• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kisah Para Rasul 1:1-11 Dua kacamata

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 146-149)

Judul: Dua kacamata

Empat puluh hari berlalu sudah dari hari Paskah. Tuhan Yesus sudah berulang kali menampakkan diri kepada para murid dan memberikan pencerahan mengenai siapa Dia

sesungguhnya dan apa arti Kerajaan Allah. Namun ketika hari itu mereka berkumpul lagi, murid-murid mengajukan pertanyaan mengenai pemulihan Kerajaan Israel.

Tuhan Yesus berbicara mengenai Roh Kudus, murid-murid berbicara tentang Kerajaan Israel. Murid-murid bertanya apakah Tuhan akan menjalankan kekuasaan di bumi ini. Tuhan berkata bahwa murid- muridlah yang akan menerima kuasa, tetapi bukan untuk memerintah melainkan untuk bersaksi. Ternyata para murid memakai "kacamata" berbeda.

Murid-murid mengira bahwa kekuasaan Tuhan Yesus akan nyata dalam sebuah kerajaan duniawi yang mengguncangkan kekuasaan Romawi. Namun kekuasaan yang Tuhan berikan kepada mereka ternyata mengguncang, bukan saja kekuasaan Romawi melainkan juga kekuasaan Iblis (Kis. 3:12, 8:10-13), kekuasaan para pemimpin agama di Israel (Kis. 4:7, 6:8), dan mampu juga mengguncang kekuasaan apa pun di atas muka bumi ini jika orang Kristen berseru kepada Tuhan.

Para murid berpikir bahwa hanya pada Tuhanlah kekuasaan itu ada, tetapi Tuhan memberikan lebih daripada yang mereka pikirkan. Setiap anak Tuhan diberi kuasa. Jika Roh Kudus ada dalam diri kita, maka kuasa itu ada dalam diri kita. Kisah Para Rasul memaparkan bagaimana para murid menunjukkan kuasa yang Tuhan berikan: Petrus (3:12), Yohanes (4:7), semua rasul (4:33), Stefanus sang diaken (6:8), Filipus (8:10-13), Paulus (19:11). Para penguasa dunia dan hamba kegelapan pun tak berkuasa untuk tidak mengakui kuasa itu.

Saat ini orang Kristen hidup dalam penantian akan kedatangan Tuhan Yesus kembali. Kita tidak tahu kapan waktunya, tetapi satu hal yang pasti, Allah melalui Roh Kudus telah memercayakan kuasa kepada kita. Mari kita gunakan kuasa itu untuk bersaksi dan membuat dunia tercengang-cengang melihat kuasa Allah yang dahsyat itu bekerja.

147 Jumat, 14 Mei 2010 Bacaan : Mazmur 104

(14-5-2010)

Mazmur 104

Semesta bernyanyi

Judul: Semesta bernyanyi

Mazmur ini bukanlah tentang Anda dan saya. Mazmur ini tidak berbicara tentang manusia, tetapi tentang Allah dan alam ciptaan- Nya. Kapan terakhir kali Anda menikmati keindahan dan

semarak alam yang Allah ciptakan?

Bagaimana caranya Anda memahami kebesaran Allah? Bagi banyak orang, kebesaran Allah di hari-hari ini dipahami entah secara intelektual melalui pergumulan-pergumulan dan pemikiran-pemikiran teologis atau secara emosional, melalui pengalaman-pengalaman bernuansa rohani yang menggerakkan perasaan. Masih ada cara lain untuk memahami kebesaran Allah, yaitu cara yang telah digunakan oleh manusia sejak zaman Adam dan Hawa, cara yang seringkali kita lupakan di tengah kesibukan kita sehari-hari. Cara itu adalah melalui alam yang Allah ciptakan dan pelihara.

