar Rp49,8 triliun atau 23,2 persen bila dibandingkan dengan sasaran penerimaan PPh Nonmigas dalam APBN-P tahun 2007 sebesar Rp214,5 triliun (5,7 persen terhadap PDB). Peningkatan rencana penerimaan PPh Nonmigas tahun 2008 tersebut, selain dipengaruhi oleh perkembangan kondisi ekonomi makro, juga berkaitan dengan langkah-langkah perbaikan di bidang administrasi perpajakan dan program optimalisasi penerimaan negara yang telah direncanakan untuk dilaksanakan dalam tahun 2008.
Di samping langkah-langkah perbaikan administrasi perpajakan seperti diuraikan di atas, dalam rangka memperbaiki sistem perpajakan yang ada, Pemerintah telah mengajukan rancangan amandemen atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan, yang diharapkan dapat diselesaikan pembahasan dan pengesahannya dalam tahun 2007 ini, sehingga dapat diberlakukan pada tahun 2008.
Antisipasi pada substansi perubahan undang-undang pajak penghasilan yang berpengaruh pada target penerimaan PPh 2008 adalah mencakup: (i) penurunan tarif PPh badan; (ii) pemberian fasilitas perpajakan kepada wajib pajak (WP), diantaranya dengan menaikkan besarnya penghasilan tidak kena pajak (PTKP), menyederhanakan lapisan tarif PPh orang pribadi dari semula lima lapisan menjadi empat lapisan, dan memperkenalkan tarif tunggal untuk PPh badan; (iii) perluasan biaya yang diperkenankan untuk dikurangkan dari penghasilan kena pajak (deductible expense); serta (iv) perluasan basis pajak, diantaranya melalui pengenaan tarif yang lebih tinggi bagi WP tidak ber-NPWP dibandingkan dengan WP yang ber-ber-NPWP.
Pajak Penghasilan Migas
Sementara itu, penerimaan PPh Migas dalam APBN tahun 2008 ditetapkan sebesar Rp41,6 triliun, atau 1,0 persen terhadap PDB. Jumlah ini mencerminkan adanya peningkatan PPh Migas sebesar Rp4,4 triliun atau 11,8 persen bila dibandingkan dengan sasaran penerimaan PPh Migas dalam APBN-P tahun 2007 sebesar Rp37,3 triliun (1,0 persen terhadap PDB). Peningkatan penerimaan PPh Migas tahun 2008 tersebut, terutama berkaitan dengan asumsi meningkatnya lifting minyak dari 0,950 juta barel per hari (million barrel calendar day/MBCD) pada APBN-P 2007 menjadi 1,034 MBCD pada APBN 2008.
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah
Selanjutnya, sasaran penerimaan PPN dan PPnBM dalam APBN tahun 2008 ditetapkan sebesar Rp187,6 triliun atau 4,4 persen terhadap PDB. Jumlah ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar Rp35,6 triliun atau 23,4 persen bila dibandingkan dengan sasaran penerimaan PPN dan PPnBM dalam APBN-P tahun 2007 sebesar Rp152,1 triliun (4,0 persen terhadap PDB). Lebih tingginya rencana penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2008 tersebut, selain didasarkan pada perkiraan lebih baiknya kondisi perekonomian Indonesia dalam tahun 2008, investasi dan impor serta meningkatnya daya beli masyarakat, juga memperhitungkan berbagai langkah penyempurnaan administrasi dan kebijakan perpajakan dalam tahun 2008.
Langkah-langkah penyempurnaan administrasi perpajakan, khususnya di bidang PPN dan PPnBM dalam tahun 2008, antara lain meliputi: (i) redesign tata usaha penerimaan dan restitusi pajak; (ii) penyempurnaan business process pengawasan kepatuhan perpajakan dalam kegiatan impor; dan (iii) penyempurnaan Standard Operating
Procedure. Selain itu, penyempurnaan kebijakan perpajakan berupa amandemen terhadap
Undang-Undang tentang PPN dan PPnBM diharapkan sudah dapat diberlakukan pada tahun 2008 sehingga dapat mempengaruhi penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2008.
