• Tidak ada hasil yang ditemukan

apa yang mesti dilakukan?

Dalam dokumen Buku Riset Kebijakan Agama (Halaman 156-159)

M Adlin Sila

5. apa yang mesti dilakukan?

Bagian ini menanggapi beberapa wacana yang mempersoalkan bahwa peraturan terkait kerukunan umat beragama cenderung membatasi kebebasan beragama termasuk ekspresi sistem keyakinan umat beragama. Kapan negara harus memberikan jaminan kebebasan, dan perlindungan dari diskriminasi pihak manapun, dan kapan negara harus membatasinya demi kepentingan keamanan, ketertiban, kesehatan, moral masyarakat, nilai-nilai agama, atau hak-hak dan kebebasan dasar orang lain sepanjang dalam kerangka masyarakat demokratis dan demi kepentingan kesejahteraan sosial?

Pembatasan tersebut dinya takan dan mengacu sepenuhnya pada pasal-pasal dalam UUD 1945 Pasal 28J ayat 2: “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil, sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”. Artinya, kebebasan beragama itu dapat dibatasi dengan alasan kepentingan dan hajat orang banyak atau publik seperti: 1) Keamanan publik (public safety); 2) Keteraturan publik (public order); 3)

Kesehatan publik (public helath); 4) Moralitas publik (public morals); dan

5) Hak dan kebebasan orang lain (right and freedom of others).

Menurut PUSAD Paramadina, pemberlakuan UU No 1/PNPS/1965 59 Nuhrison M. Nuh (ed.). Dimensi-Dimensi Kehidupan Beragama: Studi tentang Paham/ Aliran Keagamaan, Dakwah dan Kerukunan. Jakarta: Kementerian Agama RI, Badan

tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama sering dianggap sebagai salah satu wujud pembatasan tersebut.60 Kasus serangan

atas pengikut Tajul Muluk, tokoh Syiah di Desa Karanggayam, Kecamatan Omben, Sampang, Madura, pada Ahad, 26 Agustus 2012, dan kasus- kasus kekerasan terhadap kelompok minoritas lainnya seperti pelarangan tempat ibadah HKBP Filadelia, penyerangan terhadap warga Ahmadiyah, penolakan pendirian masjid Al-Ikhwan Jl. Bajawa, Kupang, NTT, pembakaran masjid di Tolikara, Papua, dan pembakaran gereja di Aceh Singkil adalah contoh kekerasan agama yang dilakukan oleh kelompok mayoritas dengan dalih untuk mempertahankan nilai-nilai dominan atau hak-hak komunal mereka dari “gangguan” kelompok minoritas. Artinya, dengan dalih melindungi keyakinan dan amalan kelompok arus utama

(mainstream), seseorang atau kelompok masyarakat dapat menjadi sasaran

main hakim sendiri atau dikenakan delik penodaan agama.

Setelah masa Orde Baru berakhir pada akhir 1990-an, ketika pemerintah membuka kran politik dalam kehidupan keagamaan, sentimen- sentimen keagamaan, atau ‘identitas keagamaan’ meminjam istilah Bagir, membuncah dan terkadang menjadi pemicu (trigger) konlik yang eskalatif

di berbagai daerah.61 Konlik komunal antara kelompok Muslim dan Kristen di Ambon dan Poso adalah contoh negatif betapa identitas keagamaan dan klaim kebenaran bisa menjadi senjata yang mematikan jika tidak dikelola dengan baik. Meskipun faktor-faktor lain seperti ketidakadilan ekonomi dan penegakan hukum yang tumpul terkadang menjadi latar belakang 60 Lihat Laporan Penelitian: Mengukur Kebebasan Beragama di Jawa Barat 2014: Catatan

dari Indeks Demokrasi Indonesia. Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Wakaf Paramadina, Bagian dari Program Respect and Dialogue Project (READY) di Jawa Barat, European Instrument for Democracy and Human Rights (EIDHR), Jakarta, 2014.

61 Zainal Abidin Bagir mengklaim bahwa sejak tahun 1998 dan 15 tahun setelahnya,

sentimen-sentimen identitas keagamaan ini semakin meningkat yaitu ditandai dengan aspirasi di berbagai daerah untuk memunculkan kembali wacana Syariatisasi dalam konstitusi. Beberapa kota dan kabupaten malah memberlakukan Perda yang bernuansa Syariat Islam. (Lihat Zainal Abidin Bagir, ‘Memetakan Masalah dan Advokasi untuk Keragaman Agama’, dalam Zainal Abidin Bagir (ed.)Mengelola Keragaman dan Kebebasan Beragama di Indonesia: Sejarah, Teori dan Advokasi. Program Studi Agama dan Lintas

Budaya (Center for Religious and Cross-cultural Studies) Sekolah Pascasarjana, Universitas

konlik, identitas keagamaan pada akhirnya menjadi alat legitimasi dari konlik yang berkepanjangan.

