• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN EKONOMI DAN POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL APBN 2008

2.3. Tantangan dan Sasaran Perekonomian 2008

2.3.3. Sasaran Pembangunan 2008

2.3.3.3. Penanggulangan Kemiskinan

Indikator lainnya yang secara langsung menunjukkan peningkatan kesejahteraan nasional adalah jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. Penetapan sasaran indikator makro berupa penanggulangan kemiskinan dimaksudkan agar kebijakan-kebijakan dan program pemerintah dapat secara langsung menyentuh

masyarakat lapisan bawah. Untuk tahun 2008, pemerintah menetapkan tingkat kemiskinan berada pada kisaran 14,2 persen – 16,0 persen.

Penetapan tingkat kemiskinan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pendapatan saja, melainkan juga untuk memberikan akses yang lebih luas bagi penduduk miskin ke berbagai sarana pelayanan dasar, seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, dan sebagainya. Upaya-upaya

tersebut dilaksanakan sejalan dengan komitmen pemerintah untuk merealisasikan program

millennium development goals (MDG).

2.3.4. Upaya Mencapai Sasaran

2.3.4.1. Kebijakan Ekonomi Makro

Sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 sebesar 6,8 persen diupayakan pencapaiannya melalui peningkatan laju

pertumbuhan komponen-komponen dalam PDB. Dari sisi permintaan, secara umum komponen-komponen PDB dalam tahun 2008 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan perbaikan kondisi ekonomi domestik seperti tingkat konsumsi, nilai investasi, dan nilai surplus perdagangan barang dan jasa.

Menjaga Stabilitas Ekonomi Makro

Stabilitas ekonomi makro merupakan salah satu prasyarat bagi terciptanya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable growth). Upaya-upaya untuk menjamin stabilitas ekonomi makro di dalam negeri dilakukan melalui langkah-langkah untuk memperkuat daya tahan perekonomian domestik terhadap berbagai gejolak yang muncul baik dari dalam maupun luar negeri.

Sebagai implementasinya, Pemerintah berkoordinasi dengan Bank Sentral dalam mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kinerja neraca pembayaran, moneter, keuangan negara, dan investasi yang menjamin stabilitas ekonomi. Dalam kaitan ini, program-program kegiatan pembangunan akan disertai langkah-langkah untuk mengendalikan laju inflasi, tingkat bunga yang akomodatif, serta stabilitas nilai tukar rupiah.

Grafik II.20 Sumber Pertumbuhan 2008 0,0 4 ,0 8 ,0 1 2 ,0 1 6 ,0 2 0,0 Konsum si RT Kon su m si Pem t

In v estasi Ekspor Im por

p er sen ( y-o -y ) 2008

Sum ber : BPS, diolah

Pertumbuhan Ekonomi 6,80%

Tingkat Pengangguran 8%-9%

Tingkat Kemiskinan 14,2%-16,0%

Tabel II.3

Di tengah berlangsungnya penyesuaian ketidakseimbangan perekonomian global dan menurunnya daya beli masyarakat pasca kenaikan harga bahan bakar minyak bulan Oktober 2005, perekonomian Indonesia secara berangsur-angsur telah menunjukkan perbaikan. Perkembangan tersebut diiringi stabilitas makro yang semakin mantap sepanjang tahun 2006 hingga Semester I tahun 2007. Tingkat inflasi yang pada awal 2006 sangat tinggi berangsur menurun mencapai 6,6 persen pada akhir tahun atau berada di bawah sasaran 8 persen ±1 persen yang ditetapkan oleh pemerintah. Memasuki Semester II 2007, laju inflasi relatif tinggi sebagai dampak dari meningkatnya harga CPO dan minyak mentah di pasar dunia. Kondisi tersebut menyebabkan inflasi sampai dengan bulan Oktober tahun 2007 sebesar 5,24 persen, sedikit lebih tinggi dari periode yang sama tahun 2006 sebesar 4,96 persen. Memasuki Semester II 2007, laju inflasi realtif lebih tinggi sebagai dampak dari meningkatnya kerja CPO dan minyak mentah di pasar dunia. Kondisi tersebut menyebabkan inflasi tahunan diperkirakan akan mencapai 6,5 persen sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan sebesar 6,3 persen dalam tahun 2007 dan 6,8 persen dalam tahun 2008.

