• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Teoretis

Dalam dokumen Hegemoni dari atas panggung seni tradisi. (Halaman 33-51)

F. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teoritis

F.2. Kerangka Teoretis

Perspektif politik, adalah pilihan objek formal dari penelitian ini. Kethoprak akan dilihat sebagai aksi politis masyarakat, dalam menyikapi kondisi politik negaranya. Kethoprak tidak hanya dijadikan sumber hiburan yang menyenangkan. Akan tetapi, kethoprak juga akan dilihat sebagai sebuah formula serius dalam ranah pembicaraan politik masyarakat. Melalui kacamata teori hegemoni yang diusung oleh Antonio Gramsci, sekelumit mengenai teori globalisi (terutama yang berkaitan dengan budaya), kethoprak akan didedah lebih spesifik. pemikir tersebut, akan membantu kita membaca kethoprak dengan cara baca yang berbeda.

F.2.1. Mengkritik Determinisme Ekonomi

Di mulai sub-sub bab ini hingga seterusnya, saya hendak membicarakan peta teori Gramsci, terutama pembahasannya mengenai hegemoni. Peta teori ini, berdasar pada apa yang ia kritisi atau ia kembangkan dari pokok pikiran Marxisme awal. Melalui pijakan teori Marx, Gramsci mencoba untuk menyandingkan dengan kumpulan pengalaman yang didapatinya selama menjadi aktivis gerakan kiri, baik di partai sosialis, maupun patai komunis. Buah pikiran

yang menjadi pintu baru bagi semesta pemahaman mengenai aliran Marxis. Saya mengetengahkan alur peta ini, sebagai acuan untuk membaca objek material penelitian saya, yaitu gerakan politik dari kethoprak lakon Magersari dan Ledhek Bariyem.

Posisi Gramsci dalam peta aliran pemikiran Marxis, diletakkan pada kelompok Neo-Marxis, terutama pada Marxisme Hegelian. Posisi tersebut dijelaskan dalam buku George Ritzer dan Douglas J. Goodman yang berjudul Teori Marxis dan Berbagai Ragam Teori Neo-Marxis.7 Bukan tanpa alasan Gramsci di tempatkan pada posisi tersebut. Gramsci melakukan transisi penting mengenai konsep determinisme ekonomi Marx. Ia mengkritik konsep determinisme ekonomi yang bersifat fatalistik. Dalam pemikiran Marx, segala sesuatu sudah ditentukan oleh capital. Positivisme Marxisme ortodoks cenderung menggiring pada determinisme dan materialis objektif sejarah.8 Determinisme ekonomi semacam inilah yang coba digugat oleh Gramsci.

Gramsci menggugat determinisme secama itu, stelah ia melihat kondisi kelas pekerja, kala ia menjabat sebagai pimpinan PCI. Ia skeptis terhadap doktrin sosialis Internasional kedua dan ketiga, karena telah digerogoti oleh ‘scientisme kasar’ (crude scientism) dan ‘ekonomisme primitif’. Scientime kasar adalah keyakinan bahwa selalu ada kontradiksi inheren dalam moda produksi kapitalisme yang dapat dianalisis, diprediksi dan dikuantifikasi oleh hukum kapital Marx. Scientime kasar menghasilkan kekeliruan yang bernama “ekonomisme”. Dimana elemen semacam politik, budaya dan ideologi, terpisah dari elemen moda

7George Ritzer dan Douglas J Goodman, (2004), Teori Marxis dan Berbagai Ragam Teori Neo-

Marxian, Kreasi Wacana, Yogyakarta, hal. 99

ekonomi produksi. Dengan kata lain, pada tingkatan base, terdapat segala hal yan berkaitan dengan uang, material, dan segala hal yang berkaitan dengan moda produksi. Lantas pada tingkatan super structure, terbangun institusi yang berkaitan dengan hal yang bersifat non material, baik itu yang bersifat sosial, politik, budaya dan lain sebagainya. Materlisme historis berisikan pendapat bahwa sejarah dapat dapat direduksi hanya sebagai menifestasi moda produksi, dan hanya dapat dianalisis sebagai proses objektif evolusi.9

