MODERNISASI MASYARAKAT SUMATERA BARAT
F. Transmisi Budaya (Transmission of Culture)
Menurut Geertz kebudayaan adalah pola dari pengertian-pengertian atau makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol yang ditransmisikan secara historis, suatu sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk-bentuk simbolik yang dengan cara tersebut manusia berkomunikasi, melestarikan dan mengembangkan pengetahuan dan sikap mereka terhadap kehidupan.267 Pendapat ini menekankan bahwa kebudayaan merupakan hasil karya manusia yang dapat mengembangkan sikap mereka terhadap kehidupan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui proses komunikasi dan belajar agar generasi yang diwariskan memiliki karakter yang tangguh dalam menjalankan kehidupan.
Kebudayaan merupakan sesuatu yang lahir dari pemikiran manusia akibat
264Ahmad Amir Aziz, Neo Modernisme Islam di Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hlm. 15.
265
Zuli Qodir, Pembaharuan Pemikiran Islam, Wacana Dan Aksi Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 66.
266
Ibid, hlm. 66.
267
respon dari berbagai pengalaman yang dialami oleh manusia di dalam kehidupannya. Respon ini ditransimisikan dari masa ke masa melalui proses belajar dan komunikasi. Kebudayaan tidak terbatas dipahami sebagai adat istiadat yang hidup ditengah masyarakat, tetapi segala sesuatu yang diyakini oleh masyarakat dan diamalkan dalam kehidupannya adalah budaya dalam arti luas.
Kebudayaan yang berkembang di Sumatera Barat salah satu yang menonjol adalah budaya merantau bagi pemuda Minangkabau. Tradisi merantau merupakan warisan turun temurun yang diwariskan
Budaya merantau orang Minangkabau sudah tumbuh dan berkembang sejak berabad-abad silam. Para pengelan awal bangsa Eropa yang mengunjungi Asia Tenggara mencatat bahwa orang Minangkabau sudah merantau ke Semenanjung Melayu jauh sebelum orang-orang kulit putih datang ke sana. Bahkan, sebuah laporan pertengahan Abad ke-19 yang tersimpan dalam arsip di Perpustakaan Leiden, Negeri Belanda, menyebutkan tentang “The Minangkabau State in Malay Peninsula” (Negara Minangkabau di Semenanjung Malaya). Negeri itulah yang kemudian kita kenal sebagai Negeri Sembilan, salah satu Kerajaan yang mendirikan Negara Federasi Malaysia. Jadi, mereka sudah mendirikan sebuah negara di Semenanjung Malaya sebelum berdiri di barisan terdepan dalam mendirikan Negara Republik Indonesia.268
Tradisi merantau orang Minangkabau terbangun dari budaya yang dinamis, egaliter, mandiri dan berjiwa merdeka. Ditambah kemampuan bersilat lidah (berkomunikasi) sebagai salah satu ciri khas mereka yang membuatnya mudah beradaptasi dengan suku bangsa mana saja. Banyak hasil studi para sarjana asing maupun ilmuwan nasional menunjukkan bahwa budaya merantau orang Minangkabau sudah muncul dan berkembang sejak berabad-abad silam.
Dalam konsep budaya Alam Minangkabau dikenal wilayah inti (darek) dan rantau (daerah luar). Rantau secara tradisional adalah wilayah ekspansi, daerah perluasan atau daerah taklukan. Namun perkembangannya belakangan, konsep rantau dilihat sebagai sesuatu yang menjanjikan harapan untuk masa depan dan kehidupan yang lebih baik dikaitkan dengan konteks sosial ekonomi dan bukan dalam konteks politik. Berdasarkan konsep tersebut, merantau adalah untuk pengembangan diri dan
268
Febri Yulika, Epistemologi Minangkabau: Makna Pengetahuan dalam Filsafat Adat
mencapai kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik. Dengan demikian, tujuan merantau sering dikaitkan dengan tiga hal: mencari harta (berdagang/menjadi saudagar), mencari ilmu (belajar), atau mencari pangkat (pekerjaan/jabatan).269
Para sosiolog merantau sedikitnya memberikan enam unsur pokok: pertama; meninggalkan kampong halaman, kedua; dengan kemauan sendiri, ketiga; untuk jangka waktu lama atau tidak, keempat; dengan tujuan mencari penghidupan, menuntut ilmu atau menambah pengalaman, kelima; biasanya dengan maksud kembali pulang, dan keenam; merantau adalah lembaga social yang membudaya270.
