IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Ketersediaan dan Kebutuhan Air Minum
Mata air yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah mata air di Kecamatan Darma, Jalaksana, dan Pasawahan.
Mata Air Darmaloka
Di kawasan Darmaloka terdapat dua sumber mata air yang cukup besar, yaitu mata air Darmaloka-1 dan Darmaloka-2. Mata air yang berada di kawasan Darmaloka berupa mata air gravitasi karena aliran air tanah yang mengalir terpotong topografi, dan keluar melalui celah dan rongga antar butir, pada batuan breksi gunung api. Mata air ini berada pada ketinggian 700 m diatas permukaan laut (dpl).
Mata air di Darmaloka-1 sebagian besar dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai sumber air minum. Pengambilan dilakukan menggunakan pipa dimana jumlah pipa yang kurang labih 158 pipa dengan ukuran bervariasi mulai dari ¾ inci sampai 3 inci. Air tanah sebelum digunakan ditampung pada bak dengan ukuran lebar 4,5 m, panjang 30 m dan kedalaman rata-rata 0,85 m. Dari hasil pengukuran yang dilakukan pada diperkirakan debit air mencapai 200 l/dtk. Sebagian airnya mengalir yang tidak dimanfaatkan dan masuk ke pipa, dialirkan ke kolam rekreasi Darmaloka seterusnya masuk ke Waduk Darma. Pemanfaatan dan pengelolaan mata air pada lokasi ini belum berjalan sistematis dan terorganisir baik, sehingga pemanfaatannya belum optimal.
Mata air di Darmaloka-2 sebagian besar dimanfaatkan oleh penduduk setempat dan PDAM Kabupaten Kuningan sebagai sumber air minum. Pengambilan air dilakukan menggunakan pipa. Jumlah pipa yang terpasang adalah 3 buah dengan ukuran diameter antara 2 inci sampai 3 inci, sebelumnya air ditampung pada bak dengan ukuran lebar 2 meter dan panjang 2,5 meter, dengan kedalaman 90 cm. Dari hasil pengukuran dari beberapa ukuran pipa diperkirakan debitnya mencapai 300 l/dtk. Sebagian besar airnya mengalir ke kolam renang dan selanjutnya masuk ke Waduk Darma. Pemanfaatan mata air pada lokasi ini belum optimal. Total debit air yang berasal dari kawasan air Darmaloka mencapai 500 l/dtk. Hasil analisis kualitas air yang ditampilkan pada Lampiran 1 menunjukkan bahwa air yang berasal dari kawasan ini memenuhi persyaratan
kualitas air minum, sehingga mata air tersebut layak dijadikan sebagai sumber air minum.
Air yang keluar dari kawasan mata air ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat di Kecamatan Darma dan Kuningan. Proyeksi kebutuhan air bagi dua kecamatan selama 30 tahun tersebut ditampilkan pada Lampiran 4 dan Gambar 8.
0 5000000 10000000 15000000 20000000 25000000 30000000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Tahun Ke- K o ns ums i A ir ( lt /ha ri )
Gambar 8. Proyeksi Konsumsi Air Minum Masyarakat di Kecamatan Darma dan Kuningan selama 30 tahun
Hasil perhitungan kebutuhan air selama 30 tahun menunjukkan bahwa jumlah pasokan air dari kawasan tersebut sebesar 500 l/dtk atau 43,2 juta liter/hari masih lebih besar dari kebutuhan air masyarakat (26,03 juta liter/hari), bahkan terdapat air berlebih sebesar 17,17 juta liter/hari.
