• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Proses Model Problem Based Learning dalam Pembelajaran Akidah Akhlak

Berdasarkan hasil petikan wawancara dan observasi di lapangan yang Penulis lakukan kepada enam informan yang terdiri dari satu Guru

Akidah Akhlak dan lima siswa kelas VIII ternyata mendapat respon yang hampir sama, oleh karena itu berdasarkan tehnik analisis data maka Penulis berusaha menganalisis tentang proses model problem based

learning dalam pembelajaran akidah akhlak di MTs Negeri 1 Lampung

Timur kelas VIII, dalam hal ini Peneliti melakukan wawancara dan observasi mengenai proses model problem based learning dalam pembelajaran Akidah Akhlak yang meliputi tahapan-tahapan pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi mengenai penggunaan model problem based learning dalam pembelajaran Akidah Akhlak, berikut pembahasannya:

Berdasarkan wawancara yang Penulis lakukan diperoleh hasil bahwa perencanaan merupakan perencanaan merupakan hal penting dalam proses pembelajaran, mempersiapkan dan menyusun sebuah perencanaan pembelajaraan tidak lain agar dalam proses pembelajaran seorang guru dapat melakukan proses pembelajaran yang sistematis. Dengan demikian maka perencanaan sangat berpengaruh pada proses pelaksanaan pembelajaran agar dapat berjalan dengan sistimatis dan dapat efektif yaitu terwujudnya tujuan yang diinginkan.

Dengan adanya tahapan perencanaan ini diharapkan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan dapat terwujud apalagi didukung dengan model problem based learning, hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Guru Akidah Akhlak bahwa Model problem based

karena melihat materi-materi yang terdapat pada mata pelajaran Akidah Akhlak tidak terlepas dari kehidupan siswa sehingga pada saat proses memecahkan masalah yang diberikan oleh guru siswa tidak mengalami kesulitan dan siswa lebih aktif. Dengan demikian penggunaan model

problem based learning dalam pembelajaran Akidah Akhlak cukup efektif

karena dapat membantu dalam memahami materi-materi Akidah Akhlak dimana materi-materi tersebut tidak terlepas pada kehidupan sehari-hari siswa.

Kemudian mengenai pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang merupakan komponen penting yang harus ada dalam aktivitas pendidikan, Pelaksanaan itu sendiri merupakan suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci, implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap siap. Pada tahap ini Guru Akidah Akhlak MTs Negeri 1 Lampung Timur memfokuskan pada penggunaan model problem based learning untuk meyampaikan materi-meteri yang akan didiskusikan di kelas, karena memang penggunaan model problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak cukup efektif.

Dengan adanya penggunaan model problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak didapatkan data bahwa sebahagian besar peserta didik telah mampu mengikuti proses pembelajaran dengan aktif dan kritis, hal ini dapat dilihat dari siswa yang aktif berdiskusi dengan anggota kelompoknya dan melakukan tanya jawab baik dengan guru

maupun anggota kelompoknya, mampu bertukar gagasan dengan anggota kelompok, serta mengumpulkan informasi yang terkait dengan masalah yang sedang dibahas sehingga setiap kelompok mampu menyelesaikan pertanyaan atau masalah yang diberikan oleh guru.

Kemudian pada tahapan evaluasi yang merupakan kegiatan penting yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pembelajaran. Dimana evaluasi itu sendiri merupakan suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menentukan kualitas (nilai dan arti) dari sesuatu, berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu dalam rangka pembuatan keputusan. Evaluasi hasil belajar menekankan pada diperolehnya informasi tentang seberapa besar perolehan siswa dalam pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.

Pada penelitian ini, tahap evaluasi yang diberikan oleh Guru Akidah Akhlak yaitu dengan cara memberikan soal yang kemudian dikerjakan oleh siswa secara individu, dan juga memberikan PR kepada siswa untuk dikerjakan dirumah sehingga dapat mengukur tentang kemampuan siswa dalam memahami materi ajar.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa pada proses pembelajaran yang dilakukan oleh Bapak Jumangin selaku Guru Akidah Akhlak dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang menggunakan model problem based learning terbilang cukup baik, model

pembelajaran dianggap siswa lebih menyenangkan sehingga siswa lebih mudah untuk memahami materi ajar.

