M Adlin Sila
4. Konstektualisasi Pluralisme agama
Sebenarnya, pluralisme agama telah menjadi dasar dari kebijakan pemerintah dalam mengelola keragaman agama sejak Indonesia merdeka. Hal itu bisa dilihat dari pengesahan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945 oleh PPKI dengan mengubah istilah Mukadimah, dari Bahasa Arab, menjadi Pembukaan UUD, dan butir pertama yang berisi kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya, diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, yang dikenal dengan Piagam Jakarta. Bagi penulis, upaya PPKI ini adalah bentuk penerapan konsep pluralisme agama yang awal dimana konstitusi kita tidak mengatasnamakan agama tertentu, tapi melingkupi semua agama. Hanya saja, ketika Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Piagam Jakarta dinyatakan Menjiwai UUD 1945 dan adalah suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi. DPR pada saat itu menerima hal ini dengan Aklamasi pada tanggal 22 Juli 1959. Artinya apa? Meskipun konstitusi kita memberikan ruang yang sama bagi semua agama, Piagam Jakarta yang berlandaskan kepada nilai-nilai Islam dan dipeluk mayoritas masyarakat Indonesia, menjadi nilai-nilai dominan bagi penyusunan konstitusi kita.
Dalam konteks kekinian, pluralisme sering dipadankan dengan konsep teologi inklusivisme, untuk membedakannya dengan sikap keberagamaan yang eksklusif, yang memandang bahwa agamanyalah yang benar dan agama lain adalah sesat. Sebaliknya, penganut agama yang pluralis berpandangan bahwa semua agama benar, sehingga tidak sepantasnya bersikap eksklusif dengan klaim kebenarannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa sikap eksklusif ini seringkali muncul manakala seseorang atau sekelompok orang merasa terancam oleh kekuatan eksternal. Boleh juga, sikap eksklusif lahir akibat perasaan superior atau dominan atas kelompok lain yang dianggapnya subordinat. Yang terakhir ini lazim ditemukan pada masyarakat mayoritas homogen dari segi agama. Selama rezim Orde Baru berkuasa, klaim-klaim kebenaran dari umat beragama tertentu apakah itu dari kelompok mayoritas, apalagi yang minoritas, sebisa mungkin diredam. Bahkan kalau perlu dengan menggunakan kekuatan militer.
Konsep toleransi beragama yang berdasarkan pada pluralisme agama, seperti yang pernah digulirkan oleh Nurcholish Madjid, kembali digagas dan dibicarakan oleh berbagai kalangan.44 Pluralisme agama dianggap
dapat mengatasi kekurangan dari konsep kerukunan beragama di masa lalu. Hanya saja, secara teologis, gagasan pluralisme agama ini kurang mendapatkan tempat di kalangan umat Islam, termasuk Sekularisme dan Liberalisme (yang disingkat Sipilis) seiring dengan dikeluarkannya Fatwa MUI yang mengharamkan ketiganya.45 Meskipun ketiga isme tersebut
berlainan satu dengan yang lainnya. Dan tidak bisa begitu saja dapat digabungkan karena, menurut Bagir, kita akan salah memahaminya. Bagir sendiri memperkenalkan istilah pluralisme kewargaan, yaitu hadirnya beragam agama (religious plurality) di ruang publik yang memiliki hak
44 Bukan hanya Pluralisme Agama, Noercholish Madjid juga mengadvokasi gagasan
Sekularisme dan Liberalisme sepanjang kehidupan intelektualnya (Lihat Budhy Munawar- Rachman (ed.). Ensiklopedi Noercholish Madjid. Jakarta: Mizan dan Paramadina, 2006; dan Charles Kurzman dalam Liberal Islam: A Sourcebook. New York: Oxford University
Press, 1998).
