• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Modernisasi Sumatera Barat

MODERNISASI MASYARAKAT SUMATERA BARAT

C. Latar Belakang Modernisasi Sumatera Barat

Gelombang pergerakan modernisasi di Sumatera Barat dimulai pada abad ke-19. Inti dari gerakan pembaharuan dan perombakan susunan masyarakat Minangkabau ialah karena sebagian golongan dari masyarakat menganggap dirinya kompeten, tidak mendapat tempat dan kedudukan yang wajar dalam konstelasi politik Minangkabau. Adanya ketimpangan posisi dalam kehidupan politik di Sumatera Barat ketika itu dengan konsep adatnya yang kaku, maka timbulah benturan ideologi dari sebagian

190

Febri Yulika, Epistemologi Minangkabau: Makna Pengetahuan dalam Filsafat Adat

Minangkabau, (Yogyakarta: Gre Publishing, 2012), hlm. 34-35.

191Azmi Dt. Bagindo, “Masalah Kedudukan Perempuan (Padusi).” Dalam Azmi Dt. Bagindo, (ed,). Polemik Adat Minangkabau di Internet. (Jakarta: yayasan Citra Pendidikan Indonesia dan Lembaga Adat Kebudayaan Minangkabau (LAKM), 2008), hlm. 38.

192

Perjanjian antara kaum ninik-mamak, ulama-ulama dan cadiak-pandai serta lainnya, yang menghasilkan pedoman hidup bagi masyarakat Minangkabau, yaitu Adat Basandi Syarā‟,

Syarā‟ Basandi Kitabullah, Alam Takambang Jadi Guru. Ini terjadi setelah selesainya perang

Paderi di Minangkabau (1803-1838). Lihat Muhamad Rajab. Perang Paderi di Sumatera Barat

(1803-1838). Cet. Ke-2. (Djakarta: Balai Pustaka, 1964).

193

Abraham Iliyas, Nan Empat: Dialektika, Logika, Sistematika Alam Terkembang, (Padang: Lembaga Datuk Soda, 2010), hlm. xxvi.

kelompok untuk diakui eksistensinya di tengah masyarakat.

Biarpun Gerakan Padri yang mencetuskan Perang Padri di Minangkabau dapat ditumpas berkat bantuan senjata Belanda, sebagai ideologi yang berpengaruh dan berkuasa di daerah Minangkabau selama lebih kurang satu generasi, tidaklah lenyap seluruhnya dengan kekalahan yang diderita oleh kaum Padri. Sebagai ulama mereka tetap memonopoli pendidikan (agama) dan pembinaan rohani masyarakat Minangkabau.

Perubahan-perubahan serta perombakan-perombakan sistem pemerintahan yang sempat mereka praktekkan, bertahan dan berlangsung terus sesudah Perang Padri selesai. Golongan agama diikut sertakan dalam kerapatan-kerapatan adat, pendapat dan suara mereka didengar dan dilaksanakan. Titel tuanku yang tadinya dimonopoli oleh penghulu sebagai pemegang kekuasaan tunggal dalam keluarga maupun sukunya dan sebagai anggota dewan pemerintahan republik nagari juga digunakan bagi kaum ulama. Tergantung pada besar kecil pengaruh dan wibawa yang dipunyai, seorang ulama bergelar atau disebut juga tuanku, seperti tuanku imam atau tuanku syech.194 Pada zaman pendudukan tentara Jepang (1942-1945) dalam usaha memperkokoh kedudukannya, penguasa ketika itu lebih menonjolkan kedudukan dan peranan kaum ulama daripada penghulu. Alim ulama sebagai pemimpin rakyat yang selalu dipersempit ruang gerak serta dipersulit kedudukannya oleh Belanda, dianggap anti kolonial. Mereka dipertentangkan dengan penghulu, sebagai ninik-mamak yang membantu Belanda dan dicap sebagai kaki-tangan penjajahan.

Gerakan modernisasi di Sumatera Barat diawali dengan gerakan puritanisasi yang dilakukan oleh pasukan Paderi, dan menjadi titik tolak perubahan struktur sosial masyarakat dan sistem kemasyarakatan di Minangkabau.