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Penerimaan PBB dalam APBN tahun 2008 ditetapkan sebesar Rp24,2 triliun (0,6 persen terhadap PDB). Apabila dibandingkan dengan sasaran penerimaan PBB yang ditetapkan dalam APBN-P tahun 2007 sebesar Rp22,0 triliun atau 0,6 persen terhadap PDB, maka jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp2,1 triliun atau 9,7 persen. Peningkatan rencana penerimaan PBB dalam tahun 2008 tersebut terutama berkaitan dengan lebih baiknya kondisi perekonomian nasional dalam tahun 2008 jika dibandingkan dengan kondisi perekonomian dalam tahun 2007, sebagaimana terlihat dari lebih tingginya asumsi perkiraan pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2008. Selain itu, rencana penerimaan PBB tahun 2008 juga dipengaruhi oleh langkah-langkah penyempurnaan terhadap sistem dan berbagai kebijakan pembaharuan administrasi PBB yang secara terus menerus dilakukan, seperti: (i) integrasi database PBB ke database nasional; (ii) pembangunan Data Processing Center (DPC); dan (iii) pengembangan Sistem Taxpayer Account.
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
Penerimaan BPHTB dalam tahun 2008 ditetapkan sebesar Rp4,9 triliun atau 0,1 persen terhadap PDB. Jumlah ini, berarti mengalami peningkatan sebesar Rp0,9 triliun atau 22,4 persen bila dibandingkan dengan sasaran penerimaan BPHTB dalam APBN-P tahun 2007 sebesar Rp4,0 triliun (0,1 persen terhadap PDB). Peningkatan rencana penerimaan BPHTB tahun 2008 tersebut berkaitan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang berpengaruh terhadap peningkatan transaksi di bidang properti.
Cukai
Asumsi prediksi penerimaan cukai tahun 2008 dibuat dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, elastisitas permintaan terhadap kenaikan harga dan kebijakan yang ditetapkan atas harga jual eceran (HJE) dan tarif. Sasaran penerimaan cukai tahun 2008, didasarkan pada data empiris pertumbuhan nominal produksi barang kena cukai (BKC) khususnya produksi hasil tembakau sebesar 4,5 persen dan asumsi tidak ada beban tambahan dalam bentuk tarif atau harga jual eceran.
Dengan asumsi kebijakan tersebut, maka penerimaan cukai sangat bergantung pada produksi BKC. Oleh karena itu untuk mencapai target cukai yang ditetapkan perlu dilakukan langkah–langkah administratif (administrative measures) di bidang cukai diantaranya dengan: (i) melakukan sosialisasi dan pemberantasan barang kena cukai ilegal sesuai dengan amanat perubahan Undang-Undang Nomor 11 tahun 1995 bersama aparat pemerintah daerah penghasil cukai tembakau; (ii) melakukan langkah penyempurnaan sistem penagihan hutang cukai, kekurangan cukai dan sanksi administratif berupa denda dengan menambah skema pembayaran secara angsuran tanpa mengabaikan pengamanan hak-hak negara; (iii) melakukan operasi intelijen yaitu operasi secara tertutup untuk mengumpulkan data dan informasi terkait dengan penindakan atas pelanggaran di bidang cukai; (iv) menyempurnakan sistem insentif kepada orang atau kelompok orang atau unit kerja yang berjasa dalam memberantas cukai ilegal;
(v) menyempurnakan desain dan feature pita cukai; dan (vi) melakukan audit cukai
melalui audit reguler atau audit investigasi.
Kebijakan cukai hasil tembakau pada tahun 2008 ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 134/PMK.04/2007 tentang Perubahan Ketiga PMK Nomor 43/PMK.04/2005 tentang Penetapan Harga Dasar dan Tarif Cukai Hasil Tembakau yang akan diberlakukan mulai 1 Januari 2007. Kebijakan cukai hasil tembakau ini dibuat dalam rangka menyederhanakan administrasi, melindungi industri dalam negeri, dan mengurangi salah satu penyebab peredaran hasil tembakau ilegal. Untuk itu perlu dilakukan penyesuaian terhadap harga dasar dan tarif cukai hasil tembakau. Kebijakan tersebut juga sejalan dengan road map industri hasil tembakau yang telah dikomunikasikan oleh Pemerintah kepada para pelaku usaha hasil tembakau.
