• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerjasama Antar Daerah dalam bidang Pariwisata

TINJAUAN PUSTAKA A.LANDASAN TEORI

3. Kerjasama Antar Daerah dalam bidang Pariwisata

Pariwisata merupakan salah satu objek yang dapat dikerjasamakan dalam kerangka otonomi daerah. Tarigan (2009:1) menyatakan bahwa setelah otonomi daerah, masing-masing daerah bebas menetapkan sektor/komoditi yang diprioritaskan pengembangannya. Kemampuan pemerintah daerah dalam melihat sektor yang unggul menjadi sangat penting sehingga sektor yang unggul dapat dikembangkan dan mendorong sektor-sektor lain untuk berkembang.

Untuk itulah pengembangan ekonomi wilayah ini harus berdasarkan potensi relatif perekonomian masing-masing daerah. Sektor yang dikerjasamakan haruslah sektor yang merupakan sektor unggulan dari masing-masing daerah. Melihat potensi yang ada, maka salah satu

commit to user

potensi unggulan daerah yang dapat dikembangkan adalah sektor pariwisata.

Pada kenyatannya hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan. Pengembangan ekonomi wilayah di sektor pariwisata ini merupakan upaya untuk meningkatkan perekonomian wilayah/regional dengan melakukan pengelolaan di sekor pariwisata. Suwantoro (1997:35) menyatakan bahwa:

”Industri pariwisata sering dianggap sebagai jawaban untuk menghadapi berbagai masalah ekonomi Indonesia. Kesulitan ekonomi yang diakibatkan oleh ekspor non-migas yang menurun, impor yang naik dan pembangunan ekonomi yang timpang, dipandang akan diatasi dengan industri pariwisata karena industri pariwisata dapat menciptakan lapangan kerja baru yang jelas akan dapat memberikan lebih banyak peluang ekonomi, disamping juga dapat menjadi sarana untuk menjaga dan memperbaiki lingkungan dan mendorong pembangunan ekonomi regional.”

Dengan demikian sektor pariwisata harus mendapatkan perhatian dan pengelolaan agar mampu memberikan kontribusi terhadap perekonomian baik nasional maupun regional.

a. Pariwisata

Pada hakekatnya berpariwisata merupakan proses kepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain. Ada beberapa alasan atau motif dari kepergian tersebut antara lain dorongan kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, kasehatan maupun kepentingan lain (Suwantoro,1997:35).

Pariwisata menurut James Elliot (1997:21) adalah “the activities of persons travelling to and staying in places outside their usual environment

commit to user

for not more than one consecutive year for leisure, business and other purposes”. (aktivitas dari beberapa orang untuk bepergian dan tinggal disuatu tempat diluar lingkungan mereka tidak lebih dari satu tahun berturut-turut untuk bersenang-senang, bisnis dan tujuan lain)

Pengertian pariwisata menurut Dr. Salah Wahab (dalam Pendit, 1994:34) adalah salah satu jenis industri yang mampu membuat pertumbuhan ekonomi yang cepat dengan kemampuannya menyediakan lapangan pekerjaan, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor lainnya. Pengertian tersebut merupakan pengertian pariwisata dilihat sebagai sektor industri yang mampu memberi dan menambah lapangan kerja pada sektor-sektor lain, misalnya transportasi, telekomunikasi, perhotelan, usaha akomodasi, penerjemah, seniman, pengrajin dan lainnya.

Masih dalam Pendit (1994:36), Robert McIntosh dan Shashikant Gupta menggambarkan pariwisata merupakan interaksi antara wisatawan, bisnis, pemerintah serta masyarakat dalam proses menarik dan melayani wisatawan-wisatawan serta para pengunjung lain. Dalam pengertian tersebut ada 4 unsur pembentuk pariwisata yaitu:

a) Wisatawan

b) Bisnis yang menyediakan barang dan jasa wisatawan c) Pemerintah

commit to user

Seperti yang diungkapkan oleh Hermawan (2008:17) bahwa inti dari pariwisata adalah interaksi sosial antara pemerintah, industri dan masyarakat.

b. Peran dan Permasalahan Pariwisata

Pariwisata memiliki peran yang besar terhadap suatu negara, apalagi bagi Indonesia yang memiliki potensi wisata yang sangat kaya. James Elliott (1997:4-6) menyebutkan bahwa:

Tourism is more than an industry and an economic activity, it is a universal dynamic social phenomenon touching most countries of the world and affecting their people. The social effect of tourism can be profound, especially in developing countries; local communities can be transformed for good or ill. Living standarts and the quality of life can be raised by the inflow of finance, new employment and educational opportunities, and the revitalisation of local tradition and cultures. Tourism can be a source of peace and better international understanding between different people by bringing them more closely together economically and socially and building up friendships.”

