• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab IV: Temuan dan Analisa Data

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai Evaluasi Program Terapi Rumatan Metadon bagi Pecandu Heroin di Puskesmas Kecamatan Tebet, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

Terapi subtitusi heroin dengan metadon cair di Indonesia merupakan hal baru. PTRM merupakan upaya untuk mengurangi dampak buruk penggunaan Narkoba pada seseorang yang ketergantungan kronis opium atau heroin. PTRM mempunyai banyak komponen yang bertujuan mengubah perilaku pengguna beresiko menjadi kurang atau tidak beresiko.

Berdasarkan hasil penelitian penulis menggunakan model evaluasi CIPP, maka hasil dari evaluasi konteks dari segi relevansi, upaya dan keterjangkauan dinilai tepat. Banyak pasien terapi metadon yang merupakan mantan pecandu heroin dan sebelumnya sudah menjalani berbagai terapi pengobatan untuk memulihkan kecanduannya, seperti mengikuti rehabilitasi sampai pengobatan alternatif. Namun pasien mengakui bahwa ia kembali relapse (kambuh) atau kembali aktif menggunakan heroin. Menanggapi permasalahan tersebut pemerintah berupaya mengurangi dampak buruk Narkoba terutama bagi pecandu heroin melalui PTRM Puskesmas Kecamatan Tebet sebagai salah satu yang ditunjuk untuk memiliki PTRM

melakukan penjangkauan dengan kader muda dan LSM supaya pecandu heroin dapat lebih mudah mengakses program metadon.

Hasil evaluasi input menunjukan bahwa PTRM di PKC. Tebet telah berdiri sejak tahun 2007 dan mengalami peningkatan jumlah pasien dari tahun ke tahun, jumlah pasien saat ini sebanyak 85 orang. PTRM PKC. Tebet sangat selektif dalam menerima pasien metadon, seperti untuk administrasi harus dilengkapi secara keseluruhan. Sumber daya manusia (SDM) di PKC. Tebet dinilai memadai karena SDM telah mendapatkan pelatihan khusus mengenai metadon. Selain itu, para staff atau SDM berpenampilan rapih dengan menggunakan seragam dinas dan begitu ramah kepada pasien. Akan tetapi, terdapat beberapa aspek yang perlu dilakukan perbaikan, yaitu sarana dan prasarana yang bisa lebih menunjang keberlangsungan program seperti, ruangan yang lebih luas dan waktu pelayanan yang lebih lama dari pukul 10.00-12.00 dan berlanjut pukul 13.00-15.00. SOP yang dijalankan Puskesmas Kecamatan Tebet berpedoman pada SOP yang telah dilaksanakan di RSKO dan SOP ini diperlukan sebagai pedoman pelayanan program metadon kepada pasien atau pecandu heroin.

Penulis menilai bahwa hasil evaluasi proses terhadap pemberian metadon sudah sesuai karena berdasarkan resep dan penilaian dokter. Pelayanan psikologi dinilai relevan untuk memberi penilaian kepada pasien baru apakah mereka benar-benar siap untuk mengikuti program dan mengetahui kondisi kejiwaan pasien selama pelaksanaan program serta adanya konseling keluarga dapat mendukung dan membantu proses pemulihan pasien. Pelayanan kesehatan juga sudah melingkupi

kebutuhan para pasien metadon seperti adanya VCT untuk mengetahui status HIV pasien. Namun masalah penggunaan Narkoba selain metadon menjadi permasalahan utama dalam pelaksanaan PTRM. Dampak yang ditimbulkan dari penggunaan Narkoba selain metadon ini dapat menyebabkan permasalahan kesehatan, over dosis hingga kematian.

