B. PEMELIHARAAN TANAMAN
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1. Konflik air minum lintas wilayah dapat terjadi diantara daerah yang memiliki sumber air minum yang berada di bagian hulu dan daerah pengguna air minum yang berada di bagian hilir. Salah satu faktor yang dapat memicu terjadinya konflik adalah adanya keterbatasan air minum akibat jumlah kebutuhan air minum yang lebih besar dari ketersediaan sumber air. Selain itu daerah hulu yang memiliki sumber air minum menuntut pengguna air minum di hilirnya yang selama ini menikmati manfaat jasa hidrologis dari kawasan hutannya untuk membantu upaya konservasi kawasan sumber air minumnya di bagian hulu. Kuatnya tuntutan daerah hulu untuk mendapatkan dana kompensasi konservasi dari pengguna air minum di hilir memicu konflik apabila pengguna air minum tidak memiliki apresiasi dan kepedulian untuk membantu upaya konservasi kawasan sumber air minumnya di bagian hulu.
2. Mekanisme alokasi air minum lintas wilayah perlu ditentukan sebagai bagian dari kerjasama antar daerah dalam memanfaatkan sumber air minum dan menghindari konflik. Penentuan mekanisme alokasi air minum lintas wilayah perlu memperhatikan aspek-aspek dari faktor, aktor, dan tujuan yang mempengaruhi alokasi air minum lintas wilayah. Dalam penelitian ini prioritas mekanisme alokasi air minum lintas wilayah di Kawasan Gunung Ciremai adalah alokasi air oleh pemerintah/public based allocation (0,4), alokasi melalui transfer hak guna air/water market allocation (0,204), alokasi melalui biaya penyediaan air/marginal cost pricing allocation (0,2), dan alokasi oleh pengguna air/user based allocation (0,196).
3. Pandangan terhadap hak air di lokasi penelitian umumnya dilatarbelakangi oleh pandangan hukum agama (Islam) yang dianut oleh masyarakat di sekitar mata air. Hak akses air diyakini sebagai sebagai hak dasar yang dimiliki oleh semua orang, baik untuk kepentingan masyarakat di sekitar sumber air dan masyarakat yang tinggal di luarnya. Oleh karena itu apabila
terjadi gangguan lingkungan akibat aktifitas penggunaan lahan yang mempengaruhi kondisi hidrologis kawasan tersebut, maka yang turut bertanggung-jawab atas gangguan tersebut selain masyarakat hulu juga masyarakat hilir untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Tanggung- jawab tersebut diwujudkan dalam bentuk kompensasi masyarakat hilir kepada masyarakat hulu agar lahan di bagian hulu dikelola sesuai fungsinya sebagai resapan air. Dalam hal ini tanggung-jawab pengelolaan sumber air minum lintas wilayah bukan hanya tanggung-jawab masyarakat hulu, tetapi juga tanggung-jawab masyarakat di hilirnya.
4. Masyarakat dan pemerintah daerah hulu yang memiliki sumber air minum perlu menetapkan kebijakan perlindungan kawasan sumber airnya yang memiliki kekuatan hukum formal. Perlindungan kawasan sumber air minum terkait langsung dengan kebijakan penataan ruang di kawasan tersebut. Kebijakan perlindungan kawasan sumber air minum di kawasan Gunung Ciremai yang secara administratif masuk Kabupaten Kuningan dipayungi oleh Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan Nomor 38 Tahun 2002 tentang Rencana Umum Tata Ruang Gunung Ciremai. Peraturan daerah yang dibuat tersebut selain mengalokasikan ruang, juga merupakan
sertifikat komitmen masyarakat Kabupaten Kuningan untuk mengelola dan melestarikan sumber mata airnya. Komitmen yang tertuang dalam bentuk aturan hukum tersebut menjadi unsur penting dalam membangun kerjasama dengan Kota Cirebon, terutama pada saat proses negosiasi dana kompensasi konservasi sumber air minum di kawasan Gunung Ciremai dari Pemda Kota Cirebon ke Pemda Kabupaten Kuningan. Adanya kebijakan yang tegas dan jelas dari Kabupaten Kuningan untuk melindungi kawasan sumber air minum di Gunung Ciremai telah mendorong meningkatnya apresiasi nilai dari pengguna air minum untuk membantu membiayai kegiatan konservasi kawasan tersebut.
5. Upaya konservasi dan pemulihan kawasan sumber air minum di wilayah hulu yang juga merupakan tanggung-jawab dari pengguna air minumnya memerlukan sejumlah dana yang berasal dari pengguna jasa hidrologis tersebut. Dalam penelitian ini rumah tangga pengguna air minum setuju
untuk memberikan dana (kompensasi) konservasi sebagai additional fee
untuk membantu kegiatan konservasi sumber air di kawasan Gunung Ciremai. Nilai WTP konservasi total dari sektor rumah tangga di Kabupaten Kuningan untuk kegiatan konservasi Gunung Ciremai diestimasi mencapai Rp.29.250.000,00/bulan atau Rp.351.000.000,00/ tahun. Adapun nilai WTP konservasi total dari sektor rumah tangga di Kota Cirebon untuk konservasi Gunung Ciremai diestimasi mencapai Rp.177.500.000,00/bulan atau Rp. 2,13 milyar/tahun. Nilai WTP- konservasi dari pengguna air minum di Kota Cirebon ini tidak jauh dari nilai dana kompensasi konservasi yang disepakati untuk diberikan ke Kas Daerah Kabupaten Kunungan oleh Kota Cirebon sebesar Rp.1,75 milyar untuk tahun 2005.
5.2. Saran
Untuk meningkatkan kinerja pengelolaan sumber air minum lintas wilayah di kawasan Gunung Ciremai Propinsi Jawa Barat disarankan untuk :
1. Mengkaji kemungkinan pembentukan Dewan Sumberdaya Air pada
tingkat regional sebagai lembaga konsultasi dan koordinasi diantara pengguna air di kawasan Gunung Ciremai. Lembaga tersebut merupakan wakil dari para pihak (stakeholders) yang terlibat langsung dengan pengelolaan sumberdaya air, baik yang berasal dari unsur pemerintah maupun non pemerintah. Tugas pokok dari lembaga tersebut mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor, wilayah, dan stakeholders
sumberdaya air. Institusi tersebut berperan dalam mengkoordinasikan kegiatan pemanfaatan, manajemen, dan konservasi sumber air minum secara terpadu dan saling menguntungkan, sehingga konflik air minum lintas wilayah dapat dihindari.
2. Penerapan mekanisme alokasi air minum lintas wilayah memerlukan proses negosiasi diantara pihak-pihak yang berkepentingan dengan mengedepankan prinsip pembagian manfaat lebih penting daripada pembagian air semata.
3. Dana konservasi yang didapatkan dari pengguna air minum sebaiknya tidak digabung dengan pendapatan daerah lainnya, sehingga alokasi dana untuk konservasi daerah resapan air dapat dilaksanakan dengan baik dan sesuai sasaran. Penggunaan dana konservasi yang tidak sesuai dengan peruntukannya akan menurunkan kepercayaan pengguna air untuk memberikan kontribusinya terhadap konservasi sumber air minum. Dana konservasi selain digunakan untuk kegiatan konservasi di kawasan hutan, juga dialokasikan untuk kegiatan konservasi di lahan milik. Insentif yang berasal dari dana kompensasi konservasi bagi pemilik lahan pribadi/swasta ditujukan untuk membantu pemilik lahan agar dalam pengelolaan lahannya sesuai dengan prinsip-prinsip konservasi lahan dan pengelolaan kawasan resapan air.