Akan tetapi terdapat beberapa hal yang kurang maksimal seperti alat bantu yang digunakan guru pada saat proses pembelajaran tidak divariasikan dengan gambar, LCD atau alat-alat lain yang berkaitan dengan masalah yang sedang dibahas. Selain itu juga terkadang masalah yang diberikan dianggap terlalu sulit dipahami oleh siswa, jika hal itu terjadi maka guru harus menjelaskan kembali kepada siswa sampai mereka benar-benar paham dengan masalah yang akan didiskusikan atau dengan cara mengganti masalah tersebut dengan masalah yang lain yang dianggap tidak sulit sehingga butuh waktu lama untuk menjadikan siswa paham tentang masalah yang akan didiskusikan.

Walaupun Bapak Jumangin tidak menggunakan alat bantu, akan tetapi siswa terkadang diajak belajar di perpustakaan sehingga pembelajaran dianggap lebih menyenangkan dengan suasana yang berbeda.

Untuk mencegah hal-hal di atas maka sebaiknya guru menggunakan alat bantu yang berkaitan dengan masalah-masalah yang akan didiskusikan seperti gambar, LCD dan lain sebagainya. Mengenai pemberian masalah agar tidak membutuhkan waktu yang lama guru harus benar-benar merencanakan masalah-masalah yang dianggap mudah oleh siswa dengan merencanakan serta memilah masalah yang ada di sekitar kehidupan masyarakat.

Kemudian berdasarkan hasil observasi Penulis terhadap proses penggunaan model problem based learning diketahui bahwa dalam tahap pelaksanaan dan evaluasi yang dilakukan oleh Guru Akidah Akhlak yaitu Bapak Jumangin kepada siswa kelas VIII sudah cukup baik. Hal ini dapat diketahui dengan adanya timbal balik yang baik antara guru dengan siswa saat proses pemecahan masalah, sebahagian besar siswa aktif dan kritis. Walaupun masih ada sedikit siswa yang terlihat tidak aktif dan tidak kritis akan tetapi dengan bantuan dan stimulus yang dilakukan oleh Guru siswa tersebut menjadi aktif dan kritis saat mengikuti proses pembelajaran yang sedang dilakukan.

2. Efektivitas penggunaan model problem based learning dalam pembelajaran Akidah Akhlak

Pada penelitian ini, tahap evaluasi yang dilakukan oleh Guru Akidah Akhlak mengenai efektivitas penggunaan model problem based

learning pada pembelajaran akidah akhlak dengan cara melihat tujuan dari

model problem based learning itu sendiri seperti adanya beberapa siswa yang dapat berfikir secara kritis dengan melihat sebahagian besar siswa yang bertanya kepada guru jika ada yang belum dipahami, selain itu siswa terlihat aktif berdiskusi dengan teman kelompoknya. Dilihat dari hasil diskusi kelompok siswa memiliki pola fikir yang rasional dimana itu menandakan bahwa siswa dapat memmbedakan mana yang baik dan yang buruk sehingga siswa dianggap memiliki keterampilan berfikir yang cukup baik.

Terkait dengan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah sudah cukup baik dengan melihat saat proses pembelajaran berlangsung sebahagian besar siswa aktif dalam berdiskusi dan mengajukan beberapa pertanyaan kapada guru karena belum jelas terkait dengan masalah yang dibahas. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pun sudah cukup baik karena fokus pada masalah dan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Selain itu juga tahap evaluasi yang dilakukan oleh Guru Akidah Akhlak mengenai efektivitas penggunaan model problem based learning pada pembelajaran akidah akhlak dengan cara melihat tercapainya tujuan intruksional dari pembelajaran yang sudah dilakukan seperti tujuan yang sudah terwujud terkait dengan penggunaan model problem based learning yaitu tercapainya tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan seperti pada materi menerapkan akhlak terpuji kepada orang lain. Sebahagian besar siswa sudah dapat menjelaskan pengertian, contoh, dan dampak positifnya sifat husnuzzan, tawadluk, tasamuh, dan ta’awun, menceritakan kisah tentang akhlak terpuji (husnuzzan, tawadluk, tasamuh, dan ta’awun).

