• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Kerukunan

Dalam dokumen Buku Riset Kebijakan Agama (Halaman 131-137)

M Adlin Sila

2. Konsep Kerukunan

Sejak kapan istilah kerukunan itu digunakan? Bagian ini melacak bahwa ternyata sudah sejak lama istilah kerukunan menjadi slogan pemerintah dalam mengatur masyarakat Indonesia yang majemuk. Pemerintah sejak awal rezim Orde Baru telah mengeluarkan beberapa kebijakan kerukunan beragama di tengah-tengah masyarakat. Lihat saja pernyataan Menteri Agama, K.H.M. Dachlan dalam pidato Pembukaan Musyawarah Antar Agama 30 Nopember 1967:

‘Adanya kerukunan antara golongan beragama adalah syarat mutlak bagi terwujudnya stabilitas politik dan ekonomi yang program Kabinet Ampera. Oleh karena itu, kami mengharapkan sungguh adanya kerjasama antara Pemerintah dan masyarakat beragama untuk menciptakan “iklim kerukunan beragama” ini, sehingga tuntutan hati nurani rakyat dan cita-cita kita bersama ingin mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang dilindungi Tuhan Yang Maha Esa itu benar-benar dapat terwujud’.6

Kerusuhan Ambon. Laporan Terbatas disampaikan kepada Kapolri; serta 1999b. Laporan Kerusuhan Sambas. Laporan Terbatas disampaikan kepada Kapolri.

6 Tarmizi Taher mendeinisikan kata kerukunan yang berasal dari Bahasa Arab, yaitu

Menurut Tarmizi Taher, yang juga adalah Menteri Agama pada tahun 1993-1998, dari pidato K.H.M. Dachlan inilah kerukunan digunakan sebagai istilah baku dalam GBHN, Keputusan Presiden, dan Keputusan Menteri Agama. Bahkan dalam Repelita Pertama menjadi nama Proyek Pembinaan Kerukunan Beragama. Sampai dengan tahun 1980-an, konsep kerukunan beragama telah menjadi padanan kata dari toleransi beragama

(religious tolerance) dan mendapatkan dukungan dari berbagai pemimpin

agama.

Pada masa Menteri Agama dijabat oleh H. Alamsyah Ratu Perwiranegara, pemerintah berhasil mempertemukan pemimpin-pemimpin agama di Indonesia untuk membentuk suatu badan kontak atau forum komunikasi antar umat beragama pada tanggal 30 Juni 1980 yang diberi nama: Wadah Musyawarah Antar Umat Beragama (WMAUB). Wadah Musyawarah Antar Umat Beragama ini melakukan serangkaian kegiatan seperti: dialog, diskusi, seminar, diskusi, baik di tingkat internasional, nasional, regional dan daerah sampai tingkat kecamatan. Begitupun, kunjungan ke daerah- daerah dan membuat beberapa kesepakatan dalam rangka memelihara dan meningkatkan kerukunan umat beragama. Ditambah lagi, berbagai penelitian dan pengkajian tentang kerukunan umat beragama, serta penerbitan berbagai buku untuk mendukung peningkatan kerukunan umat beragama, seperti Bingkai Teologi Kerukunan Hidup Umat Beragama

di Indonesia, yang disusun oleh tokoh-tokoh representatif dari MUI,

PGI, KWI, PHDI dan WALUBI. Buku lain adalah Kompilasi Peraturan

Perundang-undangan tentang Kerukunan Hidup Umat Beragama. Selain

buku-buku lain yang berasal dari hasil penelitian, seminar, dan dialog tentang kerukunan hidup umat beragama.7

Di beberapa daerah dibentuk forum komunikasi antar umat beragama

umat yang berbeda-beda agamanya. Lih. Tarmizi Taher. “Mewujudkan Kerukunan Sejati Dalam Konteks Masyarakat Majemuk Indonesia Menyonsong Abad ke -21”. Dalam Weinata Sairin (ed.). Kerukunan Umat Beragama Pilar Utama Kerukunan Berbangsa: Butir-butir Pemikiran. BPK Gunung Mulia, 2001: Hal. 55.