Mazmur 104 menggambarkan dengan indah bagaimana berbagai unsur alam ciptaan Tuhan menyatakan keagungan dan semarak-Nya. Keindahan yang luar biasa Tuhan padu-padankan dengan fungsi yang tertata dengan begitu baik sehingga seluruh dunia tetap terpelihara dengan baik. Tuhan mencipta dan juga memelihara ciptaan-Nya.

Ketika Anda merasa penat dan letih, ingatlah bahwa Tuhan juga ingin memberikan kepada kita kelegaan dan sukaria (15). Tuhan memberikan kepada kita tugas untuk berkarya, tetapi juga untuk menikmati dan bersukaria dalam alam ciptaan-Nya.

Kemuliaan dan pemeliharaan Tuhan tampak di dalam segala dinamika alam ini. Betapa pun dahsyat dan menakutkannya fenomena alam serta hewan-hewan yang ada, Tuhan melampaui semua itu (26-32). Dia layak menerima segala pujian dari relung hati kita yang terdalam. Dalam kesibukan kita, marilah kita menyediakan waktu dan berhenti sejenak. Beristirahat. Merenung. Menikmati alam ciptaan Tuhan. Bersukaria di dalam keagungan dan semarak Tuhan. Memuji Tuhan sebab Dia yang begitu agung mengenal kita dan peduli kepada kita.

148 Sabtu, 15 Mei 2010

Bacaan : Mazmur 101

(15-5-2010)

Mazmur 101

Raja tak bercela

Judul: Raja tak bercela

Mari berandai-andai. Andai Anda dapat menguping doa calon pemimpin, yang mana dari yang berikut ini akan Anda pilih dalam masa kampanye? "Ya Allah yang Mahabesar. Mohon Engkau sudi memberkatiku dengan pengaruh dan keberhasilan; supaya bangsa ini menjadi bangsa yang jaya makmur di bawah kepemimpinanku." "Ya Allah yang Pemimpin sejati, tolong aku untuk mengutamakan keadilan dan penegakan hukum, sebab Engkau adil. Tolong aku untuk lebih takut kepada-Mu daripada kepada para pesaingku atau pendukungku."

Mazmur ini mazmur Daud. Tidak jelas kapan ia menuliskan mazmur penting ini, sesudah ia diurapi atau setelah memindahkan tabut. Yang utama untuk kita pelajari ialah isinya, dan dari isi mazmur ini kita boleh menyimpulkan sikap yang bagaimanakah yang harus dicari dari seorang pemimpin. Paling tidak kita boleh berdoa agar para pemimpin bo-leh mendekati sikap yang diungkapkan Daud ini.

Ayat 1 adalah inti dan penggerak dari seluruh bait mazmur berikutnya. Daud ingin menyanyikan kasih setia dan hukum kepada Allah. Posisi dan kemampuan memimpin yang ia terima, datang dari Allah. Semua orang berkuasa pun mendapat kesempatan untuk berkuasa atau memimpin bukan terutama karena kepiawaian dirinya melainkan karena kemurahan Allah. Pemimpin yang baik akan menjaga agar tidak melupakan hal ini. Ini akan membangkitkan tekad untuk

memuliakan Allah dan men-junjung tinggi hukum-hukum kebenaran-Nya.

Semua tekad Daud lainnya, mengalir dari inti nyanyiannya di ayat 1 tadi. Orang yang sungguh ingin meninggikan kemu-rahan dan hukum Allah, akan memiliki dorongan kuat untuk menjadi pemimpin yang tak bercela (memanfaatkan kuasa untuk diri sendiri), kehidupan keluarga yang tulus, tidak kompromi dengan orang jahat, tidak membiarkan hati bengkok, tegas menghukum yang salah, memelihara ke-setiaan dengan sahabat yang benar.

Mari kita doakan para pemimpin kita agar mereka tidak hanya pameran beribadah tetapi sungguh memiliki tekad untuk memuliakan Allah dan hukum-hukum-Nya.

149 Minggu, 16 Mei 2010

Bacaan : Mazmur 105

(16-5-2010)

Mazmur 105

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 146-149)

Dokumen terkait