3. Dampak Kebijakan terhadap Input-Output
5.1 Kondisi Umum, Geografis dan Iklim Kota Depok
Kota Depok resmi berdiri menjadi suatu daerah otonom yang memiliki pemerintahan sendiri dengan kewenangan otonomi daerah beserta dengan perangkat kelengkapannya sejak penerbitan UU Republik Indonesia No. 15 tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan Kotamadya Daerah Tingkat II Cilegon. Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6,19º - 6,28º Lintang Selatan dan 106,43º - 106,55º Bujur Timur.
Kondisi iklim di daerah Depok relatif sama. Kota Depok beriklim tropis dengan perbedaan curah hujan cukup kecil yang dipengaruhi oleh angin muson. Musim kemarau jatuh pada periode April – September dan musim penghujan jatuh pada periode Oktober – Maret. Temperatur rata-rata adalah 24,3 – 33 0C, kelembaban udara rata-rata 82 persen, penguapan udara rata-rata 3,9 mm/th, kecepatan angin rata-rata 3,3 knot dan penyinaran matahari rata-rata 49,8 persen. Tingkat keasaman (pH) tanah rata-rata 6 dan jenis tanahnya merupakan campuran lempung dan tanah liat. Curah hujan rata-rata bulanan di Kota Depok sebesar 327 milimeter dan banyaknya hari hujan dalam satu bulan berkisar 10 sampai 20 hari. Kondisi iklim Depok yang tropis dan kadar hujan yang kontinu sepanjang tahun, mendukung pemanfaatan lahan di Kota Depok sebagai lahan pertanian.
Secara umum topografi wilayah Kota Depok di bagian utara merupakan dataran rendah dengan elevasi antara 40 – 80 m, meliputi kelurahan-kelurahan yang ada di bagian tengah dan utara, sedangkan di bagian selatan perbukitan bergelombang lemah dengan elevasi 80 – 140 m meliputi kelurahan-kelurahan yang berada dalam wilayah Kecamatan Sawangan, Pancoran Mas, Sukmajaya dan Cimanggis.
Kota Depok mempunyai luas wilayah sekitar 200,29 km2 atau 20.029 Ha dengan luas penggunaan lahan sawah tahun 2010 adalah 932 Ha dan luas penggunaan lahan bukan sawah adalah 19.097 Ha. Kota Depok beribukota di Kecamatan Pancoran Mas. Pada akhir tahun 2009, Kota Depok melakukan pemekaran wilayah kecamatan yang semula enam kecamatan menjadi sebelas kecamatan. Adapun pemekaran ini dituangkan dalam Perda Kota Depok No. 8 Tahun 2007 dengan implementasi mulai dilaksanakan tahun 2009. Wilayah yang
67 mengalami pemekaran ada lima kecamatan, terdiri atas Kecamatan Tapos merupakan pemekaran dari Kecamatan Cimanggis, Kecamatan Bojongsari pemekaran dari Kecamatan Sawangan, Kecamatan Cilodong pemekaran dari Kecamatan Sukmajaya, Kecamatan Cipayung pemekaran dari kecamatan Pancoran Mas dan Kecamatan Cinere pemekaran dari kecamatan Limo.
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Kota Depok mencapai 1.736.565 jiwa, yang terdiri dari penduduk laki-laki 879.325 jiwa dan penduduk perempuan 857.240 jiwa, dengan kepadatan penduduk mencapai 10.101 jiwa/km². Berdasarkan hasil survei Angkatan Kerja Nasional tahun 2009, sebanyak 18.008 orang penduduk Kota Depok bekerja di bidang pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan. Sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap PDRB Kota Depok sebesar Rp 310.313,22 atau 2,21 persen dari total PDRB Kota Depok tahun 2009. Meskipun angka ini tergolong kecil, namun sektor pertanian masih memegang peranan yang cukup penting dalam rangka pemerataan kesejahteraan rakyat/penduduk Kota Depok, mengingat masih ada banyak penduduk Kota Depok yang bermata pencaharian sebagai petani. Oleh karena itu, pemerintah masih harus memberikan perhatian yang cukup untuk sektor ini agar kesejahteraan penduduk di Kota Depok dapat dirasakan oleh seluruh golongan. Data mengenai PDRB Kota Depok atas harga berlaku tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20. Produk Domestik Regional Daerah (PDRB) Kota Depok Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2009
No Lapangan Usaha Nilai
(Rp)
Persentase (%)
1 Pertanian 310.313,22 2,21
2 Pertambangan dan Penggalian 0,00 0,00
3 Industri Pengolahan 5.101.036,02 36,27
4 Listrik,Gas dan Air Minum 582.438,11 4,14
5 Bangunan/Konstruksi 647.930,14 4,61
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 4.999.830,68 35,55
7 Angkutan dan Komunikas 921.390,36 6,55
8 Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 465.101,09 3,31
9 Jasa-Jasa 1.035.876,50 7,31
Produk Domestik Regional Bruto 14.063.916,12 100,00 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Depok (2011)
68 Beberapa komoditas unggulan Kota Depok yang potensial untuk dikembangkan antara lain adalah :
1) Subsektor tanaman pangan dan perkebunan : belimbing dan tanaman hias 2) Subsektor perikanan : ikan hias dan ikan patin
3) Subsektor peternakan : ayam ras pedaging dan kambing 5.1.1 Kondisi Umum Kecamatan Pancoran Mas
Kecamatan Pancoran Mas merupakan salah satu sentra produksi belimbing dewa di Kota Depok. Kecamatan ini juga merupakan Ibukota Depok. Luas wilayah Kecamatan Pancoran Mas adalah 18,17 km2 yang terdiri dari 6 kelurahan, 104 Rukun Warga (RW) dan 608 Rukun Tetangga (RT).