Mata Air Cibulan
Mata air Cibulan termasuk mata air gravitasi, dimana aliran air tanah yang mengalir terpotong oleh topografi, yang keluar melalui celah dan rongga antar butir, pada batuan breksi gunung api. Mata air ini berada pada ketinggian 650 m diatas permukaan laut (dpl) dengan debit air mencapai 400 l/dtk. Potensi air minum pada lokasi ini baru sebagian kecil yang dimanfaatkan oleh PDAM sebagai sumber air minum. Pengambilan air dilakukan menggunakan sistem
gravitasi dengan kapasitas terpasang 80 l/dtk, dan yang dimanfaatkan hanya 25 l/dtk. Hasil analisis kualitas air yang ditampilkan pada Lampiran 2 menunjukkan bahwa air yang berasal dari kawasan ini memenuhi persyaratan kualitas air minum, sehingga mata air tersebut layak dijadikan sebagai sumber air minum.
Air yang keluar dari kawasan mata air ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat di Kecamatan Jalaksana dan sekitarnya. Proyeksi kebutuhan air bagi kecamatan ini selama 30 tahun tersebut ditampilkan pada Lampiran 5 dan Gambar 9.
0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000 7000000 8000000 9000000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Tahun ke- Ko n s u m s i Ai r ( lt /h a ri )
Gambar 9. Proyeksi Konsumsi Air Minum Masyarakat di Kecamatan Jalaksana dan sekitarnya selama 30 tahun
Hasil perhitungan kebutuhan air minum selama 30 tahun menunjukkan bahwa jumlah pasokan air dari kawasan tersebut sebesar 400 l/dtk atau 34,56 juta liter/hari masih lebih besar dari kebutuhan air masyarakat (8,5 juta liter/hari), bahkan terdapat air berlebih sebesar 26,06 juta liter/hari.
Berdasarkan hasil analisis terhadap ketersediaan air dan kebutuhan air minum menunjukkan bahwa potensi konflik air minum jarang terjadi diantara wilayah yang kebutuhan air minumnya mampu dipenuhi oleh jumlah air yang tersedia. Tidak terjadi kekurangan atau kelangkaan air di dalam wilayah Kabupaten Kuningan dan rendahnya potensi konflik dalam pemanfaatan air minum di wilayah tersebut menunjukkan bahwa ketidaklangkaan sumberdaya
(air) memiliki peluang kecil untuk memicu terjadinya konflik air sebagaimana teori konflik berbasis kelangkaan yang dikemukakan oleh Spector (2001).
Mata Air Paniis
Mata air Paniis termasuk mata air gravitasi dimana aliran air tanah yang terpotong oleh topografi, dan keluar melalui celah dan rongga antar butir, berada batuan breksi gunung api. Mata air ini berada pada ketinggian 375 m diatas permukaan laut (dpl). Air yang berasal dari mata air Paniis ini memasok air minum untuk PDAM Kota Cirebon. Pasokan air minum untuk Kota Cirebon dari Paniis telah berlangsung sejak jaman Belanda. Pemerintah Belanda, pada tahun 1937, membangun sistem penyediaan air minum untuk Kota Cirebon dengan kapasitas penyediaan air sebesar 33 l/dtk dari mata air Paniis dengan sistem sumur pengumpul vertikal yang berlokasi di Desa Paniis Kabupaten Kuningan. Lokasi tersebut berjarak ± 22 Km dari Kota Cirebon. Sumur pengumpul vertikal berupa terowongan ini merupakan penampung air yang berasal dari 15 sumur vertikal berdiameter 200 mm dengan kedalaman bervariasi antara 2 m sampai dengan 8 m. Panjang terowongan 119,6 m ke dalam kaki Gunung Ciremai. Kapasitas produksi pada tahun 1960 ditingkatkan menjadi 100 l/dtk dengan menambah pipa berdiameter 350 mm. Dari sumber ini air disalurkan melalui pipa berdiameter 250 mm menuju instalasi pengolahan yang terletak 270 m dari sumber air. Kapasitas total debit mata air Paniis berhasil ditambah menjadi 860 l/dtk pada tahun 1982. Penambahan ini berasal dari sumber air berupa sumur pengumpul berdiameter dalam 4 m dan diameter luar 5 m, dengan kedalaman lebih 7 m yang mengumpulkan air dari 24 buah sumur horisontal yang ada di sekelilingnya yang berdiameter 200 mm dengan panjang antara 9 m sampai 32,5 m. Air dialirkan melalui pipa berdiameter 700 mm dari sumur pengumpul ke instalasi pengolahan di Plangon yang berjarak ± 8.195 m dari Paniis.