Sebagaimana kebijakan cukai tahun 2008 menggunakan gabungan sistem tarif cukai advalorem dan tarif cukai spesifik. Besar tarif cukai spesifik dari semua jenis sigaret kretek mesin (SKM), sigaret kretek tangan (SKT), sigaret kretek tangan filter (SKTF), dan sigaret putih mesin (SPM) ditetapkan sebesar Rp35,00/batang, kecuali untuk SKT golongan Ill sebesar Rp30,00/batang dengan komponen tarif advalorem masih progresif. Kebijakan tarif cukai SKT golongan III yang beban cukainya lebih rendah ini adalah dimaksudkan untuk tetap memberi perhatian pada industri kecil hasil tembakau. Dampak dari penyesuaian tarif cukai spesifik ini menyebabkan tarif cukai advalorem turun secara proporsional sehingga pembayaran cukai secara keseluruhan tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hal ini sebagai sinyal kebijakan ke depan untuk semua golongan akan mengarah ke tarif cukai spesifik dengan HJE diadministrasikan oleh Pemerintah. Pengadministrasian HJE ini dipergunakan sebagai instrumen pengatur persaingan. Kebijakan cukai hasil tembakau tahun 2008 berupaya memperkecil gap antara besaran HJE dengan harga transaksi pasar (HTP).
Kebijakan cukai hasil tembakau 2008 juga mengatur penyederhanaan jumlah golongan pabrik dari empat golongan untuk hasil tembakau jenis SKT dan tembakau iris (TIS) yang terdiri dari golongan I, II, IIIA dan IIIB menjadi tiga golongan saja, sehingga penggolongan pabrik menjadi golongan I (lebih dari 2 miliar batang), golongan II (lebih dari 500 juta batang tetapi tidak lebih dari 2 miliar batang), dan golongan III (tidak lebih dari 500 juta batang). Demikian halnya dengan hasil tembakau jenis kelobot (KLB), kelembak menyan (KLM), dan sigaret putih tangan (SPT) yang sebelumnya dikelompokkan dalam dua golongan pabrik disederhanakan menjadi satu golongan (tanpa golongan atau tanpa batasan produksi). Terhadap tarif cukai untuk jenis SKTF perlu disetarakan besarannya dengan tarif cukai jenis SKM, dengan maksud untuk memudahkan pengawasan atas jenis hasil tembakau SKTF. Kebijakan cukai hasil tembakau 2008 dilakukan dalam rangka melindungi industri hasil tembakau dalam negeri, untuk itu maka hasil tembakau impor dikenakan tarif tertinggi yang berlaku tanpa membedakan cara pembuatannya. Terhadap pengusaha pabrik hasil tembakau yang melakukan ekspor dengan jumlah melebihi produksi hasil tembakau dari jenis yang sama untuk pemasaran domestik dalam 1 tahun takwim, tetap diberikan insentif berupa penurunan tarif cukai.
Berdasarkan hal–hal tersebut, dalam APBN 2008 Pemerintah mentargetkan penerimaan cukai 2008 sebesar Rp44,4 triliun atau 1,0 persen terhadap PDB. Jumlah ini, berarti mengalami peningkatan sebesar Rp2,4 triliun atau 5,7 persen bila dibandingkan dengan sasaran penerimaan cukai yang ditetapkan dalam APBN-P tahun 2007 sebesar Rp42,0 triliun (1,1 persen terhadap PDB).
Pajak Lainnya
Sementara itu, sasaran penerimaan pajak lainnya yang sebagian besar berasal dari bea materai, dalam APBN tahun 2008 ditetapkan sebesar Rp2,9 triliun atau 0,1 persen terhadap PDB. Jumlah ini menunjukkan adanya peningkatan penerimaan pajak lainnya sebesar Rp0,2 triliun atau 8,3 persen bila dibandingkan dengan sasaran penerimaan yang ditetapkan dalam APBN-P tahun 2007. Peningkatan penerimaan pajak lainnya tersebut terutama disebabkan oleh perkiraan meningkatnya aktivitas transaksi keuangan sejalan dengan peningkatan daya beli masyarakat.
