• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keunggulan penggunaan Model Problem Bassed Learning dalam penguasaan materi Akidah Akhlak

BAB II KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Temuan Khusus Penelitian

3. Keunggulan penggunaan Model Problem Bassed Learning dalam penguasaan materi Akidah Akhlak

Setiap model pembelajaran memiliki keunggulannya masing-masing dalam penggunaannya. Tidak terlepas model pembelajaran problem based

learning yang memiliki beberapa kelebihan, diantaranya:

k) Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.

Berikut ini akan dikemukakan hasil petikan wawancara dengan Guru Akidah Akhlak:

(W1/A.22/3)

Model problem based learning menuntut siswa untuk berfikir secara kritis sehingga memudahkan siswa dalam memahami isi materi ajar.

Pernyataan yang disampaikan oleh Guru bidang studi Akidah Akhlak tersebut sejalan dengan pernyataan beberapa peserta didik. Berikut petikan wawancaranya:

(W2/A.27/3)

Dengan penggunaan model problem based learning siswa terbantu dan terlatih untuk memecahkan masalah sehingga lebih mudah memahami materi pelajaran.

(W3/A.27/3)

Terbantu dalam belajar di kelas karena guru selalu melatih untuk memecahkan masalah-masalah yang ada sehingga lebih mudah untuk memahami materi

(W4/A.27/3)

Lebih mudah untuk memahami materi ajar karena prosesnya dengan berdiskusi sehingga lebih menyenangkan.

(W5/A.27/3)

Lebih mudah memahami materi pelajaran karena menyenangkan dan juga lebih aktif saat belajar di kelas

(W6/A.27/3)

Merasa terbantu karena guru melatih siswa untuk memecahkan sebuah masalah yang berkaitan dengan materi.

Berdasarkan dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kaitannya penggunaan model problem

based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak terbukti dapat

membantu siswa untuk lebih memahami materi ajar karena menuntut siswa untuk berfikir secara kritis, proses pembelajaran dengan berdiskusi yang dianggap siswa menyenangkan, serta siswa terlatih untuk memecahkan sebuah masalah yang berkaitan dengan materi ajar.

l) Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.

Berikut ini akan dikemukakan hasil petikan wawancara dengan Guru Akidah Akhlak:

(W1/A.23/3)

Model problem based learning dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa karena pada dasarnya proses model ini berawal dari pemberian masalah yang ada dikehidupan sehari-hari, siswa juga akan lebih aktif dan kritis dalam pembelajaran sehingga puas akan hasil belajarnya.

Pernyataan yang disampaikan oleh Guru bidang studi Akidah Akhlak tersebut sejalan dengan pernyataan beberapa peserta didik. Berikut petikan wawancaranya:

(W2/A.28/3)

Terkadang siswa merasa kurang puas karena materi sulit dimengerti, atau terkadang dalam pembagian kelompok terdapat siswa yang kurang pintar.

(W3/A.28/3)

Terkadang siswa merasa puas dan kurang puas karena materinya sulit dimengerti

(W4/A.28/3)

Siswa merasa puas karena pembelajaran yang dilakukan lebih menyenangkan dan lebih mudah dalam memahami materi ajar (W5/A.28/3)

Sangat puas sekali karena pembelajarannya menyenangkan, bisa saling diskusi dan tukar pendapat

(W6/A.28/3)

Cukup puas karena guru selalu memberikan perhatian yang sama terhadap masing-masing dari kelompok

Berdasarkan dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kaitannya dengan penggunaan model

problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak terbukti

dapat menantang kemampuan siwa serta dapat memberikan kepuasan kepada siswa untuk menemukan pengetahuan baru.

m) Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.

Berikut ini akan dikemukakan hasil petikan wawancara dengan Guru Akidah Akhlak:

(W1/A.24/3)

Proses pelaksanaan model problem based learning adalah diskusi kelompok dimana setiap siswa pada kelompok diberikan tugas masing-masing, siswa diberi tugas untuk mengumpulkan informasi berkaitan dengan masalah yang diberikan oleh guru, siswa juga saling bertukar ide –ide sehingga aktivitas belajar meningkat.

