Bagian Keempat
4.2 Implementasi Kebijakan Kesehatan .1. Impelementasi di Tingkat Provinsi
4.3.2. Kinerja di Tingkat Kabupaten/Kota Kabupaten Sorong
Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Kabupaten
Sorong mempunyai dua rumah sakit yaitu rumah sakit Pertamina dan rumah sakit umum. Sejak tahun 2005 pemerintah telah membangun rumah sakit rujukan yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian. Dengan selesainya rumah sakit rujukan diharapkan masyarakat memperoleh pelayanan lebih baik. Jumlah Puskesmas di Kabupaten Sorong sebelum dan diera otsus tidak bertambah, sedangkan Puskesmas rawat ginap dari tahun 2001 hingga tahun 2006 terjadi
peningkatan. Pustu cenderung menurun secara drastis demikian halnya dengan polindes dan posyandu sedangkan pusling bertambah 2 unit. Dari target tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai, Kabupaten Sorong telah berhasil mencapai kemajuan yang penting.
Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular dan Menurunnya angka kesakitan masyarakat. Penyakit malaria merupakan penyakit dominan di
Kabupaten Sorong, dan merupakan penyakit endemik di Papua, kemudian ISPA, penyakit kulit, kecacingan, scabies, serta penyakit telinga dan frambosia. Pada tahun 2003 total penderita jenis penyakit menular sebesar 24.916 jiwa, dan dapat diturunkan menjadi 24.486 pada tahun 2004. Data tahun 2005 dan 2006 tidak didapatkan. Jika mempergunakan data 2003-2004, dari target upaya penurunan persebaran penyakit infeksi dan menular, telah terjadi pencapaian sebagaimana dihrapkan.
Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata.
Pada tahun 2006, Kabupaten Sorong mempunyai dokter spesialis sebanyak 15, dokter umum 35,dokter gigi 5, perawat 392, bidan 135, non perawat 110 serta apoteker 5. Jika dilihat dari perkembangan tenaga kesehatan, maka cenderung meningkat setiap tahun. Jika dibandingkan dengan ratio penduduk dan dokter, maka untuk tenaga dokter, perawat, bidan di Kabupaten Sorong termasuk baik. Dari target terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata, Kabupaten Sorong telah berhasil mencapai taget dalam jumlah, namun masih perlu peningkatan dalam kemerataan tenaga medis.
Kesadaran kesehatan, Kesehatan Ibu dan Anak, dan Angka Kesakitan.
Untuk mencegah adanya penyakit infeksi dan menular untuk anak-anak, antara tahun 2001-2005 Pemerintah telah melakukan 41.052 imunisasi yang terdiri dari imunisasi BCG, DPT, polio, campak, TT, dan BUMIL.
Kebijakan pemerintah Kabupaten Sorong adalah memberikan keringanan biaya serendah-rendahnya kepada masyarakat, menyebabkan animo masyarakat berobat secara medis cenderung meningkat. Hasil dari kebijakan ini adalah meningkatnya kesehatan publik secara relatif, termasuk di antaranya kesehatan ibu dan anak, dan menurunnya angka kesakitan masyarakat. Namun kebijakan ini masih perlu untuk ditingkatkan di tingkat pelaksanaannya, karena masih ditemukan laporan yang menyebutkan adanya oknum petugas medis dan pengurus Askeskin yang memungut biaya secara tidak sah dari masyarakat.
Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. Dari data
penyakit terbesar diderita adalah ISPA, penyakit kulit, kecacingan, scabies, serta penyakit telinga dan frambosia dapat dilihat bahwa tingkat kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat masih belum tinggi.
Kabupaten Nabire.
Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai; Rumah sakit yang
terdapat di Kabupaten Nabire sampai tahun 2006 atau selama 5 tahun Otonomi Khusus berjalan, terdapat 1 rumah sakit umum dengan kapasitas 79 tempat tidur, dan 1 rumah sakit ABRI . Sarana pelayanan kesehatan dasar di Kabupaten Nabire menunjukkan adanya peningkatan secara bertahap, Puskesmas hingga tahun 2006 berjumlah 25 unit, 4 diantaranya telah dikembangkan menjadi Puskesmas Perawatan atau Puskesmas Rawat nginap, dan semua distrik telah mempunyai Puskesmas bahkan terdapat distrik yang mempunyai 3 sampai 6 Puskesmas, selain itu terdapat 36 unit Balai Pengobatan. Dalam meningkatkan pelayanan di kampung-kampung baik antara pulau, maupun darat, didukung oleh 1 pearahu, 21 roda 4 dan 51 roda dua. Puskesmas keliling untuk menunjang efektifitas pelayanan di daerah yang tingkat kesulitannya tinggi yaitu dengan menggunakan kendaraan roda empat dan perahu motor.
Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular dan Menurunnya angka kesakitan masyarakat. Pada tahun 2001-2006 terjadi peningkatan
penanganan penduduk yang terkena penyakit infeksi dan menular. Penyakit terbesar yang diderita adalah malaria, diare/kolera, penyakit kulit/kelamin, dan HIV. Total penderita yang dilayani pada tahun 2001 tercatat 5.166 jiwa, meningkat menjadi 55.448 jiwa (2002), meningkat menjadi 75.093 (2003), menurun menjadi 53.645 (2004), menurun menjadi 36.666 (2005), meningkat kembali menjadi 109.202 (2006).
Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata di seluruh puskesmas dan Peningkatan sarana puskesmas keliling; Dokter
spesialis sebelum Otonomi Khusus yang bertugas di rumah sakit 5 orang meliputi spesialis Bedah, spesialis kebidanan, spesialis patologi klinik, spesialis penyakit dalam, dan spesialis radiology. setelah era Otonomi Khusus dokter spesialis cenderung tetap, hal ini disebabkan ada yang telah dimutasi ke daerah lain sehingga saat ini rumah sakit di kabupaten Nabire baru mempunyai 5 dokter spesialis. Dokter umum yang bertugas baik di rumah sakit maupun di Puskesmas sampai tahun 2006 berjumlah 18 dokter, juga terjadi penurunan tenaga dokter
umum dan gigi jika dibandingkan dengan tenaga dokter yang bertugas pada tahun 2001 dan 2002. Adanya penurunan tenaga dokter umum dan gigi disebabkan oleh adanya bencana alam yang melanda Nabire dengan berbagai issue sehingga sebagian dari pegawai banyak yang berpindah tugas ke tempat lain. Sedangkan tenaga perawat dan bidan serta Apoteker dari tahun 2001 sampai tahun 2005 hampir tidak mengalami perubahan. Yang menjadi kendala adalah tenaga kesehatan tidak terdistribusi secara merata, umumnya di dinas kesehatan dan Pusat pelayanan kesehatan di kota dan daerah pinggiran kota.
Menurunkan angka kematian ibu dan anak. Cakupan Imunisasi dari tahun
2001 sampai dengan tahun 2005 belum maksimal bahkan ada yang mengalami penurunan, namun ada juga yang mengalami kenaikan. beberapa yang mengalami penurunan antara lain BCG, DPT-1, dan campak, sedangkan yang lainnya cenderung meningkat. Kesehatan ibu hamil masih tertinggal, yang disebabkan karena masih masih banyak ibu hamil yang ditangani oleh dukun, sebagai konsekwensi tidak adanya bidan yang bertugas di tingkat kampung. Untuk kesehatan anak-anak, terdapat program pemberian makanan makanan tambahan, namun program ini dibiayai oleh bantuan provinsi, dan tidak disebutkan dari dana Otsus. Sebelum Otsus juga terdapat dana untuk Posyandu, namun tidak ada lagi setelah Otsus. Akibatnya, banyak posyandu yang tidak berfungsi lagi.
Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. Dari data
penyakit terbesar diderita adalah malaria, diare/kolera, penyakit kulit/kelamin, dan HIV dapat dilihat bahwa tingkat kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat masih belum tinggi.
