• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kritik Terhadap Modernisme Mahasiswa di Sumatera Barat

MODERNISASI MAHASISWA SUMATERA BARAT A. Modernisme Mahasiswa Dalam Berfikir

D. Kritik Terhadap Modernisme Mahasiswa di Sumatera Barat

Nurcholis Madjid menyatakan bahwa bagi seorang muslim, yang sepenuhnya meyakini kebenaran Islam sebagai way of life, semua nilai dasar way of life yang menyeluruh itu tercantum dalam kitab suci Al-Qur`ān. Maka sebagai penganut way of life Islam (dalam rangka beragama Islam), dengan sendirinya juga menganut cara berpikir Islami. Demikian juga, dalam menetapkan penilaian tentang modernis berorientasi kepada nilai-nilai besar Islam. Singkatnya modernisasi adalah suatu keharusan, malahan kewajiban yang mutlak. Modernisasi merupakan pelaksanaan perintah ajaran Tuhan Yang Maha Esa.367

Oleh karena itu, anggapan mahasiswa tentang konsep modernisasi dalam Islam sama dengan yang konsep yang dipahami ilmuwan Barat yang menyatakan modernisme adalah rasional, pluralis, relativitas agama, dan privatisasi agama368 merupakan pemahaman yang salah dan perlu pengkajian ulang. Modernisme tidak identik dengan westernisasi (pembaratan) atau sekulerisasi (pemisahan antara urusan agama dan dunia). Melalui modernisme umat Islam diharapkan tidak lagi dianggap sebagai pecundang, manusia kelas dua, terpinggirkan, dan terbelakang, melainkan umat Islam yang memiliki keberanian, berkelas, terlibat dalam berbagai masalah umat, menguasai ilmu dan teknologi, memiliki semangat dan etos kerja yang tinggi, serta berani mengambil resiko yang diperhitungkan. Melalui modernisme umat Islam dapat melepaskan diri dari penjajahan Barat.369

Dalam berfikir setidaknya mahasiswa modern senantiasa mengaplikasikan empat hal yang menjadi landasan utama dalam modernisme yaitu pertama; ilmiah dan objektif, Kedua; Memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai Tauhid dalam kehidupan,

367

Nurcholis Madjid, Islam, Kemoderenan dan ke-Indonesiaan, (Bandung: Mizan, 1987), hlm. 172-173.

368

Lihat Gerge Ritzer-Douglas J. Goodman, Modern Sociological Theory, (McGrau Hill, 2014), hlm. 240-246.

369

ketiga; memiliki rasa tanggung jawab secara teologis, dan yang keempat; Adanya rasa tanggung jawab moral dalam setiap aksi yang dilakukan.370

Ilmiah dan objektifitas merupakan hasil rasionalisasi pemikiran dan penghargaan yang tinggi kepada nilai-nilai pengetahuan. Hal ini tercermin dalam setiap keputusan yang diambil oleh mahasiswa dalam merespon keadaan sekitar. Mahasiswa yang menjunjung tinggi rasionalitas di dalam kehidupannya mengedepankan kepentingan masyarakat umum dibandingkan dengan kepentingan pribadi dan golongan dalam berbagai aksi yang dilakukan.

Beberapa aksi penolakan mahasiswa di Sumatera Barat terkait pemberian doctor honoris causa kepada beberapa tokoh seperti Megawati yang dianugerahkan gelar oleh UNP371, dan Jusuf Kalla oleh Unand372 di dasari tidak logisnya pemberian penghargaan doctor honoris causa kepada dua tokoh tersebut di landasi tidak adanya kontribusi kedua tokoh tersebut kepada masyarakat sesuai dengan gelar yang diberikan. Dengan alasan tersebut mahasiswa telah menampakkan ke-rasionalitasan-nya sebagai agen perubahan (agent of change) yang bertanggungjawab secara moral kepada masyarakat.

Akan tetapi, di dalam beberapa keadaan mahasiswa terkesan tertutup, enggan menerima perbedaan dan perubahan serta mengedapankan nilai-nilai SARA dalam beberapa aksi dan memiliki rasa eksklusifitas dalam tindakannya menjadi tinta hitam dalam modernisme mahasiswa di Sumatera Barat. Pernyataan ini tidak menggambarkan keseluruhan mahasiswa di Sumatera Barat, akan tetapi menunjuk beberapa pemikiran mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan, baik organisasi intra maupun ekstra kampus.