Pernyataan yang disampaikan oleh Guru bidang studi Akidah Akhlak tersebut sejalan dengan pernyataan beberapa peserta didik. Berikut petikan wawancaranya:

(W2/A.29/3)

Cara siswa agar lebih aktif belajar saat di kelas yaitu dengan cara berdiskusi bersama kelompok.

(W3/A.29/3)

Cara siswa agar lebih aktif belajar yaitu dengan cara berdiskusi bersama kelompok dan bertanya kepada guru

(W4/A.29/3)

Dengan tanya jawab dengan teman kelompok dan memahami materi dan masalah yang sedng didiskusikan

(W5/A.29/3)

Selalu mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan yang diberikan guru

(W6/A.29/3)

Dengan cara berdiskusi dengan teman yang lebih pintar dan bertanya tentang hal yang belum dipahami.

Berdasarkan dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kaitannya dengan penggunaan model

problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak terbukti

dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.

n) Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.

Berikut ini akan dikemukakan hasil petikan wawancara dengan Guru Akidah Akhlak:

(W1/A.25/3)

Dengan pemberian masalah yang ada pada kehidupan masyarakat maka model problem based learning melatih siswa untuk dapat mentransfer pengetahuan atau konsep keilmuannya dalam memahami masalah yang ada di kehidupan nyata.

Pernyataan yang disampaikan oleh Guru bidang studi Akidah Akhlak tersebut sejalan dengan pernyataan beberapa peserta didik. Berikut petikan wawancaranya:

(W2/A.30/3)

Siswa merasa terbantu dalam bagaimana mentransfer pengetahuan untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata karena guru memeberikan pertanyaan yang ada di kehidupan nyata sehingga siswa terbiasa untuk memecahkan masalah yang ada di masyarakat.

(W3/A.30/3)

Merasa terbantu karena guru pasti memeberikan pertanyaan yang ada di kehidupan nyata sehingga mudah untuk mengkaitkannya (W4/A.30/3)

Siswa merasa terbantu dalam bagaimana mentransfer pengetahuan untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata karena guru guru memeberikan pertanyaan yang tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari dan memerintahkan kepada semua siswa untuk memahami materi ajar.

(W5/A.30/3)

Merasa terbantu karena guru memberikan masalah yang berkaitan dengan materi dan materi nya juga ada pada kehidupan sehari-hari. seperti berprilaku husnuzon, ta’awun dan tasamuh.

(W6/A.30/3)

Merasa terbantu karena guru memberikan pertanyaan yang ada di kehidupan nyata dan meminta siswa untuk saling bertukar pendapat untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Berdasarkan dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kaitannya dengan penggunaan model

problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak terbukti

dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan siswa untuk memahami masalah di kehidupan nyata.

o) Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.

Berikut ini akan dikemukakan hasil petikan wawancara dengan Guru Akidah Akhlak:

(W1/A.26/3)

Model problem based learning dapat mendorong siswa untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya karena pada dasrnya pelaksanaan dari model ini adalah melatih siswa untuk kritis, aktif, selalu mengajukan pertanyaan, mencari penyelesaian masalah, sehingga dengan

sendirinya siswa akan paham sampai dimana kemampuannya dalam proses dan hasil belajarnya.