Mata air Paniis merupakan sumber air minum andalan utama untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat Kota Cirebon. Alternatif sumber air minum lainnya yang berasal dari air tanah dalam di sekitar Kota Cirebon dari jumlah dan kualitasnya kurang memenuhi kebutuhan air minum masyarakat akan air minum. Berdasarkan peta potensi air tanah cekungan Cirebon (Gambar 10),
wilayah Kota Cirebon berada pada dua wilayah potensi air tanah, yaitu wilayah dengan potensi air tanah sedang pada akuifer dangkal dan rendah pada akuifer dalam dengan kualitas air tanah akuifer dangkal umumnya sedang untuk diminum, serta wilayah dengan potensi air tanah nihil pada ekuifer dangkal dan rendah pada ekuifer dalam dengan kualitas air tanah dangkal umumnya jelek untuk air minum (Wahyudin, 2000). Oleh karena itu sumber air minum dari mata air di kawasan Gunung Ciremai merupakan prioritas pertama untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat di Kota Cirebon.
Produksi air minum, debit air yang diijinkan, dan curah hujan tahunan dari mata air Paniis disajikan pada Gambar 11. Debit air total mata air Paniis adalah 860 l/dtk yang pada musim hujan dapat meningkat di atas 1.000 l/dtk. Mata air Paniis merupakan sumber air minum yang dikelola oleh PDAM Kota Cirebon untuk melayani penduduk Kota Cirebon dan beberapa daerah wilayah Kabupaten Cirebon dengan jumlah pelanggan sampai bulan Maret tahun 2003 mencapai 51.344 pelanggan air minum dan pelayanan pengelolaan air limbah sampai tahun 2002 mencapai 8.130 unit pelanggan. Kapasitas terpasang yang dimanfaatkan oleh PDAM Kodya Cirebon adalah 860 l/dtk, dan debit yang diijinkan oleh Pemda Kabupaten Kuningan sebesar 750 l/dtk berdasarkan surat ijin pengambilan air (SIPA) yang dikeluarkan oleh Kantor Sumberdaya Air dan Mineral Kabupaten Kuningan Nomor 616/039/SDAM/2003. Pengambilan air yang melebihi SIPA memicu konflik antara Pemda Kabupaten Kuningan dengan Kota Cirebon yang terjadi pada pertengahan sampai akhir tahun 2004. Peningkatan konsumsi air minum masyarakat di Kota Cirebon yang terus meningkat menjadi alasan bagi PDAM Kota Cirebon untuk mengambil air di atas yang diijinkan. Hasil perhitungan kebutuhan air minum selama 30 tahun menunjukkan bahwa jumlah pasokan air dari kawasan tersebut sebesar 860 l/dtk atau 74,304 juta liter/hari, atau apabila sesuai SIPA sebesar 750 l/dtk atau 64,8 juta l/dtk18. Jumlah air yang tersedia dikaitkan dengan kebutuhan air masyarakat Kota Cirebon sebesar 86,8 juta liter/hari pada 30 tahun mendatang, ternyata jumlahnya tidak mencukupi sehingga upaya untuk menambah debit dari mata air di sekitar kawasan Paniis perlu dilakukan. Untuk mencukupi kebutuhan air tersebut dibutuhkan debit air sebesar 1.005 l/dtk, sehingga dibutuhkan tambahan debit air sebesar 255 l/dtk.
