• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksana Kebijakan ( Policy Implementor )

CONCLUTIO N DRAWING

1) Pelaksana Kebijakan ( Policy Implementor )

Pembahasan mengenai pelaksana kebijakan ini berkaitan dengan aktor kebijakan. Karena upaya pengembangan pariwisata ini melibatkan banyak pihak, tidak bisa hanya dilaksanakan oleh pemerintah sendiri. Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta menyatakan bahwa:

“Pelaksana kerjasama antar daerah dalam bidang pariwisata tersebut koridornya tetap SDM yang ada di Solo Raya, tetapi melibatkan unsur pemerintah, pelaku wisata dan unsur masyarakat. ” ( Wawancara, 31 Januari 2011)

commit to user

Melalui keterangan tersebut SDM yang terlibat dalam kerjasama antar daerah dalam bidang pariwisata adalah :

1) Pemerintah Daerah.

2) Pelaku Wisata/ Stakeholder Pariwisata. 3) Masyarakat.

Moore (dalam Badjuri dan Yuwono, 2003:24) menyatakan ada tiga aktor yang terlibat dalam kebijakan publik yaitu private actor, public actor dan civil society yang digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4.1. Aktor yang Terlibat dalam Kebijakan Publik

Jadi aktor yang terlibat bukan hanya pemerintah daerah. Pemerintah daerah lebih berperan dalam melakukan pengarahan dengan menciptakan iklim yang kondusif dalam pelaksanaan kerjasama ini. Fungsi ini disebut dengan steering rahter than rowing oleh Dovid Orsbone dan Ted Geabler (dalam Nogroho, 2004:66). Untuk itu pemerintah daerah harus mampu menyinergikan stakeholder ataupun aktor-aktor yang terlibat dalam kebijakan kerjasama antar daerah dalam bidang pariwisata ini.

commit to user

Berkaitan dengan SDM ini Kepala Bidang Seni Budaya Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta (Wawancara, 22 Februari 2011) menyampaikan bahwa dalam pelaksanaan kerjasama ini menggunakan Triple Helix sehingga ada 3 unsur yang terlibat dan berperan dalam pengembangan pariwisata di Solo Raya. Triple Helix ini melibatkan Academic (Akademis), Business (Bisnis) dan Government (Pemerintah). Hal ini pula yang disampaikan oleh Kepala Kepala Bagian Kerjasama Antar Daerah Pemerintahan Kota Surakarta (dalam wawancara, 3 Desember 2010). Ketiga unsur tersebut mempunyai peran dan fungsi masing-masing dalam pengembangan pariwisata di Solo Raya sesuai dengan porsinya. Ketiga unsur tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4.2. Triple Helix Kerjasama Antar Daerah

SUBOSUKAWONOSRATEN Bidang Pariwisata

Dengan demikian, pelaksana kerjasama antar daerah

SUBOSUKAWONOSRATEN bidang pariwisata beserta perannya dapat dirinci sebagai berikut:

commit to user 1) Public Actor

Aktor publik ini adalah pemerintah daerah. Pemerintah daerah diwakili oleh SKPD atau dinas yang melaksanakan tugas kepariwisataan dimasing-masing daerah. Masing-dimasing-masing SKPD ini kemudian menunjuk bagian atau bidang tertentu yang menjadi pelaksana teknis kerjasama antar SUBOSUKAWONOSRATEN bidang pariwisata. SKPD di masing-masing daerah adalah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta; Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Boyolali; Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Kabupaten Wonogiri; Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Kabupaten Sukoharjo: Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Kabupaten Klaten: Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olah Raga Kabupaten Sragen; dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karanganyar. SKPD yang melaksanakan tugas kepariwisataan ini membentuk forum Pariwisata Solo Raya.