Pernyataan yang disampaikan oleh Guru bidang studi Akidah Akhlak tersebut sejalan dengan pernyataan beberapa peserta didik. Berikut petikan wawancaranya:

(W2/A.31/3)

Cara siswa melakukan evaluasi diri mengenai hasil maupun proses belajar yaitu dengan melihat hasil nilai yang diberikan oleh guru (W3/A.31/3)

Dengan melihat mampu atau tidaknya saat menjawab pertanyaan yang diberikan guru

(W4/A.31/3)

Cara siswa melakukan evaluasi diri yaitu dengan melihat diri sendiri dalam mengerjakan pertanyaan yang diberikan oleh guru, jadi kelihatan sudah paham atau belum tentang materi ajar (W5/A.31/3)

Dengan cara menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru (W6/A.31/3)

Dengan cara mengerjakan soal latihan yang diberikan guru atau mencari soal latihan dari buku lain

Berdasarkan dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kaitannya dengan penggunaan model

problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak terbukti

dapat membantu siswa untuk mengevaluasi diri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.

p) Melalui pemecahan masalah (problem solving) biasanya memperhatikan kepada siswa bahwa setiap Mata Pelajaran Aqidah Akhlak, pada dasarnya merupakan cara berfikir, dan sesuatu yang

harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar belajar dari buku-buku saja.

Berikut ini akan dikemukakan hasil petikan wawancara dengan Guru Akidah Akhlak:

(W1/A.27/3)

Pelaksanaan model problem based learning tidak hanya mengandalkan buku saja akan tetapi masalah-masalah yang ada di kehidupan masyarakat juga menjadi sumber yang sangat mendukung, guru juga menggunakan gambar untuk memudahkan mereka dalam memahami dan memecahkan masalah yang sedang dibahas.

Pernyataan yang disampaikan oleh Guru bidang studi Akidah Akhlak tersebut sejalan dengan pernyataan beberapa peserta didik. Berikut petikan wawancaranya:

(W2/A.32/3)

Sumber belajar yang digunakan saat belajar adalah buku cetak dan LKS

(W3/A.32/3)

Sumber belajar yang digunakan adalah buku cetak, LKS, dan gambar yang diberikan guru saat sedang berdiskusi

(W4/A.32/3)

Sumber belajar yang digunakan adalah buku dan masalah yang ada di lingkungan

(W5/A.32/3)

Sumber belajar yang digunakan pada saat pembelajarn hanya buku cetak dan LKS saja.

(W6/A.32/3)

Sumber yang digunakan oleh siswa untuk belajar saat proses pembelajaran adalah buku LKS dan cetak.

Berdasarkan dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kaitannya dengan penggunaan model

problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak tidak

hanya menggunakan buku saja melainkan dengan memecahkan masalah-masalah yang ada di kehidupan masyarakat yang menjadi sumber yang sangat mendukung, guru juga menggunakan gambar untuk memudahkan mereka dalam memahami dan memecahkan masalah yang sedang dibahas.

q) Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dalam proses diskusi.

Berikut ini akan dikemukakan hasil petikan wawancara dengan Guru Akidah Akhlak:

(W1/A.28/3)

Model problem based learning dianggap lebih menyenangkan karena model ini mengangkat masalah yang ada disekitar siswa, dan prosesnya juga berkelompok yang dapat saling bertukar gagasan , sehingga lebih menyenangkan. Terlihat dari susana belajar yang hidup dan tidak pasif.

Pernyataan yang disampaikan oleh Guru bidang studi Akidah Akhlak tersebut sejalan dengan pernyataan beberapa peserta didik. Berikut petikan wawancaranya:

(W2/A.33/3)

Siswa cukup senang saat proses pembelajaran terutama saat berdiskusi dalam pemecahan masalah.

(W3/A.33/3)

Pada saat proses diskusi berlangsung siswa merasa cukup menyenangkan dan dianggap tidak membosankan

(W4/A.33/3)

Pada saat proses diskusi siswa cukup menyenangkan karena tidak monoton sehingga tidak membosankan

(W5/A.33/3)

Siswa merasa senang sekali karena proses belajarnya bersama-sama dengan teman dan dapat saling bertukar pendapat.

(W6/A.33/3)

Cukup senang karena kami bisa saling membantu dan saling bercandaan, terkadang guru juga mengajak belajar di perpustakaan jadi suasananya lebih menyenangkan.