18
Jumlah debit air dari mata air Paniis pada saat terjadinya konflik air antara Kabupaten Kuningan dengan Kota Cirebon merupakan salahsatu isu pokok yang muncul. Pemda Kabupaten Kuningan mensinyalir adanya pengambilan air oleh PDAM Kota Cirebon yang melebihi total debit yang diijinkan sesuai SIPA. Untuk membuktikan hal tersebut, Dinas Sumberdaya Air dan Pertambangan Kabupaten Kuningan melakukan pengukuran terhadap debit air yang keluar dari Mata Air Paniis. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa besarnya debit adalah 1.045,2 liter per detik (Harian Pikiran Rakyat, 3 Nopember 2004). Fakta ini makin mempertegas tuntutan Pemda Kuningan untuk mendapatkan dana kompensasi, bahkan apabila tidak dipenuhi maka pengurangan debit akan dilakukan. Ancaman untuk mengurangi debit air ini ditanggapi serius oleh Pemda Kota Cirebon dan menyanggupi untuk memberikan sejumlah dana kompensasi yang diminta oleh Pemda Kabupaten Kuningan. Beberapa pihak memprediksikan apabila pengurangan debit tersebut dilakukan akan menimbulkan krisis air bersih di Kota Cirebon dan bisa memicu krisis lain yang berdampak secara sosial, ekonomi, dan politik.
0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000 3000000 3500000 4000000 4500000 5000000 Janu ari Febr uari Mare t Apr il Mei Juni Juli Agus tus Sept embe r Okto ber Nop embe r Dese mbe r P r oduksi Air 2000 P r oduksi Air 2001 P r oduksi Air 2002 P r oduksi Air 2003 Cur a h Huja n 2000 Cur a h Huja n 2001 Cur a h Huja n 2002 Cur a h Huja n 2003 Ijin P e nga mbila n Air (S IP A)
Gambar 11. Produksi Mata Air Paniis, Ijin Pengambilan Air, dan Curah Hujan dalam kurun 2000-2003
Di sisi lain Pemda Kabupaten Kuningan pun merasa bahwa perhatian Pemda Kota Cirebon untuk memelihara kelestarian kawasan sumber air minumnya dianggap kurang, padahal tanpa upaya untuk melestarikan kawasan sumber air tersebut maka pasokan air minum dari wilayah Paniis akan terganggu kesinambungannya. Pemda Kabupaten Kuningan berupaya mengajak Pemda Kota Cirebon untuk bekerjasama dalam memelihara kelestarian Gunung Ciremai sebagai kawasan resapan air dari sejumlah mata air yang selama ini digunakan oleh masyarakat Kota Cirebon. Upaya rehabilitasi dan konservasi kawasan Gunung Ciremai selama ini menjadi tugas dari Pemda Kabupaten Kuningan yang berada di bagian hulunya, sedangkan manfaat hidrologis dari kegiatan konservasi dirasakan juga oleh masyarakat yang ada di hilirnya, sehingga kelestariannya menjadi tanggung-jawab bersama dari semua pengguna air.