Kabupaten Kerom
Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai, Peningkatan sarana puskesmas keliling, dan Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling. Hingga tahun 2007 Kabupaten
Kerom belum mempunyai Rumah Sakit, pasien yang mendapat rujukan umumnya dirujuk ke rumah sakit Kota Jayapura yaitu Abepura, Dian harapan, RSUD Jayapura, serta Rumah sakit ABRI. Hingga saat ini pemerintah Kerom belum menentukan lokasi pembangunan rumah sakit, karena terkait dengan akan dipindahkannya pusat pemerintahan dari Arso Kota ke Waris. Sarana pelayanan kesehatan dasar di kabupaten Kerom hingga tahun 2006 adalah terdapat 6 puskesmas, dua diantaranya terdapat di Distrik Arso sedangkan distrik yang lain masing-masing
dilayani oleh satu Puskesmas. Puskesmas pembantu 30 unit, Pusling 6 M, 14 SPM, posyandu 65, polindes 9, rumah bersalin 1, Apotik 1 dan toko obat swasta 1. Pasien yang perlu mendapat pelayanan rawat nginap, perawatannya di lakukan di Puskesmas Arso Kota dan Arso 5.
Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular dan Menurunnya angka kesakitan masyarakat. Pada tahun 2004-2006 terjadi peningkatan
penanganan penduduk yang terkena penyakit infeksi dan menular. Berdasarkan laporan Puskesmas di kabupaten Kerom sepuluh besar penyakit adalah, malaria, ISPA, Diare, penyakit kulit, campak dan TB. Paru sebagai penyebab utama kesakitan. Masyarakat yang umumnya terinfeksi penyakit tersebut di atas adalah masyarakat lokal atau orang asli Papua. Total penderita yang dilayani pada tahun 2004 tercatat 68250 jiwa, meningkat menjadi 70170 jiwa (2005), meningkat menjadi 70910 (2006).
Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata di seluruh puskesmas; Situasi tenaga kesehatan di Kabupaten Kerom dari tahun
2004 sampai tahun 2006, untuk tenaga dokter cenderung meningkat. Pada tahun 2004 terdapat 7 dokter umum dan 2 dokter gigi. Tahun 2005 terdapat 8 dokter umum dan 2 dokter gigi. Tahun 2006 terdapat 15 dokter umum, 3 dokter gigi, dan 3 dokter spesialis/ahli. Meskipun jumlah dokter dan perawat setiap tahun cenderung meningkat, akan tetapi belum dapat memenuhi jumlah tenaga yang ada di setiap Puskesmas atau pendistribusian tenaga belum merata secara baik, hal ini terutama disebabkan kondisi geografis yang sulit untuk melakukan pelayanan secara maksimal.
Menurunkan angka kematian ibu dan anak. Pada tahun 2004 dilakukan
7.224 imunisasi untuk jenis BCG, DPT, polio, DT, campak, TT anak, dan TT BUMIL. Pada tahun 2005 dilakukan 10.015 imunisasi untuk jenis yang sama. Pada tahun 2006 jumlah imunisasi dilaporkan hanya 4.085. Cakupan imunisasi umumnya masih terpusat di ibu kota kabupaten, serta daerah pinggiran kota yang mudah terjangkau, sedangkan daerah yang sulit cakupan imunisasinya dilaporkan masih rendah. Berdasarkan trend perkembangan derajat kesehatan menunjukkan kelahiran hidup, AKB, AKABA, dan AKI cenderung mengalami penurunan. Adanya kecenderungan ini menunjukkan bahwa di erah Otonomi Khusus terjadi peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, serta kesadaran masyarakat, khususnya kaum Ibu-ibu, untuk memeriksakan kesehatannya ke Puskesmas. Selain itu kemampuan laboratorium di Puskesmas semakin baik dan memberikan kepuasan pelayanan kepada masyarakat.
Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. Dari data
penyakit terbesar diderita adalah malaria, ISPA, Diare, penyakit kulit, campak dan TB. Paru sebagai penyebab utama kesakitan dapat dilihat bahwa tingkat kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat masih belum tinggi.
Kabupaten Pegunungan Bintang
Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Hingga tahun
2007 Kabupaten Pegunungan Bintang belum mempunyai Rumah Sakit, pasien yang mendapat rujukan umumnya dirujuk ke rumah sakit Kota Jayapura yaitu Abepura, Dian harapan, RSUD Jayapura, serta Rumah sakit ABRI.
Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular dan Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. Pada tahun 2006 dilaporkan
terdapat 47.627 kasus penyakit menular, yang didominasi oleh penyakit Malaria, Penyakit Kulit, ISPA, dan Diare/Kolera. Penyakit lain adalah cacingan dan TB.Paru. Dari data penyakit terbesar diderita tersebut, dapat dikatakan bahwa tingkat kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat masih belum tinggi.
Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis. Tenaga kesehatan yang bertugas
di Kabupaten Pegunungan Bintang meliputi tenaga dokter sebanyak 7 orang, 3 diantaranya dokter tetap dan semuanya bertugas di Oksibil, sedangkan dokter PTT2 orang ditempatkan di Kwirok dan Iwur, untuk Puskesmas lainnya belum mempunyai dokter. Tenaga perawat sebanyak 124 orang, sebagian besar bertugas di Oksibil.
Peningkatan sarana puskesmas keliling dan Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling. Kabupaten
Pegunungan Bintang telah mempunyai Puskesmas di setiap distrik dan Puskesmas pembantu, namun belum tersedia Puskesmas rawat inap, sedangkan sarana kesehatan yang lainnya belum tersedia. Minimnya sarana dan Prasarana kesehatan di Kabupaten Pegunungan Bintang disebabkan oleh rentang geografis yang sangat sulit serta kurang sumberdaya manusia dalam merencanakan pembangunan kesehatan.
Kabupaten Merauke
Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Rumah sakit
yang terdapat di Kabupaten Merauke sampai tahun 2006 atau selama 5 tahun Otonomi Khusus berjalan, terdapat 1 rumah sakit umum dengan kapasitas 142
tempat tidur. Rumah sakit tersebut telah dibangun sejak Otonomi khusus dengan kapasitas 110 tempat tidur, dengan demikian terdapat penambahan tempat tidur sebanyak 32 di era Otonomi khusus. Sarana kesehatan tahun 2005 terdiri atas : 1 Rumah Sakit Daerah, 2 RS swasta, 6 Balai Pengobatan (4 milik TNI/POLRI), 11 Puskesmas (9 puskesmas rawat inap), 92 Pustu dan 12 Polindes. Sarana kesehatan dengan kemampuan laboratorium meningkatan dari 77,8% (pada tahun 2004) menjadi 100% (pada tahun 2005). Pelayanan Kesehatan Spesialis Dasar di RS adalah pelayanan kandungan dan kebidanan, bedah, penyakit dalam serta anak. RSUD Merauke merupakan rumah sakit satu-satunya di Kabupaten Merauke. Pada tahun 2005 RSUD Merauke dengan klasifikasi tipe C telah memiliki 5 dokter spesialis dasar (2 dokter spesialis bedah) dan 1 spesialis THT. Hampir seluruh persediaan obat (90%) untuk pelayanan kesehatan dasar maupun mendukung pelayanan kesehatan rujukan merupakan obat generik berlogo (OGB).
Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular, Menurunkan angka kesakitan masyarakat, dan Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. Penyebab utama kesakitan masih didominasi penyakit
malaria, penyakit kulit, TB Paru, dan frambosia, kemudian diikuti oleh penyakit lainnya. Pada tahun 2002 tercatat 241.558 penderita. Pada tahun 2003 tercatat 265.314 penderita. Pada tahun 2003 tercatat 200.212 penderita. Pada tahun 2003 tercatat 356.935 penderita. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa kesadaran kesehatan lingkungan masyarakat sudah cukup tinggi dibanding kabupaten lain.
Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis. Pada tahun 2002 terdapat 35
dokter umum, 4 dokter gigi, 34 dokter ahli/spesialis, dan 95 perawat. Pada tahun 2006, terdapat 27 dokter umum, 6 dokter gigi, 6 dokter ahli/spesialis, 190 perawat, 198 bidan, dan 6 apoteker.
Menurunkan angka kematian ibu dan anak. Cakupan imunisasi di kabupaten
Merauke sejak tahun 2002 sampai tahun 2005 cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2002 dilakukan 376.605 imunisasi untuk jenis BCG, DPT, polio, DT, campak, dan TT BUMIL. Pada tahun 2003 dilakukan 388421imunisasi untuk jenis yang sama. Pada tahun 2004 dan 2005 dilakukan 386.472 dan 360.806 imunisasi. Persalinan oleh tenaga kesehatan adalah persalinan yang ditolong oleh dokter spesialis kebidanan atau dokter umum atau pembantu bidan atau perawat bidan. Ibu bersalin yang mendapatkan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan pada tahun 2005 sebesar 60,1%,
sedikit menurun dibanding tahun 2004 (67,3%), walaupun jika dibandingkan dengan target yang ditentukan (90%) masih agak jauh kesenjangannya (22,7%). Hal ini berarti masih banyak bumil yang menjalani persalinan di luar tenaga kesehatan seperti dukun atau keluarga sendiri dengan resiko persalinan yang besar. Demikian juga kemampuan bidan desa untuk melaksanakan pelayanan ke daerah terpencil masih sangat terbatas.