Inflasi

Sasaran inflasi sebagai sasaran akhir kebijakan moneter ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia. Penetapan sasaran inflasi tersebut m e m p e r t i m b a n g k a n pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi

(trade-off) dalam rangka

meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah setelah berkoordinasi dengan BI telah menetapkan dan mengumumkan sasaran inflasi

untuk tahun 2008 sebesar 5 persen ±1 persen. Penetapan lintasan sasaran inflasi ini sejalan dengan keinginan untuk mencapai sasaran inflasi jangka menengah dan jangka panjang sebesar 3 persen - 5 persen agar Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara Asia lainnya.

Koordinasi yang baik dan harmonisasi kebijakan antara Bank Indonesia dan Pemerintah akan menjadikan sasaran inflasi lebih kredibel. Dengan demikian, Pemerintah dan Bank Indonesia akan lebih mudah menurunkan dan menstabilkan inflasi dalam jangka menengah dan jangka panjang.

Inflasi 2008 diperkirakan akan tetap berada di kisaran atas sasaran sebesar 5 persen ±1 persen. Kegiatan perekonomian yang semakin meningkat diperkirakan dapat diimbangi oleh meningkatnya produksi seiring dengan membaiknya investasi. Dengan demikian, tekanan harga dari sisi permintaan dan penawaran tidak memberikan dorongan terhadap

Grafik II.21 Inflasi 6,6 6,06 6,5 6,0 0 4 8 12 16 20 Ja n Fe b Ma r Ap r Ma y Ju n Ju l

Aug Sep Oct No

v De c Ja n Fe b Ma r Ap r Mei Jun Jul Ag st Sep Okt No v Des 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 pe rs en (y -o -y ) Su m ber : BPS, diola h

peningkatan harga barang-barang secara keseluruhan. Sementara itu, produksi pangan yang meningkat diiringi oleh manajemen pasokan yang efektif diperkirakan mendorong penurunan inflasi kelompok volatile foods.

Pemerintah akan selalu dan terus melakukan langkah-langkah evaluasi kebijakan fiskal agar berjalan secara harmonis dengan kebijakan moneter. Langkah-langkah koordinasi kebijakan yang selama ini telah berlangsung baik akan terus diperkuat dan ditingkatkan. Analisis dan perkiraan berbagai variabel ekonomi tersebut dipertimbangkan untuk mengarahkan agar perkiraan inflasi ke depan sejalan dengan kisaran sasaran inflasi yang telah ditetapkan.

Nilai Tukar Rupiah

Dalam tahun 2007 nilai tukar rupiah diperkirakan tetap stabil pada kisaran Rp 9.100 per US$. Sejalan dengan perkiraan surplus neraca pembayaran Indonesia (NPI), keseimbangan antara pasokan dan permintaan pasar valas akan tetap terjaga. Selain itu, investasi rupiah juga dipandang masih menarik oleh investor asing karena imbal balik hasil Rupiah masih relatif lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik. Daya tarik Rupiah yang akan tetap terjaga juga tercermin dari perbaikan

country risk seiring dengan prospek ekonomi yang semakin kuat. Dari sisi eksternal,

kecenderungan pelemahan mata uang dolar AS secara global berdampak positif terhadap kestabilan nilai tukar rupiah.

Dalam tahun 2008, nilai tukar rupiah diperkirakan akan tetap bergerak stabil pada kisaran Rp9.100 per US$. Dari sisi fundamental, NPI akan tetap mencatat surplus yang berpotensi meningkatkan cadangan devisa. Cadangan devisa yang meningkat berpengaruh positif terhadap pergerakan nilai tukar Rupiah. Di satu sisi, peningkatan cadangan devisa meningkatkan keyakinan pasar terhadap Rupiah mengingat secara tidak langsung menunjukkan kemampuan untuk menstabilkan pergerakan Rupiah. Di sisi lain, cadangan devisa yang lebih tinggi secara langsung juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pasokan valas di pasar.