Kemudian pembelajaran yang dilakukan oleh guru Akidah Akhlak dengan menggunakan model problem based learning ini ternyata berkaitan dengan visi misi madrasah, seperti membantu menumbuhkan kecerdasan intelektual, emosional serta sosial dalam proses pembelajaran, membantu guru dalam melaksanakan bimbingan dan pembelajaran secara aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan, serta membantu menumbuh

kembangkan pembiasaan sikap dan prilaku amaliah keagamaan Islam di Madrasah.

3. Keunggulan penggunaan Model Problem Based Learning dalam Pembelajaran Akidah Akhlak

Setiap model pembelajaran pada dasarnya adalah cara yang digunakan oleh guru dalam menciptakan proses mengajar. Dengan adanya penggunaan model yang tepat maka diharapkan mampu mencapai tujuan yang ingin dicapai. Model yang digunakan bermacam-macam dan beberapa diantaranya adalah model problem based learning dimana model ini merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberi masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis serta dicari pemecahannya dengan baik. Pengalaman siswa yang diperoleh dari lingkungan akan menjadikan kepada bahan dan materi guna memperoleh pengertian serta bisa menjadikan pedoman dan tujuan belajar.

Setiap model pembelajaran memiliki keunggulannya masing-masing, termasuk juga model problem based learning ini yang memiliki beberapa keunggulan. Berdasarkan dari hasil penelitian yang Penulis lakukan di MTs Negeri 1 Lampung Timur, terdapat beberapa keunggulan mengenai penggunaan model problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak yaitu diantaranya yaitu:

Pertama, dapat membantu siswa untuk lebih memahami materi

ajar karena model problem based learning menuntut siswa untuk berfikir secara kritis, proses pembelajaran dengan berdiskusi yang dianggap siswa menyenangkan, serta siswa terlatih untuk memecahkan sebuah masalah yang berkaitan dengan materi ajar. Kedua, dapat menantang kemampuan siwa serta dapat memberikan kepuasan kepada siswa untuk menemukan pengetahuan baru. Ketiga, dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa. Keempat, dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.

Kelima, dapat membantu siswa untuk mengembangkan

pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya. Keenam, melalui pemecahan masalah (problem solving) biasanya memperhatikan kepada siswa bahwa setiap Mata Pelajaran Aqidah Akhlak, pada dasarnya merupakan cara berfikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar belajar dari buku-buku saja. Ketujuh, model yang dianggap siswa lebih menyenangkan dalam proses pembelajaran.

Kedelapan, dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk

berfikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyelesaikan dengan pengetahuan baru. Kesembilan, dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka

miliki dalam dunia nyata. Kesepuluh, dapat membantu mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berkhir.

4. Kelemahan penggunaan Model Problem Based Learning dalam Pembelajaran Akidah Akhlak

Penggunaan model problem based learning pada pelajaran Akidah Akhlak selain memiliki keunggulan yang sudah diaparkan di atas, model ini

juga memiliki beberapa kelemahan.

Berdasarkan dari perolehan data dari MTs Negeri 1 Lampung Timur pada Guru mata pelajarn Akidah Akhlak terdapat beberapa kelemahan-kelemahan dari penggunaan model problem based learning diantaranya yaitu:

Pertama, manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak

mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka siswa akan merasa enggan untuk mencoba. Akan tetapi kelemahan ini dapat diantisipasi oleh Guru dengan cara memberikan motivasi kepada siswa dan terus membimbing saat proses pembelajaran berlangsung, Guru juga menjelaskan kembali hal-hal yang belum dipahami siswa, selain itu juga guru menawarkan beberapa masalah sehingga siswa leluasa untuk memilih masalah yang dianggap tidak sulit sehingga tidak menurunkan kepercayaan diri siswa dalam memecahkan masalah.

Kedua, keberhasilan model pembelajaran melalui problem solving

dapat diantisipasi oleh guru dengan cara memberikan masalah yang harus benar-benar disesuaikan dengan kemampuan siswa dan dalam membagi kelompok harus random antara siswa yang kritis dengan siswa yang kurang kritis sehingga dapat saling melengkapi dan membantu saat proses diskusi pemecahan masalah.