Hal tersebutlah yang dikritisi Gramsci. Menurutnya, hal tersebut mengabaikan keberadaan manusia/ masyarakat sebagai agen yang aktif dan sadar. Manusia buka semata-mata menerahkan diri pada dunia alamiah, namun aktf dengan berbagai mekanisme kerja dan tekniknya.10 Manusia diposisikan sebagai agen sejarah, yang mampu melakukan perubahan sejarah. Karena sangat tidak mungkin bila hanya mengandalkan krisis ekonomi, untuk menghadapi kapitalisme. Meskipun ia mengakui bahwa ada sejumlah keteraturan dalam sejarah, ia menolak gagasan perkembangan sejarah yang otomatis dan tak terhindarkan. Maka pada titik ini, masyarakat haruslah dapat bertindak untuk mewujudkan revolusi sosial. Namun sebelumnya melakukan tindakan tersebut, masyarakat harus sadar terlebih dahulu mengenai situasi, hakikat serta sistem yang sedang dijalaninya.11 Dalam menjalani revolusi sosial semacam itu, masyarakat paham pada apa yang diperjuangkannya. Bukan sekedar melakukannya secara buta.

9Muhadi Sugiono, 2006, hal. 21-23 10Muhadi Sugiono, 2006, hal. 24

F.2.2. Pengembangan Konsep Pertentangan Kelas

Pada kala Gramsci memegang jabatan sebagai sekjen PCI, aroma subordinasi terasa sangat kencang berhembus di ranah kapitalisme Italia, khususnya di Turin. Dengan tingginya permintaan pasar terhadap produk dari pabrik mobil FIAT (Fabrica Italiana Automobilii Torino), para pemilik modal berfikir untuk menggejot produktivitas buruhnya. Para buruh terkesan hanya selayaknya menjalankan ban berjalan, yang terus menerus tiada henti. Karena bila mereka berhenti, maka keuntungan akan pabrik berkurang. Federich Taylor dalam bukunya The Principles as Scientific Management (1911) yang melihat manusia sebagai “mesin” istimewa, yang dapat disesuaikan untuk kebutuhan industri modern. Pemikiran Taylor, ditentang oleh Gramsci. Ia melihat bahwa Taylorisme dapat mematikan sikap kritis para buruh, juga memelihara penindasan terhadap mereka. rasionalisasi pekerjaan hanya akan menumbuhsuburkan penindasan dan memperbesar keuntungan para pemilik modal. Taylorisme pada akhirnya akan membunuh kemampuan kritis kelas pekerja, serta membunuh tendensi alamiah mereka untuk mewujudkan organisasi-organisasi kolektif.12

Jauh sebelum menuliskan penentangannya terhadap Taylorisme maupun Fordisme, Gramsci berhadapan dengan kondisi saat seusai perang dunia ke-2, pola industri Amerika, khususnya Ford banyak diadopsi di wilayah Eropa. Tak terkecuali di Italia. FIAT mengambil beberapa mekanisme “pengelolaan buruh”, sama seperti yang dilakukan oleh Ford di Amerika. Maka untuk menghalau pengaruh ini, Gramsci dan kawan-kawannya membentuk dewan buruh. Kekhawatiran meraka cukup beralasan, karena dengan penerapan Taylorisme

yang didaku oleh Ford, akan berbengaruh pada buruh dari FIAT. Pemikiran bahwa kelas pekerja atau buruh adalah mesin, yang mampu mendukung kenaikan jumlah produksi, sehingga membuka ruang para pemilik modal untuk mengurusi masalah di luar proses produksi. Agar proses produksi tidak terganggu, maka para pemilik modal mulai masuk dan ikut mengatur ruang-ruang privat, seperti permasalahan seksual. Melihat realita semacam itu, Gramsci menyimpulkan bahwa hegemoni lahir di pabrik atau perusahaan.13