Suku Bunga

Dengan memperhatikan kestabilan kondisi ekonomi makro yang semakin membaik Bank Indonesia (BI) secara bertahap telah menurunkan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate), dari 12,75 persen pada bulan Januari 2006 menjadi 8,25 persen pada bulan Juli 2007. Sejalan dengan menurunnya BI Rate tersebut, suku bunga SBI 3 bulan juga menurun dari 12,92 persen pada Januari 2006 menjadi 7,83 persen sejak Mei 2007. Penurunan

Grafik II.22

Perkem bangan Nilai T ukar Rupiah dan Cadangan Dev isa

9100 0 1 0 2 0 3 0 4 0 5 0 6 0 7 0 8 0 Ja n Fe b Ma r Ap r Me i Ju n Ju l Ag us t Se p Ok t No p Des Jan Feb Mar Apr Me i Ju n Ju l Ag us t Se p Ok t No p Des 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 Mi li ar U S D 8 4 0 0 8 5 0 0 8 6 0 0 8 7 0 0 8 8 0 0 8 9 0 0 9 0 0 0 9 1 0 0 9 2 0 0 9 3 0 0 9 4 0 0 9 5 0 0 Rp /U S $

Cadangan Devisa Kurs

Su m ber : Ba n k In don esia , d l h

suku bunga diikuti pula oleh menurunnya suku bunga deposito dan suku bunga kredit. Suku bunga deposito 1 bulan menurun dari 12,21 persen pada awal tahun 2006 menjadi 7,26 persen pada Juli 2007. Demikian pula suku bunga kredit modal kerja (KMK) dan kredit investasi (KI) dari 16,32 persen dan 15,81 persen masing-masing menjadi 13,71 persen

dan 13,82 persen pada Juli 2007. Untuk dapat mendorong sektor riil, pemerintah akan berupaya menjaga sasaran inflasi untuk tetap menyediakan ruang bagi penurunan suku bunga. Suku bunga yang lebih kompetitif diikuti perbaikan iklim investasi akan dapat mendorong tumbuhnya investasi. Berdasarkan berbagai perkembangan ekonomi makro yang ada, diperkirakan rata-rata SBI 3 bulan tahun 2007 akan berada pada kisaran 8,0 persen.

Selanjutnya, penurunan suku bunga kredit ke level yang lebih optimal dapat terus berlanjut, dan dalam tahun 2008 rata-rata suku bunga SBI 3 bulan diperkirakan akan mencapai sekitar 7,5 persen.

Neraca Pembayaran dan Cadangan Devisa

Kinerja neraca pembayaran tahun 2008 diperkirakan masih cukup mantap, meskipun terjadi penurunan surplus neraca pembayaran dibandingkan tahun 2007. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya impor terkait dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dan membaiknya iklim investasi domestik. Sasaran makro di bidang neraca pembayaran dimaksudkan untuk memperkuat daya tahan perekonomian nasional dan sekaligus meraih peluang-peluang yang muncul dari faktor-faktor eksternal dan global. Penguatan kondisi neraca pembayaran, yang tercermin pada peningkatan cadangan devisa diharapkan mampu mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi domestik. Cadangan devisa dalam tahun 2008 diperkirakan mencapai US$66,9 miliar, atau meningkat sebesar 23,5 persen dibandingkan posisi cadangan devisa dalam tahun sebelumnya.

Surplus neraca transaksi berjalan dalam tahun 2008 diperkirakan mencapai US$6,1 miliar, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$9,71 miliar. Sementara itu, defisit neraca jasa-jasa diperkirakan relatif sama dengan tahun sebelumnya sebesar US$21,0 miliar. Di sisi lain, neraca transaksi modal dan finansial diperkirakan mengalami surplus sebesar US$4,7 miliar, lebih tinggi dibandingkan posisi tahun 2007 sebesar US$2,4 miliar. Meningkatnya surplus transaksi modal dan finansial ini disebabkan oleh peningkatan transaksi modal swasta, terutama investasi langsung dan investasi portofolio, sedangkan transaksi modal sektor publik diperkirakan mengalami defisit terutama karena peningkatan pembayaran utang.