Bea Masuk
Penerimaan bea masuk ditentukan oleh beberapa variabel antara lain: (i) nilai devisa bayar atas impor; (ii) tarif efektif rata-rata; dan (iii) nilai tukar rupiah atau kurs. Ketiga variabel tersebut berbanding lurus terhadap peningkatan nilai penerimaan bea masuk. Pada tahun 2008, rata-rata tarif bea masuk mengalami penurunan, untuk impor produk dari negara anggota ASEAN dari 2,7 persen pada tahun 2007 menjadi 2,0 persen pada tahun 2008. Demikian pula dalam kerangka ASEAN-Korea FTA dari 6,6 persen menjadi 6,0 persen dan EPA Indonesia-Jepang dari 7,8 persen menjadi 6,25 persen. Sedangkan untuk tarif umum atau MFN yang semula 7,8 persen menjadi 7,6 persen. Penurunan tarif ini diharapkan akan meningkatkan nilai impor dari negara mitra dagang, sehingga
dapat meningkatkan penerimaan perpajakan lainnya, baik PPN maupun PPh. (lihat Tabel III.18) Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi salah satu variabel Nilai Dasar Perhitungan Bea Masuk (NDPBM). Dalam tahun 2008, kurs rata-rata rupiah
yang digunakan dalam perhitungan Bea Masuk per US$1 sebesar Rp9.100. Sehingga sasaran penerimaan Bea Masuk APBN 2008 diperkirakan akan mencapai Rp17,9 triliun atau 0,4 persen terhadap PDB. Jumlah ini berarti meningkat sebesar Rp3,5 triliun atau 24,4 persen bila dibandingkan dengan sasaran penerimaan Bea Masuk yang dianggarkan dalam APBN-P tahun 2007 sebesar Rp14,4 triliun (0,4 persen terhadap PDB). Kenaikan penerimaan bea masuk ini termasuk insentif fiskal berupa keringanan dan pembebasan bea masuk yang ditanggung Pemerintah (BM DTP) dalam rangka mendukung sektor yang mendapat prioritas antara lain sektor migas, panas bumi, listrik, penerbangan, pelayaran, industri prioritas, dan transportasi publik dengan nilai alokasi sebesar Rp3,0 triliun.
Namun terdapat faktor lain yang menimbulkan dampak penurunan terhadap penerimaan Bea Masuk, yaitu adanya komitmen perdagangan internasional, dimana Indonesia terikat perjanjian dengan negara-negara lain di bidang liberalisasi perdagangan. Pemerintah telah meratifikasi kesepakatan ASEAN Free Trade Area (AFTA), ASEAN – China FTA, ASEAN - Korea FTA dan EPA Indonesia-Jepang. Demikian juga pemerintah sedang dalam proses negosiasi ASEAN – India FTA, ASEAN - Australia dan New Zealand FTA dan ASEAN-Jepang Comprehensive Economic Partnership (ASEAN-Jepang CEP). Dengan adanya penurunan tarif Bea Masuk atas produk-produk tertentu, diharapkan akses pasar produk Indonesia ke negara mitra dagang akan meningkat. Karena kesepakatan ini akan berlaku resiprositas, maka Indonesia akan turut merasakan manfaat ekonomi berupa meningkatnya posisi daya saing ke negara mitra. Atas masuknya produk impor negara mitra ke Indonesia juga akan dapat menyebabkan penetrasi pasar di Indonesia, sehingga tercipta equilibrium harga pasar yang lebih baik. Untuk mendapatkan manfaat yang optimal, disamping kerjasama dalam perjanjian perdagangan barang, Indonesia akan memanfaatkan kerjasama lainnya, yaitu di bidang investasi, perdagangan jasa dan kerjasama ekonomi lainnya.