Pemerintah daerah dalam forum pariwisata Solo Raya sendiri lebih banyak berperan dalam sebagai steering dalam pelaksanaan promosi wisata di Solo Raya. Dalam hal ini pemerintah daerah hanya melakukan pengarahan dan pemantuan, dimana pelaksanaan diserahkan kepada pelaku wisata yang lebih memahami seluk-beluk pelaksanaan pengembangan pariwisata. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, yang menyatakan bahwa:

”dalam roadshow mereka (ASITA dan PHRI) juga main, jadi pemerintah hanya memantau” (Wawancara, 31 Januari 2011)

Dengan demikian pelaksana kegiatan kerjasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN dalam bidang Pariwisata lebih banyak

commit to user

dilakukan oleh pelaku wisata. Begitupula yang disampaikan oleh Kepala Bidang Seni Budaya Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta, yang menyatakan bahwa:

“Pemerintah sebagai fasilitator dan regulator, kita memberi kemudahan aturan-aturan dalam industri MICE, pendirian hotel, tempat/wadah

pelaksanaan even-even, backup dananya, pembenahan

kawasan-kawasannya, citiwalk, keretaapi, bis tingkatnya, kluster-kluster kampung Batik Kauman, Laweyan, kawasan bersejarah, mall” (Wawancara, 22 Februari 2011)

Selain SKPD yang berkaitan dengan pariwisata Sumber daya manusia ini juga secara tidak langsung juga melibatkan SKPD lain dalam pelaksanaan kegiatan. Misalnya dalam pengembangan usaha kecil di kawasan wisata, maka SKPD yang membidangi Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM) juga dilibatkan. Keterlibatan beberapa SKPD diluar Pariwisata ini disesuaikan dengan jenis kegiatan yang dilaksanakan. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar menyampaikan bahwa:

“Dalam promosi pariwisata melibatkan pihak-pihak yang terkait, misalnya terkait kebijakan pariwisata kita libatkan Komisi D, asisten yang ada di pemda, dinas terkait tergantung tematiknya, misalnya yang menyangkut UKM, maka kita libatkan dinas terkait” (Wawancara, 7 Februari 2011)

Berkaitan dengan hal ini Kepala Bidang Seni Budaya Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta juga menyampaikan bahwa:

“Pembangunan kepariwisataan terkait dengan sektor lain tergantung urusannya. Misalnya, perbaikan sarana ada di Dinas PU, perbaikan taman kota ada di Dinas Pertamanan, dan lainnya. “(Wawancara, 22 Februari 2011)

commit to user

Pihak swasta sebagai pelaku wisata yang dilibatkan dalam melakukan pengembangan pariwisata di wilayah Solo Raya adalah Associasion of Indonesia Tour and Travel Agencies (ASITA) Surakarta dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Surakarta serta beberapa pihak lain seperti industri, Perdagangan, Koperasi, Jasa. Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta menyatakan bahwa:

”Kita libatkan semua, jadi bukan hanya pekerjaan pemerintah saja, contohnya kita libatkan ASITA, PHRI, kita rumuskan bersama.” ( Wawancara, 31 Januari 2011)

Kepala Bidang Seni Budaya Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta (Wawancara, 22 Februari 2011) menyampaikan bahwa pihak swasta yang terlibat sebagai input adalah ASITA, PHRI, industri, perdagangan, koperasi, jasa dan entrepreneur.

Namun pelaku wisata yang terlibat secara intensif adalah ASITA dan PHRI. Keterlibatan ASITA dan PHRI dalam pengembangan pariwisata Solo Raya ini disebabkan karena pihak-pihak tersebut merupakan pihak yang berkepentingan terhadap pariwisata dan memahami dunia pariwisata. Sebagai kalangan profesional ASITA dan PHRI berperan besar dalam pengembangan pariwisata di Solo Raya.