7 Azyumardi Azra dan Saiful Umam (eds.). Menteri-Menteri Agama RI: Biograi Sosial Politik. Jakarta: INIS, PPIM, dan Balitbang Departemen Agama, 1998.

seperti di Sulawesi Utara, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Di Sumatera Utara dikenal dengan Badan Kerjasama Antar Umat Beragama atau BKSAU. Badan ini dibentuk pada tahun 1969 dan sampai sekarang masih berfungsi dengan baik. Badan yang mendapat biaya rutin dari Pemerintah Daerah setempat ini dibentuk dari tingkat Propinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa. Di Sumatera Utara ada Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKPA). FKPA dibentuk sampai tingkat kecamatan dan didukung dana dari APBD. Sedangkan di Sumatera Selatan ada Forum Komunikasi Umat Sumatera Selatan atau FOKUSS. Saat itu, Menteri Agama membentuk 3 buah lembaga pengkajian tentang kerukunan umat beragama di tiga kota, yaitu Yogyakarta, Medan dan Ambon. Lembaga ini bernama Lembaga Pengkajian Kerukunan Umat Beragama yang disingkat LPKUB.8

Pernyataan K.H.M. Dachlan di atas dapat disandingkan dengan konsep Menteri Agama lainnya seperti A. Mukti Ali, Menteri Agama 1971-1978, yang mengatakan bahwa “Kerukunan hidup beragama adalah suatu kondisi sosial di mana semua golongan agama bisa hidup bersama-sama tanpa mengurangi hak dasar masing-masing untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Masing-masing hidup sebagai pemeluk agama yang baik, dalam keadaan rukun dan damai”.9 Hayat, dalam Mengelola Kemajemukan Umat

Beragama, menyebutkan setidaknya ada tiga prinsip dasar dalam konsep

kerukunan yaitu, prinsip mengakui (to accept), menghargai (to respect)

eksistensi agama lain dan bekerjasama (to cooperate). Selain itu, dalam

harmonisasi kehidupan beragama, Hayat menyatakan bahwa pendekatan modal sosial (social capital) dapat mengatasi persoalan teologis dan

relasional di kalangan umat beragama.10 Konsepsi kerukunan lainnya oleh 8 Ibid., Menteri-Menteri Agama, Biograi Sosial Politik, 1998.

9 A. Mukti Ali, Agama dan Pembangunan di Indonesia VI, (Jakarta: Biro Hukum dan Humas

Departemen Agama, 1975), h. 70. Lihat juga Munhanif, Ali (1998), “Prof. Dr. A. Mukti Ali: Modernisasi Politik-Keagamaan Orde Baru,” dalam Azyumardi Azra dan Saiful Umam (eds.), Menteri-Menteri Agama RI: Biograi Sosial-Politik.

10 Bahrul Hayat. Mengelola kemajemukan umat beragama. Jakarta: PT. Saadah Cipta

Mandiri, 2012. Hal yang sama dapat dirujuk dalam Bernard Adeney “Religion, Violence and Diversity: Negotiating the Boundaries of Indonesian Identity”, dalam Carl Sterkens, Muhammad Machasin, and Frans Wijzen, Religion, civil society and conlict in Indonesia

Hasbullah Bakri, dalam bukunya Pendekatan Dunia Islam dan Dunia Kristen,

mengatakan bahwa kerukunan beragama dalam pengertian praktis dapat diartikan ko-eksistensi secara damai antara satu atau lebih golongan agama dalam kehidupan ber agama.11 Sementara penulis lainnya, Amir Syarifuddin,

mengatakan, ‘kerukunan hidup antar-umat beragama adalah suatu cara untuk memper temukan, atau mengatur hubungan luar antara orang-orang berlainan agama dalam proses bermasyarakat, jadi kerukunan antar-umat beragama tidak berarti menyatukan agama-agama yang berbeda’.12