Mata air Paniis ini adalah mata air yang pemanfaatannya bersifat lintas wilayah dan menjadi sumber konflik antara Pemda Kabupaten Kuningan dengan Kota Cirebon yang mencuat luas pada pertengahan tahun 2004. Upaya-upaya penyelesaian konflik dalam pemanfaatan air lintas wilayah di kawasan ini melalui proses negosiasi yang berlangsung selama hampir enam bulan melalui sejumlah pertemuan merupakan peristiwa yang penting dalam pengelolaan air minum lintas wilayah di Indonesia pasca pemberlakukan otonomi daerah tahun 2001. Temuan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah konflik air dapat dipicu oleh
adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air minum, sehingga menimbulkan kekurangan dan/atau kelangkaan air minum. Adanya kelangkaan air minum memicu timbulnya konflik sesuai dengan scarcity model
sebagaimana ditegaskan oleh Spector (2001). Air selain menjadi sumber konflik juga dapat berfungsi sebagai katalis kerjasama diantara dua wilayah yang berbeda. 4.3. Prioritas Mekanisme Alokasi Air Minum Lintas Wilayah
Mekanisme alokasi air minum perlu dilakukan untuk mencapai prinsip keadilan (equity) dalam memanfaatkan sumberdaya air bagi kelompok pengguna air yang berbeda, termasuk isu penggunaan air lintas wilayah. Upaya ini dilakukan untuk menghindari terjadinya konflik antar pengguna akibat makin terbatasnya pasokan air dibandingkan dengan permintaan air. Konflik sumber air minum antara Kabupaten Kuningan dengan Kota Cirebon dalam pemanfaatan sumber air minum dari kawasa mata air Paniis membutuhkan bentuk mekanisme alokasi air yang tepat. Penentuan mekanisme alokasi air lintas wilayah di kawasan tersebut dilakukan dengan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan responden adalah pihak yang berkepentingan dan mengetahui dengan baik permasalahan tersebut, baik dari kalangan pemerintah, pengelola air, pengelola kawasan hutan, lembaga swadaya masyarakat, dan akademisi. Hirarki mekanisme alokasi air minum lintas wilayah di kawasan Gunung Ciremai ditampilkan pada Gambar 12.
Urutan prioritas faktor yang mempengaruhi alokasi air minum lintas wilayah di kawasan Gunung Ciremai, adalah : kontribusi pengguna air bagian hilir ke bagian hulu (0,222), kelestarian sumber mata air (0,216), distribusi manfaat air (0,181), partisipasi publik (0,143), kerjasama daerah (0,128), dan peraturan pemanfaatan air (0,109). Berdasarkan prioritas tersebut menunjukkan bahwa dalam mengalokasikan air minum lintas wilayah, faktor kontribusi pengguna air bagian hilir ke bagian hulu memiliki peranan penting untuk terjadinya alokasi air yang lebih adil dan baik. Konflik antar Kabupaten Kuningan dengan Kota Cirebon menunjukkan bahwa belum jelasnya pengaturan kontribusi pengguna air dari bagian hilir ke bagian hulu menjadi pemicu terjadinya sengketa sumber air minum diantara dua pemda tersebut. Tuntutan Kabupaten Kuningan terhadap Kota Cirebon didasarkan atas masalah tersebut. Kontribusi pengguna air minum dari
wilayah hilir ke hulu yang tidak jelas besarannya dirasakan sebagai ketidakadilan dalam alokasi manfaat air minum oleh pemda dan masyarakat di hulu yang selalu dituntut untuk menyelamatkan dan mengkonservasi resapan sumber air minumnya. Para pengguna air minum baik di bagian hulu (Kabupaten Kuningan) dan di bagian hilirnya (Kota Cirebon) merasakan pentingnya upaya konservasi untuk menjamin kelestarian sumber airnya, sehingga pengadaan dana kontribusi konservasi untuk menyelamatkan sumber airnya dinilai sebagai hal yang rasional dan wajar untuk dilakukan.