Pada titik ini konsep pertentangan kelas yang diperkenalkan oleh Marx, hadir dan berkembang dalam pemikiran Gramsci. Bila dalam Marx, ide dari para pemilik modal diformulasikan agar dapat mengontrol para kelas pekerja, mekanisme untuk mengamankan posisi pemilik modal sebagai kelas yang berkuasa. Marx meletakkan kedinamisan dalam pertentangan kelas, melalui revolusi. Kelas pekerja dapat memproduksi ide mereka sendiri, baik dalam ranah industri maupun organisasi politik. Pandangan inilah yang menjadi modal bagi gerakan yang dilakukan oleh Gramsci dan kawan-kawannya. Terutama dalam merespon Amerikanisme dan Fordisme. Hal tersebut memantik kegusaran para pemilik modal. Mereka kemudian meminjam tangan negara untuk menekan laju perlawanan buruh, dengan cara kekerasan.

Negara, berfungsi sebagai pelindungan bagi kepentingan para pemilik modal (masyarakat kapitalis). Mekanisme itu dilaksanakan melalui jalur kekerasan (coercion) yang dilakukan oleh tangan-tangan penegak disiplin negara, serta melalui bantuan para intelektual tradisional, agar terbangun ‘persetujuan’,

yang hadir melalui ideologi sebagai bentuk hegemoni. Hegemoni yang dihayati, amini sebagai sebuah kebutuhan, tanpa perlu difikirkan kembali. Bila negara (dalam hal ini penguasa) dapat menyingkirkan oposisi, serta mendapatkan kepatuhan dan persetujuan dari kawan sekutunya, maka di pada tahap inilah hegemoni dominan dapat dikatakan mencapai keberhasilannya. Gramsci memaknai pertentangan kelas adalah aksi yang harus dilakukan oleh kelas pekerja. Melalui aksi federasi buruh, dan juga tani, bahaya yang dihadirkan oleh masyarakat kapitalis dapat ditangkal. Kedua kelompok itu adalah ujung tombak perubahan.

Meskipun Gramsci mengakui arti penting dari faktor struktural, namun faktor tersebut tidaklah mampu untuk menggiring kelas tersubordinasi dapat melawan kelas yang berkuasa. Ia menekankan arti penting pembangunan ideologi revolusioner yang dikembangkan oleh masyarakat. Gagasan mengenai hal ini dikembangkan oleh para inteletual, yang kemudian akan disebarkan pada masyarakat. Masyarakat tidak dapat secara mandiri menghasilkan pemikiran semacam ini, sehingga fungsi intelektual sangatlah diperlukan. Kala masyarakat telah mampu memahaminya, pada tahap kemudian akan dapat didorong adanyanya revolusi sosial.

F.2.3. Konsesus Sebagai Orientasi Hegemoni

Gramsci’s main concern became why men were committed to certain beliefs and to a certain system and what was need to make the accept a new system of values. Here he lighted on the notion of hegemony, which he maintained was implicit in the ideas of Lenin. (…) hegemony was what was secured through the “spontaneous consensus” which the mass of populace gave to the mode of life impressed on society by the dominant group, a consensus given because of the prestige and trust the dominant group enjoy due to its position. (Alastair Davidson, 1968: 32-33).