45 Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: 7/Munas VII/MUI/11/2005 Tentang
Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama. Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan, 1) Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan, 2) Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (al-Qur’an dan Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas, dan hanya menerima doktrin- doktrin agama yang sesuaid engan akal pikiran semata, 3) Sekulerisme agama adalah memishkan urusan dunia dari agama, agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial. Kedua : Ketentuan Hukum, 1)Pluralisme, Sekulerisme, dan Liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, 2) Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme, Sekulerisme dan Liberalisme agama, 3) Dalam masalah aqidahdan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain, 4) Bagi masyarakat Muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain lain (pluralitas agama), dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan agama lain sepanjang tidak saling merugikan.
yang setara dalam ‘tata kelola sosial-politik’.46 Tapi konsepsi Bagir ini
juga masih belum memuaskan semua pihak. Beberapa pihak kemudian mencoba menggunakan istilah lain agar pluralisme agama dapat diterima secara luas.47 Misalnya K.H. Hasyim Muzadi, dalam Bagir, mengusulkan
pluralisme sosiologis, atau pluralisme agama yang sesuai dengan bangunan sosial masyarakat Indonesia.48 Artinya, beragama secara ekslusif (misalnya,
tetap menjadi Muslim yang taat, tidak mencampurkan dengan teologi agama lain) tapi dapat pula menjadi pluralis dalam waktu yang bersamaan dengan menganggap umat beragama lain memiliki hak setara dalam status kewarganegaraan.
Sejatinya, dengan memperhatikan pokok-pokok tentang keragaman budaya (cultural plurality) dan dihubungkan dengan kondisi negara
Indonesia saat ini, kiranya menjadi jelas bahwa konsep itu perlu dikembangkan di Indonesia (Baca: kontekstualisasi). Dukungan terhadap keragaman budaya akan lebih memaknai keragaman agama di Indonesia, yang diyakini akan memperkaya konsep pelindungan umat beragama. Gagasan pluralisme agama menghargai dan menghormati hak-hak sipil, termasuk hak-hak kelompok minoritas, tetap memperhatikan hubungan antara posisi negara Indonesia sebagai negara yang berdasarkan Pancasila. Artinya, ketika konsep ini diterapkan di Indonesia, harus disesuaikan dengan konsep negara dan karakteristik masyarakat Indonesia yang menjadikan Sila Pertama Pancasila yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sumber inspirasi dalam penyusunan peraturan tentang kerukunan antar umat beragama.49
46 Zainal Abidin Bagir (ed.). Pluralisme Kewargaan: Arah Baru Politik Keragaman di Indonesia. Yogyakarta: Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana,
Universitas Gadjah Mada, 2011. Lihat juga Budhy Munawar-Rachman (ed.) (2010),
Membela Kebebasan Beragama: Percakapan tentang Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme
(Jakarta: Lembaga Studi Agama dan Filsafat [LSAF] dan Yayasan Wakaf Paramadina).
47 Ibid., Zainal Abidin Bagir, 2011. 48 Ibid., Zainal Abidin Bagir, 2011.
49 Dr.H. Saleh Partaonan Daulay M.Ag, M.Hum, MA, dalam Seminar Nasional
“Pelindungan Pemerintah Terhadap Pemeluk Agama”. Dalam rangka menyambut Hari Amal Bhakti Kementerian Agama RI ke 69, 18 Desember 2014, Kementerian Agama RI, Jl.M.H. hamrin, No. 6, Jakarta.
Sebagai negara yang memiliki falsafah Pancasila dan UUD 1945, negara menjamin kemerdekaan tiap penduduk Indonesia untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu sebagaimana termuat dalam pasal 29 (2) UUD 1945. Jaminan kemerdekaan beragama dalam konstitusi Indonesia ini dianggap sangat maju pada zamannya. Bahkan sudah ada sebelum kelahiran Deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia (Declaration of Human Rights). Dalam
deklarasi HAM pasal 18 dikatakan bahwa: ‘Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, keinsafan batin dan agama; dalam hak ini termasuk kebebasan berganti agama atau kepercayaan, dan kebebasan untuk menyatakan agama dan kepercayaan nya dengan cara mengajarkannya, melakukannya, beribadat dan menepatinya, baik sendiri maupun bersama sama dengan orang lain, dan baik di tempat umum maupun yang tersendiri’.
Namun demikian, pelaksanaan HAM tidak berlaku mutlak dan tanpa mengenal batas. Dalam proses pembentukan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia, pemberian kebebasan beragama didasarkan atas konstitusi negara Indonesia, yaitu Pancasila dan UUD 1945 yang menempatkan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Sila atau dasar yang pertama dan utama.50 Artinya, negara memberikan kebebasan
untuk memilih agama apa saja, selama agama yang dipeluk itu berpegang pada prinsip Tuhan Yang Esa.