Peningkatan sarana puskesmas keliling dan Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling. Kabupaten
Merauke hingga tahun 2007 telah memiliki 10 Puskesmas dan semuanya telah dikembangkan menjadi Puskesmas rawat inap, demikian pustu cenderung bertambah dengan bertambahnya jumlah Pustu, maka diharapkan semua masyarakat dapat terlayani dengan baik, lain halnya dengan Polindes yang cenderung menurun atau berkurang. Hal ini dapat terjadi karena beberapa daerah yang sebelumnya masuk wilayah pemerintahan Kabupaten Merauke telah dimekarkan sehingga masuk ke kabupaten lain atau kabupaten pemekaran. Penduduk yang memanfaatkan puskesmas adalah penduduk yang datang berkunjung ke puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang diberikan di puskesmas (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif). Persentase penduduk yang memanfaatkan puskesmas mengalami peningkatan dari 94,43% (tahun 2004) menjadi 98% (tahun 2005). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mengetahui tempat yang ditujukan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, dan dapat berarti tenaga kesehatan di puskesmas telah melaksanakan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Penduduk yang memanfaatkan rumah sakit adalah penduduk yang datang berkunjung ke rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang diberikan rumah sakit (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik milik pemerintah maupun swasta. Persentase penduduk yang memanfaatkan Rumah Sakit pada tahun 2005 hanya sedikit mengalami peningkatan, yaitu 43,6% dari 43,22%. Kecilnya peningkatan pemanfaatan RS disebabkan sistem pencatatan dan pelaporan RS yang belum optimal. Persentase desa Universal Child Imunization (UCI): 60 % Desa mencapai UCI adalah desa/kelurahan dengan cakupan imunisasi dasar lengkap (BCG 1 kali, DPT 3 kali, HB 3 kali, Polio 4 kali dan campak 1 kali) pada bayi > 80%. Jika dibandingkan dengan target yang diharapkan > 80%, terdapat kesenjangan > 20%, hal ini berarti masih ada desa/kelurahan yang belum mencapai UCI.
4.4. Simpulan
Kebijakan Otsus telah mempunyai turunan dalam bentuk kebijakan pembangunan kesehatan dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan dengan baik, yang terdiri dari 8 indikator yaitu: Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai; Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular, khususnya 10 besar angka kesakitan; Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata di seluruh puskesmas; Menurunnya angka kematian ibu dan anak; Menurunnya angka kesakitan masyarakat; Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat; Peningkatan sarana puskesmas keliling; dan Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling.
Implementasi kebijakan pembangunan kesehatan di bawah Otsus dilaksanakan dengan fokus kepada target kinerja tersebut di bawah bimbingan provinsi. Kendala utama implementasi adalah kondisi geografis yang sangat berat membuat pemberian pelayanan kesehatan menjadi amat mahal. Kendala kedua adalah penyaluran dana otsus yang terlambat, sehingga mengganggu kelancaran pembangunan kesehatan yang telah diprogramkan. Dilaporkan bahwa pengelolaan dana otsus masih lebih besar di provinsi daripada kabupaten/kota dengan komposisi 40% Provinsi dan 60% Kabupaten/Kota. Kendala ketiga yang terpengaruh atas dua kendala tersebut adalah ketersediaan sarana kesehatan, tenaga medis, dan sistem administrasi kesehatan yang memadai. Kendala ke empat adalah secara kesadaran kesehatan dan lingkungan masyarakat Papua masih rendah. Kelima, ditengarai terdapat kasus-kasus korupsi dalam pelayanan kesehatan, terutama dalam pengadaan obat-obatan. Tantangannya adalah mengembangkan transparansi implementasi kebijakan otsus kesehatan.
Kendala-kendala implementasi tersebut menyebabkan kinerja pembangunan kesehatan di era otsus masih perlu ditingkatkan. Sementara itu, dari kabupaten yang diteliti, Kabupaten Merauke merupakan kabupaten yang paling maju pembangunan kesehatannya.