Gramsci, sebagai salah satu tokoh penting Marxisme, banyak memberikan sumbangan dan pengembangan penting bagi aliran Marxisme tradisional. Terutama dalam dengan mengangkat hegemoni dominan sebagai titik penting pembicaraan dalam pemikirannya. Mesti dicatat, bahwa Gramsci memang tidak menuliskan teorinya secara lengkap dan final. Muhadi Sugiono mengatakan bahwa pemikiran Gramsci lebih bersifat sementara, karena diperoleh dari catatan yang berserak, terfragmentasi dan tidak lengkap, sehingga wajar bila melahirkan banyak interpretasi. Terlepas dari kenyataan itu, namun tema tunggal yang diusungnya adalah hegemoni.14 Baginya, konsep hegemoni benar terjadi terutama di kalangan kelas pekerja di Italia. Ia melihat bahwa kelas pekerj) dengan suka rela menerima nilai yang ditanamkan oleh kelas penguasa atau kelas yang mendominasi. Hegemoni dominan bekerja guna memperoleh kepatuhan, dan dipercayai sebagai sesuatu yang dibutuhkan. Konsep ini, seringkali dikaitkan dengan konsep kesadaran palsu yang dimaksudkan oleh Karl Marx. Keduanya berhubungan sangat erat.

Kelas penguasa mendapatkan kepatuhan dari kelompok yang didominasi melalui 2 (dua) cara, yaitu melalui jalan kekerasan (coersi) dan jalan konsensus (consent). Cara kekerasan sringkali dianggap sebagai cara lama dan kuno, namun cukup efektif dan cenderung dapat dengan cepat mendapatkan kepatuhan dari kelas yang didominasi. Karena kelas penguasa (yang mendominasi) kerap menggandeng negara beserta aparatnya. Sedangkan pada cara kedua, yaitu konsensus (consent), kelas penguasa akan mengupayakan kepatuhan dari kelas

1414Muhadi Sugiono, 2006, Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga, Pustaka

yang didominasi dengan cara yang cenderung halus. Kelas penguasa menanamkan doktrin melalui sistem-sistem yang dipercayai oleh kelas yang didominasi. Disinilah hegemoni dominan bekerja. Hegemoni dominan bekerja secara cerdas, dengan bentuk kepemimpin budaya yang dijalankan oleh kelas yang berkuasa.

Menurut Ritzer, hegemoni dominan mempertentangkan cara-cara dengan kekerasan (coersi) yang dijalankan oleh kekuasaan legislatif atau eksekutif, atau diekspresikan melalui campur tangan kekerasan dari aparat negara.15 Hegemoni merupakan rantai kemenangan yang diperoleh dari mekanisme konsensus, bukan melalui kekerasan dan terhadap kelas yang didominasi. Hegemoni tidak lain adalah upaya untuk menggiring orang agar menilai dan memandang problematika sosial dalam kerangkan yang ditentukan oleh kelas penguasa.16 Hegemoni dominan merupakan sebuah sarana budaya dan ideologi, dimana kelompok kelas penguasa, mempertahankan dominasi mereka dengan mengamankan kepatuhan dari kelompok yang didominasi. Hal ini dicapai dengan pembangunan negosiasi dari konsensus politik dan ideologi yang menggabungkan kedua kelompok dominan dan mendominasi. Budaya yang dibentuk merupakan penjelmaan dari hegemoni dominan.

Gramsci melihat bahwa kelompok yang berkuasa akan selalu berusaha untuk melanggengkan dominasi dan kekuasaannya, melalui berbagai kontrol sosial. Baginya kontrol melalui cara kekerasaan (coersi), bukanlah cara kerja hegemoni dominan. Hegemoni dominan dikatakan dapat bekerja, bila kelompok yang didominasi, atau masyarakat kebanyakan dapat secara suka rela memeluk

15George Ritzer dan Douglas J Goodman, 2000, hal. 100 16Nezar Patria dan Andi Arief, 2003, hal. 120-121

dan menyakini apa yang ditanamkan oleh kelompok penguasa. Hegemoni dominan dapat sukses diraih, apabila mencapai konsensus (consent). Hegemoni dominan adalah suatu organisasi konsensus. Menurut Dominic Strinati, hal tersebut berarti bahwa kelompok yang didominasi menjalani penerimaan konsensual. Dimana kelompok yang didominasi menerima ide, nilai dan kepemimpinan dari kelompok penguasa atau dominan. Gramsci sendiri lagi-lagi menegaskan bahwa hegemoni dominan semacam ini tidak didapatkan melalui jalan kekerasan ataupun mekanisme indoktrinasi ideologi, akan tetapi karena keinginan mereka sendiri.17