(Pariwisata lebih dari sekedar industri dan kegiatan ekonomi, ini merupakan fenomena sosial yang dinamis yang menyentuh sebagian besar negara-negara dan mempengaruhi masyarakat. Pengaruh sosial dari pariwisata bisa menjadi sangat dalam, terutama di Negara berkembang, masyarakat setempat dapat diubah menjadi baik atau buruk. Standar hidup dan kualitas kehidupan dapat ditingkatkan dengan perpindahan keuangan, pekerjaan baru, peluang pendidikan, serta revitalisasi tradisi dan kebudayaan setempat. Pariwisata dapat menjadi sumber perdamaian dan pemahaman international yang lebih baik diantara orang yang berbeda dengan membuat mereka bersama-sama lebih dekat secara ekonomi dan sosial serta membangun persahabatan)

Peran pariwisata di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia sangat besar. Pariwisata bisa membawa dampak positif dan dampak negatif, sehingga harus ada strategi pengembangan pariwisata agar memberikan dampak positif yang lebih besar. Dampak positif pariwisata

commit to user

adalah menciptakan lapangan kerja, penggerak perekonomian, stimuli pengembangan regional, pendapatan nilai tukar mata uang asing, sarana memperbaiki lingkungan, menjaga tradisi dan budaya, dan lainnya. Sedangkan dampak negatif jika pengelolaan pariwisata tanpa kearifan adalah seperti permasalahan lalu lintas, kerusakan lingkungan, kehancuran warisan budaya bangsa, membawa masuk niai budaya negatif.

Suwantoro (1997:39-40) menyebutkan peran pariwisata diantaranya adalah:

a) Aliran wisata lintas negara mempunyai dampak politik yang nyata dan dapat mempengaruhi integrasi regional.

b) Aliran wisata sering dianggap sebagai peramal kerjasama internasional. c) Pemerintah cenderung memakai pariwisata sebagai barometer

diplomatik mengenai keakraban dan keterikatan dengan negara lain. d) Pariwisata dapat digunakan sebagia medium mengembangkan politik. e) Pariwisata dapat digunakan unutk memperkenalkan budaya dan gaya

keluar.

Disamping besarnya peran pariwisata baik dalam level lokal, regional, nasional maupun internasional tersebut ternyata masih banyak permasalahan yang melingkupi pariwisata. Terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Permasalahan yang masih dihadapai oleh Indonesia seperti yang diungkapkan Sunario (2007:2) adalah:

a) Lemahnya management dan kepemimpinan destinasi di setiap tingkat. b) Lemahnya profesionalisme SDM di semua tingkatan.

commit to user

c) Kurang jelasnya Political Will untuk memprioritaskan pengembangan kepariwisataan, yaitu minimnya anggaran yang dialokasikan kepada sektor ini.

d) Lemahnya komunikasi internasional Indonesia baik dari pemerintah maupun media domestik ke luar negeri Indonesia untuk

meng-counter tuduhan dan berita negatif yang dilontarkan dunia internasional (teror, penyakit menular, bencana alam, kecelakaan pesawat di Indonesiadan lainnya).

e) Rendahnya kerjasama Swasta-Pemerintah di sektor pariwisata dalam pelayanan jasa dan produk.