Grafik II.23

Perkembangan Suku Bunga SBI 3 Bulan

7,0 9,0 11,0 13,0 Ja n . Fe b . Ma r. Apr. May. Jun . Ju l. Au g. Se p . Oc t. No v. De c. Ja n . Fe b . Ma r. Apr. May. Jun . Ju l. Au g. Se p . Oc t. No v. De c. 2006 2007 2 008 pe rs e n

Pencapaian sasaran di bidang neraca pembayaran diupayakan melalui berbagai langkah dan kebijakan untuk meningkatkan kinerja ekspor dan arus modal masuk ke pasar domestik. Peningkatan kinerja ekspor diupayakan terutama melalui perbaikan administrasi dan pemberian fasilitas serta kemudahan dalam proses lalu lintas barang dan jasa di pelabuhan, peningkatan kegiatan promosi ekspor, dan kebijakan-kebijakan lain di bidang perdagangan. Melalui berbagai langkah dan kebijakan tersebut target peningkatan ekspor nonmigas sekitar 14,5 persen diharapkan dapat dicapai. Target peningkatan yang tinggi ini dimaksudkan untuk mengkompensasi penurunan ekspor migas sekitar 3,7 persen yang antara

lain terkait dengan adanya ketidakpastian harga minyak dunia dan pengalihan produksi minyak untuk konsumsi dalam negeri, dan berakhirnya kontrak ekspor LNG dengan pihak asing. Sementara itu, impor nonmigas diperkirakan tetap tumbuh tinggi sebesar 21,0 persen sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat dan aktivitas ekonomi dalam negeri. Perkiraan neraca pembayaran Indonesia (NPI) tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel II.4.

Meningkatkan Koordinasi Kebijakan Moneter dan Fiskal

Kebijakan moneter memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan, seperti pengendalian laju inflasi dan volatilitas nilai tukar rupiah. Di samping itu, peran kebijakan moneter juga sangat berpengaruh terhadap peningkatan investasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kebijakan tersebut terkait dengan suku bunga, perbankan, dan pengaturan lalu lintas devisa.

Untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi diperlukan dukungan sinkronisasi kebijakan yang harmonis antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Dari sisi kebijakan fiskal, dilakukan langkah-langkah untuk mempertahankan stabilitas harga-harga komoditas strategis (administered prices) agar tidak menimbulkan tekanan terhadap pencapaian sasaran inflasi (inflation targeting).

Pelaksanaan kebijakan moneter yang disertai dengan langkah-langkah penajaman

inflation targeting framework (ITF) dilakukan melalui penguatan aspek kelembagaan,

penyempurnaan operasional kebijakan moneter dan pengembangan strategi komunikasi, serta diseminasi kebijakan. Penguatan kelembagaan ditempuh melalui penyempurnaan proses pengambilan keputusan kebijakan moneter. Operasional kebijakan moneter akan terus disempurnakan agar sinyal kebijakan moneter semakin kuat ditransmisikan ke pasar uang. Selanjutnya, pengembangan komunikasi dan diseminasi kebijakan sangat strategis mengingat perannya sangat penting dalam mengarahkan ekspektasi masyarakat.

2008

Neraca Transaksi Berjalan 6,1

Ekspor 119,2

Impor -92,1

Jasa-jasa -21

Neraca Modal dan Finansial 4,7

Neraca Modal 0,2

Neraca Finansial 4,5

Surplus/Defisit 10,7

Cadangan Devisa 66,9

Sumber: Bank Indonesia (diolah) ITEM

Tabel II.4

Perkiraan Neraca Pembayaran Indonesia 2008

2.3.4.2. Stimulasi Pertumbuhan Ekonomi dan Kebijakan