Sebagai sebuah pola migrasi (perpindahan penduduk) secara sukarela, atas kemauan sendiri, maka merantau orang Minangkabau berbeda dengan, katakanlah, merantau orang Jawa yang melalui proses transmigrasi –diprogramkan dan dibiayai pemerintah. Orang Minangkabau merantau dengan kemauan dan kemampuannya sendiri. Mereka melihat proses ini semacam penjelajahan, proses hijrah, untuk membangun kehidupan yang lebih baik.271
Dalam alam pikiran orang Minangkabau –analog dengan dunia agraris– kampung halaman atau tanah kelahiran ibaratnya persemaian yang berfungsi untuk menumbuhkan bibit. Setelah bibit tumbuh, mereka harus keluar dari persemaian ke lahan yang lebih luas agar menjadi pohon yang besar kemudian berbuah.
Proses seperti inilah yang dialami dan kemudian terlihat pada tokoh-tokoh asal Minangkabau yang berkiprah di “dunia” yang jauh lebih luas seperti Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Muhammad Yamin, Hamka, Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, atau generasi yang lebih belakangan –lahir, tumbuh, mengalami masa kecil dan remaja di kampung, lalu pergi merantau dan “menjadi orang”. Budaya merantaulah yang menyebabkan orang Minangkabau tersebar dan mempunyai peranan di mana-mana, di berbagai kota dan pelosok di Indonesia dan mancanegara.
Selaras dengan tujuan merantau –mencari harta, ilmu atau pangkat– dalam rangka mengembangkan diri dan mencari kehidupan yang lebih baik, maka orang Minangkabau di perantauan berbagai profesi dan lapangan kehidupan. Kebanyakan memang menjadi pedagang, saudagar atau pengusaha. Namun banyak pula yang
269
Amir Sjarifoedin Tj.A, Minangkabau dari Dinasti Iskandar Zulkarnain sampai Tuanku
Imam Bonjol, (Jakarta: PT Gria Media Utama, 2011), hlm. 71.
270
Mochtar Naim, Merantau Pola Migrasi Suku Minang, (Jogyakarta: Gajah Mada University Press, 1979), cet. I, hlm. 3
271
menjadi ilmuwan, mubaligh serta orang berpangkat sebagai pejabat pemerintah atau kaum professional (dokter, dosen, eksekutif BUMN atau perusahaan swasta, wartawan, sastrawan, dan lain-lain).
Pendidikan menghasilkan generasi orang Minangkabau terpelajar dan mempunyai kemampuan. Sehingga, ketika Indonesia merdeka dan memerlukan tenaga terdidik yang profesional dan berkemampuan teknis untuk mengelola negeri yang baru merdeka ini, peranan orang Minangkabau menjadi sangat menonjol.272 Itu bukan hanya di bidang pemerintahan, tapi juga di bidang sosial dan ekonomi.
Semangat egaliter dan budaya yang dinamis melahirkan daya saing yang tinggi dan wawasan yang luas. Dipadu dengan bekal pendidikan dan pengetahuan yang memadai, mereka tak pernah ragu untuk hidup di manapun di muka bumi ini.
Budaya merantau yang berkembang di Sumatera Barat mengindikasikan bahwa masyarakat Sumatera Barat secara budaya bisa dikatakan telah mengalami kemodernan. Transmisi budaya yang ada di lingkungan masyarakat Sumatera Barat sudah berkembang dari lingkungan keluarga. Budaya merantau merupakan sebuah representasi budaya modernisasi masyarakat Sumatera Barat. Artinya merantau adalah tradisi yang memberikan inspirasi kepada seluruh anak Minangkabau untuk melihat dunia luar lebih dinamis dan akan membawa kemajuan untuk kampung halaman.
Karakatau Madang di Hulu Berbuah Berbunga Belum Marantau Bujang Dahulu Di Rumah Beruna Belum.
Adalah sebuah pantun anak muda Minangkabau, ungkapan motivasi serta spirit mencari pengalaman di negeri orang sehingga menjadi masyarakat modern.
272
BAB IV
MODERNISASI MAHASISWA SUMATERA BARAT