PEMEKARAN WILAYAH
OUTPUT GABUNGAN AHP SECARA VERTIKAL
8 KESIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Dari hasil penelitian maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Struktur perekonomian wilayah Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya lebih
maju dan berkembang dibandingkan dengan daerah sekitarnya (hinterland), Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya berada pada klasifikasi daerah berkembang cepat, sedang daerah sekitarnya berada pada klasifikasi daerah daerah berkembang cepat dan daerah relatif tertinggal. Sektor perekonomian wilayah Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya lebih maju dan berkembang. Sektor-sektor unggulan yang menjadi sektor basis Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya adalah bangunan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa keuangan dan jasa-jasa. Namun pada ditingkat lokal (differential shift) menunjukkan sektor-sektor yang menjadi sektor basis Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya justru mengalami pergeseran dan pertumbuhan yang lambat.
2. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan wilayah Kota Baubau berada pada wilayah dengan kategori Hirarki II/sedang, perkembangan wilayah Kota Tasikmalaya berada pada wilayah dengan kategori Hirarki I/tinggi. Interaksi ekonomi dan daya tarik wilayah Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya dengan wilayah hinterlandnya bervariasi intensitasnya. Interaksi ekonomi dan daya tarik wilayah Kota Baubau yang kuat adalah dengan Kabupaten Buton dan Kabupaten Muna, sedang dengan kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Bombana sangat lemah terlihat dari nilai indeks gravitasi yang kecil. Interaksi ekonomi dan daya tarik wilayah Kota Tasikmalaya dengan wilayah hinterlandnya yang kuat adalah dengan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis terlihat dari indeks gravitasi yang besar, sedang dengan kabupaten lain yaitu Kabupaten Garut, Kota Banjar dan Kabupaten Pangandaran sangat lemah dari indeks gravitasi yang kecil. 3. Hasil mengevaluasi/mengkritisi terhadap sebelas faktor-faktor penilaian usulan
pemekaran wilayah Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 berdasarkan persepsi masyarakat Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya dengan menggunakan analytical hierarchy process menunjukkan ada perbedaan prioritas terhadap 11 (sebelas) faktor pembentukan daerah otonom baru.
4. Hasil analisis persepsi masyarakat secara umum menunjukkan pemekaran wilayah memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat baik dari sisi pendapatan, pelayanan dan ketersediaan infrastruktur maupun perkembangan perekonomian Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya. Hasil analisis persepsi masyarakat dengan analytical hierarchy process (AHP) menunjukkan dari empat alternatif strategi, alternatif strategi yang menjadi prioritas utama adalah pemekaran wilayah menciptakan pusat pertumbuhan (PW-PP).
Implikasi Kebijakan
Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang berlaku sejak Undang- Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dengan implikasi
pemekaran wilayah/daerah telah memberikan ruang dan peluang kepada daerah- daerah untuk menuntut pemekaran wilayah sehingga berakibat meningkat dan bertambahnya jumlah propinsi, kabupaten dan kota, dimana sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 terdapat 319 propinsi, kabupaten dan kota dengan perincian propinsi sebanyak 26, kabupaten sebanyak 234 dan kota sebanyak 9. Namun sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 terjadi penambahan sebanyak 217 terdiri dari 8 propinsi , 175 kabupaten dan 34 kota. Sampai dengan tahun 2013 terdapat 34 propinsi, 409 kabupaten dan 93 kota sehingga total terdapat 536 propinsi/kabupaten/kota.
Pemekaran wilayah/daerah yang berkembang pesat sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, yang telah direvisi dengan Undang- Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah muncul sebagai akibat karena sistem pemerintahan yang terpusat (sentralisasi), kesenjangan (regional disparity) antara Jakarta atau Jawa dengan luar Jawa, kesenjangan antara Kawasan Timur Indonesia dan Kawasan Barat Indonesia disatu pihak terjadi percepatan pembangunan dan penumpukan manufaktur, dipihak lain pembangunan berjalan sangat lambat, serta terjadinya berbagai ketimpangan pembangunan dan kesenjangan wilayah baik yang bersifat vertikal maupun horizontal secara spasial, ekonomi, politik, sosial dan budaya yang menyebabkan daerah-daerah semakin tertinggal.
Namun pemekaran wilayah/daerah yang dilakukan bukan merupakan satu satunya solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas, karena ternyata pemekaran wilayah/daerah berwajah ganda, ada sisi positif ada sisi negatif, disatu sisi memberikan manfaat kepada daerah namun disisi lain menimbulkan permasalahan didaerah. Berbagai penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa/ perguruan tinggi, LSM, Pemerintah maupun lembaga penelitian mendukung kedua argumen tersebut.