Dalam beberapa kasus di lapangan, negara menjadikan pengaduan dari masyarakat atau lembaga keagamaan tersebut sebagai dasar untuk menghukum seseorang. Sementara individu menggunakannya untuk mengatasi konlik internal dalam komunitasnya; kelompok ekstrimis menggunakannya untuk melakukan kekerasan dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas keagamaan; sementara lembaga keagamaan meng- gunakannya untuk melakukan tafsir doktrin agama atas nama negara dan melabeli kelompok minoritas sebagai sempalan atau sesat. Amnesty Internasional tahun 2013 mencatat bahwa terdapat 106 orang dieksekusi di bawah UU penodaan agama. Kriminalisasi atas dasar UU tersebut telah dianggap mencederai kebebasan beragama dan berekspresi di Indonesia. Untuk kasus yang menimpa Tajul Muluk, pemimpin Syiah di Sampang Madura,62 misalnya, pemerintah dianggap kurang sigap menghadapi

ketegangan yang sudah muncul sejak lama. Ke depan, pemerintah diharapkan lebih siap untuk mencegah eskalasi dalam kasus serupa di daerah lain agar kekerasan yang berujung maut bisa terhindarkan.

Pada kasus yang lain, penulis tidak mencoba untuk masuk ke wilayah politik Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. Tapi menarik untuk menelaah secara faktual kasus penodaan agama yang menimpa Basuki Cahya Purnama atau Ahok, Gubernur DKI Jakarta saat itu, jika dikaitkan dengan implementasi UU No 1/PNPS/1965. Ahok dilaporkan oleh sebuah ormas Islam seperti Pemuda Muhammadiyah dan Front Pembela Islam (FPI) ke Polisi akibat pidato yang disampaikan Ahok ketika berkunjung ke Kepulauan Seribu pada tanggal 27 September 2016. Pidato Ahok saat melakukan kunjungan kerja di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, yang lalu itu kemudian dianggap telah menista agama Islam melalui pernyataannya tentang Surat Al-Maidah 51 dalam Al-Qur’an. Setelah itu, Bareskim Polri mengumumkan status Ahok sebagai tersangka pada tanggal 16 Nopember 2016.

Kasus di atas adalah contoh kasus bahwa atas nama nilai-nilai dominan, sebuah lembaga atau ormas keagamaan Islam yang merupakan penganut agama terbesar di Indonesia, menggunakan UU No 1/PNPS/1965 untuk menuntut seseorang atau kelompok orang atas tuduhan penodaan agama. Dengan kasus yang menimpa Ahok ini, umat Islam yang menyetujui keberadaan fatwa MUI menganggap pernyataan Ahok telah menimbulkan kebencian kelompok mayoritas Islam, maka menurut mereka UU No.1/PNPS/1965 masih diperlukan. Saya berpendapat sekiranya ada penyempurnaan pada UU tersebut, maka yang perlu dilakukan adalah meningkatkan legalitas UU tersebut termasuk pendefinisian konsep tentang pada aspek apa seseorang itu dapat dikenakan pasal penodaan agama dan mana yang tidak, serta ketelitian dalam pemberian sanksi pidana.

Hal yang demikian penting karena masyarakat terkesan tidak bisa memberikan batasan mana yang digolongkan penyimpangan keyakinan

(apostasy), mana penodaan agama (blasphemy), mana orthodoxy dan

mana perbedaan penafsiran teks-teks keagamaan (heterodoxy), serta mana

perbedaan praktik-praktik keagamaan (heresy). Dalam praktiknya selama

ini, masyarakat kita seringkali mencampuradukkan konsep-konsep di atas sebagai satu hal yang sama. Yang terjadi kemudian, tindakan-tindakan intoleransi atau kekerasan bernuansa agama terhadap seseorang atau sekelompok orang atas tuduhan penodaan agama baik internal maupun eksternal umat beragama tidak terhindarkan.

Dalam dokumen Buku Riset Kebijakan Agama (Halaman 156-159)