Sementara ini, terdapat enam agama yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat Indonesia dan sudah memperoleh pelayanan dari pemerintah. Terkait mereka yang tidak ingin memeluk agama tertentu dan tetap bertahan dengan keyakinannya itu, maka praktik yang selama ini ada adalah negara dapat memberikan kebebasan untuk itu selama kebebasan itu tidak digunakan untuk menyebarkan kebencian terhadap suatu agama yang dipeluk mayoritas penduduk di Indonesia, atau menyebarkan faham untuk tidak beragama (ateisme) kepada orang lain di ruang publik. Yang menjadi persoalan adalah apakah ketika mereka memilih untuk tidak beragama (atau tidak berailiasi dengan enam agama yang dipeluk 50 Ibid., Dr.H. Saleh Partaonan Daulay, 2014.
mayoritas masyarakat Indonesia) tetap memperoleh jaminan pelayanan hak-hak sipil dari negara seperti akte pernikahan dan akte kelahiran untuk anak-anak mereka, atau memiliki hak untuk menjadi PNS (ASN) atau TNI dan POLRI? Sumbangan dari para peneliti tentang solusi dari persoalan ini sangat diharapkan untuk memberikan masukan bagi pemerintah.
Nilai-nilai yang menempatkan posisi sentral agama dalam negara ini menjadi dasar dari kehadiran UU No 1/PNPS/1965. Sejak dahulu upaya untuk tidak memisahkan urusan negara dengan agama dilakukan. Tapi kerap kurang berhasil. Dan menurut Hurd, upaya tersebut selalu berimplikasi hukum.51
“Bagaimanapun, Negara Hukum kita berdasarkan Pancasila, yang bukan Negara Agama, berdasarkan –“Einheit” antara Negara dan Agama dan yang tidak menganut “separation” dalam batas-batas yang tajam dan strict, seperti dianut oleh Negara-negara Barat dan Negara-negara Sosialis yang bahkan mengikut-sertakan sanctie pidana pada azas “separation” tersebut,…”.52
Tidak adanya pemisahan antara agama dan negara dalam urusan pemerintahan di Indonesia ini yang kemudian membedakan prinsip kebebasan beragama di Indonesia dengan negara-negara lainnya. ‘Dalam bangsa kita, agama dan negara bisa dibedakan, namun tak bisa dipisahkan. Agama dan negara seperti dua sisi pada keping mata uang. Bisa dibedakan, namun tak bisa dipisahkan’, demikian kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di hadapan 514 pengasuh pesantren peserta Halakah Pimpinan Pondok Pesantren se-Provinsi Jambi. Menurutnya lagi, meski mayoritas 51 Elizabeth Shakman Hurd, Beyond Religious Freedom: he New Global Politics of Religion.
Princeton University Press, 2015: Hal. 92.
52 Oemar Seno Adji adalah Guru Besar Fakultas Hukum UI sejak 1959, dan menjabat Dekan
Fakultas Hukum UI (1966-1968). Pada 1966 =-1974, dia menjabat Menteri Kehakiman RI (1966-1974) dan Ketua Mahkamah Agung RI (1974-1982). Setelah itu, dia kembali ke dunia akademis memimpin Universitas Krisnadwipayana sebagai rektor (1981-1984). Bukunya
berjudul Perkembangan Hukum Pidana dan Hukum Acara Pidana Sekarang dan di masa jang akan Datang. Jakarta: Pantjuran Tujuh,1983: Hal. 50.