Sepanjang kekuasaan rezim Orde Baru, konsep kerukunan beragama ini diwujudkan dalam tiga aspek; 1) kerukunan intern umat beragama, 2) kerukunan antar umat yang berbeda-beda agama, dan 3) kerukunan antara (pemuka) umat beragama dengan pemerintah. Trilogi kerukunan umat beragama ini telah menjadi senjata handal dalam mengatasi persoalan ketidakrukunan dalam masyarakat selama masa Orde Baru. Demi mewujudkan Trilogi Kerukunan itu, beberapa kebijakan dikeluarkan selama Orde Baru berkuasa diantaranya adalah: 1) Undang-Undang Nomor 1 /PNPS/1965, tanggal 25 Januari 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama beserta penjelasannya, yang kemudian disahkan dengan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1969, 2) Keputusan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (SKB) Nomor 01/ BER/mdn-mag/1969 tentang Pelaksanaan Tugas Aparatur Pemerin tahan dalam Menjamin Ketertiban dan Kelancaran Pelaksanaan Pengembangan Ibadat Agama oleh Pemeluk-pemeluknya, 3) Keputusan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (SKB) Nomor 1 Tahun 1979, tanggal 2 Januari 1979 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penyiaran Agama dan Bantuan Luar Negeri kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia, 4) Instruksi Menteri Agama Nomor 4 Tahun 1978, tanggal 13 April 1978 tentang Kebijaksanaan Mengenai Aliran Kepercayaan, 5) Instruksi Menteri Agama

menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM).

11 Hasbullah Bakri, Pendekatan Dunia Islam dan Dunia Kristen, (Jakarta : PT.Grain Utama

, 1983), h. 6.

12 Amir Syarifuddin, Transkrip ceramah pembekalan KKN IAIN Imam Bonjol Padang, Januari

Nomor 8 Tahun 1979, tanggal 27 September 1979 tentang Pembinaan, Bimbingan dan Pengawasan terhadap Organisasi dan Aliran dalam Islam yang bertentangan dengan Ajaran Islam (Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji, Kepala Badan Litbang Agama, Inspektur Jenderal, Kepala Kantor Departemen Agama (Kemenag) Provinsi, Kejaksaan Agung, Departemen Dalam Negeri (Kemendagri), BAKIN dan aparatur Pemerintah Daerah serta Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan 6) Surat Edaran Menteri Agama Nomor MA/432/1981 tentang Penyeleng garaan Hari-hari Besar Keagamaan.

Setelah lengsernya rezim Orde Baru, atau pada era reformasi, beberapa peraturan tambahan dikeluarkan seperti; 1) Peraturan Bersama Menteri (PBM) Nomor 9&8 Tahun 2006 yang ditandatangani oleh Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri. PBM yang sebenarnya nama lain dari SKB (minus Kejaksaan agung) ini mengatur tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan Pendirian Rumah Ibadat. 2) SKB Menteri Agama, Kejaksaan Agung dan Menteri Dalam Negeri Tahun 2008 terkait peringatan pemerintah terhadap penganut Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan masyarakat. 3) Surat Edaran Sekjen Kemenag Nomor SJ/B.V/ BA.01.2/2164/2007 tentang kewaspadaan terhadap aliran sempalan dan SJ/B.V/HK.0071.08/2014 tentang Pedoman Penanganan Aliran dan Gerakan Keagamaan Bermasalah di Indonesia, dan UU Nomor 7 Tahun 2012 tentang penanganan konlik sosial yang terkait faham keagamaan yang memicu konlik sosial. Bahkan di dalam Pasal 165 KUHP sendiri telah ada pasal-pasal yang mencegah kekerasan dan hasutan kebencian (hate speech)

berdasarkan agama atau latarbelakang lainnya. Dan 4) SKB Menteri Agama, Kejaksaan Agung dan Menteri Dalam Negeri Nomor 93 Tentang Kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) pada 26 Februari 2016.