Berdasarkan dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kaitannya dengan penggunaan model

problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak dianggap

oleh siswa lebih menyenangkan karena pada prosesnya siswa dapat saling bertukar ide gagasan sehingga lebih aktif dan lokasi untuk belajar terkadang di perpustakaan sehingga terdapat suasana yang berbeda.

r) Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyelesaikan dengan pengetahuan baru.

Berikut ini akan dikemukakan hasil petikan wawancara dengan Guru Akidah Akhlak:

(W1/A.29/3)

Dengan adanya diskusi kelompok dan pemecahan masalah dalam Pelaksanaan model problem based learning maka siswa selalu dilatih untuk berfikir kritis, karena untuk memahami dan dapat memecahkan masalah yang sedang didiskusikan jika siswa tidak aktif dan kritis secara otomatis siswa akan kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

Pernyataan yang disampaikan oleh Guru bidang studi Akidah Akhlak tersebut sejalan dengan pernyataan beberapa peserta didik. Berikut petikan wawancaranya:

(W2/A.34/3)

Cara siswa untuk berfikir kritis dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang diberikan guru yaitu dengan berdiskusi dan bertanya kepada guru jika ada yang tidak dipahami

(W3/A.34/3)

Dengan cara mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya sesuai dengan perintah guru kemudian didiskusikan dengan kelompok (W4/A.34/3)

Dengan berdiskusi bersama teman kelompok dan bertanya kepada guru jika ada yang belum paham.

(W5/A.34/3)

Dengan cara mengamati arahan guru kemudian mencatat informasi yang penting kemudian didiskusikan dengan kelompok

(W6/A.34/3)

Sering bertanya dan mencoba menjawab pertanyaan yang diberikan dari guru walaupun belum dikatakan sempurna.

Berdasarkan dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kaitannya dengan penggunaan model

problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak dapat

mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan mengembangkan kemampuan siswa untuk menyelesaikan dengan pengetahuan baru dengan membiasakan siswa untuk selalu mengumpulkan informasi kemudian didiskusikan dengan anggota kelompoknya.

s) Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.

Berikut ini akan dikemukakan hasil petikan wawancara dengan Guru Akidah Akhlak:

(W1/A.30/3)

Pelaksanaan model problem based learning berawal dari pemberian masalah yang ada disekitar masyarakat sehingga siswa seolah ada pada kehidupan masyarakat dan berusaha untuk menyelsesaikan masalah dan mencari solusinya, dengan demikian siswa terlatih untuk mengaplikasikan pengetahuannya kedalam kehidupan yang sebenarnya.

Pernyataan yang disampaikan oleh Guru bidang studi Akidah Akhlak tersebut sejalan dengan pernyataan beberapa peserta didik. Berikut petikan wawancaranya:

(W2/A.35/3)

Siswa dapat mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari dengan baik karena saat berdiskusi siswa diberikan tugas untuk memecahkan pertanyaan sehingga siswa dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan yang buruk (W3/A.35/3)

Siswa dapat mengaplikasikan pengetahuan yang anda miliki dalam kehidupan sehari-hari dengan baik karena sudah paham tentang materi jadi mudah untuk merealisasikannya

(W4/A.35/3)

Karena dengan berdiskusi dapat lebih paham tentang materi yang sedang diajarkan sehingga mudah untuk merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari

(W5/A.35/3)

Dapat mengaplikasikan pengetahuan karena saya diberikan tugas oleh guru untuk memecahkan masalah yang ada di dalam

kehidupan sehari-hari jadi terbiasa untuk merealisasikan ilmu pengetahuan ke dalam kehidupan sehari-hari

(W6/A.35/3)

Karena guru sering memberikan contoh yang ada di kehidupan nyata maka siswa dapat mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki siswa.

Berdasarkan dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kaitannya dengan penggunaan model

problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak dapat

memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata dengan cara memberikan masalah yang ada di sekitar masyarakat dan memeinta siswa untuk memecahkan masalah tersebut dan mencari solusinya. t) Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu

mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berkhir.