ASITA merupakan stakeholder yang berperan dalam menjual destinasi wisata di wilayah Solo Raya. Seperti yang diungkapkan koordinator ASITA Surakarta:

“ASITA adalah asosiasi perjalanan yang menjual obyek-obyek itu, karena obyek-obyek itu wilayahnya menyebar” (Wawancara, 8 Februari 2011)

commit to user

Sedangkan PHRI merupakan stakeholder yang juga berperan dalam menjual destinasi wisata, khususnya wisata MICE (Meeting, Intencive, Conference and Exhibition). ASITA dan PHRI merupakan motor penggerak pengembangan pariwisata di Solo Raya. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pengembangan pariwisata Solo Raya dimotori, disinergikan dan dilaksanakan oleh ASITA dan PHRI. Koordinator PHRI menyatakan bahwa:

“PHRI ini merupakan salah satu motor dalam pengembangan pariwisata di Solo raya, apalagi dari pemerintah sudah memberikan suatu stimulan,

mereka telah mencoba mengembangkan pariwisata jadi kita

menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, agar yang kita butuhkan bisa terwujud. Kedua, kita selalu coba mengumpulkan seluruh kepala dinas pariwisata se-Solo Raya untuk mensinergikan agar bisa secara bersama-sama mengembangkan pariwisata mereka.” ( Wawancara, 9 Februari 2011)

Dengan demikian, pengembangan pariwisata ini merupakan kebutuhan bagi pelaku wisata sebab pariwisata merupakan sumber mata pencaharian mereka. Selain itu, keterlibatan pelaku wisata dalam pengembangan pariwisata ini memudahkan pemerintah daerah dalam pengelolaan pariwisata.

Beberapa program dan kegiatan ASITA yang dilaksanakan dalam upaya pengembangan pariwisata Solo Raya (berdasarkan wawancara 8 Februari 2011), adalah:

· Morning Tea

Merupakan pertemuan yang menghadirkan stakeholder pariwisata, juga mengundang pemerintah (dinas-dinas yang bersangkutan). Kegiatan ini dilaksanakan sebulan sekali, tujuan kegiatan ini adalah berbicara atau diskusi mengenai upaya pengembangan pariwisata. Kegiatan ini dilaksanakan dengan sponsori oleh hotel.

commit to user

· Pemetaan Wisata

Pemetaan wisata merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui potensi wisata di suatu daerah. Kegiatan ini dilakukan agar pelaku wisata mengetahui kondisi destinasi wisata yang layak dan belum layak “dijual”. Pemetaan wisata yang sudah dilakukan adalah pemetaan di Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Karanganyar.

· Roadshow

Roadshow ini dilakukan oleh swasta dengan melibatkan pemerintah-pemerintah daerah di Solo Raya. Roadshow dilakukan ke beberapa daerah baik di pulau Jawa ataupun diluar pulau Jawa. Raodshow ini ditujukan untuk studi banding, promosi wisata, pembuatan kesepakatan kerjasama dengan daerah yang dituju dan direct selling.

· Even-even

Kegiatan ini dilakukan dengan membuat even-even tertentu ataupun mengikuti even yang dilaksanakan oleh pihak lain.

· Solo Beyond

Solo Beyond merupakan majalah yang berisi tentang pariwisata yang ada di Solo Raya. Majalah ini juga merupakan salah satu media promosi pariwisata. Masing-masing daerah di wilayah Solo Raya dapat mempromosikan pariwisatanya di majalah ini.

· Website

Website Ini merupakan sarana pengembangan pariwisata Solo Raya melalui media yahoo grup. Keanggotaan grup ini bersifat umum, mulai dari pemerintah daerah, stakeholder pariwisata, maupun masyarakat. Pada umumnya yang masuk adalah pegiat-pegiat pariwisata. Website ini

commit to user

juga digunakan sebagai sarana komunikasi informal bagi anggotanya. Webnya adalah http://groups.yahoo.com/group/solotourismforum.

3) Civil Society

Selain unsur pemerintah dan swasta, masyarakatpun juga merupakan input dalam upaya pengembangan pariwisata. Keterlibatan masyarakat diharapkan mampu memberikan dukungan terhadap pengembangan pariwisata di Solo Raya. Masyarakat yang banyak dilibatkan adalah masyarakat yang berhubungan langsung dengan dunia pariwisata, misalnya pelaku usaha souvenir, makanan, tukang becak, dan lainnya serta masyarakat di sekitar kawasan wisata.