Gambar 12. Hirarki Mekanisme Alokasi Air Minum Lintas Wilayah untuk Kawasan Gunung Ciremai
Dalam beberapa pertemuan antara pemda Kabupaten Kuningan dengan Kota Cirebon untuk membahas penyelesaian konflik penggunaan air dari Paniis, masalah kontribusi konservasi daerah resapan sumber mata air menjadi isu utama rapat. Pertemuan antara kedua pemda yang difasilitasi oleh Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Cirebon telah mendorong adanya kesepahaman antara kedua belah dalam menyelesaikan masalah tersebut. Kesamaan visi untuk berbagi
Alokasi Air Minum Lintas Wilayah
Distribusi Manfaat Air (0.181) Kontribusi Pengguna Hilir-Hulu (0.222) Kelestarian Sumber Mata Air (0.216) Kerjasama Antar Daerah (0.128) Peraturan Pemanfaatan Air (0.109) Partisipasi Publik (0.143)
Pemerintah (0.283) Masyarakat (0.186) Swasta/BUMD(0.153) Pem & Masy (0.192) Pem & Swasta (0.186)
Menjamin Pasokan Air bagi Masyarkat
(0.401)
Melestarikan Kawasan Hulu Resapan Air
(0.376)
Menghindari Konflik Antar Pengguna
(0.222)
Alokasi Air oleh Pemerintah (Public Based
Allocation) (0.4)
Alokasi Air melalui pendekatan biaya penyediaan air (MCP
allocation) (0.2) Alokasi Air melalui
transfer hak guna air (Water market
allocation) (0.204) Alokasi Air oleh
Pengguna Air (User Based Allocation) (0.196) FOKUS FAKTOR AKTOR TUJUAN ALTERNATIF
(shared vision)19 dalam mengalokasikan air minum di kawasan tersebut telah mendorong pemahaman dari pihak-pihak yang bersengketa akan pentingnya tanggung-jawab pengelolaan bersama sumber air tersebut. Visi untuk berbagi tersebut dibangun dengan mengintegrasikan pentingnya aspek kelestarian lingkungan dalam pengelolaan air berkelanjutan. Internalisasi pemahaman tentang lingkungan tersebut didukung oleh ketersediaan data tentang kuantitas dan kualitas air yang tersedia, kondisi fisik dan ekonomi dari kawasan sumber mata air, tekanan terhadap kelestarian ekosistem kawasan sumber mata air, dan sejumlah kebijakan pemda yang telah dikeluarkan untuk menjaga resapan airnya misalnya Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan Nomor 38 Tahun 2002 tentang Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Gunung Ciremai. Perda RUTR Gunung Ciremai tersebut selain berfungsi untuk mengalokasikan ruang dalam kawasan tersebut, juga bernilai ekonomi berkaitan dengan jaminan komitmen wilayah hulu (Kabupaten Kuningan) untuk memasok air dalam jumlah dan kualitas yang stabil sepanjang tahun. Oleh karena itu RUTR Gunung Ciremai merupakan sertifikat
dari komitmen pemda dan masyarakat Kabupaten Kuningan untuk mempertahankan wilayah Gunung Ciremai sebagai resapan air yang memasok kebutuhan air minum bagi wilayah-wilayah di sekitarnya. Implementasi RUTR sebagai sebuah sertifikat komitmen dari daerah hulu untuk hilirnya tersebut merupakan terobosan kebijakan dalam kerjasama antar daerah di era otonomi daerah ini. Bagi bidang perencanaan wilayah, proses pembuatan perda ini menjadi bukti bahwa dokumen RUTR tidak hanya bermanfaat dalam mengalokasikan ruang saja, namun berdampak ekonomi dalam meningkatkan pendapatan daerah hulu. Wilayah pengguna air di bagian hilir cenderung lebih merasa aman apabila wilayah hulu sebagai pemasok air mampu menunjukkan komitmen dalam menjaga kawasan resapan airnya, sehingga kesediaan wilayah hilir untuk membayar (willingness to pay) untuk air yang digunakannya diprediksikan akan meningkat. Peningkatan apresiasi nilai ini dari wilayah hilir ini berkaitan dengan adanya komitmen yang jelas dari wilayah hulu sebagai pemasok air untuk melindungi wilayahnya sebagai resapan air.