Berikut ini akan dikemukakan hasil petikan wawancara dengan Guru Akidah Akhlak:

(W1/A.31/3)

Model problem based learning melatih siswa untuk selalu berfikir kritis dan aktif dalam setiap proses pembelajaran berlangsung, sehingga mereka terlatih untuk menjadi pebelajar yang mandiri, minat mereka dalam belajar juga cukup baik.

Pernyataan yang disampaikan oleh Guru bidang studi Akidah Akhlak tersebut sejalan dengan pernyataan beberapa peserta didik. Berikut petikan wawancaranya:

Ketika jam pelajaran sudah selesai siswa mempelajari kembali di rumah tentang materi yang sudah dibahas di kelas.

(W3/A.36/3)

Ketika jam pelajaran sudah selesai siswa tidak mempelajari kembali di rumah karena sudah paham .

(W4/A.36/3)

Ketika jam pelajaran sudah selesai siswa mempelajari kembali di rumah tentang materi yang sudah dibahas di kelas agar lebih paham

(W5/A.36/3)

Mempelajari kembali materi pelajaran setelah jam pelajaran selesai. (W6/A.36/3)

Ketika jam pelajaran sudah selesai siswa mempelajari kembali di rumah.

Berdasarkan dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kaitannya dengan penggunaan model

problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak

sebahagian besar dapat membantu mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun jam belajar di kelas sudah selesai.

4. Kelemahan Penggunaan Model Problem Bassed Learning dalam Pembelajaran Akidah Akhlak

Model pembelajaran problem based learning merupakan cara dimana dalam prosesnya guru menyajikan masalah yang ada di lingkungan siswa yang berkenaan dengan materi ajar dan siswa dibimbing untuk memecahkan masalah tersebut, model ini cukup baik untuk menjadikan para siswa aktif dalam pembelajaran, akan tetapi model ini juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya:

c) Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.

Berikut ini akan dikemukakan hasil petikan wawancara dengan Guru Akidah Akhlak:

(W1/A.32/3)

Jika minat siswa rendah maka secara otomatis dalam mengikuti proses pembelajaran siswa akan bermalas-malasan dan tidak kritis dalam berdiskusi untuk memecahkan masalah yang diberikan. Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi seperti itu maka saya memberikan motivasi kepada mereka dan terus membimbing saat proses pembelajaran berlangsung.Mengenai kepercayaan diri siswa yang rendah dalam memecahkan masalah yang dianggap terlalu sulit akan sangat mengganggu dalam proses pembelajaran sehingga pemahaman akan materi tidak maksimal, maka dari itu guru selalu menanyakan kepada siswa apakah ada yang belum jelas saat pemberian masalah diawal waktu pembelajaran,jika ada maka akan dijelaskan kembali, selain itu juga guru menawarkan beberapa masalah sehingga siswa leluasa untuk memilih masalah yang dianggap tidak sulit sehingga tidak menurunkan kepercayaan dirinya dalam memecahkan masalah.

Pernyataan yang disampaikan oleh Guru bidang studi Akidah Akhlak tersebut sejalan dengan pernyataan beberapa peserta didik dimana guru berusaha mengantisipasi kelemahan dari model problem

based learning ini yakni mengenai jika siswa tidak memiliki minat

atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba. Berikut petikan wawancaranya:

(W2/A.37/3)

Guru memberikan motivasi kepada siswa sehingga minat belajar meningkat dan bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran.

(W3/A.37/3)

Dengan cara memberikan motivasi kepada siswa sehingga siswa lebih semangat dalam mengikuti proses pembelajaran.

(W4/A.37/3)

Dengan memberi perintah untuk berdiskusi dengan serius karena semakin serius belajar maka akan memudahkan untuk memahami materi pelajaran

(W5/A.37/3)

Dengan cara mengatakan bahwa setiap siswa harus semangat saat mengikuti proses belajar agar menjadi siswa yang cerdas

(W6/A.37/3)

Guru memberikan motivasi kepada siswa sehingga siswa semangat dalam mengikuti proses pembelajaran.