Dalam pengembangan pariwisata ini sendiri masyarakat berperan sebagai obyek dan subyek. Sebagai obyek pelaku wisata, masyarakat diharapkan mampu mendorong dan berperan aktif dalam pengembangan pariwisata. Sedangkan sebagai subyek, masyarakat inilah yang diharapkan akan meningkat perekonomiannya melalui pengembangan pariwisata.

Dalam rangka meningkatkan peran masyarakat sebagai obyek dan subyek pariwisata ini, beberapa kegiatan telah dilakukan untuk meningkatkan dukungan masyarakat terhadap pariwisata. Kegiatan yang dilakukan berupa pelatihan dan pembinaan. Belum banyak kegiatan pelatihan dan pembinaan yang dilakukan untuk mengembangkan masyarakat. Menurut Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta beberapa kegiatan yang pernah dilakukan adalah pelatihan bahasa inggris di kawasan wisata dengan kelompok sasaran pelaku usaha kecil disekitar kawasan wisata, tukang becak dan pendukung wisata yang lainnya. Ada juga pelatihan sumber daya manusia pengelola desa wisata dengan

commit to user

kelompok sasaran masyarakat di kawasan wisata, dan beberapa pelatihan yang lain. (Wawancara, 31 Januari 2011)

Pelibatan masyarakat masih dirasakan kurang, sehingga dukungan masyarakatpun juga belum optimal. Hal ini dilihat dari masih sedikitnya kegiatan yang dilakukan dalam rangka mekibatkan masyarakat sebagai subyek.

4) Academic

Akademisi merupakan salah satu unsur SDM yang berperan dalam pengembangan pariwisata di Solo Raya. Dunia akademis khususnya perguruan tinggi berperan dalam memberikan kontribusi berupa penelitian, kajian, eksplorasi akademis dalam pengembangan pariwisata di kawasan Solo Raya. Kepala Bagian Kerjasama Antar Daerah Pemerintahan Kota Surakarta menyampaikan bahwa:

“ Pengembangan (pariwisata) ini juga harus kerjasama dengan perguruan tinggi, sehingga ada sinergi dari swasta, perguruan tinggi dan pemerintah (Triple Helix). Tanpa perguruan tinggi kita tidak bisa, karena kita butuh masukan dari sisi teoris dan keilmiahan” (Wawancara, 30 Desember 2010)

Namun, selama ini keterlibatan akademisi belum terlalu banyak. Kerjasama yang pernah dilakukan adalah dengan Universitas Gajah Mada Yogyakarta dalam melakukan pelatihan pengembangan SDM pengelola desa wisata. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, yang menyatakan bahwa:

“masyarakat juga sebagai subyek, kemaren kita mengadakan pelatihan SDM pengelola desa wisata, agar masyarakat bisa mengelola desa wisata, dengan mengudang masyarakat sebagai peserta. Kegiatan pelatihan tersebut dilaksanakan di satu hotel, pelatihannya dilaksanakan oleh

commit to user

UGM, dalam pelatihan itu kita juga mengundang ASITA, PHRI, staf dinas diikutkan juga”. (Wawancara, 31 Januari 2011)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaksana kerjasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN dalam bidang pariwisata ini adalah pemerintah daerah (Public Actor) yang diwakili oleh SKPD yang melaksanakan tugas kepariwisataan di masing-masing daerah dengan melibatkan pelaku wisata (Private Sector), masyarakat (Civil Society) serta melibatkan kontribusi akademisi (Academic). Masing-masing aktor memiliki peran dalam pelaksanaan kerjasama antar daerah dalam bidang pariwisata ini. Pemerintah daerah dalam forum pariwisata Solo Raya berperan melakukan steering dalam pelaksanaan promosi wisata di Solo Raya. ASITA dan PHRI merupakan motor penggerak pengembangan pariwisata di Solo Raya. Masyarakat berperan sebagai obyek dan subyek pengembangan pariwisata, namun keterlibantan masyarakat masih kurang. Sedangkan dunia akademis berperan dalam melakukan kajian.