KONDISI SOSIAL MASYARAKAT DAN SASTRA PERANAKAN CINA
2.1 Kondisi Sosial Masyarakat Cina di Indonesia
Pada mulanya merantau selalu dianggap hanya untuk sementara, padahal tidak sedikit perantau yang tinggal lama dan akhirnya menetap. Perantau yang notabene adalah kaum pedagang dan kuli upah seringkali tidak kembali ke negeri leluhur karena situasi politik yang tidak menentu. Misalnya ketika Dinasti Ming runtuh (1644). Banyak orang Cina tidak berpihak pada orang-orang Mancu sehingga memilih ke pengasingan dan melarikan diri. Masyarakat Cina pun terbentuk di kepulauan Nusantara terutama Jawa dan Sumatera (Salmon, 1985: 1).
Sebelum abad ke-19 terjalin hubungan yang harmonis antara masyarakat Cina dengan pribumi. Pada masa itu, golongan tertinggi -golongan elite- adalah orang-orang pribumi. Oleh karena itulah, orang-orang Cina mendekati dan melebur ke dalam masyarakat prib umi. Hubungan harmonis tersebut terlihat dengan adanya perkawinan campur antara orang Cina dengan perempuan pribumi. Mereka juga mengawini perempuan dari golongan bangsawan pribumi. Perkawinan tersebut dilakukan untuk mempermudah pergerakan dan perluasan kekuasaan. Dengan status bangsawan, orang-orang Cina ini pun memperoleh kemudahan, misalnya dalam hal perniagaan. Namun, sejak abad ke-19 yang menjadi golongan elite di negeri ini adalah orang-orang Belanda. Pendekatan pun mengarah ke penguasa yang menjadi golongan elite baru. Mereka mencoba melebur dalam pergaulan bangsa Barat yang saat itu menguasai Hindia Belanda. Akan tetapi, orang-orang Cina tidak diterima dan tidak berhasil menjalin hubungan perkawinan dengan golongan gubernur jenderal. Hal inilah yang menyebabkan mereka menjadi golongan tersendiri dan menjadi minoritas (Ham, 2005: 1,2,3).
Pada abad ke-19 hubungan erat antara Jawa dengan Cina dibelokkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Golongan-golongan bangsa dipisahkan. Hal ini didasari oleh ketidaksukaan pemerintah Hindia Belanda akan kecenderungan percampuran berbagai bangsa seperti Timur Asing, Cina, Bugis, dan lain- lain. Pemerintah ingin bangsa-bangsa itu dipisahkan dan tidak dicampuradukkan (Ham, 2005: 12,13). Pengaruh politik devide et impera
Orang-orang Belanda secara politik dan ekonomis menduduki tempat teratas, Cina dan Arab masuk golongan kedua, dan pribumi masuk dalam golongan terbawah. Orang Cina dan Arab menduduki tempat khusus dalam kota-kota kolonial karena mereka tidak berperan dalam birokrasi kolonial tetapi berhubungan erat dengan perkembangan ekonomi. Penggolongan tersebut menimbulkan kecemburuan masyarakat pribumi karena orang-orang Cina tampak dianakemaskan oleh pemerintah. Kebencian pribumi terhadap orang Cina pun mulai terpupuk.
Selain adanya pembagian golongan bangsa-bangsa secara rasial, pemerintah kolonial juga memberlakukan wijkenstelsel dan passenstelsel. Wijkenstelsel merupakan sistem perkampungan berdasarkan kelompok etnik, dalam konteks ini orang Cina diharuskan tinggal terpisah dengan penduduk pribumi. Passenstelsel adalah sistem izin jalan yang diberlakukan terhadap orang Cina yang akan pergi keluar dari kampung Cina (Ham, 2005: 37). Aturan-aturan pemerintah Hindia Belanda tersebut dibuat untuk menghindari persatuan antarbangsa yang akan menentang pemerintahan. Peraturan ini menghambat proses asimilasi antarbangsa sehingga kekerabatan sulit terjalin. Stereotipe-stereotipe negatif pun muncul. Hal itu dikarenakan tidak adanya komunikasi secara teratur sehingga tidak saling mengerti adat dan budaya masing- masing. Masyarakat pribumi yang notabene beragama Islam menganggap orang Cina kafir karena kebiasaan makan daging babi.