Penelitian ini merupakan salah satu argumen yang melihat bahwa kebijakan pemekaran wilayah/daerah telah mendorong dan memberikan manfaat bagi perkembangan perekonomian wilayah, bahkan mendorong suatu daerah berkembang menjadi pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah atau kawasan khususnya bagi daerah sekitarnya (hinterland). Penelitian yang dilaksanakan Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya, dimana kedua kota ini sebelumnya berstatus sebagai kota administratif (kotif), kemudian setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, kedua kota tersebut dimekarkan dari kabupaten induknya masing-masing pada tahun 2001 melalui proses transformasi yaitu Kota Baubau dimekarkan dari Kabupaten Buton dan Kota Tasikmalaya dari Kabupaten Tasikmalaya.
Hasil penelitian menunjukkan kebijakan pemekaran wilayah di Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya pada tahun 2001 telah mendorong perkembangan perekonomian wilayah kedua kota begitu pesat dibandingkan ketika masih berstatus sebagai kota administratif (kotif). Karena perkembangan perekonomian yang begitu pesat kedua kota tersebut ditetapkan sebagai pusat kegiatan nasional dan wilayah. Kota Baubau ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) maupun dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi Sulawesi Tenggara pada kawasan Sultra Kepulauan. Sebagai pusat kegiatan Wilayah (PKW) Priangan Timur ditetapkan Kota Tasikmalaya yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang
Nasional (RTRN) maupun dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi Jawa Barat. Penetapan kedua kota secara khusus dimaksudkan untuk mendorong perkembangan ekonomi wilayah dan perekonomian bagi daerah sekitarnya dan kontribusi pada perekonomian nasional secara keseluruhan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya, penelitian ini memberikan beberapa implikasi kebijakan terhadap stakeholder yang terlibat dalam proses pembentukan daerah otonom baru, antara lain:
1. Implikasi Kebijakan terhadap Pemerintah Pusat
Sehubungan dengan perencanaan pemekaran wilayah/daerah kedepan perlunya ditetapkan kebijakan pengusulan pemekaran melalui satu pintu, dimana selama ini pengusulan pemekaran wilayah/daerah melalui DPR, Kemendagri, dan DPD, menjadi satu pintu yaitu Kemendagri. Dengan pertimbangan eksekutif mempunyai sumberdaya personil yang memadai dan keahlian yang tinggi dibandingkan dengan DPR dan DPD. Selama ini pemekaran wilayah/daerah yang dilakukan melalui DPR lebih banyak didominasi oleh kepentingan politik, disatu sisi kewenangan DPD masih sangat terbatas dalam UUD. Untuk itu sebaiknya DPR dan DPD cukup menjadi lembaga pengawas dan memberikan pertimbangan kepada eksekutif (Kemendagri) sehubungan kebijakan dan implementasi pemekaran daerah.
Sehubungan dengan proses penetapan suatu daerah menjadi daerah otonom baru perlu dilakukan seleksi yang ketat terhadap usulan-usulan pembentukan DOB. Penetapan pembentukan daerah otonomi baru harus benar-benar memenuhi kriteria sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah, dimana suatu daerah dapat dimekarkan apabila memenuhi tiga persyaratan yaitu; syarat teknis, fisik kewilayahan, dan administrasi. Satu syarat saja tidak terpenuhi dari ketiga syarat tersebut semestinya suatu daerah tidak dapat dimekarkan
Dalam rangka pemekaran wilayah/daerah kedepan lebih berhasil, perlunya ada persiapan-persiapan yang harus dilalui oleh suatu daerah untuk menjadi daerah otonom baru (DOB). Untuk itu perlu ada proses pertahapan yang harus dilewati suatu kabupaten/kota untuk menjadi kabupaten/kota yang otonom. melalui kota administratif (kotif) sebelum menjadi kota otonom. Untuk kabupaten sebelumnya perlu proses pertahapan melalui kabupaten administratif. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk mempersiapkan suatu daerah untuk menjadi DOB melalui kesiapan infrastruktur pemerintahan, terutama mempersiapkan masyarakat dalam proses pemekaran dimaksud, karena selama ini yang terjadi kabupaten-kabupaten yang baru mekar ketika pemilihan dan penentuan ibukota sering menimbulkan gejolak sosial di masyakat. Disisi lain kabupaten-kabupaten yang baru mekar selalu terkendala dengan masalah infrastruktur pemerintahan karena keterbatasan anggaran.
2. Implikasi Kebijakan terhadap Pemerintah Daerah
Sehubungan dengan pemekaran wilayah/daerah, pemerintah daerah dalam hal ini daerah induk perlu melihat potensi SDA dan sumber daya manusia yang dimiliki suatu daerah yang diusulkan. Selama ini pemahaman seperti itu tidak
ada, usulan pemekaran lebih banyak didorong oleh tendensi politik, jabatan dan untuk mendapatkan dana dari pusat sehingga tujuan pemekaran untuk memajukan daerah dan meningkatkan taraf hidup masyarakat menjadi bias.
Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah dengan implikasi pemekaran wilayah Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya tahun 2001, telah mendorong perkembangan prekonomian wilayah Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya lebih maju dan berkembang dibandingkan daerah hinterland, artinya penerapan otonomi daerah (pemekaran wilayah) memberikan manfaat terhadap daerah itu sendiri, terutama dalam pengelolaan anggaran dan pelaksanaan program pembangunan lebih fokus dan mandiri. Untuk itu agar Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya kedepan lebih berkembang perlu menetapkan kebijakan pembangunan yang diprioritaskan pada pengembangan sektor basis/unggulan sebagai pendorong pembangunan dengan tetap memperhatikan sektor lainnya secara proporsional sesuai potensi dan peluang pengembangannya.
Dalam upaya untuk mendorong perkembangan perekonomian wilayah, selain meningkatkan sektor basis sebagai penggerak perekonomian wilayah, Pemerintah Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya perlu mengembangkan kebijakan baru yang lebih mendorong, memfasilitasi dan memberikan ruang bagi tumbuhnya investasi melalui insentif pajak dan kemudahan berinvestasi, karena sektor ini sangat memberikan dampak bagi pengembangan dan perekonomian wilayah, dengan tetap mendorong dan mengembangkan industri-industri dan sektor pengolahan lainnya yang telah ada. Sehingga akan memiliki dan meningkatkan keterkaitan wilayah Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya dengan wilayah sekitarnya (hinterland). Untuk itu perlu ada dan seharusnya dapat diupayakan oleh pemerintah daerah dalam membuat konsep perjanjian kerjasama yang lebih menguntungkan dengan wilayah sekitarnya (hinterland).
Interaksi ekonomi dan daya tarik wilayah terhadap daerah sekitarnya (hinterland) dapat dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan ketersediaan fasilitas-fasilitas yang menjadi daya tarik bagi daerah sekitarnya, karena posisi Kota Baubau yang cukup strategis pada wilayah/kawasan Sultra Kepulauan dan Kota Tasikmalaya yang cukup strategis pada wilayah/kawasan Priangan Timur. Disisi lain arus pergerakan penduduk pada pusat kota dapat menjadi sumber-sumber pendapatan lain bagi Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya karena akan mendorong tumbuh dan berkembangnya sektor hotel dan restoran, industri kecil, pengangkutan dan komunikasi serta meningkatkan perdagangan baik antar daerah maupun luar daerah.
Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi wilayah Sultra Kepulauan dan Priangan Timur, Pemerintahan Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya perlu meningkatkan kualitas jasa pelayanan seperti jasa pelayanan perdagangan, pendidikan, serta hiburan dan rekreasi, yang biasanya kurang dimiliki daerah sekitarnya (hinterland) sehingga dengan demikian dapat meningkatkan interaksi ekonomi dan daya tarik wilayah bagi daerah hinterland serta menjadi sumber– sumber pendapatan ekonomi dari luar Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya.
3. Implikasi Kebijakan terhadap Masyarakat
Untuk wilayah/daerah perlu ada persiapan-persiapan sosial masyarakat dalam proses pemekaran wilayah khususnya sosialisasi proses pengusulan daerah, dan persyaratan administrasi yang harus dipenuhi oleh suatu daerah. Hal ini
dimaksudkan untuk meminimalisir terjadinya konflik dilapangan, karena selama ini terkadang masyarakat tidak mendapatkan informasi mengenai tahapan dan proses suatu daerah diusulkan untuk menjadi DOB, akibatnya sering dipergunakan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan masyarakat dengan memprovokasi sehingga menimbulkan konflik vertikal maupun konflik horizontal. Untuk itu peran pemerintah daerah dan tokoh masyarakat sangat diperlukan dalam proses untuk memfasilitasi dan meminimalisir terjadi konflik tersebut.
Saran Penelitian Lanjutan
1. Dengan menggunakan pendekatan pusat pertumbuhan (growth center) dan kutub pertumbuhan (growth pole), penelitian ini mengidentifikasi bahwa dua kota hasil pemekaran yaitu Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya potensial menjadi pusat pertumbuhan dan pusat pelayanan bagi daerah sekitarnya (hinterland). Namun kelemahan dari penelitian ini belum mampu memberikan informasi seberapa besar disparitas (disparity) antar wilayah, dan seberapa besar spread dan backwash effect Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya sebagai pusat dan kutub pertumbuhan terhadap daerah sekitarnya. Sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui seberapa besar disparitas (disparity) antar wilayah spread dan backwash effect Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya Baubau dan Kota Tasikmalaya terhadap daerah sekitarnya (hinterland).
2. Penelitian ini menggunakan analisis gravitasi untuk mengetahui interaksi dan daya tarik wilayah Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya terhadap daerah sekitarnya (hinterland). Namun kelemahan dari penelitian ini belum mampu memberikan informasi yang menjadi penyebab interaksi dan daya tarik wilayah kedua kota tersebut, apakah daya tarik disebabkan oleh aktivitas produksi atau aktivitas pasar di wilayah tersebut. Sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab interaksi dan daya tarik wilayah Kota Baubau dan Kota Tasikmalaya terhadap daerah sekitarnya.