Waluyo (2007) menyatakan bahwa kondisi kepariwisataan Indonesia maih mengalami kandala:

a) Ancaman bencana alam, flu burung, terorisme, travel warning.

b) Aksesibilitas ke Indonesia masih dikuasai negara tetangga (Singapura dan Malaysia).

c) Kualitas destinasi yang belum merata. d) Pariwisata belum menjadi prioritas utama.

e) Sarana dan fasilitas pariwisata mengalami penurunan. f) Investasi pariwisata diluar Bali relatif kecil.

g) Kemampuan melakukan promosi masih terbatas. h) Kualitas SDM belum mampu bersaing secara global.

commit to user

Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut dan untuk meningkatkan kekuatan pariwisata dalam menghadapi tantangan dimasa yang akan datang perlu dilakukan pengembangan pariwisata

c. Pengembangan Pariwisata

Untuk mengatasi permasalahan pariwisata diperlukan kebijakan pengembangan pariwisata. Suwantoro (1997:55) menyatakan strategi pengembangan kepariwisataan bertujuan untuk mengembangkan produk dan pelayanan yang berkualitas, seimbang dan bertahap. Pemerintah memegang peranan yang penting dalam upaya pengembangan ini. James Elliott (1997:2) menyakan bahwa

governments are fact in tourism and in the modern world. The industry could not survive without them. It is only governments which have the power to provide the political stability, security, and the legal and financial framework which tuorism requires. They provide essential and basic infrastructure”. (Pemerintah menghadapi pariwisata di dunia modern. Industri ini tidak bisa bertahan tanpa mereka. Hanya pemerintah yang memiliki kekuatan untuk menciptakan stabilitas politik, keamanan, peraturan dan kerangka keuangan yang dibutuhkan pariwisata. Mereka menyediakan infrasturktur utama dan yang diperlukan)

Farahani dan Henderson (2009:82) menyatakan bahwa:

Government has an essential role in tourism development and the operation of the tourism industry through specific and related policies and spending (Pearce, 1989; Oppermann and Chon, 1997; Page, 2003). It provides the infrastructure and various services and amenities as well as overall direction (UNESCO, 2007). Responsibilities include liaison with and coordination of diverse stakeholders, planning, regulation, industry stimulation and promotion. An effective tourism policy should set realistic aims and objectives (Fennell, 1999) and devise suitable strategies (Mill and Morrison, 1985), which can be documented in a tourism plan (Wilkinson, 1997). Contemporary policies and plans are usually presented within a framework of sustainability, but focus heavily on maximizing the economic returns from tourism”. (Pemerintah

commit to user

memiliki peran yang penting dalam pembangunan kepariwisataan dan operasi industri kepariwisataan melalui kebijakan yang spesifik dan berhubungan serta pembelanjaan (Pearce,1989; Oppermann dan Chon, 1997; Hal, 2003). Ini dilakukan dengan menyediakan infrastruktur dan beragam pelayanan dan sikap ramah tamah dari keseluruhan pimpinan (UNESCO, 2007). Tanggungjawab ini termasuk hubungan dengan dan koordinasi dari beragam stakeholder, perencanaan, peraturan, pendorong dan promosi industri. Kebijakan kepariwisataan yang efektif harus dibangun dengan tujuan dan sasaran hasil yang jelas (Fenell, 1999) dan merencanakan strategi yang sesuai (Mill dan Morisson, 1985), dimana dapat didokumentasikan dalan perncana kepariwisataan (Wilkinson, 1997). Kebijakan dan perencanaan yang sekarang pada umumnya diperkenalkan tidak dalam kerangka ketahanan/kelanjutan, tetapi dengan titik fokus memaksimalkan kembalinya ekonomis dari kepariwisataan).

Untuk itulah pemerintah perlu membuat kebijakan pariwisata. Hermawan (2008:17) menyatakan bahwa pengembangan pariwisata merupakan sebuah kebijakan, sebab pengembangan pariwisata ini merupakan hak pemerintah dengan melihat apakah memiliki sumberdaya di bidang pariwisata atau tidak. Selain itu pengembangan pariwisata merupakan kebijakan dalam menyelesaikan masalah-masalah bangsa.