Sedangkan untuk perjanjian bilateral Indonesia dan Jepang, pemerintah telah menandatangani persetujuan kemitraan Ekonomi Indonesia Jepang (Indonesia
Economic Partnership Agreement atau IJ-EPA). Indonesia memberikan komitmen akses
pasar bagi impor dari Jepang ke Indonesia sekitar 93% dari keseluruhan pos tarif yang berlaku. Komitmen akses pasar tersebut dibagi dalam: (a) Kategori A yakni tarif bea masuk Indonesia menjadi nol persen pada saat berlakunya IJ-EPA; (b) Kategori B yakni tarif bea masuk dihapuskan secara bertahap menjadi nol persen dalam 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun, 10 tahun, dan 15 tahun; dan (c) Kategori User Specific Duty Free Scheme yakni
Nilai Impor Bea Masuk Rata-rata Tarif (%)*
228,8 5,8 2.00 40,4 1,9 6.25 16,8 0,5 5.98 67,3 0,9 6.25 319,7 5,8 7.60 673,1 17,9** 5.70
Sumber: diolah dari data Departemen Keuangan, Tim Tarif
Keterangan: * rata-rata tarif diperoleh dari perhitungan rata-rata sederhana
** APBN 2008
Lainnya Total
Tabel III.18
Proyeksi Nilai Impor dan Penerimaan Bea Masuk Tahun 2008 (triliun rupiah) ASEAN Cina Korea Jepang Negara
tarif nol persen bagi produk-produk tertentu yang digunakan langsung oleh industri Jepang yang beroperasi di Indonesia. Dengan adanya IJ-EPA ini diharapkan dapat memperoleh manfaat antara lain meningkatnya akses untuk berbagai produk ekspor di pasar Jepang. Hal ini akan memberikan dorongan bagi peningkatan investasi Jepang di Indonesia. Dengan adanya IJ-EPA diharapkan adanya rencana prioritas yang menguntungkan Indonesia antara lain penurunan tarif udang serta tekstil dan produk tekstil, juga adanya peningkatan capacity building di berbagai sektor melalui proyek-proyek pengembangan kapasitas kerjasama teknis.
Untuk mengoptimalkan pencapaian rencana penerimaan bea masuk tahun 2008 tersebut, Pemerintah telah mengambil langkah-langkah penyempurnaan di bidang administrasi kepabeanan melalui reformasi administrasi kepabeanan. Langkah-langkah administrasi kepabeanan tersebut mencakup fasilitasi perdagangan, yang meliputi jalur prioritas, pengembangan sistem otomasi kepabeanan, dan sistem pembayaran elektronik Pemerintah juga menekankan industrial assistance, yang meliputi: (i) pengembangan kawasan berikat; (ii) pemberian kemudahan impor untuk tujuan ekspor; serta penyediaan fasilitas pembebasan/keringanan bea masuk terhadap barang modal (iii) bahan baku untuk penanaman modal; (iv) pemerintah akan mengoptimalisasi penerimaan bea masuk dengan meningkatkan peran analis intelijen; (v) pengembangan data base nilai pabean dan komoditi; (vi) peningkatan efektivitas verifikasi dan audit; (vii) dan pengefektifan penagihan tunggakan; dan (viii) meningkatkan kegiatan pengawasan kepabeanan.
Bea Keluar
Penerimaan bea keluar (sebelumnya disebut pungutan ekspor) dalam APBN tahun 2008 ditetapkan sebesar Rp4,1 triliun. Jumlah ini berarti mengalami peningkatan sebesar 33,6 persen dibandingkan dengan sasaran penerimaan bea keluar dalam APBN-P tahun 2007 sebesar Rp3,0 triliun. Peningkatan bea keluar tersebut terutama dipengaruhi oleh penyesuaian penetapan tarif bea keluar CPO berdasarkan harga CPO CIF Rotterdam. Diperkirakan harga CPO CIF Rotterdam tahun 2008 masih mengalami peningkatan, sehingga penerimaan bea keluar juga akan mengalami peningkatan.
Penerimaan bea keluar dalam implementasinya memiliki fungsi budgeter dan fungsi
regulator. Sebagai fungsi budgeter, penerimaan bea keluar diharapkan setiap tahunnya
dapat terus meningkat. Namun dalam pelaksanaannya fungsi bea keluar lebih ditekankan sebagai regulator. Oleh karena itu efektivitas kebijakan bea keluar tidak hanya dilihat dari tercapainya target penerimaan bea keluar dalam APBN, tetapi juga dilihat dari tercapainya tujuan dari kebijakan pengenaan bea keluar.
Dengan diberlakukannya UU Nomor 17 tahun 2006 tentang Perubahan atas UU Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, maka mulai tahun 2008 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bertanggung jawab atas pemungutan bea keluar. Adapun tujuan dari kebijakan