Hegemoni dominan memiliki tingkatan sesuai penguasaan kepatuhan pada kelas yang didominasi. Gramsci, seperti yang dikutip dari Femia, membagi hegemoni dominan menjadi 3 (tiga) tingkatan. Tingkat pertama adalah hegemoni integral. Hegemoni ini ditandai dengan afiliasi massa yang mendekati totalitas. Ada persatuan moral dan intelektual yang kokoh, dan memiliki hubungan yang organis antara kelompok yang menguasai dan yang didominasi. Selain itu, tidak ada hubungan antagonis sama sekali di antara keduanya. Kedua, hegemoni decadent atau merosot. Hegemoni ini menunjukkan bahwa upaya penanaman hegemoni sudah dilakukan, dan semua nampak dikuasai, namun tetap menyisakan celah dan masalah. Bila pada permukaan semua terlihat sudah bersatu, baik kelompok yang menguasasi dengan kelompok yang didominasi, pada kenyataan tetap hadir potensi disintegrasi. Potensi itu dapat sewaktu-waktu membuncah. Sedangkan yang ketiga, adalah hegemoni yang minimum. Hegemoni ini

17Dominic Strinati, 1995, An Introduction to Theories of Popular Culture, Routledge, London, hal.

menduduki tingkat yang paling rendah. Hegemoni ini bersandar pada pada kesatuan ideologis antara elit ekonomis, politik dan intelektual. Pada saat yang bersamaan masyarakat pun enggan ikut campur tangan dalam merumuskan kehidupan bersama. Hingga pada akhirnya, semua arah hegemoni ditentukan oleh kelompok penguasa.18

Berdasar pada pengalamannya, Gramsci mencontohkan bahwa kekuatan kelompok penguasa pada umumnya berasal dari kelas pemilik modal, berupaya membentuk konsesinya, atas latar ekonomi. Untuk memperoleh konsensus, maka kelas yang didominasi (pada kasus ini adalah kelas pekerja), diajak untuk memikirkan persoalan mereka, berupa kesejahteraan dan upah yang layak. Bukan tanpa alasan para pemilik modal mengajak para pekerja untuk membahas hal tersebut. persoalan semacam itu merupakan kunci masuk agar dominasi yang dimiliki oleh para pemilik modal dapat tetap aman. Dengan masuknya pemikiran para pemilik modal dalam pembicaraan mengenai kesejahteraan para pekerjanya, maka mereka dapat melanggengkan dengan mudah kepatuhan dan nilai-nilai subordinasinya. Ide-ide mereka diakui, sebagai sebuah hegemoni.

Kelompok yang didominasi kehilangan kesadaran, terutama kesadaran kelas dari sejarahnya. Kehilangan kesadaran ini tidak hanya melalui jalan kekerasan, akan tetapi juga melalui jalan konsensus dalam moral dan intelektual. Konsensus harus disertai kesepakatan dari aliansi, tahap inilah yang disebut sebagai blok historis. Menurut Nezar dan Andi, blok historis ini terbentuk apabila kelas penguasa berhasil memunculkan keseimbangan dalam menjaga

hegemoninya, melalui kepemimpinan dan dominasi. Blok ini ini mewakili tatanan sosial tertentu. Karena di sinilah hegemoni dominan direproduksi ke dalam lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi, salah satunya pendidikan.19

Peran inteletual amat diperlukan di sini. Terutama sebagai agen dalam pembentukan blok historis. Gramsci membagi kelompok intelektual menjadi 2 (dua), yaitu intelektual tradisional dan intelektual organik. Kelas penguasa membutuhkan para agen untuk menanamkan “kesadaran baru”. Di sinilah peran para intelektual tradisional dianggap sangat penting. Intelektual ini hadir untuk bekerja demi kepentingan kelas penguasa, atau dari kelas selain dari kelas penguasa, namun dirinya terpisah dari kelas asal. Berbeda dengan intelektual tradisional, intelektual organik merupakan intelektual yang lahir setiap kelas, yang berpikir untuk bergabung dan mengorganisir kelas yang didominasi. Intelektual organik dapat saja berasal dari intelektual tradisional, yang secara sadar menginggalkan posisi mereka sebelumnya. Demi memperjuangkan kepentingan kelas yang didominasi.