Dinamika pergolakan politik kampus menjadi salah satu bukti ke-ekslusifitas-an beberapa organisasi yang ikut memeriahkan pesta demokrasi di lingkungan kampus di Sumatera Barat. Pemilihan BEM UNP dan Unand menjadi arena pertarungan antara Lembaga Dakwah Kampus dan Non-Lembaga Dakwah Kampus. Hasil Pemilihan Presiden BEM Unand dalam beberapa tahun terakhir selalu melahirkan pimpinan-pimpinan dari kader FKI Rabbanī atau Lembaga Dakwah Fakultas, hal ini

370

Lihat Syahrin, Penegakan Moral Akademik di Dalam dan di Luar Kampus; (Jakarta; PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 16

371 http://www.unp.ac.id/id/akademik/besok-penghargaan-doktor-honoris-causa-pada-megawati 372 https://nasional.tempo.co/read/801592/kalla-dapat-gelar-doktor-honoris-causa-dari-universitas-andalas

menimbulkan kejenuhan dari berbagai organisasi intra kampus lainnya, sehingga menimbulkan permasalahan dalam dinamika organisasi kemahasiswaan di Unand. Hal ini disebutkan oleh informan dalam wawancara yang penulis lakukan untuk menguak fakta tentang fenomena tersebut:

Selama beberapa tahun terakhir, “anak forum”373

mendominasi kepemimpinan BEM di Unand. Berbagai cara dilakukan untuk mengamankan posisi mereka dalam kepemimpinan di organisasi mahasiswa tertinggi di Unand. Dan juga seolah ada dukungan dari pihak kampus untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Pada akhirnya, permasalahan ini menimbulkan perpecahan di kalangan organisasi mahasiswa. Bahkan, beberapa BEM Fakultas memutuskan untuk berpisah dari kepemimpinan BEM Universitas, sebagai salah satu bentuk penolakan atas dominasi salah satu golongan dalam dinamika politik di kampus.374

Hal yang sama terjadi pada pesta demokrasi tahunan UNP, UKK Kerohanian menguasai arena pertarungan dalam pesta demokrasi terbesar mahasiswa UNP ini dalam pemilihan Presma 3 (tiga) tahun belakangan. Dominasi ini menjadi polemik dalam pelaksanaan tugas BEM dalam masa baktinya. Banyak terjadi berbagai penolakan dari organisasi intra kampus atas dominasi dan diskriminasi yang terjadi.

Dominasi anak forum dalam penyelenggaraan pemilihan presiden BEM, merupakan salah satu dari hasil mobilisasi masa yang dilakukan secara massive, untuk mempengaruhi hasil pemilihan presiden BEM. Dominasi dari anak forum ini, menyebabkan kejenuhan dari banyak mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dalam menyumbangkan suara dalam pemilihan BEM, walaupun penyelenggaran Pemilu dilaksanakan dengan e-vote melalui situs web, maupun aplikasi android. Akan tetapi, tetap tercatat, rendahnya partisipasi mahasiswa dalam kegiatan pemilu tahun ini.375

Tentu sikap mahasiswa dalam dinamika perpolitikan kampus yang mengedepankan kelompok, ideologi dan ketidakterbukaan kalangan mahasiswa dalam menghadapi berbagai perbedaan di Kampus adalah bentuk ketidak-modernan dalam pemikiran dan tindakan. Sikap seperti ini menjadi salah satu kritik terhadap modernisme mahasiswa di Sumatera Barat yang modern dalam pemikirannya akan

373

Istilah yang lazim di gunakan oleh kalangan mahasiswa kepada kader-kader organisasi Lembaga Dakwah Kampus di Unand maupun UNP.

374

Wawancara dengan Ihsan mahasiswa Unand, pada tanggal 2 Februari 2018 375

Wawancara dengan Suci Rahmawati, Ketua BEM Fakultas Teknik UNP, pada tanggal 3 Februari 2018.

tetapi tradisional dalam sikap dan tindakannya.