penduduknya beragama Islam, para pendiri bangsa tidak memilih Islam sebagai agama negara layaknya Arab Saudi dan Iran. Namun demikian, Indonesia juga bukan negara sekular layaknya Amerika Serikat. Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.53
Kenyataannya memang, terdapat beberapa praktik menyimpang dari pelaksanaan UU No 1/PNPS/1965 dengan melihat banyaknya kasus- kasus intoleransi terhadap kelompok minoritas Islam. Atas dasar itu, beberapa penggiat HAM mengajukan pengujian UU (judicial review) ke
Mahkamah Konstitusi (MK). Tapi putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 140/PUU-VII/2009 tentang Penolakan Pengujian Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama membuktikan bahwa UU tersebut masih dibutuhkan untuk membatasi kebebasan beragama jika dianggap telah menimbulkan keresahan bagi penganut agama yang mayoritas dipeluk atau arus utama
(mainstream religions). Ini yang disebut dengan kontekstualisasi pluralisme
agama. Yaitu kebebasan beragama yang menghormati nilai-nilai agama masyarakat. Bentuk kesadaran yang seperti ini disebut juga sebagai pengutamaan hak-hak komunal (communal rights) dibanding hak-hak
individu (individual rights).54 Pengutamaan terhadap hak-hak komunal
ini digolongkan sebagai, meminjam istilah Menchik, bentuk toleransi komunal (communal tolerance).55
Bahkan, Hurd menemukan bahwa justru dengan memperjuangkan hak-hak kelompok minoritas, menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial di masyarakat. Contoh kasus di Turki, dimana Hurd membedakan antara lived religion sebagai lawan dari governed atau oicial religion. Pemerintah Turki menempatkan kelompok status agama minoritas dengan hanya memasukkan Yahudi, Armenia dan Greeks. Sementara kelompok masyarakat asli Turki seperti Kurdi, Laz dan Circessian tidak diberikan hak-haknya. Ketika mereka memperjuangkan hak-haknya maka akan 53 https://www.kemenag.go.id, akses tanggal 12 Maret 2017.
54 Jeremy Menchik. Islam and Democracy in Indonesia: Tolerance Without Liberalism.
Cambridge University Press, 2016.
berhadapan dengan hukum. Hurd berkesimpulan bahwa pelaksanaan kebebasan beragama di setiap negara tidak ada yang tunggal tapi beragam.56
Untuk kasus Indonesia, formula pengelolaan kebebasan beragama dapat mengambil inspirasi pada partikularitas budaya masyarakatnya.57
Dalam antropologi sosial, kebudayaan adalah hasil cipta, karsa dan rasa yang diturunkan dari satu generasi ke generasi pelanjut melalui proses pembelajaran baik dalam lingkungan keluarga di rumah maupun di masyarakat. Oleh karena itu, kebudayaan bersifat khas dan unik (idiograik). Masyarakat yang masih menjunjung tinggi kebudayaan, hak-hak komunal masih kental, sikap guyub atau solidaritas mekanik dalam istilah Emile Durkheim, masyarakat Indonesia kerap menjadi acuan dalam berperilaku. Begitupun budaya tepo slero, yaitu bersikap tenggang rasa terhadap orang
lain, sebuah falsafah hidup orang Jawa tapi sudah menjadi nilai hidup dominan dan universal masyarakat Indonesia. Sikap ini menjadikan seseorang tahu diri dan tahu menempatkan diri dalam lingkungan dimana dia tinggal, dan ketika dia berpindah ke tempat yang baru. Dalam praktiknya, setiap orang bebas mengekspresikan agama dan keyakinannya selama dia menghormati agama dan sistem keyakinan pemeluk agama yang dominan dipeluk di masyarakat dia tinggal. Singkatnya, kebebasan beragama yang dimaksud adalah yang memiliki semangat persaudaraan sejati, asas kekeluargaan dan demi kesejahteraan dan perdamaian, dengan mengedepankan integrasi sosial dan kepentingan khalayak banyak.58
Terkait dengan model toleransi yang mengutamakan integrasi sosial ini, H.M. Atho Mudzhar dalam sebuah prolognya untuk sebuah buku hasil penelitian Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, menyimpulkan adanya enam keadaan sebagai indikator kerukunan umat beragama, yaitu: 1) Saling menerima keberadaan umat beragam lain, 2) Kemauan saling mengerti kebutuhan umat beragam lain, 3) Saling percaya dan tidak saling mencurigai antar sesama umat 56 Elizabeth Shakman Hurd, Beyond Religious Freedom: he New Global Politics of Religion.
Princeton University Press, 2015: Hal. 92. 57 Op.Cit., Robert W Hefner, 2014.
beragama, 4) Ada kemauan tumbuh dan berkembang bersama, 5) Rela berkorban untuk kebaikan bersama, dan 6) Mau mengedepankan nilai- nilai ajaran universal agama. Enam indikator ini, menurut H.M. Atho Mudzhar, adalah syarat untuk mencapai sebuah ekuilibrium baru bagi masyarakat Indonesia.59