Awal abad 20 merupakan periode perkembangan pemikiran Islam di dunia Islam. Banyak tulisan dalam Koran, majalah, surat yang diterbitkan dalam berbagai bahasa menyebarkan berbagai pemikiran yang berusaha mengkompromikan nilai-nilai modernitas dalam kehidupan beragama Islam. Gerakan modernis diawali dengan pemikiran pembaharuan dan pemurnian nilai-nilai keIslaman digelorakan oleh generasi muda Islam di Kairo (Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha), Afganistan (Jamaluddin al-Afgani), dan India (Sayyid Ahmad Khan). Para pembaharu ini lebih

194

menekankan gerakan pembaharuannya kepada pergerakan politik yang bertujuan untuk mengembalikan masa-masa kejayaan Islam. Akan tetapi, berbeda dengan gerakan modernis di Sumatera Barat diprakarsai oleh murid-murid Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang memfokuskan gerakan pembaharuannya di bidang pendidikan. 195

Hamilton yang dikutip oleh Burhanuddin Daya menyebutkan bahwa gerakan pembaharuan atau modernisasi di Minangkabau lebih banyak terpusatkan pada lokasi-lokasi surau yang telah berkembang dengan baik. Di lembaga ini, para pengajar agama dan pemuda-pemuda yang pernah pergi ke Makkah dan pulang ke Minangkabau, kemudian mengajar di surau asalnya, gerakan itu berkembang karena surau mempunyai hubungan terbuka dengan masyarakat luas.196.

Deliar Noer dalam bukunya Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Deliar Nooer memulai pembahasan tentang asal usul dan pertumbuhan gerakan modern Islam dengan terlebih dahulu membahas daerah Minangkabau. Menurutnya daerah Minangkabau memiliki peranan penting dalam penyebaran cita-cita pembaharuan ke daerah-daerah lain197

Kontak antara Minangkabau dengan dunia Arab terjalin terutama melalui media haji, namun kemudian melebar menjadi kontak-kontak intelektual yang lebih permanen. Ini dimungkinkan antara lain oleh adanya perbaikan ekonomi di daerah ini sebagai hasil langsung dari internasionalisasi perdagangan kopi dan hasil-hasil bumi lainnya. Ringkasnya, dinamisme daerah ini yang sedemikian menonjol telah membuatnya lebih dahulu merasakan modernisasi dalam banyak hlm.

Di Minangkabau, modernisasi Islam sebenarnya sudah muncul semenjak lahirnya puritanisasi sebagai pendobrak pemurnian pemahaman Islam orang Minangkabau yang sinkretisme. Namun, modernisasi Islam lebih berkembang ketika Modernisasi Pendidikan Islam awal abad ke-19 seiring dengan bergeraknya kaum agama membangun sekolah-sekolah agama modern, mengubah sistem surau yang tradisional dengan sistem pendidikan modern yang klasikal, berijazah dan memiliki kurikulum. Di Padang Panjang misalnya, surau Jembatan Besi dengan duet tenaga pengajar yakni Haji Abdullah Ahmad dan Haji Rasul menjadi cikal bakal sekolah

195

Buhanuddin Daya, Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam Kasus Sumatera Thawalib, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1995)

196

Buhanuddin Daya, Gerakan Pembaharuan………….., hlm. 64 197

Deliar Noer,. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, 1996), hlm. 37

Thawalib sangat berpengaruh di Minangkabau.198

Proses modernisasi dilakukan melalui dua cara; Pertama, melalui injection motivation, dan kedua melalui revolusi think tank. Cara pertama lebih dimotivasi oleh kemajuan dunia luar. Di Minangkabau, modernisasi dalam institusi pendidikan sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan luar terutama Mekah dan Mesir. Sistem ini dibawa oleh ulama-ulama Minangkabau dan diterapkan dalam sistem pendidikan Islam lokal. Akhirnya, terjadi pembaharuan dalam institusi pendidikan surau menjadi madrasah, yang klasikal dan tidak lagi berhalaqah, serta terjadi perombakan-perombakan dalam kurikulum pendidikan.199.

Beranjak dari gerakan modernisasi yang terjadi dalam dunia pendidikan di Sumatera Barat, kemudian merambat ke seluruh aspek kehidupan dan budaya masyarakat sehingga terjadilah perubahan sistem kemasyarakatan dan sosial di masyarakat Minangkabau.