Pada Marxisme, salah satu konsep kunci lainnya adalah adanya pertentangan kelas. Bila pada Marxisme tradisional, yang saling bertentang adalah kelas kapitalis (pemilik modal) dengan kelas pekerja (buruh). Namun pada proses hegemoni, Gramsci mengatakan bahwa pertentangan kelas seringkali terbentur dengan upaya netralisasi oleh kelompok penguasa. Mereka melemahkan melalui mekanisme pengawasan dan iming-iming kenaikan upah yang jauh lebih baik (pada kasus kelas pemilik modak dan buruh). Hingga pertentangan kelas, menjadi

sebuah ilusi. Kelas pekerja (buruh) menginternalisasi pengawasan dan iming- iming tersebut sebagai sesuatu yang memang dibutuhkannya. Mereka menjadikan hal tersebut sebagai konsensus dan meligitimasinya sebagai budaya.

Konsensus terselubung semacam ini semakin memperkuat hegemoni dominan kelompok penguasa. Konsesus masuk dalam gejala integrasi budaya. Integrasi juga masuk melalui pendidikan dan mekanisme kelembagaan. Menurut Gramsci, pendidikan tidak lagi mengusung semangat awalnya, yaitu membangun pola berpikir yang kritis dan sistematis dari kelompok buruh yang didominasi. Sedangkan keberadaan lembaga semacam lembaga keagamaan, sekolah, media massa dll, pun turut dalam penyebaran ideologi kelompok penguasa. Konsesus dibentuk guna melemahkan pertentangan kelas, kelompok yang didominasi ditundukkan melalui instrumen budaya, yaitu bahasa. Bahasa yang disampaikan merupakan bahasa pelayanan bagi kelompok penguasa. Konsensus yang merupakan kesadaran palsu itu, diyakini oleh kelas yang didominasi sebagai kepentingan mereka.

Akan tetapi, Gramsci memandang bahwa kelas yang didominasi, tidak sepenuhnya berada di bawah pengaruh kesadaran palsu. Menurutnya, kelas yang didominasi dapat membangun kesadaran dan konsep hegemoninya tersendiri, sebagai mekanisme untuk melawan hegemoni dominan dari kelas penguasa. Blok historis yang dibentuk oleh hegemoni dominan (dari kelas peguasa) dibuat absen. Hegemoni tandingan (counter hegemony) dibentuk oleh kelas yang didominasi . Mereka membentuk blok historis baru. Mereka menyatakan kesejarahannya

sebagai kesadaran baru, yang berasal dari kondisi nyata yang dihadapinya. Blok historis ini pun kepentingan kolektif dari aliansinya.

Gramsci berpendapat bahwa jikalau kelas yang didominasi menggabungkan seluruh sektornya, maka mereka akan dapat memecahkan permasalahan pokok masyarakat. Dalam hal ini, nilai, ideologi dan praktek dapat dirajut dalam blok historis baru, dan pada tahap selanjutnya dapat disebarluarkan pada masyarakat. Dalam upayanya mengontrol penguasa, kelompok yang semula didominasi, harus melibatkan kelompok atau pihak lainnya. Guna menghimpun kekuatan sosial bersama. Dari kelompok-kelompok kecil yang merasakan ketertindasan yang sama, mereka berangkat untuk saling menyatu, namun tetap menghormati perbedaan masing-masing, dalam sebuah payung bersama. Sebagai bentuk perlawanan terhadap kapitalisme. Selain itu, mereka mempersiapkan diri untuk memperkuat gerakan sebagai sebuah kombinasi dan aliansi strategis. Aliansi strategis ini akan menyatukan misi mereka guna melawan kelompok penguasa. Misi yang dihasilkan pada akhirnya akan menghadirkan jaringan kerja dan identitas kolektif.20