Orang-orang Cina yang merantau ke Nusantara tidak semuanya dari golongan berada. Banyak di antara mereka yang menjadi kuli. Menurut
Suyono, para buruh atau kuli dari Cina menjadi pilihan para kolonial karena dikenal sebagai pekerja yang rajin (2005: 102). Alasan itu juga yang membuat orang-orang Cina terjebak dalam ’perbudakan’ kolonial. Selain mendatangkan kuli dari Cina, pemerintah kolonial juga mencari tenaga buruh dari penduduk Jawa. Menutur Ham, Di Sumatera Timur, penduduknya tidak banyak dan tidak menyukai pekerjaan sebagai buruh perkebunan (1983: 33). Oleh karena itu, pemerintah banyak mendatangkan buruh dari Jawa dan Cina.
Kemelaratan dan kemiskinan yang melanda Pulau Jawa mendorong penduduknya untuk merantau ke Deli. Melalui janji-janji manis mudahnya mendapatkan uang, adanya wanita-wanita muda di tanah Deli, dan kebebasan berjudi membuat banyak orang tertarik bekerja di Deli. Namun sebenarnya, mereka hanya dijadikan kuli perkebunan oleh kolonial (Suyono, 2005: 103). Para kuli dari Cina bekerja dalam pengawasan seorang Tandil dan Tandil Kepala yang berasal dari negeri yang sama. Dalam melaksanakan pekerjaannya, mereka mengadakan pelaksanaan dan pengawasan atas perintah-perintah yang dilakukan oleh asisten pengawas (Suyono, 2005: 107). Para Tuan Tandil adalah orang Cina yang kehidupannya lebih layak dibanding para kuli Cina . Para Tandil menetap di Indonesia. Sebagai seorang laki- laki, mereka membutuhkan kehadiran seorang pendamping. Baik sebagai pengurus rumah tangga maupun pemuas kebutuhan biologis. Oleh karena hukum perkawinan, para tandil ini tidak diijinkan untuk menikah. Pelarangan ini terkait dengan tugas-tugas mereka di perkebunan.
Perkawinan antarbangsa pribumi dengan Eropa (juga Cina tentunya) sampai dengan tahun 1930 masih belum bisa diterima. Memelihara wanita simpanan menj adi suatu pilihan yang tidak bisa dihindari. Bagi kalangan pekerja perkebunan, memelihara gundik merupakan suatu kewajaran (Suyono, 2005: 278). Tidak adanya keterikatan yang resmi membuat lelaki- lelaki bebas ’membuang’ nyainya bila sudah bosan. Seorang nyai harus rela menerima perlakuan demikain apabila status mereka secara ekonomi lebih rendah. Hal itu menunjukkan salah satu contoh perlakuan orang Cina terhadap perempuan pribumi. Namun, tidak sedikit pula orang Cina yang benar-benar memperlakukan perempua n pribumi selayaknya istri sah. Perkawinan antarbangsa dianggap tidak resmi, akan tetapi dengan kehadiran keturunan menunjukkan sebuah keseriusan hubungan. Menurut Salmon hal itu bisa dimaklumi karena hingga akhir abad ke-19 sedikit sekali wanita Cina yang merantau ke Nusantara. Tidak ada pilihan lain, para perantau laki- laki ini pun akhirnya ’mengawini’ perempuan pribumi (1985: 1). Lamanya mereka tinggal di Nusantara membuat lupa dengan tradisi asal. Hal ini menyebabkan keturunan mereka tidak mengenal negeri leluhurnya. Misalnya saja dalam penggunaan bahasa untuk berkomunikasi, mereka cenderung menggunakan bahasa Melayu dibanding dengan bahasa Cina.
Kedatangan orang Cina ternyata mendapat tanggapan pro kontra. Mereka hadir sebagai etnis yang termarginalkan dalam pergaulan masyarakat. Namun, keminoran warga Cina tersebut justru memperlihatkan “arti”. Keberartian itu tampak jelas dalam dunia perdagangan. Sejak awal kedatangan,
mereka sangat dikenal dengan kepiawaiannya berdagang. Strategi dagang mereka sangat mempengaruhi perekonomian kaum pribumi. Hal itu juga yang membuat pemerintah Hindia Belanda menempatkan orang Cina pada posisi kedua dalam pembagian golongan ras (Soekisman, 1975: 24).
Keberartian orang Cina juga tampak dalam karya sastra yang lahir dari para sastrawan Peranakan. Karya sastra muncul karena lamanya mereka menetap di Indonesia dan timbulnya kebutuhan hiburan yang dekat dengan identitas pribadi mereka. Karya sastra hadir sebagai wujud pembauran warga keturunan dengan bangsa Indonesia. Pembauran ini tampak dalam latar cerita, pemakaian tokoh-tokoh pribumi, dan yang jelas adalah penggunaan bahasa Melayu Rendah dalam penulisan karya mereka.