Alasan utama diperlukannya kebijakan pariwisata ini adalah agar mampu menggunakan dan mengefisienkan sumber daya yang dimiliki Indonesia secara efektif (Suwantoro, 1997:42). Selain itu alasan lain adalah:

a) Pariwisata sering diangap sebagai sumber penting dari hard foreign exchange earnings ( pendapatan nilai tukar mata uang asing).

commit to user

b) Pariwisata tidak menghadapi aturan perdagangan dan kuota seperti halnya barang-barang pabrik, bahan mentah, dan produk-produk kebutuhan dasar.

c) Penggunaan pariwisata terhadap infrastruktur alam mempunyai marginal cost yang rendah.

d) Mampu memberikan lapangan kerja baru baik dinegara sedang berkembang maupun dinegara maju.

e) Pariwisata mampu menjadi pendorong bagi sektor lain.

Untuk mengatur kepariwisataan pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No. 9 Tahun 1990. Presiden juga telah menerbitkan Inpres 16 tahun 2005 yang menginstruksikan menteri dan badan-badan pemerintah terkait serta semua gubernur dan bupati/walikota untuk mendukung dan berkoordinasi erat bagi mempercepat pembangunan pariwisata Indonesia.

Tujuan pembangunan kepariwisataan adalah mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar 1945. Sedangkan sasaran pembangunan kepariwisataan Indonesia (Waluyo, 2007) adalah:

a) Terwujudnya pariwisata nusantara yang dapat mendorong rasa cinta tanah air.

b) Meningkatnya pemerataan dan keseimbangan pengembangan destinasi pariwisata yang sesuai dengan potensi masing-masing daerah.

c) Meningkatnya kontribusi pariwisata dalam perekonomian nasional. d) Meningkatnya produk dan pelayanan pariwisata yang memiliki

keunggulan kompetitif

e) Meningkatnya pelestarian lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat.

commit to user

f) Meningkatnya peran Indonesia dalam kerjasama dan persahabatan antar bangsa dengan dilandasi oleh sikap saling menghargai.

g) Terwujudnya hasil penelitian dan pengembangan terapan serta sistem informasi bidang kebudayaan dan kepariwisataan.

h) Meningkatnya ketersediaan sumber daya manusia (SDM) bidang kebudayaan dan kepariwisataan.

i) Terwujudnya pengawasan, pengendalian, koordinasi dan kerjasama lintas daerah serta antar-stakeholders.

Selain pemerintahan pusat, pemerintahan daerah memegang peranan penting dalam pengembangan pariwisata di daerah. James Elliott (1997:136) menyatakan bahwa:

Public sector management at the local level is mainly carried out by local government, but it also includes management representatives of national and state government departments, and public agencies such as tourism boards and transportation agencies. To be effective the various managers and their organisations should cooperate with one another and privat sector. Local politicians as elected representatives can be much more involved in detailed management than at the national or state level. This can improve, or impair the application of the five principles of public interest, public service, effectiveness, efficiency and accountability.”(Manajemen sektor publik pada tingkat lokal dilakukan oleh pemerintah daerah, tapi ini termasuk (bagian) dari perwakilan manajemen pemerintah pusat dan departemen Negara, dan agensi publik seperti dewan pengurus pariwisata dan agen transportasi. Untuk menciptakan efektivitas, pimpinan/pengelola dan organisasinya (pemerintahan di daerah) harus bekerjasama dengan yang lainnya dan sektor privat. Politikus lokal perwakilan yang terpilih dapat lebih terlibat dalam menejemen yang lebih dalam daripada nasional dan negara)

Penjelasan tersebut menyatakan bahwa di tingkat lokal pemerintahan daerah yang melaksanakan manajemen di sektor publik, termasuk dalam pariwisata. Dalam rangka pengelolaan ini pemerintah daerah dapat bekerjasama dengan pemerintahan daerah yang lain maupun dengan swasta.

commit to user

Waluyo (2007) menyatakan dukungan pemerintahan daerah baik pemerintah privinsi maupun kabupaten/kota terhadap pariwisata adalah a) Promosi bersama.

b) Perbaikan sarana dan prasarana disekitar obyek wisata.

c) Regulasi yang mendorong tumbuhnya usaha pariwisata didalam negeri d) Memelihara iklim yang sejuk dan nyaman bagi wisatawan (sweeping

dll).

e) Peningkatan kualitas masyarakat tentang Sapta Pesona (Aman-Tertib-Bersih-Sejuk-Indah-Ramah tamah-Kenangan) .

4. Aspek yang Dikaji Dalam Evaluasi Implementasi Kerjasama Antar