Ketiga, tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk

memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka siswa tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari. Berkenaan dengan hal ini guru dapat mengantisipasi dengan cara memberikan motivasi dan pemahaman kepada siswa bahwa pemecahan masalah ini untuk membantu siswa belajar dan memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran.

kemudian berdasarkan hasil dari observasi yang Penulis lakukan pada saat pembelajaran berlangsung, terdapat beberapa hal yang terkait dengan efektivitas penggunaan model problem based learning dalam penguasaan materi Akidah Akhlak yaitu sebagai berikut: Berdasarkan hasil observasi dapat dilihat bahwa proses model problem based learning dalam penguasaan materi Akidah Akhlak di MTs Negeri 1 Lampung Timur sudah cukup baik hanya saja terdapat sedikit hal-hal yang perlu diperbaiki oleh guru Akidah Akhlak seperti alat bantu yang digunakan guru dalam pembelajaran kurang divariasikan dengan alat yang berhubungan dengan masalah yang sedang dibahas seperti LCD, gambar, audio, visual, atau audio visual. Guru Akidah Akhlak hanya menggunakan alat bantu spidol, papan tulis dan buku saja.

Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui bahwa efektivitas penggunaan model problem based learning dalam penguasaan materi Akidah Akhlak sudah efektif. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi yang menunjukkan bahwa tujuan-tujuan dari model problem based learning yang terdiri dari keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah, belajar peranan orang dewasa yang autentik, menjadi pembelajar yang mandiri sudah baik.

Selain itu juga untuk mengetahui efektivitas dari penggunaan model

problem based learning dalam penguasaan materi Akidah Akhlak yaitu dengan

melihat tercapainya tujuan intruksional yang sudah ditentukan oleh pendidik yang tertuang pada RPP. Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui bahwa tujuan pembelajaran intruksional sudah efektif. Hal ini dibuktikan dengan pemahaman siswa tentang materi yang sudah diajarkan seperti pada materi menerapkan akhlak terpuji kepada orang lain, siswa sudah dapat menjelaskan pengertian, contoh, dan dampak positifnya sifat husnuzzan, tawadluk, tasamuh, dan ta’awun, siswa mampu menceritakan kisah tentang akhlak terpuji (husnuzzan, tawadluk, tasamuh, dan ta’awun).

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN

Berdasarkan pemantauan di lapangan, meneliti, menganalisa dan mengolah data yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Proses penggunaan model problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak di MTs Negeri 1 Lampung Timur telah dilaksanakann oleh Guru Akidah Akhlak melalui beberapa tahapan-tahapan yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Guru Akidah Akhlak menganggap perencanaan adalah Perencanaan merupakan hal penting dalam proses pembelajaran, mempersiapkan dan menyusun sebuah perencanaan pembelajaraan tidak lain agar dalam proses pembelajaran seorang guru dapat melakukan proses pembelajaran yang sistematis. Pada tahap pelaksanaannya Model problem based learning cukup efektif bila digunakan pada mata pelajaran Akidah Akhlak karena melihat materi-materi yang terdapat pada mata pelajaran Akidah Akhlak tidak terlepas dari kehidupan siswa sehingga pada saat proses memecahkan masalah yang diberikan oleh guru siswa tidak mengalami kesulitan dan siswa lebih aktif. Dengan demikian penggunaan model problem based learning dalam pembelajaran Akidah Akhlak cukup efektif karena tujuan-tujuan intruksional yang sudah direncanakan dapat tercapai.

2. Efektivitas penggunaan model problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak di MTs Negeri 1 Lampung Timur sudah cukup baik, hal ini berdasarkan hasil data yang diperoleh yang menjelaskan bahwa tercapainya tujuan dari model problem based learning itu sendiri serta tercapainya tujuan intruksional pembelajaran yang sudah direncanakan. 3. Keunggulan penggunaan model problem based learning pada

pembelajaran Akidah Akhlak, berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan data di atas diperoleh beberapa keunggulan diantaranya yaitu

Pertama, dapat membantu siswa untuk lebih memahami materi ajar karena

model problem based learning menuntut siswa untuk berfikir secara kritis, proses pembelajaran dengan berdiskusi yang dianggap siswa menyenangkan, serta siswa terlatih untuk memecahkan sebuah masalah yang berkaitan dengan materi ajar. Kedua, dapat menantang kemampuan siwa serta dapat memberikan kepuasan kepada siswa untuk menemukan pengetahuan baru. Ketiga, dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa. Keempat, dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.