Berdasarkan dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kaitannya dengan kelemahan model

problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak guru

dapat mengantisipasinya dengan cara memberikan motivasi kepada siswa dan terus membimbing saat proses pembelajaran berlangsung, Guru juga menjelaskan kembali hal-hal yang belum dipahami siswa, selain itu juga guru menawarkan beberapa masalah sehingga siswa leluasa untuk memilih masalah yang dianggap tidak sulit sehingga tidak menurunkan kepercayaan diri dalam memecahkan masalah. d) Keberhasilan model pembelajaran melalui problem solving

membutuhkan cukup banyak waktu untuk persiapan.

Berikut ini akan dikemukakan hasil petikan wawancara dengan Guru Akidah Akhlak:

(W1/A.33/3)

Persiapan dalam penggunaan model problem based learning ini memerlukan waktu yang cukup lama karena terkadang masalah

yang diberikan dianggap siswa terlalu sulit sehingga harus mengganti masalah yang sekiranya para siswa tidak kesulitan dalam memecahkan dan mendiskusikannya, proses diawal pembelajaran juga harus memastikan bahwa setiap kelompok harus benar-benar sudah paham mengenai masalah apa yang akan dibahas.Untuk mengantisipasi hal tersebut maka sebaiknya pemberian masalah harus benar-benar disesuaikan dengan kemampuan siswa dan dalam membagi kelompok harus random antara siswa yang kritis dengan siswa yang kurang kritis.

Pernyataan yang disampaikan oleh Guru Bidang Studi Akidah Akhlak tersebut sejalan dengan pernyataan beberapa peserta didik. Berikut petikan wawancaranya:

(W2/A.38/3)

Persiapan diawal pembelajaran yang dilakukan guru memakan waktu yang lama karena masalah yang dianggap sulit oleh siswa

(W3/A.38/3)

Persiapan diawal pembelajaran yang dilakukan guru memakan waktu yang agak lama karena setiap kelompok harus benar-benar paham tentang pertanyaan yang akan dibahas.jika tidak maka akan kesulitan saat memecahkan masalah tersebut.

(W4/A.38/3)

Persiapan diawal pembelajaran yang dilakukan guru memakan waktu yang lama karena guru menuntut untuk benar-benar paham akan masalah yang akan dibahas dan dapat fokus kepada masalah saat berdiskusi

(W5/A.38/3)

Persiapan diawal pembelajaran yang dilakukan guru memakan waktu yang lama karena karena harus membagi kelompok terlebih dahulu kemudian menjelasakan masalah yang akan dibahas

(W6/A.38/3)

Persiapan diawal pembelajaran yang dilakukan guru memakan waktu sedikit lama karena semua siswa harus paham sekali tentang materi yang akan dibahas dan masalah yang diberikan jadi kalo paham lebih mudah untuk mengkaitkan antara masalah dengan materi

Berdasarkan dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kaitannya dengan kelemahan model

problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak guru

dapat mengantisipasinya dengan cara memberikan masalah yang harus benar-benar disesuaikan dengan kemampuan siswa dan dalam membagi kelompok harus random antara siswa yang kritis dengan siswa yang kurang kritis sehingga dapat saling melengkapi dan membantu.

e) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

Berikut ini akan dikemukakan hasil petikan wawancara dengan Guru Akidah Akhlak:

(W1/A.34/3)

Jika siswa tidak paham kenapa mereka diarahkan untuk berusaha agar memecahkan masalah yang sedang dipelajari maka konsekuensinya adalah siswa tidak akan optimal dalam proses belajar. Dengan demikian untuk membantu siswa agar mampu memahami mengapa siswa harus berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari yaitu memberikan motivasi dan pengertian bahwa pemecahan masalah ini untuk membantu siswa belajar dan memudahkan