Deretan peraturan yang terkait kerukunan umat beragama ini (misalnya, PNPS, SKB dan PBM) telah menjadikan Indonesia sebagai negara dengan

paling banyak aturan tentang agama, mengutip kesimpulan Ismatu Ropi.13

Tapi, dari beberapa wawancara dengan petinggi di Kementerian Agama, keberadaan peraturan itu adalah untuk menjamin agar kebebasan beragama tidak ‘kebablasan’. Bahkan, saat ini, Kementerian Agama sedang menyusun Rancangan Undang-Undang Perlindungan Umat Beragama, disingkat RUU PUB, yang sebagian besar isinya adalah regulasi yang sudah ada seperti PNPS, SKB, dan PBM. Dalam beberapa kesempatan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, menyampaikan bahwa salah satu tujuan dari penyusunan RUU PUB itu adalah menyediakan sebuah UU yang bersifat organik dan imperatif, yang berlaku umum dan memiliki implikasi hukum untuk semua pemeluk agama.

Memang terdapat pendapat yang pro maupun yang kontra terhadap RUU PUB tersebut. Yang pro setuju kalau SKB ditingkatkan menjadi sebuah UU. Sementara yang kontra meminta agar penekanan pada perlindungan terhadap kebebasan umat beragama dalam menjalankan keyakinan dan praktik keagamaannya lebih dikedepankan.14 Namun, kedua kelompok

sepakat agar negara harus hadir (Baca: penegakan hukum) dalam memberikan perlindungan terhadap umat beragama, terutama yang selama ini rentan terhadap tindakan intoleransi dan diskriminasi. Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, menyatakan di salah satu koran nasional bahwa setiap orang yang berasal dari kelompok agama manapun dan apakah negara mengakui keyakinan keagamaannya atau tidak, berhak memperoleh perlindungan negara. Tidak akan ada lagi istilah agama yang diakui negara dan tidak karena yang lebih penting adalah bagaimana negara memenuhi hak-hak sipil dan melindungi semua kelompok umat beragama. Oleh karena itu, Menteri Agama setuju dengan pendapat Menteri Dalam Negeri, Tjahyo Kumolo, untuk memberikan kebebasan bagi kelompok penganut kepercayaan mengosongkan kolom agama di kartu identitas mereka.15

13 Ismatu Ropi. Religion and Regulation in Indonesia. Palgrave Macmillan, 2017. 14 Rumadi Ahmad. ‘RUU Pelindungan Umat Beragama’, Kompas, Desember 2014. 15 Sejak diberlakukannya UU Adminduk Tahun 2006 (dan dipertegas oleh UU no.

24 Tahun 2013 tentang Perubahan UU Adminduk) telah memberikan kebebasan bagi para pemeluk “agama yang belum diakui” untuk tidak mencantumkan status agama di

Selama kekuasaan Orde Baru, muncul kasus-kasus ketidakrukunan atau intoleransi yang membuat kebijakan kerukunan beragama menjadi sasaran tembak para penggiat HAM. Kebijakan pemerintah selama itu telah menjadi kontrol tindakan sosial terhadap penganut agama yang berbeda. Bahkan dianggap membatasi kebebasan beragama di masyarakat. Terdapat kesan bahwa negara beserta perangkat hukumnya hanya melindungi penganut agama-agama yang dipeluk mayoritas masyarakat Indonesia, sementara sistem kepercayaan yang dipeluk oleh kelompok minoritas seperti komunitas adat tertentu, atau kelompok faham keagamaan yang dianggap sempalan, tidak memperoleh perlindungan yang memadai. Harus diakui bahwa penegakan hukum (law enforcement) perlindungan umat beragama

masih meninggalkan catatan-catatan kelam. Dengan dalih melindungi keyakinan dan amalan kelompok arus utama (mainstream), seseorang atau

kelompok masyarakat dapat dikenakan delik penodaan agama. Menurut Ayu Melissa, peneliti dari Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Paramadina (2013), kerapkali masyarakat atau lembaga keagamaan menggunakan UU No.1/PNPS/1965 untuk mengkriminalkan seseorang atau kelompok dengan tuduhan penodaan agama.16

Dalam dokumen Buku Riset Kebijakan Agama (Halaman 131-137)