Kelima, dapat membantu siswa untuk mengembangkan

pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya. Keenam, melalui pemecahan masalah (problem solving) biasanya memperhatikan kepada siswa bahwa setiap Mata Pelajaran

Aqidah Akhlak, pada dasarnya merupakan cara berfikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar belajar dari buku-buku saja. Ketujuh, model yang dianggap siswa lebih menyenangkan dalam proses pembelajaran.

Kedelapan, dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk

berfikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyelesaikan dengan pengetahuan baru. Kesembilan, dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. Kesepuluh, dapat membantu mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berkhir.

4. Kelemahan penggunaan model problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak, berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan data di atas diperoleh beberapa kelemahan diantaranya yaitu Pertama, manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka siswa akan merasa enggan untuk mencoba. Kedua, keberhasilan model pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup banyak waktu untuk persiapan. Ketiga, tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka siswa tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari. Akan tetapi kelemahan-kelemahan tersebut dapat diantisipasi oleh guru dengan berbagai cara.

B. IMPLIKASI

Secara umum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pentingnya penggunaan model problem based learning dalam pembelajaran Akidah Akhlak, implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa:

1. Guru Akidah Akhlak harus mampu menggunakan model problem based

learning dengan cukup baik dalam proses pembelajaran Akidah Akhlak

mulai dari tahapan-tahapan perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi.

Hal ini dapat diketahui bahwa karena model problem based

learning dapat membantu siswa untuk aktif dan kritis serta pembelajaran

dianggap siswa lebih menyenangkan sehingga siswa lebih mudah untuk memahami materi ajar.

Akan tetapi terdapat beberapa hal yang kurang maksimal seperti alat bantu yang digunakan guru tidak divariasikan dengan gambar, LCD atau alat-alat lain yang berkaitan. Selain itu juga terkadang masalah yang diberikan dianggap terlalu sulit dipahami oleh siswa sehingga butuh waktu lama untuk menjadikan siswa paham tentang masalah yang akan didiskusikan.

Walaupun Bapak Jumangin tidak menggunakan alat bantu, akan tetapi siswa terkadang diajak belajar di perpustakaan sehingga pembelajaran dianggap lebih menyenangkan dengan suasana yang berbeda.

Untuk mencegah hal-hal di atas maka sebaiknya guru menggunakan alat bantu yang berkaitan dengan masalah-masalah yang akan didiskusikan seperti gambar, LCD dan lain sebagainya. Mengenai pemberian masalah agar tidak membutuhkan waktu yang lama guru harus benar-benar merencanakan masalah-masalah yang dianggap mudah oleh siswa dengan merencanakan serta memilah masalah yang ada di sekitar kehidupan masyarakat.

2. Penggunaan model problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak sudah cukup efektif karena dapat mencapai tujuan-tujuan intruksional pembelajaran yang sudah direncanakan. Hal ini dapat dilihat dari tercapainya tujuan dari model problem based learning itu sendiri seperti siswa memiliki keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah, siswa belajar peranan orang dewasa yang autentik, siswa menjadi pebelajar yang mandiri. Dan tercapainya tujuan pembelajaran yang tercapai seperti sebahagian besar siswa sudah mampu menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan materi ajar yang sesuai dengan tujuan

intruksional yang ada pada tujuan pembelajaran dan siswa memahami

materi yang sudah di bahas seperti siswa dapat menjelaskan pengertian, contoh, dan dampak positifnya sifat husnuzzan, tawadluk, tasamuh, dan

ta’awun, menceritakan kisah tentang akhlak terpuji (husnuzzan, tawadluk, tasamuh, dan ta’awun).

3. Keunggulan dari penggunaan model problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak harus dimanfaatkan oleh guru dalam mencapai tujuan-tujuan yang hendak dicapai.

4. Kelemahan dari penggunaan model problem based learning pada pembelajaran Akidah Akhlak dapat diantisipasi oleh guru dengan usaha dan berbagai cara seperti memberikan motivasi, menjelaskan kembali hal-hal yang belum dipahami, memberikan masalah yang harus benar-benar disesuaikan dengan kemampuan siswa, memberikan pemahaman kepada siswa bahwa pemecahan masalah ini untuk membantu siswa belajar dan memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran.

C. SARAN

Berdasarkan pembahasan dari hasil penelitian di atas, maka selanjutnya Penulis dapat memberikan beberapa saran, antara lain sebagai