19
Deklarasi Petersberg tahun 1998 menyatakan bahwa faktor-faktor penting untuk mewujudkan kerjasama pengelolaan air lintas wilayah adalah shared vision, political commitment, broad based parternships, dan
Visi untuk berbagi merupakan kunci pertama bagi terselenggaranya pengelolaan air minum lintas wilayah yang adil dan efisien, sebaliknya tanpa adanya visi untuk berbagi manfaat air diantara dua wilayah yang bersengketa, maka air yang lintas wilayah akan tetap menjadi sumber konflik berkepanjangan antar pihak yang bersengketa. Konflik air dapat pula memicu konflik lainnya yang lebih luas, dan bahkan dapat menciptakan perang sipil antar daerah yang bersengketa. Hal tersebut mungkin terjadi karena air merupakan sumberdaya alam yang keberadaanya vital dan tidak dapat disubstitusi oleh barang lainnya. Lebih lanjut Rahaman dan Vorris (2004) menyebutkan bahwa air adalah kehidupan dan air merupakan simbol umum dari kemanusian (humanity), pemerataan sosial (social equity), dan keadilan (justice).
Upaya untuk membangun kesepahaman dalam pengelolaan sumber air minum lintas wilayah didukung pula oleh komitmen politik dan dukungan publik yang kuat. Komitmen politik diantara dua pemda, yaitu Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon, dalam menyelesaikan permasalahan sumber air minumnya tampaknya sangat kuat. Bupati Kuningan dan Walikota Cirebon langsung terlibat memimpin rapat untuk mendiskusikan penyelesaian masalah air lintas wilayah. Komitmen kedua pimpinan daerah tersebut didukung oleh pihak DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) sebagai lembaga legislatif dari masing-masing daerah dan juga masyarakat di dua wilayah tersebut. Sebagai badan legislatif dan wakil rakyat, DPRD merasa berkepentingan untuk ikut mendorong penyelesaian masalah sumber air minum lintas wilayah tersebut. Oleh karena itu komitmen politik dan dukungan publik yang kuat ternyata mampu mendorong penyelesaian sengketa sumber air minum lintas wilayah tersebut secara damai dan saling menguntungkan.
Upaya-upaya penyelesaian konflik sumber air minum lintas di wilayah Gunung Ciremai tersebut didorong oleh suatu kemitraan yang luas (broad based partnerships) diantara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan kelompok masyarakat lainnya.
Kesepahaman untuk memberikan kontribusi dari hilir ke hulu diharapkan akan meningkatkan upaya kelestarian lingkungan sumber mata air, sehingga distribusi manfaat air diantara pihak-pihak yang berkepentingan dapat berjalan
lebih adil. Selain ketiga faktor sebelumnya, partisipasi publik untuk membangun mekanisme alokasi air lintas wilayah yang lebih adil dan berkelanjutan perlu lebih didorong oleh masing-masing pemda sehingga proses kerjasama antar daerah dapat diimplementasikan secara efektif. Untuk menjamin alokasi air lintas wilayah secara berkelanjutan, maka kerjasama antar daerah perlu diatur dalam suatu peraturan kerjasama pemanfaatan air yang disepakati oleh kedua belah pihak. Peraturan pemanfaatan air dan kontribusi dana konservasi di kawasan Gunung Ciremai telah diatur oleh suatu nota kesepakatan (memorandum of understanding) antara Bupati Kuningan dan Walikota Cirebon yang ditandatangani tanggal 17 Desember 2004 yaitu Perjanjian Kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Kuningan dengan Pemerintah Kota Cirebon tentang Pemanfaatan Sumber Mata Air Paniis Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan. Isi perjanjian kerjasama tersebut bertujuan untuk mewujudkan perlindungan dan pelestarian sumber air serta untuk kesejahteraan masyarakat diantara kedua daerah tersebut. Perjanjian tersebut mengatur mengenai kewajiban pihak pemerintah Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon. Kewajiban Pemerintah Kabupaten Kuningan diantaranya adalah : (a) menjaga/melindungi sumber air mata air sehingga dapat menjamin kelancaran distribusi air; dan (b) menerima dan menggunakan dana konservasi dari pengguna air minum di Kota Cirebon untuk kepentingan konservasi yang dapat menjamin kelestarian sumber mata air, termasuk di dalamnya pemberdayaan masyarakat. Adapun kewajiban Pemerintah Kota Cirebon adalah : (a) memanfaatkan sumber mata air Paniis sesuai ijin yang