RIWAYAT HIDUP
IV PETA SOSIAL KELURAHAN SUKAMISKIN DAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN SUKAMISKIN BANDUNG
5.3. Riwayat Hidup (Life Story) Narapidana 1 Profil IN als SLH bin MHT
5.3.2. Profil AMN
5.3.2.4. Pembagian Kerja di Rumah
5.3.3.3.3. Kondisi Keluarga saat S Ditahan 1 Kronologis Penahanan
Keluarga S memiliki 6 orang anak, satu diantaranya T berusia 15 tahun, namun tingkah lakunya masih kekanak-kanakan, saat itu S kembali dari ladang setelah bekerja di kebun, ketika masuk ke dalam rumah didapatinya anaknya sedang tidur, entah karena kebutuhan biologis atau karena khilaf, S menggauli anak kandungnya yang masih anak-anak tersebut. Karena diancam T tidak berani menceritakan kejadiannya kepada ibunya yang juga istri S.
Lama kelamaan terjadi perubahan pada diri T, setelah kejadian tersebut T menderita Sakit, S membawa anaknya ke orang pintar di sekitarnya untuk diobati, hingga beberapa bulan kemudian diketahui ternyata T hamil dan melahirkan, akhirnya T mengakui bahwa ini adalah perbuatan ayah kandungnya sendiri dan S dilaporkan pada pihak kepolisian dan diproses secara hukum. Setelah melalui beberapa kali persidangan, maka S divonis pidana 8 tahun penjara dari tuntutan Jaksa 12 tahun dan ditahan di Lapas Garut, setelah menjalani pidana selama 1 tahun kemudian dipindahkan ke Lapas Sukamiskin Bandung. S NS TT Sumber Penghasilan Pengaturan Ekonomi Pembagian Kerja di Rumah Pengasuhan Anak
5.3.3.3.3.2. Pengaturan Ekonomi Keluarga
Sejak S ditahan di Lapas Garut, S kurang dapat memantau keadaan keluarganya, tetapi ia masih bersyukur karena salah satu isterinya dan anak- anaknya yang lain masih mau mengunjunginya, dan dengan ditahannya S, kondisi kehidupan ekonomi keluarganya semakin susah, karena S merupakan pencari nafkah utama, sehingga anaknya yang pertama dan istri-istrinya berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan bekerja sebagai buruh tani di tempat tinggalnya serta mencuci pakaian tetangga dan membuka warung. Namun, setelah S sembilan bulan yang lalu di pindah ke Lapas Sukamiskin, keluarganya jarang mengunjunginya, karena baru 2 kali keluarganya mengunjunginya selama berada di Lapas Sukamiskin, karena ongkos dari Garut berat, dan S berharap semoga keluarganya sehat di kampung.
5.3.3.3.3.3. Pembagian kerja di Rumah
Perubahan pembagian kerja di rumah tidak mengalami perubahan yang berarti, karena sebelum ditahan S lebih banyak di luar rumah, sehingga pembagian kerja di rumah kurang mengalami perubahan. Seperti yang dikatakan TT istri pertama S, berikut ini :
Biasa aja pekerjaan rumah mah, kami-kami aja yang mengerjakannya, dari nyiapkan makanan, mencuci baju, menjaga anak-anak, ya kami-kami aja secara bersama-sama, kan bapak mah lebih banyak di kebun, sore hari baru pulang, kadang-kadang malam hari baru pulang kalau tempat kerjaannya jauh (lokasi berkebun)
5.3.3.3.3.4. Pengasuhan Anak
Pendampingan secara fisik tidak jauh berbeda seperti pada masa sebelum S ditahan. TT dan NS berada lebih sering disisi anak-anaknya Beberapa tetangga kadang-kadang membantu dengan memberi makanan kepada anak- anak.
RH anak bungsu dari istri kedua S yang baru menginjak usia 3 tahun, sering merengek dan menangis minta susu, namun karena tidak punya uang akhirnya sering diberi air putih dan sesekali teh manis. Sedangkan anak-anaknya yang lain tidak begitu banyak menuntut perhatian.
5.3.3.3.3.5. Kedekatan Secara Emosional
TT, NS dan anak-anaknya sangat dekat, setiap hari bahkan hingga malam selalu ditemaninya, apalagi sejak suaminya ditahan, keadaan sangat berubah, anak-anak mulai nakal, tetapi TT dan NS dapat menasihati mereka untuk menjadi anak baik dan mendoakan bapaknya agar insyaf dan cepat bebas, walau hatinya merasa benci dan kecewa terhadap perbuatan suaminya tersebut, yang membuat anaknya murung dan rendah diri dan tidak mau sekolah lagi.