Hasil evaluasi produk menunjukkan bahwa PTRM memberikan dampak yang lebih baik, yakni merubah kondisi dan perilaku menjadi lebih positif, seperti berkurangnya rasa cemas, peningkatan produktifitas pasien dengan bekerja atau sekolah, hubungan dengan keluarga yang menjadi lebih baik. Selain itu, dari segi kesehatan, metadon dapat mencegah penyebaran penyakit dari dampak penggunaan heroin, seperti HIV/AIDS dan hepatitis B&C.

B. Saran

1. Puskesmas Kecamatan Tebet

a. Memberikan sanksi yang tegas kepada pasien metadon apabila tes urine menunjukan poitif masih menggunakan narkoba.

b. Meningkatkan dukungan bagi para pasien untuk tidak kembali menggunakan narkoba.

c. PTRM menyediakan ruangan konsul yang bersifat tertutup untuk menjamin kerahasiaan dan menjaga kenyamanan pasien.

e. Berdasarkan temuan penting pada hasil penelitian, banyak pasien yang masih menggunakan Narkoba lain selain metadon, maka PKC. Tebet perlu membuat program untuk mengatasi masalah ini.

2. Pasien Metadon

a. Bagi para pasien agar tetap melanjutkan program metadon sebagai terapi pengalihan heroin/putaw dengan tidak mencampur penggunaan metadon dengan Narkoba.

b. Para pasien metadon jangan sampai terpancing dan terpengaruh pergaulan atau lingkungan yang mendorong untuk kembali menggunakan Narkoba. c. Para pasien yang sudah kontinyu sebaiknya saling memberikan motivasi

kepada pasien lainnya yang masih mencampur metadon dengan Narkoba supaya tidak melakukannya lagi.

110

FISIP UI Press, 2005.

Adi, Isbandi Rukminto. Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas Pengantar pada Pemikiran dan Pendekatan Praktis. Jakarta: FEUI Press, 2001.

Al-Quran Online Indonesia. “Sûrah al-Maidah/5: 90.” Artikel diakses pada 16 Januari 2014 dari http://quran.bacalah.net/content/surat/index.php.

Ariefuzzaman, Siti Napsiyah dan Fuaida, Lisma Diawati. Belajar Teori Pekerjaan Sosial. Ciputat: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011. Arifin, Nurul. “Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM).” Artikel diakses pada 07

April 2014 dari http://nurularifin.com/read/narkoba/program-terapi-rumatan-metadon-ptrm/

Badan Narkotika Nasional. Pelajar dan Bahaya Narkotika. Jakarta: BNN, 2010. Bugin, Burhan. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group, 2005. Deputi Bidang Polhukhankam Bappenas. “Kebijakan Pembangunan Bidang Politik,

Hukum, Pertahanan dan Keamanan 2015.” Artikel diakses pada 19 Juli 2014 dari

http://musrenbangnas.bappenas.go.id/upload/penutupan/01_Paparan_Deputi_ Polhuhankam.pdf

Chaplin, J.P. Kamus Lengkap Psikologi, penerjemah: Kartini Kartono. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006.

Departemen Sosial. Bimbingan Teknis Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba. Jakarta: Departemen Sosial, 2002.

Departemen Sosial. Panduan Standarisasi Monitoring dan Evaluasi Program Pemberdayaan Fakir Miskin. Jakarta: Departemen Sosial RI, 2005.

Dyah Purwaning R. Standar Operasional dan Prosedur PTRM. Jakarta: RSKO, t.t.

Ghony, M. Djunaidi dan Almanshur, Fauzan. Metodologi Penelitian Kualitatif.

Jogjakarta: Ar-Rum Media, 2012.

Hamzah, Andi dan Surachman, RM. Kejahatan Narkotika dan Psikotropika. Jakarta: Sinar Grafika, 1994.

Hawari, Dadang. Al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa. Yogya: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 2004.

111 metadon-di-indonesia/

Kadarmanta, A. Narkoba Pembunuh karakter Bangsa. Jakarta: PT. Forum Media Utama, 2010.