Dalam organisasi, standar modern sesuai dengan kerangka teoritis di atas yang telah menjelaskan tentang konsep modernisme yang mesti hidup di kalangan organisasi kemahasiswaan. Modernisasi tidak hanya terlihat dalam pemikiran, dan sikap akan tetapi juga tercermin dengan akhlak. Setiap organisasi kemahasiswaan harus memiliki pandangan ke depan, manajemen organisasi yang professional dan berakhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai (values) yang hidup dalam agama Islam.

LDK sebagai organisasi intra kampus, memiliki sistem organisasi yang rapi. Sistem perekrutan, kaderisasi, pematangan kader, dan evaluasi yang berkesinambungan (sustainable) merupakan salah satu bentuk profesionalitas LDK376 dalam organisasi. Tetapi hal yang menarik sekaligus menjadi kritik penulis pada organisasi LDK, sesuai dengan wawancara berikut:

“Anak-anak forum terkesan lebih ekslusif dalam pergaulan. Mereka lebih banyak bergaul dengan sesama kader dan sulit untuk bergaul dengan selain kader. Kemudian, anak LDK biasanya hidup dalam satu lingkungan yang biasa mereka beri nama dengan “wisma”. Wisma adalah kontrakan/kos yang dihuni oleh para kader LDK memiliki aturan seperti larangan untuk beraktivitas setelah jam 9 dan berbagai aturan yang mengikat seluruh penghuni wisma.377

Mahasiswa seharusnya memiliki pemikiran yang terbuka dan tidak terkungkung dengan sistem yang tradisional, bahkan sulit untuk menerima perbedaan. Merasa nyaman dengan keadan tertentu dalam pergaulan dan lingkungan yang ditempati karena adanya persamaan dalam hal ideologi dan pemikiran adalah beberapa bentuk tindakan tradisional yang ditunjukkan oleh kader LDK dalam melakukan tindakan secara sosial, walaupun dalam tata kelola keorganisasian LDK dianggap sudah memenuhi kriteria modern.

Selanjutnya, kritik terhadap modernisme mahasiswa di Sumatera Barat ditujukan kepada beberapa pandangan mahasiswa yang menganggap modernism adalah pandangan dan sikap kebarat-baratan. Pengamalan ajaran agama dengan melaksanakan ibadah, tidak ada hubungannnya dengan modernisme.

376FKI Rabbanī di Unand, UKK Kerohanian di UNP, dan KSI Ulul albab di UIN Imam Bonjol di Padang.

377

Wawancara dengan Suci Rahmawati, Ketua BEM Fakultas Teknik UNP, pada tanggal 3 Februari 2018

Modernisme dalam kehidupan sebahagian mahasiswa lebih identik dengan sikap kebarat-baratan dan jauh dari nilai-nilai ke-Islaman. Kurangnya perhatian mahasiswa dalam melaksanakan kewajiban spiritualnya seperti shalat lima waktu, berpakaian sesuai dengan syariat, puasa dan berbagai ibadah wajib lainnya adalah sesuatu hal lumrah kita lihat dalam kehidupan mahasiswa di Sumatera Barat. 378

Modernisme Islam sesuai dengan kerangka teori di atas, tidak hanya teraplikasi dalam pemikiran dan tindakan, tetapi juga melahirkan insan-insan yang berakhlak mulia. Modernisasi bukanlah pemikiran yang kebarat-baratan atau tindakan yang jauh dari nilai-nilai ke-Islaman, tetapi modernisasi Islam adalah konsep hidup yang penuh dengan nilai-nilai ke-Islaman.

Oleh karena itu, penulis menyimpulkan mahasiswa di Sumatera Barat telah mengaplikasikan nilai-nilai modernisme dalam kehidupannya secara personal dan keorganisasian. Akan tetapi dalam beberapa keadaan mahasiswa terkesan lebih modern dalam pemikiran, dan tradisonal dalam tataran tindakan seperti LDK. Modern dalam tata kelola organisasi, akan tetapi tradisional dalam tindakan dan pilihan dalam kehidupan sehari-hari.

378

BAB V

RELASI MODERNISASI DENGAN KUALITAS HIDUP