Berikut Gambar 7 tentang pengambilalihan peran S dalam keluarga selama S ditahan :
Gambar 7 : Peran dalam keluarga selama S ditahan Keterangan :
: memegang peranan utama : kerjasama antar anggota keluarga
: mendampingi anak secara fisik dan dekat secara emosional
5.3.3.3.3.6. Sumber Penghasilan Keluarga
Pada dasarnya S memiliki sumber penghasilan yang memadai, bahkan kecukupan, namun karena memiliki istri lebih dari satu orang, membuatnya kesulitan untuk mengatur keuangan, terutama ketika bekerja di Jawa (Jawa Timur), saat itu ia mampu membangun rumah sendiri, namun tidak disetujui oleh istri pertamanya, saat itu S memiliki istri ketiga di Jawa Timur.
Penghasilan yang diperoleh S ketika bekerja di perkebunan di Jawa Timur antara Rp. 1.000.000,- sampai Rp. 2.000.000,- setiap bulannya dan dirasa cukup pada saat itu, karena S sering tinggal di Jawa dan sekitar 2 atau 3 bulan sekali pulang ke kampungnya di Garut, untuk menemui istri pertama dan kedua.
TT & NS UD Sumber Penghasilan Pengaturan Ekonomi Pembagian Kerja di Rumah Pengasuhan Anak
Berdasarkan riwayat hidup S, pernah menikah 3 kali, S dan isteri pertama dan keduanya sama-sama tinggal serumah, dengan keenam anaknya. Tanggung jawab S sebagai Kepala Keluarga sangat baik, karena masih berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya dan hanya karena kekhilafannya maka ia harus masuk Lembaga Pemasyarakatan. S memiliki pekerjaan tetapi tidak tetap tergantung orang yang membutuhkan tenaganya untuk menggarap/mencangkul kebun atau sawah dan tidak memiliki keterampilan.
5.3.4. Profil M.R.
MR (38 tahun) lahir di salah satu desa di Cirebon, anak ke-3 dari 3 bersaudara, memiliki ayah dan ibu yang pekerjaanya sebagai buruh tani, S berperawakan tinggi kurus, kulit hitam, rambut panjang terurai dan berkumis. Pendidikan terakhir MR tamat Sekolah Dasar dan setelah itu tidak melanjutkan pendidikannya. MR berasal dari keluarga kurang mampu, pekerjaan yang dijalaninya sebagai supir angkot.
MR mulai melakukan pekerjaannya sebagai supir angkot dimulai sejak jam 06 pagi sampai jam 06 malam. Rute angkotnya di sekitar wilayah Ciranjang dan Rajamandala. Penghasilan sebagai supir angkot tidak tentu, tetapi rata-rata sebesar Rp. 50 ribu sampai dengan Rp. 70 ribu. Penghasilan tersebut setiap harinya diserahkan kepada isterinya (IK, 35 tahun). IK tidak bekerja menghasilkan uang dan kegiatan setiap harinya mengurus dan mengantar sekolah anaknya yang semata wayang, anaknya BY 8 tahun, sekolah di kelas II Sekolah Dasar.
5.3.4.1. Pembagian Kerja di Rumah
Tugas-tugas rutin rumah tangga setiap harinya dilakukan oleh IK, mulai dari mempersiapkan keperluan MR mulai bangun pagi untuk bekerja dan kebutuhan anaknya ke sekolah, serta kegiatan mengurus rumah tangganya. Pada saat tertentu sebelum MR berangkat bekerja menyempatkan diri bertemu dengan anaknya dan isterinya. Biasanya MR baru kembali ke rumah pada malam hari.
5.3.4.2. Pengasuhan Anak
5.3.4.2.1. Pendampingan Secara Fisik
IK lebih banyak menyempatkan diri untuk mendampingi anaknya. Kegiatan menyiapkan makan, hingga memandikan dilakukan sendiri. MR jarang bertemu dengan anaknya, karena dengan pekerjaannya yang selalu sampai larut malam.
BY anak satu-satunya dan sekolah di Sekolah Dasar dan lebih dekat dengan ibunya, mulai dari mempersiapkan sekolah sampai mengantar sekolah dan menjemput sekolah, terkadang IK menunggu BY di sekolah.
5.3.4.2.2. Kedekatan Secara Emosional
BY lebih dekat dengan IK karena seringnya pertemuan dan kebersamaan mereka. Sedangkan MR, hanya bertemu dengan BY pada saat pagi hari dan terkadang malam hari bila BY belum tidur, tetapi itu jarang dialami. Namun, MR tetap mendapat tempat di hati anaknya, berikut Gambar 8, tentang kondisi dan peran MR sebelum ditahan.
Gambar 8 : Peran dalam keluarga sebelum MR ditahan Keterangan :
: memegang peranan utama
: berperan hanya sebagai pendukung. : berperan sangat kecil.
5.3.4.2.3. Kondisi Keluarga saat MR Ditahan