Kasiram, Moh. Metodologi Penelitian: Refleksi Pengembangan Pemahaman dan Penguasaan Metodologi Penelitian. Malang: UIN Malang Press, 2008.

Kemenkumham. “Berita Negara Republik Indonesia.”Artikel diakses pada 16 Januari 2014 dari http://ditjenpp.kemenkumham.go.id/arsip/bn/2011/bn825-2011.pdf Kementerian Kesehatan RI, Pedoman Penyelenggaraan Program Terapi Metadon.

Jakarta: Kemenkes RI, 2013.

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). HIV dan AIDS Infeksi Menular Seksual dan Narkoba. Jakarta: KPAN, t.t.

Komunitas Methadone Indonesia, “What is Methadone.” Artikel diakses pada 07 April 2014 dari http://methadone.blog.com/

Mantra, Ida Bagoes. Filsafat Penelitian & Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.

Masum, Sumarmo. Penanggulangan Bahaya Narkotika dan Ketergantungan Obat.

Jakarta: CV Haji Masagung, 1987.

Moeloeng, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosyda Karya, 1993.

Moeleong, Lexy J. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.

Mustofa, Ahmad Sanusi. Problem Narkotika-Psikotropika dan HIV-AIDS. Jakarta: Zikrul Hakim.

Nasuhi, Hamid. dkk. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi).

Jakarta: Center for Quality, 2007.

Nggao, Fredy S. Evaluasi Program. Jakarta: Nuansa Madani, 2003.

North Methadone Community (NMC). “Methadone.” Artikel diakses pada 07 April 2014 dari http://methadone-indonesia.blogspot.com /

Partanto, Pius A. dan Al-Barry, M. Dahlan. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola, 1994.

112

Pusat Studi Kebijakan Kesehatan dan Sosial Indonesia, ed. Pengelolaan Kesehatan Masyarakat dalam Kondisi Bencana. Yogyakarta: GRHA Yudistira, t.t.

Ramli, Ahmad. Kamus Kedokteran. Jakarta: Djambatan, 1999.

Saifuddin, Muhammad. “Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya.” Artikel diakses pada 7 April 2014 dari http://kesehatanmuslim.com/setia-penyakit-ada-obatnya/ Sastro, Dhoho A, ed. Membongkar Praktik Pelanggaran Hak Tersangka di Tingkat

Penyidikan: Studi Kasus Terhadap Tersangka Kasus Narkotika di Jakarta. Jakarta: LBH Masyarakat, 2012.

Subagyo, Dwi Siswo. “Efektivitas Program Terapi Rumatan Metadon bagi Pasien Terdaftar di Puskesmas Kecamatan Tebet Tahun 2007-2008.” Tesis S2 Program Studi Kajian Ketahanan Nasional, Universitas Indonesia, 2008.

Sudjana, Djuju. Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2006.

Sunarno. Narkoba Bahaya dan Upaya Pencegahannya. Semarang: PT. Bengawan Ilmu, 2007.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Balai Pustaka, 1998.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Puskesmas Kecamatan Tebet. Laporan Kegiatan 2012. Jakarta: Puskesmas Kecamatan Tebet, 2012.

Puskesmas Kecamatan Tebet. Denah Layanan Puskesmas Kecamatan Tebet. Jakarta: Puskesmas Kec. Tebet, t.t.

Puskesmas Kecamatan Tebet. Prosedur Tetap (PROTAP) Satelit PTRM. Jakarta: Puskesmas Kecamatan Tebet, 2012.

Wibowo, Andronov Dwi. “BAB 3 Profil Lembaga.” Artikel diakses pada 20 Februari 2014, http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab3/2011-1-00618-SI%20Bab%203.pdf Wikipedia. “Struktur Organisasi.” Artikel diakses pada 04 Agustus 2014 dari

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Struktur_organisasi

Wirawan. Evaluasi: Teori, Model, Standar, Aplikasi dan Profesi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2011.

127