Jumlah penduduk Kecamatan Pancoran Mas pada tahun 2010 mencapai 210.204 jiwa, yang terdiri dari 106.322 penduduk laki-laki dan 103.882 penduduk perempuan. Kepadatan penduduknya sebanyak 11.568 jiwa/km². Pada tahun 2009, sebagian besar penduduk Kecamatan Pancoran Mas bermata pencaharian utama di bidang industri yaitu sebanyak 9.756 orang atau 28,43 persen dari total angkatan kerja di Kecamatan Pancoran Mas yang bekerja. Penduduk yang memiliki mata pencaharian utama di bidang pertanian sebanyak 1.107 orang atau 3,23 persen dari total angkatan kerja di Kecamatan Pancoran Mas yang bekerja. Sebaran penduduk Kecamatan Pancoran Mas berdasarkan jenis usahanya dapat dilihat pada Tabel 21. Tabel 21. Sebaran Penduduk Kecamatan Pancoran Mas Berdasarkan Jenis
Usahanya Tahun 2009
No. Jenis Usaha Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Pertanian 1.107 3,23
2 Pertambangan dan penggalian 346 1,01
3 Industri 9.756 28,43
4 Listrik, gas dan air 1.158 3,37
5 Konstrusi/bangunan 972 2,83
6 Perdagangan, hotel dan restoran 5.561 16,21
7 Angkutan 1.463 4,26
8 Lembaga keuangan 1.297 3,78
9 Jasa-jasa 4.268 12,44
10 Lainnya 8.385 24,44
Jumlah 34.313 100,00
69 Berdasarkan tingkat pendidikan pada tahun 2009, terdapat 20.526 orang yang menamatkan pendidikan sekolah dasarnya, sedangkan 918 dan 2.194 orang lainnya tidak tamat SD dan belum sekolah. Selain itu, terdapat 10.554 dan 14.019 orang tamat pendidikan SMP dan SMA, 3.430 orang tamat Akademi, serta 1.662 orang tamat Perguruan Tinggi.
5.1.2 Kondisi Umum Kecamatan Cipayung
Kecamatan Cipayung merupakan pemekaran Kecamatan Pancoran Mas, dimana sebelum terjadi pemekaran wilayah kecamatan, wilayah ini merupakan bagian dari Kecamatan Pancoran Mas yang merupakan salah satu sentra produksi belimbing dewa di Kota Depok. Luas wilayah Kecamatan Cipayung adalah 11,66 km2. Kecamatan Cipayung terdiri dari 5 kelurahan, 52 RW dan 321 RT.
Jumlah penduduk Kecamatan Cipayung pada tahun 2010 mencapai 127.707 jiwa yang terdiri dari 65.160 penduduk laki-laki dan 62.547 penduduk perempuan. Kepadatan penduduknya sebanyak 10.953 jiwa/km². Pada tahun 2009 sebagian besar penduduk Kecamatan Cipayung bermata pencaharian di bidang jasa yaitu sebanyak 3.680 orang. Penduduk yang memiliki mata pencaharian utama di bidang pertanian sebanyak 1.173 orang atau 7,21 persen dari total penduduk Kecamatan Cipayung. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah petani di Kecamatan Cipayung lebih banyak dibandingkan di Kecamatan Pancoran Mas. Sebaran penduduk Kecamatan Cipayung berdasarkan jenis usahanya di sektor pertanian dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22. Jumlah Penduduk Kecamatan Cipayung Berdasarkan Jenis Usahanya Tahun 2009
No. Jenis Usaha Jumlah (Orang) Persentase (%)
1. Pertanian 1.173 7,21
2. Pertambangan dan penggalian 258 1,59
3. Industri 3.307 20,33
4. Listrik, gas dan air 325 2,00
5. Konstrusi/bangunan 495 3,04
6. Perdagangan, hotel dan restoran 2.635 16,20
7. Angkutan 434 2,67
8. Lembaga keuangan 392 2,41
9. Jasa-jasa 3.680 22,62
10. Lainnya 3.567 21,93
Jumlah 16.266 100,00
70 Berdasarkan tingkat pendidikan pada tahun 2009, terdapat 8.626 orang yang menamatkan pendidikan sekolah dasarnya. Sedangkan 842 dan 2.130 orang lainnya tidak tamat SD dan belum sekolah. Selain itu, terdapat 8.424 dan 8.094 orang yang tamat pendidikan SMP dan SMA, 1.444 orang tamat Akademi, dan 497 orang tamat Perguruan Tinggi.