Gramsci meletakkan perang posisi dengan basis gagasan untuk mengepung apparatus negara dengan suatu counter hegemony. Hegemoni ini diciptakan oleh organisasi massa kelas yang didominasi dan dengan membangun lembaga-lembaga serta mengembangkan budaya dari kelas yang sebelumnya didominasi. Melalui perang posisi dalam hegemoni tandingan ini, Gramsci berharap agar kaum buruh dan petani dapat diorganisir, agar mampu membangun

20Daniel Hutagalung, Januari-Februari 2006, Laclau-Mouffe Tentang Gerakan Sosial, Majalah

pondasi baru. Hegemoni tandingan ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mewujudkan pondasi baru, yang terdiri dari budaya, kosmologi, maupun budaya alternatif, yang berasal dari kondisi dan kebutuhan mereka sendiri.21 Pondasi baru ini menjadi gagasan yang mendorong kelas yang didominasi untuk melawan hegemoni dominan (dari kelas penguasa).

F.2.4. Globalisasi yang Membuka Batas

Membaca kethoprak, khususnya lakon Magersari dan Ledhek Bariyem, sepertinya akan jauh lebih lengkap bila menyertakan globalisasi sebagai pisau analisis sekunder. Terlebih lagi, seniman dari kesenian ini banyak mengambil fokus pada upaya untuk membendung dampak (buruk) yang dibawa oleh globalisasi. Sehingga teori globalisasi, khususnya yang berkaitan dengan budaya, dipakai untuk memindai kedua lakon tersebut.

Globalization does not simply refer to the objectivness of increasing interconnectedness. It also refers to cultural and subjective matters [namely, the scope and depth of conciousness of the world as a single place].

(Roland Robertson 1992)22

Globalisasi menurut Jan Aart Scholte, dapat diartikan sebagai suatu proses sosial yang didapatkan dari mekanisme penghapusan kualitas jarak dan batas. Sehingga setiap manusia dapat dengan bebas memperlakukan dunia sebagai satu kesatuan tempat. 23 Hingga kini tidak ada yang dapat dengan yakin menyebutkan waktu kelahiran globalisasi. Ada banyak versi mengenai hal tersebut. Namun banyak ahli menyebutkan bahwa globalisasi lahir tidak kurang dari 1980an.

21Nezar Patria dan Andi Arief, 2003, hal. 172-173

22Jan Aart Scholte, John Baylis and Steve Smith (Eds), 1999, The Globalization of World Politics;

An Inroducction to International Relations, Oxford University Press

Awalnya dimulai dengan segala bentuk kemudahan di bidang transportasi dan komunikasi. Dunia tidak lagi terpisah, semua terhubung dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya, terutama di bidang ekonomi. Pada era itu, globalisasi kian intensif bergerak. Globalisasi sering identik dengan hubungan ekonomi yang tak bersekat oleh jarak atau pun batas wilayah.

Profesor Joseph E Stilitz, peraih Nobel Ekonomi, berpendapat bahwa globalisasi dipahami sebagai aliran gagasan dan pengetahuan secara internasional, pemahaman budaya, munculnya kelompok masyarakat dunia, maupun pergerakan masalah lingkungan secara global. Lebih lanjut, ia mengatakan dengan bahasa yang sederhana, bahwa pada globalisasi sesungguhnya dititipkan harapan yang sangat besar. Harapan akan adanya peningkatan taraf hidup seluruh masyrakat dunia. Dengan cara memberikan akses bagi negara-negara miskin terhadap pasar

Dalam dokumen Hegemoni dari atas panggung seni tradisi. (Halaman 33-51)